imfmm

Even if it hurts, pretending that it’s nothing
Even if tears fall, knowing how to hide them
Placing it in one side of the heart
And knowing how to smile as if nothing’s wrong

CHAPTER 2

Yonghoon pov

Larreiy Coffee. Sebuah café yang letaknya tak jauh dari tempatku bekerja. Siang itu, suasana terasa canggung. Dimana aku duduk dihadapan sosok yang kurang lebih tiga tahun ini menjadi idaman seorang cho kyuhyun. Pria dingin yang hingga beberapa hari yang lalu masih menjadi sahabat karibku, tapi karena suatu keadaan menyeretnya hingga menyandang status sebagai suami sahku. Gadis ini adalah lee hyorin, kekasih kyuhyun. Dan aku benci karena harus mengakui  jika akulah penyebab gadis ini berubah status menjadi mantan kekasih kyuhyun.

“hal macam apa yang ingin kau bicarakan, yonghoon-ssi?” tuturnya dingin, walau tak sedingin sikap kyuhyun padaku. Anggap itu wajar dan pantas ku terima. Tampak dari kilatan mata bagaimana dirinya menahan rasa luka di hati saat menatap wajahku.

“lama tak bertemu, hyorin-ssi” sengaja mengumbar senyuman tulus, setulus rasa penyesalan yang membengkak di benakku hingga detik ini.

Rasa bersalah teramat dalam menghantui setiap napasku. Tak pernah sekalipun kubayangkan seorang song yonghoon akan menjadi penghancur kebahagiaan sahabatnya sendiri. Hubungan kyuhyun dan hyorin harus berakhir tragis karena sebuah pernikahan tak terduga, mendadak dan sama sekali tak direncana. Pernikahanku dengan kyuhyun. Alasan terkuat yang menjadi pemicu adalah keadaanku yang hampir depresi, selain itu juga nama baik keluarga. Dimana ketika itu undangan pernikahan akbar telah di sebar, tapi siapa sangka kejadiaan naas menimpa hyunjoong oppa.

Ya.. takdir memang tak bisa di tebak. Dan takdir kerap kali menyeret orang yang tak berdosa. Gadis malang ini adalah satu diantaranya selain kyuhyun. Mereka berdua adalah korban dari takdir yang Tuhan jatahkan padaku.

“bisa kita lewatkan saja sesi basa-basi ini? Sekarang katakan untuk apa kau menemuiku. Apa kau ingin mengolokku karena berhasil merebutnya?”

Lihatlah betapa gadis ini terbawa emosi padahal aku belum memulai satu topikpun. Maklumi saja, aku bahkan bisa lebih parah darinya jika berada pada posisinya. Tapi dia masih terlihat anggun, pantas saja cho kyuhyun tergila-gila.

“tidak hyorin-ssi. Aku datang bukan demi hal bodoh macam itu. Baiklah.. aku datang untuk meminta maaf padamu atas pernikahan ini.”

Ya.. satu dari sekian banyak tujuanku menemuinya adalah untuk minta maaf. Walau itu sama sekali tak dapat merubah apapun, tapi paling tidak lubang di hatiku sedikit tertutupi.

“ aku dan kyuhyun sama sekali tak menduga pernikahan ini akan terjadi, tapi yang kutahu semua ini terjadi karena kondisiku saat itu. dalam hal ini kau berhak menyalahkanku”

Gadis itu diam, entah apa yang ada di benaknya aku sendiri kurang tahu. Apa setelah ini dia akan memakiku sampai habis?

“yang kedua… aku meminta maaf atas nama kyuhyun. Untuk masalah ini dia sama sekali tak bersalah hyorin-ssi. Kyuhyun terpaksa melakukan ini semua. Disaat dia harus memilih antara kau dan aku, dengan berat hati dia harus memilihku. Bukan karena dia mencintaiku, tapi kerena permintaan kedua orangtua kami menjadi beban berat baginya. Kau harus percaya bahwa kyuhyun hanya mencintaimu, hanya dirimu. Dan yang terakhir hyorin-ssi, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?”

Apa yang kulihat, matanya memerah menahan tangis. Tatapan bengisnya kini berubah sendu. Kurasa dia mengerti apa yang ku maksud.

“aku harap kau mau membantuku karena hanya kau yang bisa melakukannya”

“permintaan macam apa?” nadanya yang lembut membuatku sedikit lega, setidaknya dia mau mendengarkan penjelasanku.

“aku ingin kau tetap bersama kyuhyun.”

Iris kecoklatan itu membulat seketika, mungkin dia terkejut atas permintaan gilaku. Ya, mengingat aku adalah istri sah kyuhyun. Hanya istri gila yang meminta wanita lain bersama suaminya.

“kau gila?” Aku memang gila, dan aku tak keberatan dengan semua itu. asal bisa menebus kesalahanku pada mereka. Asal itu bisa mengembalikan kebahagian yang telah kurampas dari mereka, aku rela.

“maaf, bukan maksudku menjadikanmu wanita simpanan atau semacamnya. tapi asal kau tahu saja pernikahan ini hanya sandiwara, dan mungkin takkan bertahan lama. Hyorin-ssi, tahukah dirimu betapa kyuhyun tertekan menikah denganku? Hati kyuhyun yang dingin kini semakin tak bisa disentuh. Hanya kau yang bisa mengembalikan senyuman itu di bibirnya. Aku dan kyuhyun memang menikah tapi kami tidak saling mencintai. Hati kyuhyun hanya untukmu, jadi kumohon kembalilah padanya.”

Tuhan ku mohon bantu aku meyakinkannya. Ini satu-satunya caraku membuang perasaan bersalah. Haruskah aku berlutut di kakinya? Membuang semua harga diri untuk memohon padanya. Tubuhku bangkit dari kursi dan segera mengambil sikap berlutut tepat di kedua kakinya.

“yonghoon-ssi apa yang kau lakukan? Ayo bangun, kau tidak perlu seperti ini”

Puluhan pasang mata menatapku hina tapi aku tak peduli. Persetan dengan mereka yang tak tahu tentang betapa peliknya masalah yang  kuhadapi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana meyakinkan hyorin.

“hyorin-ssi. Kumohon kembalilah padanya, buat dia bahagia bersamamu karena hanya denganmulah kyuhyun bahagia. Kumohon maafkan dia”

“ba..baiklah, aku akan melakukannya”

Kalimat itu, bagai mata air di padang pasir. Air yang menyelamatkan hidupku. “gomawo hyorin-ssi”.

~ ~ ~ ~

Tepat pukul sebelas malam, tubuh tegapnya baru muncul dihadapanku. Tampak lunglai dan kelelahan, langkah gontainya melewatiku yang duduk di sofa menuggunya pulang. Seperti biasa dia hanya diam, takkan ada perbincangan jika bukan aku yang memulai. Jujur saja aku muak dengan situasi ini.

“kau sudah pulang?”

“eoh”

Dia berhenti, menatapku sejenak, sedikit bergumam  dan kembali dengan langkahnya menuju kamar kami. Astaga, entahlah itu layak disebut kamar kami atau tidak.

“kau sudah makan? Mandilah dulu, setelah itu kita makan bersama. Aku sudah memasak untukmu” mencoba berbaik hati, sebisa mungkin berusaha mencairkan suasana.

