11241231_769044686538165_5957414181050803423_n

Even if it hurts, pretending that it’s nothing
Even if tears fall, knowing how to hide them
Placing it in one side of the heart
And knowing how to smile as if nothing’s wrong

Jutaan titik putih salju bertebaran dari langit hitam malam menjadi tumpukan-tumpukan di bumi. Tiap titiknya mampu memanjakan mata, namun jika mengingat betapa dinginnya benda itu cukup terasa  menusuk tulang membuat kita berpikir puluhan kali untuk bermain dengan mereka. Dingin, itulah mengapa sepasang pria dan wanita ini memilih memandangi rintik indah salju dari balik dinding kaca sebuah café elite di tengah kota Seoul. Duduk manis di sudut ruangan berteman secangkir cappuccino hangat. Sesekali menyesap cairan krem manis itu berharap mengurangi rasa dingin yang nyaris membekukan tubuh mereka.

Lewat satu jam dari makan malam mereka, tapi niatan untuk segera pergi dari tempat itu sepertinya tak kunjung tiba di otak keduanya. Tak masalah, dengan senang hati pasangan ini menikmati waktu indah bersama. Melepas kerinduan dengan perbincangan romantis diselingi gurauan-gurauan kecil ala pasangan muda lainnya, beruntung keadaan café lumayan sepi. Jika tidak dijamin akan membuat mengunjung merasa iri.

“oppa, apa kau sungguh mencintaiku?”

gadis manis bernama song yong hoon ini merajuk lewat sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin dia sendiri tahu apa jawabannya, tapi entahlah… gadis ini ingin mendengar langsung dari bibir pria itu. Menatap lekat pada manik mata sang kekasih yang selalu membuat jantungnya menggila jika dihadapkan dengan sorot tajam nan mempesona. Terlalu besar harapan di benaknya untuk mendapat jawaban yang tak akan membuat hatinya kecewa.

“waeyo? Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Lelaki tampan itu menjawab. Tepatnya sebuah pertanyaan yang ia gunakan untuk menjawab gadisnya. Tentu ulah itu membuat yonghoon kecewa, tampak dari bibir ranum yang tak sabar ingin melontarkan segudang koleksi cibiran-cibirannya. Apa pria ini sengaja menggodanya? Tapi yonghoon tak ingin merusak moment romantis ini.

“tinggal jawab saja apa susahnya!!” yonghoon mencibir dengan tingkah super kekanakan yang hanya ia tunjukkan pada pria ini. Pria yang hampir tiga tahun berhasil menawan seluruh hati dan cintanya. Di hadapan pria ini pula yonghoon tak segan-segan menunjukkan sifat asli yang diam-diam terkubur dalam diri. Semua itu berkat rasa nyaman yang dia terima selama berada disisi pria berumur tiga tahun lebih tua ini.

Pria itu mendesah ketika kembali dihadapkan dengan tingkah kekanakan yonghoon. Bukan jengah atau bosan, hanya saja tengah menimbang langkah jitu sekedar membuat gadis itu yakin dengan apa yang dia rasakan. Seperti  bongkahan cinta yang tak akan pernah mencair ataupun hancur walau ditelan berbagai bencana. Kasih sayang tulus yang ia persembahkan hanya untuk gadis bermarga song itu.

Pria itu bangkit, bersimpuh dan bertekuk lutut di hadapan yonghoon. Kala pandangan mereka bertemu, semburat merah samar muncul di pipi yonghoon tak dapat ia sembunyikan. Gadis ini membisu, menikmati gemuruh jantung yang tak menentu. Astaga, sejak kapan prianya menjadi seromantis ini?

Yonghoon tersontak tiba-tiba pria itu melepas genggaman erat pada kedua tangannya. Sesaat kemudian pria itu berbalik menampakkan sebuah kotak kecil merah hati, membukanya perlahan  hingga tampaklah isi didalamnya. Sebuah cincin berhiaskan sebutir berlian dengan kemilau yang cantik.

“hyun joong oppa…” wajahnya berbinar, tak sabar dengan apa yang akan terjadi setelah ini walau otak liarnya kini mulai berimajinasi.

“song yong hoon, will you marry me?”

~o0o~

“oppa mianhe… eomma menyuruhku ke suatu tempat jadi aku terlambat datang kemari”

Seorang gadis dengan napas memburu berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, sembari bibirnya berceloteh menjelaskan duduk perkara yang menghambat kedatangnya. Dengan tampang penuh penyesalan, menunduk pasrah di hadapan seorang pria berpenampilan rapi dengan jas yang masih melekat di tubuh semampai itu.

Cho kyuhyun, pria tampan ini masih membisu dengan tatapan datar. Namun sesaat kemudian tangannya terulur memberikan secangkir minuman yang baru ia pesan. Dengan senang hati gadis itu menerima dan segera meneggak seluruh isi di dalamnya. Kyuhyun tersenyum tipis melihat betapa rakusnya gadis itu.

Tubuh yang hampir beku  kembali normal setelah minuman hangat itu habis tak tersisa, kini dia mulai pamer senyum menawan. Lengkungan manis hasil cetakan indah dari bibir tipisnya menjadi senjata andalan. Tak hanya kyuhyun, dijamin semua orang pun akan luluh jika disuguhi hal semacam itu. Apalagi hanya masalah sepele, datang terlambat di acara kencan.

Cho kyuhyun, pria penggila kerja ini hampir dua jam rela meluangkan waktu ditengah kesibukannya hanya demi menuggu seorang gadis. Tentu saja dia bukan gadis biasa, gadis ini begitu istimewa. Bukan dia berasal dari planet lain atau apa, tapi gadis ini layaknya oksigen bagi kyuhyun. Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis ini sehingga dengan mudah dapat menawan hati seorang cho kyuhyun. Pria dingin yang terlihat sempurna dimata semua orang. Pengusaha muda tampan dan kaya raya, coba tebak siapa yang dapat menolak pesona seorang cho kyuhyun. Tapi hati dan sifatnya bagaikan tercipta dari bongkahan es di kutub selatan, begitu dingin dan sulit di sentuh. Hanya saja gadis itu datang bagai mertari yang perlahan melelehkan sikap dingin kyuhyun.

“oppa jinjja mianhe” sedikit merajuk. Melihat kyuhyun yang masih betah diam, sepertinya dia benar-benar membuat kesalahan besar hingga kyuhyun semarah itu.

Kyuhyun tersenyum, sekilas menampakkan deretan gigi rapi berbingkai bibir tebalnya. Begitu menawan hingga menambah kadar ketampanan pria berkulit pucat ini berkali-kali lipat. Dengan satu gerakan tangan terangkat keatas, tak lama seorang pelayan restoran menghampiri meja mereka. Berbekal sebuah manpan berwarna perak menyala, tapi bukan makanan atau daftar menu yang dia suguhkan, melainkan bunga. Seikat mawar merah merona dengan harum semerbak dari tiap kelopaknya. Lee hyorin, gadis ini ternganga. Mata bulatnya melebar dengan pandangan tak percaya.

“oppa, i..ini untukku?” pertanyaan bodoh. Disini hanya ada mereka berdua, lalu dia pikir untuk siapa lagi? Kyuhyun mengangguk sekilas. Perlahan  hyorin mengambil rangkaian bunga itu dan mulai mehirup wanginya.

“tolong segera siapkan makanannya” titah kyuhyun pada sang pelayan.

“gomawo” hati hyorin kini berbunga-bunga mendapat perlakuan super romantis. dia merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Bisa menyandang status sebagai kekasih seorang cho kyuhyun, pria dingin nan mempesona incaran setiap wanita. Ini sungguh manakjubkan.

“kau suka?”

“eoh, tentu saja”

~ ~ ~ ~

“oppa, kau sungguh tidak romantis” entah ada angin apa yonghoon mendadak protes membuat pria bernama hyun joong ini lagi-lagi harus berkerut dahi, bingung dengan sikap gadisnya. Setelah mendapat lamaran tak terduga, yonghoon masih saja bilang dirinya tak romantis? Lalu hal seperti apa lagi yang dia inginkan. “waeyo?”

“kau melamarku di saat aku sedang kesal, itu tidak romantis” gadis ini merajuk lagi.

