imfmm

‘Jika saat terperjam secuil kebahagiaan akan datang menyapa, maka akupun rela menutup mata ini selamanya’

CHAPTER 5

~o0o~

Song yong hoon, lengkungan manis dibibirnya tak kunjung pudar. Masih betah menikmati sapuan angin lembut menerpa wajah cantik putihnya. Meresapi harum embun pagi melekat di dedaunan yang berangsur hilang oleh sapaan sinar mentari. Begitu sejuk… begitu menyegarkan hingga terasa nyaman di tubuhnya. Tapi jangan tertipu, bukan karena mereka senyuman lebar yonghoon kini tercipta. Percaya atau tidak  bahkan semua itu tak sebanding  dengan alasan yang sebenarnya. Lalu, karena apa?

Tak jauh dari bangku tempat ia duduk sekarang. Yonghoon membiarkan tubuhnya diterpa kehangatan mentari pagi, sambil terus mengawasi sosok pria tampan bersama seorang gadis kecil disana. Tepatnya di sebuah ayunan berwarna merah muda, gelak tawa serta riuh canda ikut meramaikan aktivitas mereka. Jangan tanyakan mengapa! Cukup percaya saja bahwa disitulah letak alasan yonghoon terus mengumbar senyum dibibir manisnya.

“oppa, jangan terlalu kencang!! Yongie bisa jatuh nanti”

Pekik yonghoon pada pria yang terus menggoyangkan ayunan itu. Khawatir terjadi hal buruk yang akan melukai malaikat kecilnya nanti. Sungguh, yonghoon benar-benar akan menghukum pria itu jika Yongie-nya sampai terjatuh. Sedangkan disana, pria bernama hyunjoong itu hanya melambai sembari menampilkan deretan gigi rapi berbingkai bibir tebal lewat senyuman yang nyaris sempurna.

Ahh, lihat betapa bahagianya yonghoon sekarang. Melihat tawa renyah dua orang yang paling dia cintai, rasanya seperti hidup disurga dengan segala yang kita butuhkan ada disana. Apapun itu yang bisa membuat kita merasa bahagia. Tapi bagi yonghoon, cukup dengan mereka berdua saja. Hyunjoong dan Yongie-nya, mereka adalah harta paling berharga yang pernah yonghoon punya. Sampai kapanpun tak ada yang mampu menggantikan posisi mereka di dalam hidupnya.

“eomma menangis??”

Entah sejak kapan air mata itu mulai menganak sungai, tapi yonghoon sadar setelah tangan mungil Jiyong mengusap pipinya dengan lembut. Bahkan tak menyadari sejak kapan bocah kecil itu sudah berdiri didepannya dengan menggandeng tangan sang ayah. Apa yonghoon terlalu sibuk berpikir? Memikirkan betapa Tuhan menyayanginya hingga memberikan dua malaikat itu untuk menemani hidupnya.

“tidak sayang… untuk apa eomma menangis??” yonghoon meraih malaikat kecilnya duduk di pangkuannya. Sesekali mengecup pipi chubi jiyong yang sangat menggemaskan. Entah bagaimana jiyong bisa mirip sekali dengan yonghoon saat kecil dulu, hanya saja hidung mancung itu tampaknya diwariskan oleh sang ayah.

“eomma, lihat! Pipiku merah” adu jiyong pada sang eomma. Benar bukan? bahkan sifat manja mereka pun juga  sama persis. Tapi yonghoon sedikit kebingungan mencari bercak merah yang dimaksud jiyong. “sebelah mana sayang?”

“disini, tadi appa mencubit kedua pipiku” tunjuk jiyong dengan picingan mata mengarah tajam pada sang ayah yang duduk disamping ibunya. Dengan kerucut di bibir tipis itu membuat wajahnya kian menggemaskan. Yonghoon tertawa saat hyunjoong terlihat shock oleh tuduhan putrinya sendiri. Perasaan tadi dia hanya menyentuhnya sedikit, jadi tidak mungkin akan meninggalkan bekas.

“benarkah?? Kalau begitu kita balas. Kajja yongie-ah!!”

Serempak mereka berdua mencubit pipi hyunjoong. Jiyong mendapat pipi bagian kanan dan yonghoon untuk sebelah kirinya. Pria malang itu hanya bisa mengaduh karena tak sempat menghindar dari serangan yang mendadak. Sedangkan ibu dan anak itu malah tertawa puas melihat hyunjoong meringis kesakitan dengan pipi yang memerah.

“yongie-ah, kita lari sayang!”