“aku lelah, aku ingin langsung tidur” lagi-lagi sebuah jawaban yang membuatku kecewa. Tapi ya sudah, masih baik dia mau bicara padaku.

“baiklah… kau tidur di dalam saja. Banyak pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan, jadi mungkin aku akan tidur di sofa” bohongku. Pekerjaan? Yang benar saja. Bahkan aku belum mulai bekerja.

“kheurae”

Ya, begitulah yang terjadi sejak hari pertama kami tinggal bersama. Telah diputuskan kyuhyun  menepat di apertemenku. Berhubung hanya ada satu kamar, kyuhyun biasa tidur di sofa. Sadar diri saja, mana mau dia tidur bersamaku. Mengapa tidak tidur di apartemennya saja? sempat terlintas ide brilliant itu, tapi berkat kebiasaan ahra eonni yang sering datang tiba-tiba, mau tidak mau kyuhyun harus terkurung di apartemenku. Takutnya wanita itu berspekulasi macam-macam tentang penikahan kami jika mendapati kami tinggal terpisah, karena jika itu terjadi dapat dipastikan semua akan tambah runyam nantinya.

Sebulan pernikahan berlalu, tapi sikap dingin kyuhyun tak kunjung surut. Apa hyorin-ssi belum menemuinya? Mungkin dia butuh waktu untuk berpikir, tampaknya aku harus sedikit bersabar. Semoga setelah mereka kembali keadaan akan menjadi lebih baik, terutama kau kyu. Ku harap kau akan sedikit memaafkanku.

Berbaring di sofa yang sempit, jujur saja ini tidak nyaman tapi tubuhku terlalu  lelah. Padahal tak ada aktivitas berat yang ku lakukan seharian ini. Yang ada hanya bolak balik kamar mandi karena rasa mual yang menggila. Entahlah, di usia kandungan yang hampir menginjak tiga bulan rasa mualku masih juga tak bisa di tahan, napsu makan juga berkurang derastis. Tapi untung saja selama ini aku belum merasakan ngidam, hal itu pasti akan sangat merepotkan.

“aegy-ah, eomma akan berusaha menjagamu dengan baik, tapi kau harus membantuku dengan tidak nakal di dalam sana. Ne?” gumaman konyol seraya mengusap perutku sendiri. Berharap dia mengerti keadaanku.

Oppa, andai saja kau disini dan melakukannya untukku… mengusap perutku dan mengecup keningku. Pasti akan sangat menyenangkan, bukan hanya diriku. Di dalam sana dia pasti ikut bahagia. Saat sosok ayah berada disisinya melimpahinya dengan kasih sayang, aku yakin dia juga menginginkannya oppa. Ya ampun,  sejak kapan air mataku ini menetes. Oppa, bisakah kau datang dalam mimpiku malam ini? Aku sangat merindukanmu.

Yonghoon pov end

Author pov

Di dalam sana, pria itu masih menatap gusar pada layar ponsel tergeletak tak jauh dari jangkauan. Berulang kali mengurungkan niatan untuk menghubungi gadis yang telah dia campakan begitu saja. Rasa bersalah yang teramat dalam menjadi pemicu keraguan dalam hatinya saat ini. Bayangan isakan tangis hyorin saat mendapati penghianatan yang dia lakukan lagi-lagi menimbulkan rasa nyeri di ulu hati. Cho kyuhyun, pria itu mendesah frustasi untuk kesekian kali. Terulur  kembali meraih ponsel itu kemudian mencari nama hyorin pada deretan kontak. Tinggal satu langkah lagi menekan tombol hijau maka sambungan akan segera terhubung, namun lagi-lagi dia batalkan begitu saja. Entah apa yang membuat dia begitu takut mendengar suara gadisnya lagi. Apa dia takut akan menyakitinya lagi? Ayolah, kyuhyun tak sepengecut itu.

Kali ini dia benar-benar putus asa. Diletakkan lagi ponselya dan segera bangkit dari pembaringan. Dia perlu sesuatu untuk mendinginkan kepala yang memanas. Pria itu beranjak keluar kamar menuju kulkas besar di sudut dapur. Berharap menemukan sekaleng bir sekedar melunturkan pikiran-pikiran penat. Namun tampaknya harapan tinggalah harapan. Ayolah apa dia lupa yonghoon tak bisa minum alcohol. Mana ada bir di dalam kulkasnya, yang ada hanyalah rentetan jus, kopi, dan susu ibu hamil. Kyuhyun mendesah pelan dan pasrah mengambil satu kaleng kopi siap minum. Niatnya kembali kekamar terhenti setelah bau sedap makanan terasa menggelitik hidung. Benar saja, di atas meja masih tertata rapi hidangan yang segaja yonghoon siapkan, bersembunyi di balik tudung saji. Kyuhyun  tertarik membuka penutup itu dan tampaklah daging bulgogi kesukaan kyuhyun beserta hidangan pelengkap lainnya.

Mata kyuhyun meredup, segelintir penyesalan mulai menggerogoti sudut hatinya. Gadis itu susah payah membuatkan ini semua untuk kyuhyun tapi dia tolak begitu saja. Keegoisan dan kebencian perlahan telah membutakan mata hati kyuhyun. Padahal dia tahu, gadis itu tak selayaknya di benci. Bukan gadis itu semata-mata penyebab kehancuran hidupnya. Tapi mengapa ada sisi gelap di hati kyuhyun yang membuatnya begitu ingin menyalahkan yonghoon.

Kyuhyun kembali melangkah dengan arah berbeda. Mulai mendekati yonghoon yang tidur pulas di sofa. Menelusuri tiap lekuk wajah polos itu, kembali hatinya mencelos perih kala mendapati air mata keluar dari sudut mata yonghoon yang terpejam. lagi… Gadis itu kembali menangis dalam lelapnya. Sudah cukup gadis ini tersiksa dalam menjalani hidup, haruskah dia masih dipersalahkan atas situasi yang terjadi saat ini. Ya ampun cho kyuhyun, ini semua hanyalah permainan takdir dari Tuhan. yonghoon hanya di tunjuk menjadi pemeran utama, dan kau diminta untuk membantunya. Ini sama sekali bukan kemauan gadis itu.

Mata kyuhyun memerah menahan sesak teramat sangat didalam dada. Hati dan egonya masih berperang sengit disana. Haruskah dia menerima semua ini dengan lapang dada dan belajar mencintai yonghoon? Sejurus dengan itu maka dia harus melupakan lee hyorin.