“tapi kau menerimanya bukan?” skakmat. Yonghoon diam seketika. Bodoh, mengapa harus protes jika pada akhirnya dia menerima lamaran itu. Maklumi saja, gadis itu hanya terlalu bahagia. Menikah? Membangun bahtera rumah tangga yang indah bersama hyunjoong -pria yang begitu dia cintai- Sungguh, takdir Tuhan ini begitu manis untuknya. Tuhan mengirimkan pria yang begitu mencintainya dan akan menyatukan mereka dalam satu ikatan cinta yang abadi. Lihat betapa baruntungnya seorang song yong hoon.

“wae, kenapa kau senyum-senyum sendiri?” suara hyunjoong berhasil menyusup kedalam lamunan indah yonghoon. “kau tidak ingin turun?” mulai celingukan dengan tampang super bodoh. Tapi sejak kapan mereka sampai? Seingatnya dia baru masuk mobil dan hyunjoong baru melajukannya. Sial, mungkin dia terlalu asik melamun hingga tenggelam dalam khayalan indah yang dia ciptakan sendiri. Astaga, lagi-lagi yonghoon membuat dirinya terlihat bodoh di depan pria ini, memalukan.

“oppa…” tercium keraguan dalam nada bicaranya, sesuatu yang sempat mengganjal otaknya sejak tadi. Hal penting yang harus dia sampaikan, tapi sekali lagi yonghoon ragu. Takut, mungkin saja hyunjoong akan marah satelah mendengarnya. takut ini akan merubah segalanya hingga khayalan indah itu hancur porak poranda.

“waeyo? Apa ada sesuatu? Katakan padaku” demikianlah kim hyunjoong. Pria penuh kelembutan yang melimpahi yonghoon dengan rasa tenang. Memberinya sedikit tenaga dan nyali untuk mengatakan yang sebenarnya. Yonghoon gugup, tapi bagaimana lagi. Pria ini harus tahu.

“oppa sebenarnya….”

“waeyo?”

“sebenarnya aku… hamil” cukup dengan satu kalimat, beban yonghoon seakan lolos seketika. Jantungnya serasa ikut copot bersama kalimat yang baru saja lolos dari mulut. Dia menunduk, nyalinya mendadak hilang setelah pernyataan itu terucap. Akankah hyunjoong menerima kenyataan ini. atau sebaliknya dia akan marah besar dan membatalkan lamarannya. Yonghoon ketakutan hingga dia tak berani menatap mata pria itu.

“apa dia anakku?” suara itu terdengar halus namun penuh keraguan. Yonghoon terkejut, pertanyaan macam apa itu? dia pikir yonghoon…. Ohh astaga, apa hyunjoong sengaja membuat emosinya meledak.

“yakk…!! tentu saja!! Aku hanya pernah melakukannya sekali dan itu denganmu. Kau pikir aku wanitammmpp…” sungutan yonghoon terpotong. Pria itu lebih dulu membekap mulutnya dengan sebuah ciuman. Melenyapkan segala emosi yang meleput-leput di kepala yonghoon.

Perlahan mereka terpejam, sentuhan dan lumatan bibir membuatnya melayang. Lembut dan manis, masih sama dengan ciuman mereka sebelumnya. Hyunjoong tersenyum disela ciuman yang menghangat. Bagitu menghanyutkan, bibir manis yonghoon masih menjadi candu yang memabukkan. Namun tak lama pagutan indah itu terlepas, menampakkan pipi yonghoon yang merah merona.

“terimakasih atas kado terindah yang kau berikan” tutur hyunjoong kemudian.

“apa?”

“little kim” tangan hyunjoong terulur mengusap perut datar yonghoon penuh kelembutan, disertai ciuman berniat menyapa malaikat kecil mereka. Yonghoon melayang seketika, perutnya terasa hangat dan nyaman. Bahagia, itu yang dia rasakan hingga ia ingin melompat kegirangan saat ini juga. Ohh mungkin hatinya lebih dulu melompat lompat di dalam sana.

”dia, berapa umurnya?” pria itu tersenyum senang. Terlihat matanya berbinar menampakkan secerca kebahagiaan.

“satu bulan” jawab yonghoon malu-malu. “oppa gomawo” peristiwa mengharukan itu berakhir dengan sebuah pelukan. Lengkap sudah kebahagiaan yonghoon. Hyunjoong menerima kehadiran malaikat kecil itu disisi mereka, tak ada kebahagiaan lain selain itu.

~ ~ ~ ~

Gemericik air samar terdengar dari ruang basah di sudut kamar sebuah apartement mewah tengah kota. Cho kyuhyun, tengah asik berkecimpung dengan air hangat yang mengucur membasahi tubuh kala seorang gadis dengan lancang memasuki apartemennya tanpa sepengetahuan pria itu. Dia adalah yonghoon.

Ya, gadis ini memang tak perlu permisi lagi untuk sekedar masuk apartemen kyuhyun, mungkin tepatnya dia yang terlalu seenak hati. Kyuhyun yang notabennya adalah teman dekat yonghoon, sudah sangat hafal dengan segala tabiat gadis satu ini. Mereka memang bersahabat sejak lama, begitu juga orang tua mereka. Dua keluarga yang sudah seperti saudara. Kyuhyun dan yonghoon, mereka tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama, hanya saja yonghoon berada satu lantai di bawah kyuhyun. Tapi gadis ini terlalu sering kaluar masuk apartemen kyuhyun, seolah menganggap apartemen ini tempat tinggal keduanya mungkin. Kyuhyun sering geram dengan kedatangan yonghoon tiba-tiba.

“kyuuu…. Dimana kau?” teriak yonghoon dengan suara cempreng andalannya. Tapi kyuhyun yang masih sibuk di kamar mandi tetap saja tidak mendengar. “cho kyuhyuuun…”. Puas berkeliling hingga dapur bahkan ruang kerja namun batang hidung pria itu tak juga kelihatan. Satu tempat yang belum terjamah adalah kamar kyuhyun. Yonghoon melangkah pasti menghampiri pintu kamar itu, dia yakin kyuhyun ada di dalam sana.

Cklekk…

Dua buah pintu terbuka bersamaan. Tanpa sengaja yonghoon mendapati pemandangan cukup vulgar alias menggiurkan, itu berkat kecerobohannya sendiri. Kebetulan kyuhyun baru keluar kamar mandi dengan hanya butuh bagian bawah telilit handuk hingga tubuh putih semampai milik pria itu kini terpampang nyata, ohh dijamin membuat siapapun berdesir melihat penampilannya. Itu sah saja bukan? dia mandi di apartemennya sendiri. Yonghoon saja yang serampangan main masuk tanpa permisi. Tapi dasar gadis ini, dia bahkan tak merasa malu atau menyesal sedikitpun. “oops, sorry” ujarnya santai, lalu segera menutup pintu kamar kyuhyun dan pergi. Dilain sisi kyuhyun hanya menggeleng heran melihat sikap serampangan sahabatnya itu.

~ ~ ~

“apa lagi sekarang?”

Kyuhyun kini telah rapi dengan pakaian santainya melangkah dari dapur beserta dua kaleng minuman di tangannya. Seolah hafal dengan kebiasaan yonghoon yang datang tiba-tiba tengah malam begini pasti hanya untuk bercerita, curhat atau semacamnya. Yonghoon merengut, menatap ragu pada minuman kaleng yang kyuhyun berikan.

“ini bebas alcohol” kata kyuhyun seolah mampu membaca pikiran yonghoon sembari mendudukan tubuhnya di sisi gadis itu. Ya, kyuhyun pasti tahu yonghoon tak bisa minum minuman memabukkan. Sekarang dia harus siap mendengar segala ocehan gadis ini yang semoga saja tak terlalu panjang lebar mengingat dirinya harus cukup istirahat mempersiapkan diri untuk meeting besar besok pagi. Ohh shittt.

“kyu…” lihat gadis itu tampak antusias. Dia tak bisa menyembunyikan hal menggembirakan ini dari kyuhyun. “chan..chann…” ujarnya sembari menunjukkan jari manis tangan kirinya. Disana melingkar sebuah cincin permata pemberian hyunjoong. Astaga, jadi dia kemari tengah malam hanya untuk memamerkan hal itu? tak bisakah dia menyimpannya sampai besok? gurutu kyuhyun dalam hati. yah mau bagaimana lagi, yonghoon terlalu gembira hingga dia ingin mengatakan ini pada seluruh dunia, tapi itu berlebihan. Yang penting pria ini harus tahu dulu, pikirnya.