“kyaaa…”

secepat mungkin yonghoon menggandeng jiyong untuk menjauh dari ayahnya. Yakin bahwa sebentar lagi hyunjoong akan meledak dan entah apa yang aka dia lakukan untuk membalas perbuatan mereka berdua. Jadi sebelum itu mereka harus segera melarikan diri.

“kalian mengerjaiku?? Jangan lari!! Awas ya!!”

Maka terjadilah kejar-kejaran antar dua kubu disana. Jiyong masih lari bersama sang ibu tak henti-hentinya menahan tawa. Merasa puas berhasil mengerjai sang ayah. Sungguh pasangan yang kompak, mereka memang sering bersekongkol membully hyunjoong.

Ahh… Pemandangan yang indah bukan? dimana sebuah keluarga kecil tampak begitu bahagia. Seolah canda tawa tak pernah bosan menemani perjalanan hidup mereka. Yonghoon, berulang kali mengucap rasa syukur pada Sang Kuasa. Atas apa yang telah Tuhan berikan padanya, sebuah keluarga kecil yang bahagia.

“berhenti sayang, kau bisa lelah nanti”

“tapi eomma, appa akan menangkap kita”

“Tidak apa-apa. Yongie bisa sembunyi di belakang eomma”

Hyunjoong kian mendekat, membuat jiyong buru-buru lari kebelakang  yonghoon. “mau kemana lagi kalian?? Yongie-ah, kemarilah!”

“shiro!! Eomma, cepat lakukan sesuatu!” bocah itu menarik-narik baju yonghoon. Ia masih bersembunyi dibelakang sana. Takut sang ayah tiba-tiba akan menerkamnya.

“oppa!!”

Mulai berkacak pinggang. Yonghoon menampilkan raut garang dengan kilatan mata yang tajam. “berhenti mengejar jiyong atau kau yang akan dapat balasan dariku!!” kata yonghoon sarat akan nada dingin dan penuh penekanan. Jurus ini biasanya cukup ampuh membuat hyunjoong diam tanpa berbuat apapun lagi. Jiyong dengan bangga memeletkan lidah pada sang ayah meski tetap bersembunyi dibalik punggung ibunya. Pria itu mendesah, jika sudah begini maka dia yang harus mengalah. Pasalnya, jika yonghoon sampai marah dijamin urusan bakal tambah runyam. 

“baiklah, appa menyerah. tidak akan mencubit jiyong lagi”

“jinjja??” Jiyong terlampau senang. Tanpa sadar ia keluar dari persembunyian. Kesempatan itu tentu tak disia-siakan, hyunjoong dengan sigap meraih bocah itu untuk dibawa dalam gendongannya.

“appa”…”oppa” pekik jiyong dan yonghoon bersamaan. Terlebih yonghoon, dia mengira hyunjoong akan ingkar janji. 

“wae?? Aku hanya ingin mencium putri kesayanganku ini, apa tidak boleh??”

Ya baiklah, giliran siapa yang dikerjai sekarang. Maka saat itu pula tawa mereka pecah. Kecuali jiyong, dia masih bernapas lega mengetahui sang ayah tak jadi membalasnya. Pria itu malah berulang kali mencium pipi kenyal jiyong dengan gemas. Membuat yonghoon tersenyum bahagia melihat tingkah konyol prianya. Hyunjoong terlihat begitu menyayangi jiyong. Satu-satunya malaikat kecil yang Tuhan titipkan untuk melengkapi hidup mereka berdua.

“yongie-ah, sudah saatnya kita pergi sayang” kata hyunjoong tiba-tiba membuat jiyong menatap kedua matanya. Raut muka jiyong mendadak sedih, seolah memohon pada sang ayah untuk tatap berada disini. Ia tak rela meninggalkan tempat ini. “tidak sayang, kita harus tetap pergi”

“kalian mau kemana?” yonghoon kebingungan. Gadis itu heran, apa yang mereka bicarakan? Mengapa hyunjoong bilang ingin pergi? Pergi kemana yang ia maksud?

 “yonghoon-ah, dengarkan aku baik-baik”

Sedikit curiga dengan aura hyunjoong  yang mendadak serius, Yonghoon lantas menatap lekat pria itu. Ingin tahu rencana macam apa yang akan hyunjoong gunakan untuk membalas perbuatannya tadi.

“mulai sekarang jiyong akan pergi bersamaku.”

Yonghoon terkejut sekaligus tak mengerti, masih bingung mengapa hyunjoong tiba-tiba berkata seperti itu. “kau ini bicara apa? Bukankah selama ini kita selalu bersama, begitupun nanti atau seterusnya”

“tidak yonghoon-ah, kami akan pergi dan kau harus tetap disini”

Astaga, apa lagi ini?? Tidak adakah topic lain yang lebih bermutu untuk menjadi bahan candaan? Ini sungguh tidak lucu. Kekanakan, apa karena yonghoon mengerjainya tadi hyunjoong jadi marah? Baiklah… kita ikuti saja alurnya, akan sejauh mana pria itu mampu berakting dihadapannya.