Lee hyorin? Tidak. seketika itu Kyuhyun menggeleng kuat. Janjinya sempai mati adalah mencintai hyorin, bukan yonghoon. Sadar dari lamunan sendu kyuhyun menatap lagi yonghoon yang tampak kedinginan. Hatinya tergerak menyelimuti tubuh mungil yonghoon dan memilih segera kembali berbaring di kamar.

~~~~

“kau akan berangkat? aku sudah siapkan sarapan untukmu” ujarnya saat kyuhyun baru menampakan diri dengan setelan jas hitam pekat membalut tubuh semampainya. Seperti biasa pria dingin ini tampak mempesona setiap saat, malah semakin tampan. yonghoon masih disibukan dengan berbagai hidangan untuk di tata di meja makan. Melihat kyuhyun yang menurutinya kali ini, membuat senyum yonghoon sedikit mengembang.

Tiada yang special, hanya sup danging dan beberapa hidangan pelengkap seperti kimchi. Tapi kyuhyun cukup menikmatinya, dalam diam. Suasana canggung masih begitu kentara. Ohh, kapan terakhir mereka berperang mulut dengan sengitnya, seperti saat sebelum menikah. Yonghoon hampir lupa. Dia begitu merindukan ekspresi garang kyuhyun saat dia berhasil menggoda pria dingin itu. sangat lucu dan menggelikan, tapi semua itu kini raib, hilang entah kemana.

“kyu, kali ini saja… dengarkan aku bicara” tak berminat sedikitpun dengan makanannya, yonghoon yang sejak tadi hanya memandangi kyuhyun kini mulai angkat bicara. Walau tak yakin kyuhyun bersedia mendengar keluh kesahnya tapi kapan lagi dia punya kesempatan bicara. Bagusnya kyuhyun bereaksi, mulai mengelap sudut bibirnya dengan tissue dan siap dengan apapun yang ingin yonghoon katakan.

“sampai detik inipun aku masih tak mengerti mengapa kau putuskan menikah denganku. Tapi apapun alasannya kini tak berarti lagi karena semua telah terjadi, yang ku tahu kau terpaksa melakukannya. Mianhe… maaf karena telah menyeretmu dalam situasi ini dan ikut menderita didalamnya. Maaf karena telah membuat hubunganmu dengan hyorin-ssi hancur berantakan. Tapi kyu, sekarang aku tak bisa berbuat apapun. Tidak mungkin kita bercerai di usia pernikahan semuda ini bukan? Itu sama saja membuat pengorbananmu sia-sia.”

Kyuhyun tak menyela, menangkap raut penuh penyesalan lewat tutur kata yonghoon membuat dada kyuhyun ikut berdenyut nyeri. Bagaimana bisa yeoja itu meminta maaf atas hal yang bukan kesalahannya. Menyedihkan, hingga tenggorokan kyuhyun tercekat, bibirnya kelu tanpa sepatah katapun. Hanya sorot mata penuh kepedihan kini masih menatap yonghoon dengan seksama.

“mianhe, aku tak bermaksud mengahalangi kebahagiaanmu. Sungguh aku rela melakukan apapun asal kau mau memaafanku. Termasuk membiarkanmu tetap berhubungan dengan hyorin-ssi. Aku tahu kau sangat mencintainya, jadi kembalilah padanya kyu. Yakinkan dia bahwa kau hanya mencintainya. Aku tak ingin menjadi penghalang cinta kalian. Jangan pedulikan aku, kau hanya perlu bahagia. Sudah cukup semua bantuan yang kau berikan padaku jadi kumohon, lakukan apa yang bisa membuatmu bahagia.”

Cho kyuhyun, merasa dirinya teramat bodoh. Padahal dengan otak jeniusnya tapi samasekali tak dapat berpikir jernih. Jika saja dia mau sedikit melebarkan otaknya dia akan sadar, bukan hanya dia yang tertekan, bukan hanya hyorin yang tersakiti. Harusnya kyuhyun tahu lakon utama dalam drama ciptaan Tuhan ini juga teramat menderita. Kyuhyun baru merasakan secuil dari bongkahan kepelikan hidup yonghoon tapi sikapnya seolah dialah yang paling menderita. Menganggap bahwa dirinya adalah korban. Tak pernah ada korban dalam tadir Tuhan yang ada hanya orang terpilih yang ditempatkan pada garis kehidupan masing-masing. Dan ini adalah jalan yang harus kau lalui, cho kyuhyun.

~ ~ ~ ~

“sendirian saja? Dimana suamimu?”

Pria berjubah putih yang duduk santai di balik meja kebesarannya, lee donghae. Entah sindiran atau sekedar basa-basi, tapi pertanyaan itu terasa menusuk hingga yonghoon jengah seketika.

“cih, jangan bercanda!!” Dirasa yonghoon ingin melempar wedgesnya jika saja sosok itu tak buru-buru menyuguhkan senyum ala malaikat. Well, yonghoon akui kadar ketampanan pria itu termasuk di atas rata-rata, tepatnya selevel dibawah hyunjoongnya.

“wae? Apa kalian masih saling diam?”

Yonghoon tak menjawab, terlalu malas jika harus mengingat kembali sikap dingin kyuhyun. Gadis itu masih duduk di ranjang periksa, menunggu sang dokter lee itu melaksanakan tugasnya.

“mengalah saja! kau yang paling tahu betapa keras kepalanya bocah itu bukan? jadi harusnya kau bisa ambil sikap untuk mengatasinya”

“sudah selesai dokter lee? Kalau begitu tolong periksa aku sekarang! Lima menit lagi berada di ruanganmu isi perutku rasanya ingin keluar semua”

Ya, gadis ini memang paling benci dengan obat-obatan walau sekedar mencium bau menyengatnya. Terlebih lagi harus mendengar ceramah tiada guna dari dokter kandungan seperti lee donghae, dia amat sangat tak berminat. Tanpa diceramahi pun yonghoon tahu bagaimana harus bersikap dalam menghadapi kyuhyun, tapi apa yang dia dapat? Sia-sia.

“perbaiki mood mu, jangan terlalu banyak pikiran. Aku tahu hidupmu tak mudah hoonie, tapi jangan sampai membawa dampak buruk bagi janinmu”

Membuang napas jengah, gadis ini tak menyangka sosok asli lee donghae ternyata sangatlah cerewet. Ditengah kesibukannya memeriksa kandungan yonghoon dia masih sempat saja ceramah.

“patuhi kata doktermu ini!! Ahh, aku tahu cara paling ampuh memulihkan suasana hati. Mau mencobanya sore ini?”

Donghae tampak antusias. Ingat apa kesukaan yonghoon, semoga saja bisa  membuat gadis itu sedikit melupakan masalah peliknya dengan kyuhyun. Ketiga orang itu berteman sejak masih duduk dibangku kuliah, jadi wajar jika sedikit banyak dia tahu keadaan rumah tangga yonghoon dan kyuhyun.

~ ~ ~ ~

Benda kotak yang biasa rapi namun kini berhiaskan tumpukan berkas nyaris menggunung. Sembari menunggu otak jeniusnya merancang strategi jitu, jemari lentiknya masih terus menari diatas keyboard. Entahlah… pria penggila kerja ini serasa kehilangan sebagian besar kelihaian menciptakan ide-ide cemerlang. Otaknya terasa buntu. tidak, mungkin tepatnya terguncang oleh ucapan yonghoon pagi tadi. Wanita bodoh mana yang meminta suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain. Itu gila. Tunggu!! suami? Ahh sejak kapan kau mengakuinya cho kyuhyun.