“kau tahu kan ini artinya apa?” yonghoon masih cukup sabar melihat kyuhyun yang hanya menampilkan ekspresi sedatar papan. Tapi ya ampun, apa dia pikir kyuhyun itu bodoh. Dengan melihatnya saja dia tentu tahu apa arti cincin itu.

“dia melamarku kyu!! aku akan segera menikah” masih terus kegirangan. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Ohh… mungkin jika yonghoon lupa dengan apa itu harga diri, pasti dia sudah melompat-lompat seperti orang gila saat hyunjoong melamarnya tadi. Tapi berhubung ini kyuhyun, jadi dia bebas melakukan apapun tanpa harus merasa malu.

“chukkae” kyuhyun tersenyum tulus walau tampang dinginnya masih sangat kental. Dalam hati dia ikut senang mendengar kabar gembira ini. “aku bersyukur pada akhirnya ada pria yang mau menerimamu apa adanya,”

“mwo? Memang apa yang salah dengan diriku?” tak terima, yonghoon mulai protes. Tapi sayang Kyuhyun tak berniat menjawab, cukup mengedikkan bahu dengan acuh. Heol, rupanya dia ingin berperang. “yak tuan cho, katakan memang ada apa denganku hah?” yonghoon semakin bernapsu mencekik leher putih jenjang milik kyuhyun, ohh lihat itu sangat menggiurkan.

“yak hentikan!! Apa yang kau lakukan?” mulai kuwalahan dengan tindakan bringas yonghoon, gadis ini tak main-main dengan ucapannya. Hampir saja kyuhyun kehabisan napas oleh tangan mungil itu.

“ahh aku tahu… kau pasti iri kan?? Cho kyuhyun mana punya nyali melamar wanita. Aku kasihan pada hyorin-ssi, harus berapa lama lagi dia menunggu?? semoga dia tidak karatan”

“jaga bicaramu nona song!!” kini giliran kyuhyun tak terima dengan cibiran penuh penghinaan itu. Gadis ini terlalu berani, ohh kyuhyun bersumpah jika saja dia bukan sahabatnya pasti telah habis ditelannya bulat-bulat. Sungguh gadis yang beruntung.

~ ~ ~

Yonghoon pov

Tinggal beberapa hari lagi, hari dimana saat paling membahagiakan itu tiba. Menikah dengan hyunjoong oppa, aku merinding membayangkan dia mengucap janji sehidup semati dihadapan Tuhan. Memikirkannya saja membuatku ingin bersorak seperti orang gila. Harusnya aku berterimakasih pada Tuhan yang telah mempertemukanku dengan sosok itu. Pria paling mempesona yang pernah ku temui. Kim hyun joong, dengan segala yang melekat pada pria itu aku sangat menyukainya.

Semakin hari cintaku akan semakin dalam, terlebih saat dia menerima malaikat kecil yang kini tumbuh di rahimku. Dia hadir sebagai penyempurna kebahagiaanku. Hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk penikahan kami kelak. Dan Hyunjoong oppa, dia adalah pria yang bertanggung jawab, dia adalah priaku. Aku sangat mencintainya.

Persiapan pernikahan hampir selesai, tinggal fitting baju yang belum ku lakukan. Hal itu selalu saja tertunda akibat kesibukan hyunjoong oppa yang harus mengurus perusahaan. Sekedar info saja… Hyunjoong oppa, dia bekerja di perusahaan milik ayah, Song Corp. Kami bekerja dalam satu divisi yang sama, tepatnya dia adalah atasanku.

Sial, tampaknya ayah lebih menyayangi hyunjoong oppa ketimbang anaknya sendiri, buktinya dia lebih mempercayakan posisi itu padanya. Well, ku akui kemampuan pria itu memang luar biasa. Hampir selevel dengan pria sok dingin itu, cho kyuhyun. Tapi berkat itu semua, dia masih harus sibuk di hari menjelang pernikahan kami.

Aku tahu dia tipe perfectionis yang tidak akan puas jika tak melihat sendiri bahwa semua pekerjaan berjalan lancar. Akibatnya, kini aku harus fitting baju seorang diri, sedangkan dia masih sibuk dengan cabang perusahaan di Jepang. Jujur saja ini sungguh menyebalkan.

“cho kyuhyuuunn…” pekikanku keras melalui telepon. Hmm… ku yakin telinganya berdenging seketika. Itu bagus.

“bisakah kau buang jauh-jauh suara cemprengmu itu? telingaku bisa tuli” heol.. mulut pedas itu lagi rupanya. Dia pikir dengan itu akan berhasil menciutkan nyaliku? Jangan harap, dasar bodoh!!

“yak… temani aku ke suatu tempat siang ini!!”

“kau pikir aku pengangguran?” sial, teman macam apa dia. Aku butuh teman untuk sekedar menjadi supirku. Terlalu malas jika harus menyetir sendirian. Apa dia tidak mengerti hah?

“ayolah cho kyuhyun, oppaku yang tampan…. Temani aku!!” satu jurus terakhir. Merayu, walau kemungkinan ini akan berhasil sangatlah kecil. Terlalu malas jika harus memaksanya, sebab samasekali tak kan membuahkan hasil. Kepalanya terlampau keras.

“yakk… simpan kalimat menjijikan itu, telingaku gatal mendengarnya. Jam berapa?” bagus, dia setuju. Hwaah… ini berita mengejutkan, seorang cho kyuhyun begitu mudah dirayu? Kejadian ini benar-benar sangat langka. “jam makan siang. Jemput aku di kantorku!!”

Yonghoon pov end

~ ~ ~

Cho kyuhyun, pria itu sempat bergelut dengan lembaran-lembaran kertas putih menggunung di meja kerja, setelah beberapa saat lalu kegiatannya terganggu oleh panggilan yang berakhir dengan pemaksaan. Siapa lagi kalau bukan yonghoon. Gadis itu tak berhenti merecoki hidupnya. Tapi bagaimana lagi, dia termasuk dalam salah satu orang berpredikat penting dalam kehidupan kyuhyun. Entahlah mungkin karena sejak kecil mereka sudah seperti saudara.

Tak dipungkiri gadis itu adalah orang pertama yang kerap kali menjadi sandaran kyuhyun saat dirinya mendapat kesulitan. Mengapa bukan hyorin? mungkin kyuhyun punya alasan tersendiri hingga lebih memilih yonghoon untuk sekedar teman melepas penat. Jadi yonghoon cukup layak bukan untuk mendapat predikat semacam itu di mata kyuhyun.

“cho kyuhyun mana punya nyali melamar wanita”

 

Sial, kalimat terkutuk itu tiba-tiba melintas di otaknya. Kyuhyun menggeram, menghentikan aktivitas coretannya pada kertas-kertas itu. Mulut yonghoon benar-benar tak tahu aturan. Dasar bodoh, apa dia lupa siapa cho kyuhyun? Pria ini bahkan tak punya syaraf takut di tubuhnya. Jadi sekedar melamar wanita, itu bukan suatu masalah. Asal yonghoon tahu saja, Kyuhyun hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.Yah, tabiat perfectionis kyuhyun memang nomor satu, dia ingin semuanya terlihat sempurna.

Kini tangannya terulur meraih sebuah kotak kecil berwarna biru sapphire -warna kesukaan kyuhyun- yang tersimpan di dalam laci. Dalam kotak itu tersemat sepasang cincin indah bertuliskan dua nama. Mungkinkah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya? Pria itu beralih pada ponsel yang sejak tadi dibiarkan menganggur.

“yoboseo hyiron-ah… malam ini, bisakah kita makan bersama?… aku akan menjemputmu nanti… geurae, saranghe”

~ ~ ~

Siang itu cukup dingin, matahari sedang bermalas-malasan membagi hawa panasnya ke bumi. Entah apa yang sebenarnya dia lakukan di balik awan pekat itu. Gundukan-gundukan salju masih saja utuh menggunung di sana sini. Walau kini jarum jam menunjukan pukul satu siang, tapi jangan harap kau akan bertahan di luar ruangan tanpa mantel tebal pembungkus tubuh. Tapi gadis ini, tampaknya dia tak peduli. Masih saja berkeliaran di depan gedung pencakar langit bertuliskan Song Corp. Sejak tadi hanya mondar-mandir, sesekali menggesekkan telapak tangannya untuk mendapat sedikit rasa hangat. entah tidak waras atau apa, di suhu sedingin ini malah membiarkan tubuhnya hampir membeku.

“cho kyuhyun, tamat riwayatmu!!!” gadis ini menggeram melihat audi hitam mengkilat milik pria itu mulai memasuki plataran gedung. Ohh bagus, kali ini yonghoon tengah memegang level tertinggi untuk emosinya, tentu karena pria itu kembali berulah. Yonghoon meminta kyuhyun datang saat jam makan siang, tapi lihat sekarang! sudah lewat satu jam dari perjanjian. Apa seluruh jam di kantornya musnah? Yonghoon begitu penasaran dengan hal itu. sungguh, dia harus meminta ganti rugi untuk tiap detik keterlambatan kyuhyun.

Tin..tin…

Kaca depan terbuka bersamaan dengan mobil kyuhyun yang berhenti, tepat di samping yonghoon yang tengah melipat tangannya angkuh didepan dada. Samar Kyuhyun merasakan aura gelap terpancar dari tubuh mungil itu. tapi lihatlah! pria ini begitu tenang, mungkin tak menganggap itu sebagai ancaman berarti. Kyuhyun tak berniat turun,atau sedikitpun kata maaf, ohh itu bukan gayanya.

“apa ini jam makan siangmu?” kalimat sarat akan hawa dingin dari tampang mengerikan seorang yonghoon. sepertinya dia ingin melahap habis pria yang masih duduk anteng di bangku kemudi tanpa ada rasa takut atau bersalah sedikitpun. yonghoon serasa muak dengan tampang dingin itu.

“kau masih ingin mengoceh? Kalau begitu aku pergi dulu” kyuhyun spontan menginjak gas.

“yak cho kyuhyun. Sialan, berhenti kaaau…!!” teriakannya sambil mengejar mobil kyuhyun. Pria itu benar-benar gila, bukan minta maaf dia malah pergi begitu saja. Yonghoon mengutuk dirinya sendiri bagaimana bisa dia berteman dengan orang macam itu. berniat memberi pelajaran malah dia sendiri yang kena batunya, sungguh sial. Dia lupa lawannya bukanlah seorang manusia, melainkan titisan iblis yang menjelma. Tapi Yonghoon sedikit lega saat kyuhyun menghentikan mobilnya, segera saja dia masuk sebelum mobil itu melarikan diri lagi.

Pria itu tersenyum, tepatnya sebuah seringai di sudut kanan bibir melihat yonghoon tengah berusaha membuat napasnya kembali normal setelah berlarian mengejar mobil kyuhyun. Senyum kepuasan perlambang kemenangan pertarungannya dengan yonghoon. Astaga dia benar-benar licik. Yonghoon memilih pasrah, hingga dunia berakhirpun dia tak akan menang dari kyuhyun. Itu sudah takdir. “apa kau lelah?” Tanya pria itu.

“diam kau!!” jawaban sakartis yonghoon, lagi-lagi kyuhyun tersenyum puas dan mulai melajukan mobilnya. Sungguh, yonghoon ingin mencabik-cabik wajah tampan itu hingga tak berbentuk, jika saja dia bisa melakukannya.

Derrrtt…derrrrtt…..

Yonghoon segera merogoh saku mantel kala merasakan getaran kuat berasal dari ponselnya. Gadis yang masih betah dengan aura mematikan yang ia tujukan pada pria pengemudi itu tiba-tiba tersenyum lebar. Satu panggilan yang di nanti-nanti datang di saat yang tepat. Saat paling membosankan dan menegangkan.

“yeoboseo oppaaa… aku merindukanmu. Kapan kau kembali? Apa kau tak merindukanku?” mendengar kalimat bernada manja itu benar-benar membuat kyuhyun mual. Tepat setelah seringai mengejek sempat muncul di bibirnya. Yonghoon tak peduli, dia masih sibuk dengan perbincangan romantisnya.

“jinjja? Baiklah, aku akan menunggumu di bandara sore ini. Oppa, tentu kau tidak melupakan oleh-oleh spesial untuk kami kan? Kau tahu, seakan dia merengek ingin segera bertemu denganmu.”

Dahi kyuhyun berkerut, yonghoon bilang ‘kami’? ohh baiklah, di mobil ini memang hanya ada mereka berdua. Kalau urusan oleh-oleh, itu tidak masalah. tapi sejak kapan seorang cho kyuhyun merengek untuk bertemu pria itu. apa gadis ini gila? pikirnya.

“geurae arraseo, saranghe” tatapan tajam yonghoon kini jatuh pada mata kyuhyun. Dia merasa pria ini dari tadi menguping pembicaraannya. Melalui ekor matanya samar dia melihat kyuhyun dengan pandangan mengejek. “wae?”

“aku hanya ingin tanya, apa priamu itu punya gejala penyakit semacam penyakit jantung?” kyuhyun penasaran.

“anni, wae?”

“tidak, hanya saja aku sedikit khawatir”

“apa maksudmu?” yonghoon semakin tak mengerti arah pembicaraan kyuhyun. Ada apa dengan pria ini?

“aku takut dia terkena serangan jantung di hari pertama pernikahan kalian setelah tahu sifat aslimu nona song, hahaha” tawa garing ala kyuhyun. Sedangkan yonghoon, bisa ditebak bagaimana ekspresi gadis ini. Andai saja dia bawa golok, dapat dipastikan kini dia menyandang status sebagai pembunuh paling keji didunia. Dan kyuhyun, dipastikan pria ini tinggalah kenangan.

~ ~ ~

Setelah melewati perdebatan sengit di antara dua iblis ini, akhirnya mereka berhenti di sebuah butik besar. Salah satu butik yang cukup terkenal di seoul, milik desainer park su jin. Dari luar dinding kaca tampak berbagai model gaun pengantin yang begitu menakjubkan. Gaun-gaun dengan warna putih yang dominan bersanding dengan tuxedo hitam dan putih yang menawan. Yonghoon sempat terpana melihat berbagai hasil rancangan wanita bernama park su jin itu. Berulang-kali langkahnya terhenti hanya untuk sekedar menyentuh gaun indah itu, membuat kyuhyun yang mengekorinya lama-lama merasa jengah.

“annyeonghaseo, yonghoon-ssi?” sapa salah satu pegawai disana.

“ne, annyeonghaseo. Aku ingin melihat gaun pesananku.”

“baiklah, silahkan. Eoh? Apa mempelai prianya ganti?” celetuk gadis pegawai itu. dia sempat kagum dengan pria yang sejak tadi mengekori yonghoon. Begitu mempesona dengan jas dan celana bahan berwarna senada membalut tubuh tinggi tegap itu. dengan rambut coklat gelap yang membingkai wajah tampan tanpa cela sedikitpun disana. Tampang dinginnya seolah menambah kadar ketampanan pria ini. tapi ia berbeda dengan pria yang waktu itu datang dengan yonghoon.

“tidak, dia hanya supirku. Ya kan, kyuhyun-ssi?” yonghoon tersenyum disela nada terlampau santai yang membuat dua pasang mata disana melotot seketika. Tak hanya gadis pegawai  itu, kini kyuhyun juga menatapnya tajam. Dua orang ini seolah tak percaya dengan ucapan yonghoon, terlebih lagi kyuhyun. Pria sesempurna dirinya, seorang cho kyuhyun yang tampan dan kaya raya serta menjadi incaran setiap gadis di luar sana, hanya menyandang status ‘seorang supir’? Hwaahh, betapa hebatnya seorang song yong hoon di dunia ini. Daebakk..

“kajja, ahgassi” yonghoon melengos, meninggalkan kyuhyun dan gadis yang masih setia dengan tampang bodoh itu. kyuhyun memutar bola matanya jengah, dia menyesali kebodohannya karena mau mengantarkan gadis sialan ini.

Sreettt….

Tirai biru itu terbuka lebar, menampilkan yonghoon yang menjelma menjadi sosok bidadari. Gadis itu tampak cantik dengan gaun pengantin sedikit terbuka di bagian atas hingga bahu dan leher putih jenjang yonghoon terpampang jelas. Terlebih karena rambut panjangnya dibiarkan tergulung. Ditambah sedikit polesan natural di wajah mulus yonghoon membuat gadis ini semakin berbeda. Terkesan lebih manis.

“kyuhyun-ah, otte?”