Tapi… jika benar dirinya bisa kembali bersama hyorin, itu adalah satu keajaiban yang sangat dinanti-nanti.

Menghela napas, kyuhyun mulai putus asa. Otaknya benar-benar tak mau di ajak kerja sama. Entah yonghoon maupun hyorin mereka sama saja, seenaknya berputar-putar dikapala merecoki pikiran hingga tak dapat bertindak dengan benar.

Tokk..tok..tokk…

“sajangnim… ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda”

Sekretaris Shin berdiri di ambang pintu. Tampak secerca keraguan mempersilahkan tamu itu masuk.

“siapa nona shin?” masih menjunjung tinggi sikap dingin, tanpa menatap lawan bicara pria itu tetap focus pada kegiatan semula. Tak berminat samasekali pada tamu siapapun. Namun telinganya menangkap ketukan langkah yang terdengar familiar hingga desiran aneh itu mulai bermunculan.

Bingo! Tepat saat pandangan mereka bertemu di udara, jantung kyuhyun serasa berhenti berdetak. Lee hyorin. Bagai mimpi melihat gadis itu berdiri tepat di hadapannya. Apa ini semacam halusinasi karena kyuhyun sangat ingin bertemu gadis itu? Merindukan gadis yang menjadi sumber kekuatan walau hanya dengan memandangnya saja.

“ Rin-ah…”

Napasnya tercekat, bahkan hanya memanggil nama itu pun rasanya terlalu berat. Kyuhyun, mengumpulkan segenap tenaga untuk bangkit perlahan menghampiri gadis itu. Menatap lekat pada manik indah serta ukiran wajah yang sempurna di matanya. Tatapan yang teduh sarat akan perasaan rindu.

“kyuhyun oppa… nan… bogoshippo”

Lee hyorin merutuk dalam hati. Sebuah kalimat terlarang lolos dari bibir lancangnya itu. Ya.. hanya wanita tak tahu diri yang mengucap kata rindu pada sang mantan kekasih, tepatnya lelaki yang beristri. Betapa dirinya kini tampak rendah dimata kyuhyun.

Namun tidak, tidak saat lelaki itu berhambur memeluk tubuhnya dan mengatakan hal yang sama. Rindu itu terbalas dengan sempurna. Dua hati yang masih saling memiliki, kini menyatu dalam pelukan hangat nan pilu.

“Kita cari tempat paling nyaman untuk bicara”

Kyuhyun menarik gadisnya lembut keluar dari ruangan. Tautan jemari yang erat seolah tak ingin melepasnya sedikitpun. Sapaan serta tatapan penuh tanya dari para pegawai hanyalah angin lalu yang mengiringi langkah mereka. Gadis itu hanya diam tanpa melawan sedikitpun.

“sajangnim”

Kyuhyun berhenti, sekretaris shin berlarian dengan setumpuk dokumen di tangannya. “sajangnim, berkas untuk rapat satu jam mendatang sudah selesai ku persiapkan. Apa perlu…”

“batalkan rapatnya! Termasuk semua jadwalku hari ini.”

“ne? kheundae sajangnim…”

Pria gila. Gadis bermarga shin itu mulai bersumpah serapah saat melihat kyuhyun pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk protes.

~ ~ ~ ~

“hentikan tuan lee!! Kau membuatku malu dengan tampang bodohmu itu”

Mendengus keras, jujur saja tawanya hamper pecah kala disuguhkan dengan tingkah konyol lee donghae. Bayangkan saja, pria tampan itu bahkan rela menari-nari bersama gerombolan ibu-ibu tua hanya untuk menghiburnya. Namun berkat wajah tampan itu, donghae malah menjadi pusat perhatian. Bukannya bangga atau merasa terhibur tapi yonghoon rasa ini memalukan. Lebih baik dia pergi tanpa peduli cicitan pria itu.

“ya!!… tunggu aku”

Terlampau sunyi. Bahkan sejak mereka memilih pulang meninggalkan pantai indah itu, tak sepatah katapun menghiasi perjalanan mereka. Tentu saja, lihat gadis yang memejamkan mata dengan dengkuran halus sebagai aktivitasnya. Lee donghae, berulang kali mengeluh dan menatapnya jengkel. Baiklah, ini terakhir kali dia berbaik hati pada gadis itu. Ternyata menghibur yonghoon tak semudah yang dia kira.

“yonghoon-ah”

Tepukan kecil pada pipi yonghoon tak membuahkan hasil, hanya bergerak dari posisi semula tanpa sedikitpun niatan membuka mata. Diam sejenak, Donghae menatap iba yonghoon yang tertidur pulas di sampingnya. Gadis itu semakin tirus, dan kemana perginya senyum ceria yang membuat donghae ingin terus memandangnya? Semua itu raib tanpa sisa. kini hanyalah sikap datar dan dingin yang selalu diagungkan.

“haruskah aku melakukan itu?” gumamnya sendiri kemudian mulai keluar dari mobil. Sedikit menggelikan, otaknya bencana menggendong yonghoon menuju kamar apartmen gadis itu. Mengingat yonghoon yang kelelahan membuatnya tak tega jika harus membangunkannya. Donghae tersenyum masam sebelum memulai aksinya. Harga diri sebagai pria tampan akan dipertaruhkan di dalam sana. Yakin aksinya akan menjadi pusat perhatian, namun biarlah.

Mulai menyelipkan lengan kekarnya dibawah tengkuk yonghoon membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Tidur pulasnya terusik dan terpaksa dia harus membuka mata.

“yakk… apa yang kau lakukan?”

donghae mengusap teliga yang berdeging serasa ditembus oleh teriakan yonghoon. Astaga gadis itu benar-benar tak tahu terimakasih.

“bagus kalau kau bangun. Cepat turun dari mobilku!! Kita sudah sampai nona”

Yonghoon mulai melirik keadaan sekitar, dan benar saja ini halaman gedung apartemennya. Tersenyum kaku malah membuat yonghoon tampak idiot, donghae mendengus melihatnya.

Disana, pria itu masih hidmat dengan tatapan sedatar papan. Entah apa yang membuatnya betah berdiam diri dibalik kemudi. Mata elangnya tertuju pada kedua sahabat karibnya disana. Ohh tidak… gadis itu kini adalah istrinya. Rahangnya mengeras seketika ingat kembali kenyataan itu. Astaga, apa bertemu dengan hyorin membuat kyuhyun lupa segalanya? Dia adalah istrimu cho kyuhyun, dan istrimu sedang bersama pria lain. Pria macam apa yang membiarkan istrinya bercengkrama dengan pria lain. Dan lihat, tawa riang yonghoon yang sempat sirna kini mulai terbit kembali berkat pria itu. Kyuhyun mencelos, harusnya dia yang berada di posisi itu bukan? Tapi kenapa malah lee donghae yang melakukannya. Hahh… jangan bercanda cho kyuhyun. Ingat apa yang kau lakukan selama ini pada yonghoon. Bersikap dingin dan membuatnya semakin menderita.

~ ~ ~ ~