Kyuhyun, entah mengapa matanya tak lepas sedetikpun dari sosok indah itu. Sejak pertama tirai dibuka, sepatah katapun sekedar menanggapi pemanpilan yonghoon tak muncul dari bibir pria itu. kyuhyun masih sibuk dengan pantulan indah yonghoon pada retinanya. Begitu indah dan cantik.

“kyu…”

“ohh, ne.. bagus” jawabnya tergagap. Ohh cho kyuhyun sadarlah, sungguh ini sama sekali  bukan gayamu.

“nona lalu bagaimana dengan tuxedo ini?” salah seorang pegawai butik menghampiri yonghoon dengan membawa tuxedo hitam milik pengantin pria yang tak lain adalah hyunjoong. “benar juga…” yonghoon berpikir, seharusnya hyunjoong mencobanya juga, tapi mau bagaimana lagi dia tidak bisa datang kemari.

“ah, kyunnie… sepertinya bentuk tubuhmu sama dengan hyunjoong oppa. Bisakah kau mencobanya?” ide bagus. Kita lihat bagaimana penampilan kyuhyun dengan tuxedo itu. semua orang disini tak sabar melihat penampilannya.

Kyuhyun melongo, ide gila macam apa lagi ini? Gadis itu benar membuatnya tertekan dengan segala bentuk pemaksaannya. Ini benar-benar penindasan, atau tepatnya penganiayaan.

“hwaahhh kyunnie… kau sangat tampan…. Tuxedo itu begitu pas dengan tubuhmu. Ohh aku yakin hyunjoong oppa akan cocok mengenakannya”

Yonghoon tengah sibuk dengan berbagai celotehan setelah gadis itu berhasil memaksa kyuhyun  menuruti kemauan gilanya. Kyuhyun kali ini benar-benar pasrah. “kyu, ayo kita foto untuk kenang-kenangan” yonghoon mengeluarkan ponsel dari dalam tas.

Clikk… satu gambar tercetak indah di ponsel yonghoon. Yonghoon terlihat begitu manis dengan senyum menawan di bibir tipisnya, sedangkan kyuhyun tetap menjunjung tinggi tampang datar di wajah rupawan itu, namun tanpa diduga dua jari kyuhyun terulur membentuk sebuah tanda ‘V’. Mereka terlihat begitu serasi, layaknya sepasang pengantin sungguhan.

Derrrtt…derrrrtt…

Sekali lagi ponsel yonghoon bergetar, kali ini menampakkan nama kim abonim berkedip-kedip di layar datar itu. yonghoon yang awalnya ragu, tak ingin membuat sang calon mertua menunggu lama. Ia segera menjawab panggilan itu.

“yoboseo abomin….. ye, waeguraeyo?..… hyunjoong oppa? Bukankah dia baik-baik saja?……. mwo?……”

Kyuhyun sempat mengamati tubuh yonghoon menegang dengan wajah pucat pasi. Detik kemudian dia mendapati tubuh mungil itu jatuh terkulai di pelukannya dengan keadaan tak sadarkan diri.

“yonghoon-ah…. Hoon-ie irona… yak.. hoon-ie”

~ ~ ~

Sore itu langit kembali mengirimkan rintik salju, butiran-butiran putih seputih pita kecil melekat pada pakaian gelap nan hitam yang mereka kenakan. Song yonghoon duduk bersimpuh, menghadapkan diri pada sebuah gundukan tanah hitam yang kian memutih oleh guyuran salju. Dia menangis, derai air mata tak juga habis terus mengalir di wajah pucatnya. masih betah memandang senyum memukau di wajah tampan penuh pesona dalam bingkai yang membungkus foto itu.

Kim hyunjoong. Pria dalam foto itu pergi untuk selamanya. Mobil maut telah mengantarkannya pada ajal. Tentu ini pukulan telak bagi yonghoon, seminggu menjelang hari bahagia mereka. Tuhan memberikan kejutan terpahit dalam hidupnya.

“hoon-ie, ayo kita pulang” rupanya dia tak sendiri. Pria dingin ini sejak tadi berdiri di sampingnya. ikut merasakan betapa hancurnya seorang song yong hoon saat ini.

“tidak, aku ingin bersama dia disini”

“kau bisa sakit jika terus berada disini” kyuhyun bersikap lembut, di saat seperti ini dia harus menyimpan rapat-rapat sikap dingin yang biasa terpancar pada dirinya. Melihat keadaan yonghoon yang sangat menyedihkan, hatinya merasa sakit. Begitu pedih seakan dirinya kini berada di posisi yonghoon. Kyuhyun tahu betepa yonghoon sangat mencintai pria itu.

“kajja” sekali lagi kyuhyun berusaha mengangkat tubuh yonghoon untuk bangkit dan segera pulang. Setelah berjam-jam duduk terpekur di atas dinginnya tanah bertabur salju tubuh yonghoon akhirnya menggigil kaku dengan ujung jari yang mulai membiru.

“shiroo, pergi kau cho kyuhyun. Aku ingin menemaninya disini. Pergi kau…!!” tetap saja keras kepala. Tak peduli bagaimana tubuhnya memucat kaku. Yonghoon tetap tak ingin beranjak dari tempat itu sejengkalpun. Dirinya tak rela meninggalkan hyunjoong tertidur sendirian di tempat sedingin ini. Apapun yang terjadi dia harus menemani prianya.

Menyadari tak ada pergerakan sedikitpun dari kyuhyun, yonghoon dengan sisa tenaga yang dia miliki akhirnya bangkit namun niatnya kini untuk mendorong kyuhyun agar segera enyah dari hadapannya. “ pergi kau cho…” dan tepat sebelum pekikannya rampung tubuh yonghoon kembali jatuh terkulai tanpa kesadaran di dalam pelukan kyuhyun.

~ ~ ~ ~

Kyuhyun, pria ini masih menatap iba pada tubuh gadis yang terbaring lemah di ranjang apartemennya. Tubuh yang semula dingin dan membiru kini mulai stabil walau wajah itu masih tampak sangat pucat. Seorang dokter pribadinya berhasil menyelamatkan nyawa yonghoon dari serangan hipotermia. Yonghoon masih betah tertidur dalam kungkungan selimut tebal. Sesekali pria itu tlaten menggati kain pengopres di dahi yonghoon.

Saat setetes air bening mengalir dari sudut mata yonghoon yang terpejam, kembali pergerakan kyuhyun terhenti. Bahkan dalam tidurpun gadis ini merasakan kepedihan. Ya, kyuhyun mungkin tak dapat ikut merasakan seberapa sakit dan hancurnya yonghoon atas peristiwa ini. Tapi dengan melihat betapa terpuruknya yonghoon, kyuhyun sedikit mengerti apa arti kehilangan dan itu sangatlah menyakitkan.

Belum cukup sampai disitu penderitaan yang harus yonghoon hadapi, kyuhyun sendiri hampir tak percaya jika bukan karna dokter itu yang memberitahukannya.

“dia terlalu lelah, ditambah lagi sepertinya beban pikirannya terlalu berat. Apa ada masalah besar yang tengah menimpanya? Jangan biarkan dia kelelahan karena itu sangat tidak baik untuk kandungannya. Ini baru berjalan satu bulan namun tampaknya kandungan yonghoon-ssi sangat lemah”

 

Kim hyun joong, pria itu pergi dengan meninggalkan benihnya di rahim yonghoon. Benih yang semestinya menjadi sumber kebahagaian untuk yonghoon jika saja maut tak menjemput pria itu begitu cepat. Lalu bagaimana dengan benih itu sekarang? Akankan masih menjadi kebahagiaan bagi yonghoon atau malah sebaliknya. Menjadi beban karena tak ada lagi hyunjoon di sisi yonghoon. Kyuhyun, dadanya sesak membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada sahabatnya itu. “brengsek kau hyunjoong-ssi” gumamnya lirih disertai tatapan penuh amarah pada satu titik lemah di sana, yonghoon.

~ ~ ~ ~

Yonghoon pov

Perlahan mengerjap, ngilu saat cahaya silau menusuki kelopak mata sembab ini. Saat mata terbuka lebar, semua masih sama. Tak ada yang berubah walau barang secuil saja. Berhari-hari lamanya memejamkan mata tanpa henti berharap tak kan pernah terbangun lagi. Berharap Tuhan tak akan mengembalikan nyawaku, tapi mungkin Tuhan membenciku hingga melemparnya lagi ke dalam raga ini.

Oppa, tega sekali kau melakukan ini padaku. Kau pergi sendiri tanpa diriku? Setidaknya bantu aku agar bisa menyusulmu. Apa kau lupa janjimu untuk selalu di sisiku? Kau mengingkarinya oppa, aku benci padamu. Tahukan kau adalah pusat rotasi kehidupanku? Jika kau pergi lalu bagaimana aku akan hidup? Apa yang bisa ku lalukan jika tanpamu. Oppa kau tak ingin melihatku memakai gaun pengantin ini? Asal kau tahu saja, aku tampak cantik saat memakainya. Ku jamin pasti kau akan jatuh cinta padaku sepuluh kali lipat dari sebelumnya.

Tapi mengapa? Aku pergi terlalu cepat oppa. Kita bahkan belum menimang malaikat kecil yang sebentar lagi akan hadir di tengah-tangah kita. Seharusnya kita menua bersama dan mati bersama, tapi mengapa? Tuhan, sedalam itukah kau membenciku? Kau tega mengambilnya dariku saat aku benar-benar membutuhkannya. Jika kau memang membenciku, seharusnya akulah yang kau ambil. Tuhan apa Kau ingin melihatku tersiksa dan perlahan mati? Baiklah, aku akan mati secara perlahan sebab aku telah hancur, benar-benar hancur…

“aaaaahhkk…”

Aku benci padamu oppa, aku benci takdir yang Kau tuliskan untukku, Tuhan. Aku benci dengan semua ini.

“yonghoon-ah, apa yang terjadi?”

Aku juga membencimu cho kyuhyun.

Pintu kamarku didobrak paksa, kini tampaklah pria berengsek itu di hadapanku. Entah apa yang baru dia lakukan hingga dadanya kembang kepis. Semakin dekat langkahnya, aku semakin benci melihatnya  menatapku iba.

“pergi kau dari sini!!”

Aku sungguh muak dengan pria itu. Apa lagi saat melihatnya bukan menjauh malah semakin mendekat. Aku yakin dia tau maksudku tapi dia malah berlagak bodoh.

“yonghoon-ah, hentikan menyiksa dirimu sendiri.”

“wae? Apa kau kasihan padaku? Aku memang terpuruk dan perlu belas kasihan, tapi aku tak butuh semua itu. yang ku butuhkan sekarang adalah hyunjoong oppa atau… mati.”

“kau ingin mati?” matanya menyalang. Aku tahu kyuhyun marah, tapi demi apapun disini akulah yang berhak emosi.

“ya… tapi mengapa kau selalu menggagalkannya?”. Ya… emosiku memuncak beberapa hari lalu, aku depresi. Dengan segala kenekatan saat berhasil mengoyak nadiku dengan pecahan beling, tunggu sebentar saja nyawaku berhasil melayang. Aku hampir mati bahagia sebelum kyuhyun datang dan mengacaukan segalanya, berengsek!

“kau sungguh ingin mati? Baiklah…” ujarnya dingin seraya menyeret kedua tanganku sekuat tenaga. Cengkramannya tetap mengenai luka goresan beling yang belum sempat mengering beberapa hari lalu. Sedikit meringis menahan perih tapi aku tak mampu berontak sedikitpun, tubuhku lemah. Aku tak memiliki sisa tenaga yang cukup untuk melawan emosi keparatnya.

“ahhk..” kembali tersentak. Punggungku membentur pagar pembatas balkon apartemen berkat hempasan kuatnya. Tatapan tajam kini keluar dari dua bola mata mengerikan itu. demi apapun cho kyuhyun apa yang akan kau lakukan? Kau ingin membunuhku? Ohh dengan senang hati, aku akan sangat berterimakasih.

“kau ingin mati bukan? Kalau begitu lompatlah!!” kau gila? Sedikit menengok kebelakang memandang jalan raya di dasar sana membuatku pening seketika. Kali ini dia benar-benar mengijinkanku mati? Cho kyuhyun kau baik sekali.

“apa yang kau tunggu? Tenang saja, kau tidak akan merasakan sakit seperti waktu itu. ayo cepat lakukan!! Aku tidak sabar melihatmu terkapar dengan tubuh hancur di bawah sana. Kau akan mati dengan tenang hoon-ie.”

Dia benar. Hanya dengan cara mati aku akan bertemu lagi dengan hyunjoong oppa bukan? Jika Tuhan tak sudi mengambil nyawaku, maka aku sendiri yang akan melenyapkannya.

“tapi ingat song yong hoon, disini kau bukanlah korban. Kau bukan korban dari takdir yang Tuhan gariskan padamu. Kau hanya akan menjadi seorang pembunuh.”

Mwo? Apa yang dia bicarakan? Pria bodoh ini benar-benar gila. Jelas-jelas disini akulah yang menjadi korban atas takdir busuk ini.

“kau lupa? Di dalam rahimmu ada kehidupan. Susah payah dia bertahan dan tumbuh di dalam sana. Dialah satu-satunya peninggalan priamu yang begitu kau cintai. Dan dia akan lenyap segera karena ulahmu. Dari situ kau tak pantas menyebut dirimu sebagai korban. Kau tak lebih dari seorang pembunuh yonghoon-ah”

Bibirku kelu, tenggorokanku tercekat dan napasku sesak. Mengapa perkataannya selalu berhasil menusuk jantungku? Bahkan aku sendiri tak dapat berpikir jernih hingga dengan bodoh hampir membahayakan kehidupan lain yang tengah bergantung padaku. aku hampir saja membunuhnya. Membunuh nyawa yang tak berdosa. Aku hampir membunuh darah daging hyunjoong oppa yang dia titipkan padaku. Oppa, mianhe.. jeongmal mianhe… ku harap kau tak marah padaku. Tapi bagaimana kami menjalani hidup jika tak ada kau disisiku?

“aaaahhhk”

Tubuhku ambruk, benar-benar frustasi. Saat ini apa yang harus ku lakukan. Sungguh, tubuh ini tak akan kuat jika harus menanggungnya seorang diri.

Cho kyuhyun, perlahan memelukku. Mendekap tubuhku erat, membagi sedikit kekuatannya.  “gwaenchana… gwaenchana… aku akan selalu membantumu.” pria ini menangis, dia menangis bersamaku. Walau lirih aku bisa mendengar isakan pilunya. Kyu, benarkah ini kau? Pria dingin berlidah tajam yang biasa membuat emosiku cepat mendidih? Kau yang selalu bertindak acuh pada siapapun tak terkecuali padaku, kini kau memelukku dan menenangkanku. Trimakasih Tuhan, setidaknya kau masih sudi mengirimkan malaikat penolongmu kepadaku.

Yonghoon pov end

~ ~ ~ ~

Author pov

Cho kyuhyun, sebenarnya tampang sedatar itu tengah mati-matian menyembunyikan gejolak  dalam diri. kyuhyun memang ahli untuk urusan seperti ini. Cukup hatinya menggeram melihat tingkah sembrono yonghoon. Beraninya gadis ini keluar kamar mandi dengan handuk yang hanya mampu menutup tubuh bagian dada hingga setengah paha. Apa dia tak sadar bahwa di dalam kamarnya masih terdapat kyuhyun, atau mungkin juga dia tidak tahu. Baiklah anggap saja seperti itu, kepalang basah alias sudah terlanjur.

Tanpa peduli tatapan kyuhyun, yonghoon mendekati almari dan mengambil beberapa helai baju di sana. Pandangannya kini terlempar pada pria yang sejak tadi betah menatapnya tajam. Jangan salah, ini bukan tatapan menggoda ataupun tergoda, kyuhyun masih waras walau dihadapkan pada pemandangan semolek itu. yang ada dia malah geram dan merutuk dalam hati. Bagaimana bisa dia menghawatirkan wanita sebodoh itu? ohh kyuhyun merasa gila. Kembali dia menyesali pikiran yang sempat memprediksi bahwa gadis ini akan mencoba bunuh diri lagi jika dia lengah sedikit saja meninggalkannya. Pikir lagi, Cho Kyuhyun menunggui gadis yang tengah mandi? ia bersumpah itu hal terbodoh yang pernah dia lakukan.

“kau tak ingin keluar? Aku harus memakai baju” merasa terganggu rupanya, kenapa pikiran itu baru datang. Pria itu mendesah pelan, tingkat kesabarannya benar-benar tengah di uji Tuhan. Namun sebelum itu mencapai batas lebih baik dia segera pergi.