Setelah masuk ke apartemen, mengganti sepatu mengkilatnya dengan sandal rumah dan mulai melangkah. Cho kyuhyun mengernyit ketika ada sesuatu yang berbeda. Dimana gadis itu? Bukankah biasanya dia akan duduk disofa dan menyambutnya dengan senyuman tulus -penuh luka- saat kyuhyun pulang? Ruangan ini kosong dan sunyi. Apa mungkin… Ayolah, setiap orang punya titik batas dimana dia jengah karena terus diacuhkan, begitupun gadis itu.

Lanjut dengan langkah yang sempat terjeda, kini tubuhnya berhenti pada sebuah pintu. Dimana gadis itu biasa terlelap bersama tangisan pilu. Mendapati tubuh mungil itu bersembunyi di balik selimut tebal, mendadak kyuhyun merasa lega. Baiklah, mungkin dia lelah dan ingin langsung tidur tanpa menunggunya. Piker kyuhyun.

“kau sudah pulang?”

Kyuhyun yang masih sibuk melucuti pakaian bersiap untuk mandi, sempat mengawasi gerakgarik yonghoon lewat cermin besar dihadapannya. Gadis yang masih kesulitan membuka mata akibat rasa kantuk yang menggila, menguceknya dengan kedua tangan layaknya bocah. Kyuhyun tersenyum simpul.

“eoh”

Lagi-lagi Yonghoon mendengus, adakah jawaban yang lebih singkat dari itu? Astaga. Sejak awal dia benci dengan sikap sok dingin kyuhyun. Namun kini, setelah apa yang terjadi diantara mereka, yonghoon mulai memaklumi.

“apa ingin kubuatkan sesuatu? Aku yakin kau pasti melupakan makan malammu”

Tepat saat tubuh semampai itu berbalik, yonghoon menangkap tatapan teduh dimata kyuhyun. Jauh dari aura dingin yang biasa kyuhyun tunjukkan. Kali ini begitu menenangkan. Ohh kapan terakhir kali kyuhyun melakukannya, itu sudah lama sekali.

“tidak perlu, kau pasti lelah. Istirahatlah” detik berikutnya kyuhyun menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Pipinya memerah akibat tepukannya sendiri, dia mulai percaya bahwa ini bukanlah mimpi. Yah… sejak pernikahan mereka kyuhyun tak pernah selembut ini. Yakk…!! kau berlebihan song yonghoon. Dia hanya menyuruhmu istirahat, bukan suatu hal yang peting. Tapi apa mungkin ini menjadi awal yang baik? Kita lihat saja.

Tak lebih dari lima belas menit waktu yang dia butuhkan untuk membuat tubuhnya kembali segar dengan cucuran air hangat, kyuhyun kini sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Tak berniat menggunakan alat pengering rambut elektronik karena terlalu berisik dan tentunya akan mengganggu yonghoon yang tertidur lelap.

~ ~ ~ ~

Ketika langit masih pekat, dimana sang mentari masih malas memancarkan sinarnya. Perlahan gadis itu terjaga dari tidur yang lelap. Kebiasaan buruknya belakangan ini adalah bangun terlalu pagi. Yah, tak terlalu buruk memang karena dengan begitu dia bisa  menyiapkan sarapan untuk kyuhyun walau kadang tak disentuh sedikitpun.

Bicara soal kyuhyun, entah mengigau atau bermimpi tapi yonghoon bisa  melihat sosok itu tepat dihadapannya. Mata yang terpejam dan hembusan napas teratur, kyuhyun tidur layaknya bocah polos nan menggemaskan. Masih betah memandangi wajah itu dari garis mata hidung hingga bibirnya, semua terukir dengan sempurna. Karya seni Tuhan yang menakjubkan, tak heran jika banyak wanita tergoda. Namun Tuhan sungguh adil dengan mewariskan sikap dingin pada kyuhyun hingga dirinya tampak seperti berlian yang sulit disentuh.

Sikap dingin adalah tameng yang ditujukan pada siapapun termasuk yonghoon. Andai saja sosok itu bisa  menerimanya, pasti semua akan berjalan dengan mudah. Belajar mencintai satu sama lain dan membina keluarga kecil bahagia. toh selama ini mereka terbiasa hidup bersama, jadi bukan hal yang sulit jika saja mereka saling terbuka. Astaga song yong hoon, sejauh mana kau akan berkhayal. Ingat nona, kyuhyun hanyalah milik hyorin seorang. Gadis itu segera bangkit setelah sadar dari pikiran bodohnya.

Tapi tunggu, sejak kapan kyuhyun mau tidur seranjang?

Mengingat hal itu yonghoon kembali tersenyum. Apa kyuhyun mulai memaafkannya? Ini pertama kalinya sejak mereka menikah. Hanya tidur bersama, di ranjang yang sama layaknya dulu saat masih kanak-kanak. Mereka takkan melakukan lebih dari itu. Takkan mungkin dan takkan pernah jika mereka tak saling membuka hati. Lalu apa yang terjadi pada kyuhyun kali ini, entahlah tapi semoga bisa  merubah suasana diantara mereka.

Saking senangnya gadis itu, layaknya istri sungguhan yang mencurahkan segala bentuk perhatian pada sang suami tercinta. Yonghoon membuka lemari pakaian kyuhyun sambil tersenyum lebar. Menyiapkan pakaian terbaik untuk kyuhyun kenakan hari ini, menepis segala kemungkinan kyuhyun akan mengabaikannya begitu saja. hah… moodnya sedang baik hari ini jadi jangan coba usik sedikitpun dengan pikiran pesimis.

~ ~ ~ ~

Lengkungan manis dibibir membuat wajahnya semakin berseri. Senyuman itu berulang kali tercipta, ahh mungkin jika orang lain melihat akan mengira dia gila. Terserah, yang jelas kini yonghoon tengah bahagia. Berbagai hidangan ia tata dimeja, sebagian besar adalah kesukaan kyuhyun. Sengaja agar pria itu marasa senang.

Baikah, tinggal satu hidangan lagi saat pria itu menyembul dari balik pintu kamar dan memporak-porandakan konsentrasi seorang yonghoon. Serasa terbius oleh sosok malaikat tampan penuh pesona. Cho kyuhyun, padahal dengan kemeja biru laut dan celana hitam yang membalut tubuh tegapnya sukses membuat pria itu semakin tampan saja. Ayolah ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Apa yonghoon baru sadar? Astaga, kemana saja dia selama ini.

“waeyo?” risih dengan tatapan yonghoon yang seolah ingin melucutinya. yah.. sejatinya kyuhyun tahu yonghoon mulai terjerat dalam pesonanya.

“a..aniya”

Sadar dari tindakan bodoh yonghoon segera lanjut pada aktivitas semula. Tapi tunggu, pakaian itu… bukankah pakaian itu yang dia siapkan tadi? Tuhan, ini pertanda baik bukan. Sungguh rasanya yonghoon ingin lompat dan bersorak detik ini juga. Tapi, detik ini juga? Didepan kyuhyun? Tidak..tidak… itu berlebihan nona. Apa kau ingin merusak imagemu dengan bertingkah gila di hadapannya? Tapi baguslah jika kyuhyun mau memakainya.

Ternyata benar kata orang, bahagia membuat rasa lapar mendadak hilang. Siapa sangka yonghoon salah satu penganut teori gila itu. Walau dihadapkan dengan tumpukan hidangan menggiurkan hasil karyanya sendiri tapi yonghoon tak berminat menyentuhnya sedikitpun. Melihat kyuhyun makan dengan lahap saja rasanya seperti mengisi perutnya sendiri.