“kupesankan bubur abalone untukmu. Aku pergi” kemudian meraih gagang pintu.

“pergi kemana?”

“obeoji memintaku kerumah sekarang… Dan juga, sementara ini tinggalah di rumah orang tuamu. Setidaknya mereka bisa menjagamu”

“kheurae… kyuhyun-ah, gomawo” kyuhyun diam dalam senyuman tipis, dia lupa kapan terakhir yonghoon mengatakan itu dengan tulus.

~ ~ ~ ~

Yonghoon pov

Esok hari, harusnya menjadi hari paling mendebarkan dan membahagiakan dimana aku bersanding dengannya di pelaminan. Namun sekeras apapun mencoba mewujudkannya, hal itu takkan mungkin terjadi karena dia telah meninggalkanku, meninggalkan penderitaan yang harus ku jalani, meninggalkan kami semua disini. Aku sadar ini bukan salahmu oppa, aku juga takkan lagi menyalahkan Tuhan. Pepatah bilang dibalik hujan pasti akan ada pelangi, kini aku tengah menantinya datang menghiburku. Tapi Tuhan, jika Engkau tak sudi membagi pelangiMu padaku, setidaknya beri aku sedikit kekuatan menghadapi semua ini. Kumohon demi hidupku, kumohon demi hidupnya yang bergantung padaku.

“sayang, kau belum tidur?” sapanya. Manic mata itu masih menatapku iba. Apa aku masih terlihat menyedihkan? Mungkin benar karena sejak peristiwa itu aku masih enggan beraktivitas, hanya mengurung diri dalam kamar, seperti ini. Beruntung tak ada lagi terlintas kata mati atau bunuh diri di benakku. Entahlah sebab apa hingga aku ingin bertahan.

“istirahatlah. Kau harus siapkan tenaga untuk acara besok!”

Acara? Seingatku tak ada rencana lain selain pernikahanku besok. Bukankah itu telah kandas?

“acara apa eomma? Aku sedang tak berminat menghadiri apapun.”

“tentu saja acara pernikahanmu, sayang”

“eomma ku mohon, kali ini aku tak ingin bergurau sedikitpun. Hyunjoong oppa  meninggal, bagaimana aku bisa menikah?” apa eomma ingin memperburuk keadaanku, ayolah.. kali ini aku benar-benar tengah rapuh eomma.

“kyuhyun akan menggantikannya sebagai mempelai pria, jadi kau tak perlu khawatir. Pernikahanmu akan tetap berlangsung besok”

Deg…

Astaga apa lagi ini? Berapa kali harus ku bilang aku tak ingin bercanda.

“mana bisa begitu eomma. Kyuhyun punya kekasih, jadi dia tidak mungkin menikah denganku.”

“jadi kau belum tahu? Dia sendiri yang menyetujui pernikahan ini”

Apa? Tidak, ini tidak benar. Pasti ada yang salah dengan semua ini. Siapapun tolong katakan bahwa ini lelocon. Tapi apapun itu, aku harus segera bertemu dengannya. Cho kyuhyun, awas kalau kau berani mempermainkan hidupku. Ini sungguh tidak lucu.

Sial… bahkan ponselnya tak bisa di hubungi. Baiklah, sampai bertemu di apartemenmu, kau harus menjelaskan semua ini jika kau ingin selamat kyuhyun-ah.

“mau kemana sayang, ini sudah malam…”

Yonghooon pov end

~ ~ ~ ~

Author pov

Ruangan ini sengaja di desain agar terisolasi dari dentuman aliran music yang menggila. Bahkan lampu kemilau disco pun tak mampu menembus kaca buram yang terpasang sebagai pintu. Terlampau sunyi… tapi pria itu memilih mengurung dirinya disini bersama lima botol alcohol berkadar tinggi. Tiga di antaranya telah habis tertenggak, tapi harapannya agar menjadi linglung atau bahkan mati tak juga terealisasi. Dia masih waras, bahkan tingkat kesadarannya masih tetap utuh. Sepelik itukah persoalan yang tengah dia hadapi hingga minuman terkutuk itupun tak mampu membuatnya sejenak melupakan segalanya?

begitulah.. cho kyuhyun, pria ini seakan di hadapkan pada dua pilihan, hidup sengsara atau mati bahagia. Pilihan yang berat antara cinta atau kasih sayang. Dan semua itu benar-benar membuatnya hampir gila. Singkat waktu kyuhyun dituntut untuk memutuskan, bahkan akal panjangnya tak diberi kesempatan ikut berperan.

Hyorin dan yonghoon, dua nama ini memiliki tingkat hampir setara di hidupnya. Hyorin yang memegang hati dan cintanya sedangkan yonghoon telah mengambil sebagian besar kasih sayang, persahabatan dan saudara. Dan yang terjadi kali ini yonghoon benar-benar membutuhkan sosok pelindung, penjaga di tengah kerapuhannya. Buruknya, dua pihak keluarga bersikeras menempatkan kyuhyun pada posisi itu. pilihan yang sulit walau untuk jenius macam dirinya, takkan mudah diselesaikan dengan keegoisan apa lagi bila ada campur tangan hati, sebab akhirnya yang ada hanyalah keterpaksaan. Dengan berat hati kyuhyun  menetapkan besok adalah hari pernikahannya.

~ ~ ~ ~

Brakk…brakk…brakkk….

Bunyi hantaman paksa dari luar membuat gadis ini terbirit-birit menyambangi pintu apartemen pribadinya. Bahkan ini hampir tengah malam, apa tamu tak diundang itu tak memiliki aturan? Antara cemas takut dan kesal, dia memberanikan diri membuka pintu perlahan.

“kyuhyun oppa..”

Tepat ketika tubuh lunglai itu berhambur memeluk erat tubuh mungilnya, dia tersentak hebat. Terlebih saat aroma alcohol menyeruak tajam memenuhi rongga paru-paru, dia sadar prianya tak baik-baik saja.

Secangkir coklat hangat mampu memberi sedikit rasa tenang. Namun percayalah bukan mutlak benda itu yang menjadi penyebab utama. Lee hyorin, gadis yang tengah duduk di sampingnyalah sumber dari ketenangan jiwa seorang cho kyuhyun. Tatapan teduh serta senyuman malaikat sang gadis membuat kedua sudut bibirnya ikut terangkat.

“waeyo? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya lembut.

Lelaki itu tersenyum sumbang dengan hati teramat perih. Antara tega tak tega, haruskah dia memberitahukan hal itu pada gadisnya? Akankah binar mata teduh dan membahagiakan itu masih tersisa setelah dia tahu bencana apa yang akan mengguncangnya? Ohh tidak, senyum malaikat itu terlalu agung jika harus di lenyapkan begitu saja.

“anni, hanya ingin bertemu denganmu saja. Aku merindukanmu”

Dia tertunduk malu, hanya itu yang bisa di lakukan agar rona merah tak tampak berlebihan diwajahnya. “bukankah kemarin kita baru bertemu oppa?”

“wae? Apa aku tak boleh merindukan kekasihku?” lengan kekarnya beralih mendekap tubuh hyorin. Menghirup aroma mawar dari garai surau kecoklatan itu dan membenamkan wajahnya disana. Cho kyuhyun, biarkan dia yang rapuh ini bersandar sejenak. Batinnya terlalu sakit hingga tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Batinnya berkecambuk akankah ini menjadi yang terakhir?

Tidak, kyuhyun tak rela ini semua berakhir. Bahkan dia belum sempat melamar gadisnya. Cincin itu masih tersimpan rapih dengan sangat agung. Jika saja peristiwa itu tak terjadi maka semua takkan pernah menjadi seperti ini. Ohh, seumur hidupnya dia selalu membeci ungkapan lemah semacam ‘jika’. Namun kali ini hanya kata itu yang mampu bersarang di otaknya. Jika saja dia melamar hyorin lebih dulu, jika saja kecelakaan itu tak terjadi, jika saja yonghoon tak berada dalam situasi ini, atau jika saja dia tak mengenal yonghoon maka semua  ini takkan pernah terjadi. Astaga, setan mana yang berani merasukinya hingga kyuhyun menyesali pertemuannya dengan yonghoon. Bahkan duniapun tahu sejak lahir mereka tak terpisahkan.  Kini dia benar-benar membenci takdir. Takdir yang akan menyeretnya jauh dari kata bahagia. Takdir yang membuat harapan sederhana bersama gadisnya kini semakin semu.