“kyuhyun-ah… kau ingin makan sesuatu malam ini? Akan kubuatkan special untukmu” tawarnya dengan wajah berseri-seri. Sungguh tidak kreatif, dari dulu hingga sekarang sama saja. jika ada kemauan, selalu makanan yang ia gunakan untuk menyogok korbannya. Tapi sayang kyuhyun sedang tak berminat.

“aniya. Aku akan pulang telat malam ini” pria itu segera beranjak setelah memakai jas hitam pekatnya. Sempat kecewa namun detik kemudian yonghoon segera mengganti kerucut dibibirnya dengan sebuah senyuman.

~ ~ ~ ~

“ommoniiim”

Nyonya Cho nyaris jantungan dibuatnya. Wanita paruh baya yang tengah duduk santai menikmati pagi cerahnya di halaman rumah, dikejutkan dengan dua tangan yang melingkar di pinggang secara tiba-tiba. Bisa  ditebak siapa pelakunya, gadis sembrono itu muncul layaknya hantu.

“hai sayang, eomma sangat merindukanmu” belaian lembut itu hinggap di pipi yonghoon yang bertumpu pada pundaknya. Tampak jelas bagaimana nyonya cho sangat menyayangi yonghoon seperti anak sendiri. Hal itu kerap kali membuat seseorang merasa cemburu.

“yakk… kau membuat eommaku terkejut, bodoh. Dasar tidak sopan” cicit seorang gadis disana.

“eonni… kenapa kau memukulku?” merasakan kepala yang berdenyut akibat jitakan kuat seorang cho ahra, yonghoon masih sibuk mengusap jidatnya sambil menggerutu. gadis itu memang saingan beratnya dalam mendapatkan kasih sayang dari sang eomma. Hah lucu memang, tapi ahra tak menyangkal jika dirinya juga menyayangi yonghoon.

“sudahlah.. kalian itu selalu bertengkar”

“kheundae eonni, hari ini menganggur bukan? Kau harus temani aku jalan-jalan, oke?”

Dasar pemaksa, persis seperti kyuhyun. Ahra jengkel jika ingat punya adik macam mereka. Memaksa orang lain menuruti keinginannya adalah hal yang biasa mereka lakukan. Benar-benar pasangan serasi. Setelah sekian lama sifat itu menghilang dari yonghoon dan kini tiba-tiba muncul kembali, ahra yakin bahwa yonghoon telah pulih dari depresi. “kheurae, tunggu disini! aku ganti baju dulu”

“aigoo… putri eomma semakin cantik jika terus tersenyum. Apa kau sedang bahagia hoonie?”

“emm.. begitulah… hehe”

“kheundae… bagaimana hubunganmu dengan kyuhyun? Kalian baik-baik saja bukan?”

Kembali dilempar pada kenyataan yang tak sesuai harapan, senyum dibibirnya kini terasa hambar. Sebisa mungkin menutupi apa yang sebenarnya terjadi, yonghoon memilih diam dalam senyuman.

“waeyo? Apa kyuhyun menyakitimu?”

Ya, dia menyiksaku dengan sikap dinginnya. Membuatku merasa muak dengan rasa bersalah. Seolah kehidupannya hancur karena diriku seorang. Berulang kali mengacuhkan setiap bentuk penyesalan dan kata maafku.

 

Batin yonghoon meronta dengan bermacam tudigan, tapi entah kemana hilangnya jeritan hati itu saat bibirnya berkata lain.

“anniya… seperti biasa, dia selalu perhatian dan peduli padaku” dusta besarnya. Tak ingin seorang yang begitu berharap dengan pernikahan mereka akan merasa kecewa. Nyonya cho adalah pihak yang paling menginginkan pernikahan ini. Terukir jelas saat kyuhyun dan yonghoon mengucap janji sehidup semati dihadapan Tuhan, air matanya mengalir melukiskan sebuah kebahagiaan. Akankah yonghoon tega merapas secuil kebahagiaan itu. Tidak tentunya.

“sungguh? Syukurlah kalau begitu”

“tentu saja. bahkan dia selalu membelikanku susu. Aku hamper mual karena dia terus memaksaku menghabiskannya”

Teruslah berbohong song yonghoon, buat wanita itu merasa senang. Walau tiap katamu penuh dengan dosa, tapi setidaknya Tuhan tahu apa alasanmu melakukannya.

Untuk pertama kalinya Yonghoon tertegun saat nyonya cho membalai perutnya yang mulai membuncit. Tak seorangpun pernah menyentuhnya penuh kasih sayang, bahkan seorang kyuhyun sekalipun. Yah… semua orang tahu jika nyawa itu bukanlah darah daging kyuhyun. Tapi mengingat siapa hyunjoong dan bagaimana baiknya sosok pria itu membuat siapapun menganggapnya sebagai kado terakhir.

“kuharap kyuhyun tak hanya peduli padamu, tapi dia juga akan menyayangi hyunjoong kecil seperti anaknya sendiri. Merawat dan mengasihinya saat dia lahir kedunia. Eomma selalu mendoakan kebahagiaan kalian bertiga sayang”

Ya Tuhan, apa yonghoon boleh menangis sekarang? Sungguh, mendengar kalimat itu batinnya serasa melayang. Sebenarnya sosok malaikat apa yang menjelma menjadi ibu kyuhyun. Atau nyonya cho memanglah malaikat yang sengaja Tuhan kirimkan untuk mengobati goresan luka dihati yonghoon. Ini adalah satu titik dimana yonghoon merasa hidupnya tak terlalu buruk, dimana seseorang begitu menyayanginya dan juga calon buah hatinya.

~ ~ ~ ~

~15:30~ untuk kesekian kali mendesah kala menatap arloji peraknya. Sudah sangat melenceng dari waktu yang dijanjikan tapi mana dia? Gadis bernama lee hyorin itu hamper putus asa. Berapa lama lagi dia harus menunggu? Mulai beranjak dari posisinya saat sebuah tangan membuat langkahnya terhenti. Cho kyuhyun, setengah mati membuat napasnya kembali normal. Dada yang kembang kempis layaknya peserta marathon berhasil mencapai finishnya.

“mianheyo, ada rapat mendadak jadi…”

“ahh dwaeseo” gadis itu merajuk. Tentu saja, siapa yang akan terima jika dibuat menunggu terlalu lama. Tidak main-main, hamper tiga jam waktu yang terbuang sia-sia.

“mianhe, aku tak sempat menghubungimu rin-ah” salah telak. Kyuhyun memang berjanji akan menemuainya di café ini. Namun apa daya rapat sialan itu menghambat kyuhyun sekaligus membuatnya lupa untuk sekedar mengirim pesan pada hyorin.

Satu hal yang hyorin hafal, kyuhyun tak mungkin bohong jika menyangkut masalah pekerjaan. Tahu bahwa kyuhyun adalah seorang penggila kerja nomor satu yang pernah ada, jadi sedikit maaf untuknya kali ini bukanlah ide yang buruk.

“sebagai hukumannya, sekarang kau harus membantuku. Kajja!!”

At departement store…

“mengapa malah kemari?”

Hukuman macam apa yang akan hyorin berikan di tempat penuh buah sayuran dan berbagai jenis bahan makanan lainnya. Pria itu hanya pasrah mengekori gadisnya sembari mendorong troli. Firasat buruk, mengapa hyorin hanya berputar-putar di bagian yang dipenuhi benda-benda hijau keramat bagi kyuhyun.