“hyorin-ah.. kau tahu, aku sangat mencintaimu.” kembali hatinya menghangat. Hembusan napas kyuhyun begitu terasa menyapu permukaan tengkuknya. Sensasi nyaman dan mendebarkan membuat pelukan pada punggung tegap itu semakin kuat.

“hyorin-ah.. jika aku mati atau pergi, apa kau akan memaafkanku?”

Mata hyori membulat. Kalimat itu bagai hempasan kuat setelah membuat tubuhnya melayang. Benar, ada yang aneh disini. Cho kyuhyun tak pernah semanis ini sebelumnya. Hyorin bergerak ingin memastikan pendengarannya lewat tatapan mata elang itu tapi kyuhyun tak mengijinkan. Rengkuhannya malah semakin erat dan menyesakkan. “aku hanya bertanya, cukup jawab saja. Apa kau masih akan mencintaiku dan memaafkanku. Apa kau masih percaya jika aku akan selalu mencintaimu?”

“ ne, aku percaya. Dan aku yakin kau tak akan meninggalkanku karena kau sangat mencintaiku, bukankah begitu oppa?”

Layaknya sebuah belati menghujam batin kyuhyun tanpa ampun. Dia benar-benar tak kuasa menyakiti gadis ini. Apa yang harus dia lakukan untuk melindungi gadisnya dari rasa sakit yang akan dia hadapi.. kyuhyun benar-benar tak tinggal diam jika gadisnya tersakiti, namun sayang kali ini pelakunya adalah dirinya sendiri. “gomawo”

~ ~ ~ ~

Yonghoon pov

Cho kyuhyun. Bahkan hingga detik ini dia tak berhasil ku temui. Yang membuatku tak habis pikir sebenarnya apa yang ada di otaknya sekarang. Seumur hidup ku akui kejeniusannya tapi mengapa mendadak jadi sebodoh ini? mengorbankan kebahagiannya sendiri untuk orang lain sepertiku? Kurasa dia mulai gila. Walau ku tahu dia bukan sosok pembangkang tapi dia bukan juga sosok yang amat penurut, bahkan jika ingin dia bisa menolaknya dengan mudah. Apalagi sosok hyorin bisa menjadi senjata andalan untuk menghentikan pernikahan ini. Ya, kurasa kini bukan hanya aku yang gila sekarang.

Setengah jam dari sekarang, tepatnya ikrar suci itu akan terlaksana. Dan batinku benar-benar tak karuan hingga rasanya ingin segera kabur dari tempat terkutuk ini.

“kau sudah siap sayang? Kyuhyun sudah menunggu di altar.” Ooh Tuhan aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang  kau rencanakan pada hidupku kelak.

~Skip time~

Kini semua telah terlaksana. Ikrarpun terucap dengan sangat rapi. Ohh betapa bahagianya jika kau yang melantunkannya oppa. Tapi karena Tuhan berkata lain, jadi Tuhan mengirim kyuhyun untuk menggantikanmu.  Dan yang bisa ku lakukan hanyalah menerima semua kenyataan ini.

Apa kyuhyun juga demikian?

semua orang besorak bahagia, tapi kami meringis dalam hati. Terlebih padaku, kini aku benar-benar menjadi wanita paling keji. Saat manatap wajah itu hatiku kembali berdenyut nyeri. Tak ada kemarahan, tak ada penolakan, semua terasa hambar. Yang terpancar kini hanya raut pasrah dan keterpaksaan seorang cho kyuhyun. Astaga sebenarnya kekuatan macam apa yang bisa melumpuhkan keberaniannya menolak pernikahan ini. Kyuhyun-ah, jangan membuatku semakin tersiksa karena rasa bersalah.

Samar dapat kulihat dia memandang sesuatu di luar sana. Satu titik dimana sumber kerapuhannya kini berada. Lee hyorin, gadis itu manatap kami penuh luka. Bisa ku rasakan batinya menangis tersiksa. Hyorin-ssi, aku sungguh minta maaf tapi ini di luar kendaliku. Detik kemudian kyuhyun meninggalkanku bersama para tamu undangan yang sibuk dengan berbagai hidangan.

“hoon-ie, dimana kyuhyun?” tanya gadis cantik itu sekaligus berhasil memporak porandakan lamunan senduku. Ahra eonni, dia adalah kakak perempuan kyuhyun.

“molla eonni, mungkin ke toilet” jawab saja sekenanya.

“lalu kau? kau mau kemana sekarang?”

“aku? Aku juga akan ke toilet.”

Alibi kuno. Jika saja bisa lebih baik aku pergi dari tempat ini segera, tapi apa itu pantas ku lakukan pada acara pernikahanku sendiri. Kurasa tidak. Hanya saja kali ini aku benar-benar harus pergi, tepatnya menemui mereka berdua dan meluruskan segalanya.

“jadi ini yang kau maksud kemarin oppa? Sekarang kau mencampakanku?”

Tariakan pilu karena sebuah penghianatan. Kuyakin dari bibirnyalah suara itu berasal. Lee Hyorin  kini tengah menatap kyuhyun penuh kebencian, penuh luka dan rasa kecewa. Air mata yang begitu berharga mengalir dengan sia-sia.

“ku mohon kau mengerti rin-ah, aku terpaksa melakukannya. Semua terasa berat bagiku, disaat aku harus memilih kau dan yonghoon dan juga…”

“pada akhirnya kau memilihnya oppa, apa kau mencintainya hingga kau mencampakanku seperti ini?”

“rin-ah… dengarkan aku baik-baik…. Sampai matipun aku hanya mencintaimu.  Ada satu hal yang membuatku harus melakukan semua ini. Ku harap kau percaya, aku hanya mencintaimu”

Satu hal? hal macam apa cho kyuhyun? Kau bahkan terlalu bodoh hingga membiarkannya pergi begitu saja. Apapun itu harusnya jangan biarkan menghancurkan kebahagiaan kalian, termasuk diriku. Aku tahu ini semua salahku, ini semua tejadi karena diriku. Jadi kalian tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini. Kyuhyun-ah… hyorin-sii… ini salahku, maafkan aku…

Yonghoon pov end

~ ~ ~ ~

Hari yang melelahkan bagi sepasang pengantin baru ini. Prosesi pernikahan akbar  yang digelar hampir menghabiskan waktu seharian penuh, dan di sinilah mereka sekarang.  Tepatnya kamar apartemen yonghoon. Usulan keluarga cho untuk memboyong serta yonghoon pulang ke istana besar mereka ditolak mentah-mentah oleh kedua mempelai dengan alasan pribadi. Ya, satu alasan yang paling logis bagi pasangan pengantin baru, jadi dengan senang hati bersedia meninggalkan mereka berdua, padahal faktanya hal itu melenceng jauh dari kenyataan. Malam pertama yang syahdu tak pernah ada. Tepatnya kini sebuah kecanggungan yang lebih mendominasi suasana.

Kyuhyun baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian dan celana santai. Handuk kecil yang melingkar di sisi tengkuk dia gunakan sebagai alat pengering ramput coklatnya yang basah. Disisi lain yonghoon yang masih lengkap dengan gaun pengantin menempel di tubuh, kini menatap lekat pada sosok kyuhyun yang sejak tadi tak bersuara atau sekedar mengajaknya bicara. Suasana kelewat canggung hingga yonghoon sendiri bingung harus bersikap

“kyu.. bisa kita bicara sebentar?” kalimatnya menghentikan langkah kyuhyun yang hendak keluar kamar. Rasa canggung ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Terlalu banyak hal yang bertumpukan penuh di otak yonghoon dan semua itu membutuhkan jawaban kyuhyun.

Kyuhyun yang gerakannya terhenti di ambang pintu, tak ada niatan sedikitpun untuk berbalik dan menatap yonghoon.  “aku lelah” jawab kyuhyun singkat kemudian meninggalkan yonghoon sendiri di dalam kamar.

Hati yonghoon mencelos seketika. Sikap kyuhyun terlampau dingin. Tak ada lagi tatapan teduh seperti terakhir kali bertemu, yang tersisa kini hanya raut keterpaksaan dan juga … seulas kebencian.

Tbc…

1440583451_12 kyu10

Advertisements