“oppa, kau ingin makan apa malam ini? Akan kubuatkan special untukmu”

Mendesah lega, hukumannya tak seburuk itu. Khayalan kyuhyun terlalu kejam dimana hyorin akan menjejalnya dengan sayuran hijau. Ohh beruntung sekali. Tapi tunggu, kalimat itu membuatnya ingat akan sesuatu, tepatnya seseorang yang pernah bertanya tentang hal serupa. Yonghoon, tadi pagi tepatnya saat mereka sarapan. Namun dengan mudah kyuhyun menolak begitu saja.

“apapun asal kau yang memasak, selain benda-benda hijau itu tentunya” picingan mata mengarah tepat pada tumpukan sayur mayur seolah mereka adalah benda paling menjijikan yang tak layak masuk keperut kyuhyun sedikitpun. Dasar.

“oppa… jangan menatapnya seperti itu. Mereka hampir kabur, kau tahu?” astaga lee hyorin ingin bercanda rupanya. Kyuhyun hanya mendengus menanggapi perkataan konyol hyorin.

“harus berapa kali kukatakan padamu, sayur itu baik untuk…”

Cup…

Skakmat… cicitan hyorin berhenti sampai disitu karena ulah bibir kyuhyun yang mengecupnya singkat. Bukan lancang atau tidak sopan, kyuhyun hanya terlalu malas jika harus mendengar lagi rentetan satu persatu manfaat sayur bagi tubuh. Puluhan bahkan ratusan kali hyorin mendiktenya hingga mungkin dia hafal diluar kepala, tapi bagi kyuhyun benda itu tetaplah musuh.

Gadis itu mengerjap dan mulai melempar pandangan kesegala arah. Benar saja, sebagian mata tengah menatapnya iri, sebagian berbisik mereka adalah pasangan serasi, dan satu yang membuat hyorin tersipu malu saat seorang pramuniaga bertanya apakah mereka sepasang pengantin baru.

Kyuhyun menjawab “ya” kemudian tersenyum tanpa dosa. Pria ini sungguh gila. Hyorin lengkap dengan pipi merah tomatnya memilih pergi meninggalkan kyuhyun yang masih sibuk dengan kesenangannya karena berhasil menipu seseorang. Ya ampun.

~ ~ ~

“kau lihat apa?”

Cho ahra, penasaran dengan apa yang menyita perhatian adik iparnya. Cukup lama yonghoon mematung dengan mata tak berkedip sekalipun. Yah… cukup untuk melihat aksi kyuhyun menggemparkan satu blog area department store itu dengan mencium kekasihnya didepan umum.

Satu kesimpulan yang dapat ditarik oleh otak sempitnya adalah kyuhyun dan hyorin, mereka telah bersama kembali. Hyorin telah menepati janjinya untuk mengembalikan senyuman kyuhyun. Gadis itu berhasil melakukannya.

Yonghoon wajib bersyukur bukan? Tapi tidak saat merasakan sesuatu yang aneh menyelimuti dirinya, melihat kyuhyun tersenyum karena wanita lain ada sudut kecil di hati lancangnya merasa tak rela. Rasanya seperti ada bagian tubuh yang dirampas orang lain. Rasanya sesak dan yonghoon tak merelakan hal itu. Ada apa dengan yonghoon? Apa dia lupa dengan tujuan semula? Biar ku ingatkan song yong hoon, tujuan utamamu adalah membuat mereka bersatu agar bisa  menebus kesalahanmu. Dan ini awal yang baik bukan.

“ohh kau ingin makan sayuran? Kajja!!” merasa diabaikan gadis cantik bernama ahra ini akhirnya membuat kesimpulan sendiri.

“andwae… aku sedang tak berminat makan sayuran eonni” ohh tidak, jangan biarkan ahra melihat kyuhyun bermesrahan dengan kekasihnya atau semua rencanamu akan hancur berantakan.

“waeee?? Sayur baik untuk pertumbuhan bayimu” ahra tetap kekeh pada pendirian, tak mengggubris rengekan yonghoon yang memintanya menjauh dari tempat itu. Hingga…

“ahhk… eonni… perutku…” yonghoon memekik sambil memegangi perutnya. Bagai panggilan darurat ahra yang panic tak karuan segera menghampiri yonghoon.

“wae? Apa yang terjadi?”

“ahhk.. eonni…” kepanikan semakin melanda saat yonghoon merubah posisinya dari berdiri menjadi jongjok di lantai. Seolah menahan sakit teramat sangat hingga lipatan di dahinya bertambah banyak. Ahh eonninya itu hamper saja berteriak minta tolong jika yonghoon tak sigap menghentikannya dengan mengatakan “aku lapar eonni” dengan tampang dibuat-buat agar eonninya itu tidak marah dan mau menuruti keinginannya. Ohh baiklah, ini tidak lucu.

“kau menipuku hah?” tebak berapa sungut di kepala ahra saat ini, dan pasti jumlahnya akan terus bertambah.

“aku tidak menipumu. Kenapa kau senang sekali memukulku? Sungguh aku lapar eonni, lihat sekarang  jam empat sore dan aku belum makan siang. Kau mau anakku kelaparan didalam sana”

“hahh arraseo…arraseo”

Bagus nona song, otak bulusmu berfungsi juga. Setidaknya berhasil mencegah hal yang dapat merusak recanamu. Dan cho ahra, kusarankan agar kau lebih bersabar menghadapi kenakalan adikmu satu ini. Umur boleh dewasa tapi lihat kelakuanya, benar-benar membuat orang sakit kepala.

~ ~ ~ ~

Wajah yang tampan kini semakin bersinar dengan hiasan senyum dibibir manisnya. Astaga siapa yang tahan jika dihidangkan dengan pemandangan seindah itu. Ya, ini adalah buah manis dari kencannya seharian bersama sang kekasih. Tepat pukul sembilan malam kyuhyun baru menampakkan diri di hadapan yonghoon yang menunggunya di meja makan lengkap dengan berbagai hidangan. Tak jauh berbeda, walau hambar namun yonghoon tetap pamer senyuman.

“duduklah. Aku membuat jajangmyeon kesukaanmu”

Sempat melirik mie hitam yang biasa membuat liurnya berkumpul diujung lidah, tapi perutnya sudah penuh sesak olah masakan hyorin. “mian, aku sudah makan diluar jadi…”

“arraseo, istirahatlah”

Mulai menggulung mie hitam dengan sumpit dan melahapnya rakus, seorang diri. Tanpa peduli kyuhyun yang perlahan melewatinya hingga menghilang di balik pintu kamar. Dadanya nyeri penuh dengan rasa kecewa. Dasar gadis bodoh, bukankah sejak awal kyuhyun bilang akan pulang terlambat? Melihat kyuhyun bersama hyorin sore tadi harusnya dia tahu apa maksud kyuhyun. Tidak, bukan yonghoon tak sadar. Tapi entah dengan bodohnya mengapa dia masih ingin menunggu kyuhyun.

Sadar atau tidak dengan mata yang memerah akibat desakan air mata, gadis itu masih terus menjejali mulut yang terisi penuh sebagai bentuk pelampiasan. Bahkan setelah isi dipiringnya habis dia masih berniat mengambil jatah kyuhyun. Hingga tiba-tiba perutnya terasa diaduk-aduk dan mual, seketika itu yonghoon berhambur ke washtafel dapur dan memuntahkan semuanya.

“sial” gerutunya sambil mengelap bibirnya dengan tissu.

“kau kenapa?”

Tampaknya suara gaduh saat yonghoon muntah menarik perhatian penghuni lain. Walau jauh dari kesan khawatir, tapi entah sejak kapan kyuhyun mulai berdiri disana memperhatikan yonghoon. “anniyo, hanya sedikit mual saja. Sedang apa kau disini?”

Sempat celingukan, kyuhyun mengusap tengkuknya enggan. “hanya ingin minum saja” kemudian segera membuka kulkas dengan gerakan sesantai mungkin. Kini bingung karena hanya terdapat susu ibu hamil dan jus jeruk disana. Tak ada pilihan lain selain mengambil pilihan kedua.

“bisa  tuangkan satu gelas lagi untukku? Kutunggu di balkon, kita bicara sebentar” titah yonghoon sudah seperti ratu saja. Hanya mampu mendengus saat yonghoon melengos dan pergi meninggalkannya.

~ ~ ~

Masih tenggelam dalam lamunan yang tercipta saat menanti pria itu, sekotak susu hamil siap minum tiba-tiba muncul di hadapannya. Tunggu, dimana jus jeruk pesanan yonghoon? Mengapa malah benda itu yang kyuhyun sodorkan, gadis itu menatapnya heran.

“susu ini lebih baik untukmu”

Ohh sial, padahal dengan susu amis itu perut yonghoon akan semakin mual, tapi ini pertama kalinya kyuhyun peduli padanya jadi jangan hancurkan momen langka ini nona. Rasa hangat mulai menjalar keseluruh tubuh saat yonghoon meraih benda itu. Bukankah harusnya susu ini dingin karena disimpan didalam kulkas. Entahlah mungkin kyuhyun sempat menghangatkannya. Tubuh yonghoon menghangat begitupun hatinya.

“apa yang ingin kau bicarakan?” mulai duduk di samping yonghoon. Tampaknya kyuhyun tak ingin membuang waktu lama. Baiklah.. lagi pula tak ada hal menarik jika untuk sekedar basabasi, terlebih dengan pria sedingin kyuhyun. Gadis ini mendesah pelan, merutuki batinnya yang mengharap sikap manis kyuhyun lebih banyak lagi. Namun apa yang dia terima hanyalah sikap dingin itu lagi dan lagi.

“kyuhyun-ah, kita sama-sama tahu pernikahan ini tak teharusnya terjadi bukan? Kali ini aku takkan minta maaf seperti biasa karena kau pasti muak dengan itu semua. Masih ingat, dengan janjiku untuk membiarkanmu bahagia? Hyorin-ssi… dia adalah letak kebahagiaanmu bukan? Aku tahu kalian telah bersama kembali”

Berhenti dari aktivitas menyesapi jus jeruknya, walau tampang datar itu sekilas biasa saja namun sejatinya kyuhyun terkejut dengan kalimat terkahir yonghoon. Jadi gadis itu tahu? Kapan dan bagaimana dia mengetahuinya? Ohh kyuhyun merasa seperti suami yang ketahuan berselingkuh. Tapi apa itu masalah bagi kyuhyun, kurasa tidak.

“tenang saja, aku takkan memintamu putus darinya. Tekatku sudah bulat untuk tak mengganggu hubungan kalian tapi…” sedikit jeda untuk menarik perhatian kyuhyun hingga mau menatapnya, sembari otaknya merangkai kalimat-kalimat penuh maksud dan tujuan tanpa membuat pria itu salah paham.  “sebagai gantinya apa aku boleh meminta sesuatu darimu?”

Dalam situasi seperti ini yonghoon masih sempat meminta imbalan, astaga. Dahi kyuhyun berkerut, dalam hati semakin bertanya-tanya. “apa itu?”

“maukah kau menjadi ayah dari anakku ini?”

Seolah mampu membaca pikiran kyuhyun lewat perubahan raut muka itu, yonghoon semakin kalang kabut. “bu..bukan begitu… maksudku adalah aku tidak mau dia lahir tanpa seorang ayah. Di surat kelahirannya nanti bolehkan aku mencantumkan namamu sebagai ayahnya?”

Gadis bodoh, dimata hukumpun secara otomatis itu akan terjadi. Mengapa dia masih bertanya? Kecuali jika mereka berpisah sebelum anak itu lahir. Ya, itulah maksud yonghoon sebenarnya. Bukan karena dia ingin mengikat kyuhyun untuk lebih lama bersamanya, tapi setidaknya biarkan anak itu merasakan dekapan seorang ayah barang sebentar saja.

Yonghoon semakin gelisah, sadar bahwa dirinya sungguh tak tahu diri. tapi yonghoon janji ini adalah terakhir kalinya dia menyusahkan kyuhyun, membuat pria itu kembali terbebani atas dirinya. “bisakah kita hidup bersama sampai anak ini lahir? Aku bersumpah takkan ikut campur dalam urusan pribadimu. Begitu juga sebaliknya. Aku takkan merecokimu dengan hal-hal sepele, tenang saja.”

Sadarkah dengan apa yang dia katakan? Memohon seperti ini, ohh yonghoon benar-benar melenyapkan harga dirinya dimata kyuhyun. Tak peduli dengan semua itu, yonghoon lebih memikirkan nasib anaknya kelak. Bagaimana jika kyuhyun memilih bercerai dan kembali pada hyorin sedangkan anaknya belum lahir? Dan bagaimana jika kelak kyuhyun tak sudi membiarkan namanya tercantum sabagai ayah dari anak itu. Anak itu, dia adalah titipan Tuhan yang tak berdosa jadi jangan biarkan dia menaggung akibatnya.

Cho kyuhyun, pria ini tak juga bereaksi sepenggal hurufpun. Ada apa dengan dirinya? Batin yang serasa diremas mendengar tiap untai kalimat yonghoon. Sial, apa dia seberengsek itu? Mengerti akan setumpuk kekhawatiran di benak yonghoon, tapi apa mungkin dia tega melakukan itu semua pada yonghoon, sahabatnya sendiri. Kyuhyun bukan tak punya hati nona, rela dinikahkan paksa itu adalah pengorbanan terbasarnya. Jadi untuk urusan sesepele itu apa kyuhyun akan keberatan?

“setelah anakku lahir dan semuanya selesai kau boleh kembali sepenuhnya pada hyorin-ssi. Kita akan bercerai dan kau bisa  menikah dengannya. Aku janji takkan muncul lagi dan mengganggu kebahagiaanmu kyuhyun-ah”

Gadis itu, bagaimana bisa dia mengatakannya sambil tersenyum? Dan lagi senyuman itu, bagai sebuah belati yang menghujam bertubi-tubi. Kyuhyun sendiri bahkan tak tahu mengapa rahangnya mengeras mendapati yonghoon tersenyum kala mengucapkan kalimat mengerikan itu. Bercerai dan menghilang. Entah mengapa kyuhyun benci mendengarnya, terlebih saat yonghoon yang mengatakan. Sekali lagi kyuhyun bertanya apa yang terjadi pada dirinya? Dihadapkan dengan penawaran menggiurkan tapi mengapa sesulit itu membuat keputusan. Bercerai dan menikah dengan hyorin, penawaran yang bagus bukan? Tapi mendengar yonghoon akan menghilang dari kehidupannya cukup membuat otak kyuhyun mendadak idiot. Ohh bagus, kyuhyun mendapati dirinya terombang ambing dalam sebuah kebimbangan…

Tbc…

mian… alur ceritanya makin amburadul saja…. trimakasih atas kritik dan sarannya, jangan lupa tetap RCL…. gomawo… ^-^

Advertisements