“mengapa begitu?? Kita adalah keluarga, mana boleh hidup terpisah?” yonghoon sengaja meladeni pria itu, meski hanya bercanda ia tak terima jika  harus tinggal begitu saja. Apa-apaan dia? Ingin pergi tanpa mengajaknya? Yonghoon harus berpisah dengan kedua malaikatnya? Hahh.. yang benar saja.

“kau akan tahu alasannya nanti! Mianhae hoonie” Pria itu bangkit membawa serta jiyong dalam gendongannya. Yonghoon tercekat “apa yang kau lakukan oppa? Jangan bercanda! Ini sungguh tidak lucu!! Untuk apa kalian pergi dariku?”

Ini aneh, tubuhnya serasa kaku tak bisa digerakkan sedikitpun. Ada apa sebenarnya? Bukankah ini hanya acting saja? Bukankah hyunjoong hanya ingin balas dendam karena telah dikerjai. Ayolah, siapapun tolong katakan itu padanya! Yonghoon tak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya  pergi kecuali berteriak agar mereka tetap tinggal disana. 

“oppa kumohon jangan bercanda! jangan bawa jiyong pergi dariku!” yonghoon tak mengerti mengapa situasi jadi seperti ini? wanita itu menangis, sama seperti jiyong yang lebih dulu berlinang air mata. Ia tak ingin pergi meninggalkan sang eomma, tapi bagaimana lagi? Dia tetap harus pergi.

“Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya sepenuh hati untukmu sayang.”

“tapi oppa, tak bisakah aku ikut bersama kalian saja? Aku ingin hidup bersama kalian dimanapun itu. Tak bisakah kalian mengjakkau?” Yonghoon nyaris putus asa. Padahal tak ada apapun yang menahan tubuhnya namun ia samasekali tak bisa bergerak. Sungguh tidak masuk akal. 

“tidak yonghoon-ah, belum saatnya kau ikut bersama kami. Kau harus tetap hidup dan bejuang demi kebahagiaanmu. Kumohon jangan menangis lagi! Kau tidak akan sendiri, kami akan selalu ada di hatimu. Aku berjanji akan selalu mengawasimu. Hingga tiba saatnya nanti, kita akan kembali bersama dan berkumpul lagi. Kami akan menunggumu hoon-ie, sampai kapanpun. Jadi sekarang kembalilah!! Kau harus hidup bahagia bersamanya.”

“jangan bercanda!! Hanya kalian yang kumiliki.  Jika kalian pergi, bagaimana mungkin aku bisa bahagia? Oppa kumohon, tetaplah disini bersamaku. Yongie-ah, jangan pergi sayang!”

Derai air mata terus mengalir dipipinya. Yonghoon tak pernah membayangkan bagaimana hipupnya jika tanpa mereka berdua. Akankah dia masih bisa bertahan hidup? Seolah dipaksa bernapas tanpa sedikitpun oksigen diudara. Itu hal yang mustahil ia lakukan.

“kami harus pergi, yonghoon-ah. Ingat apa kataku, jangan menangis… jangan bersedih… kami selalu ada dihatimu. Dan juga… kami selalu mencintaimu”

“jangan pergi… oppa kumohon, jangan tinggalkan aku”

Yonghoon semakin ingin meronta namun tak satupun anggota tubuh mampu ia gerakkan. Tangisnya semakin tak terbendung kala sosok hyunjoong dan jiyong perlahan memudar.

“jaga dirimu baik-baik hoon-ie”

Pria itu mendekat, membiarkan tangan mungil ji yong menyentuh pipi basah ibunya sekali lagi. Mata yonghoon terpejam merasakan hangatnya sentuhan jiyong itu perlahan menghilang dengan sendirinya. 

“eomma… saranghae”

“saranghae yonghoon-ah”

bisikan itulah yang terakhir kali ia dengar. Hatinya serasa diiris melihat mereka pergi dan menghilang. Yonghoon ingin pergi menyusul mereka namun apa yang bisa dia lakukan? Bahkan hanya isakan tangis kian memilukan yang mampu keluar dari bibirnya sekarang ini.

~o0o~

“oppa… kkajima… jjebal… kkajima…”

“yonghoon-ah…”

“oppa…”

“yonghoon-ah wae geurae?”

Pagi itu, cho kyuhyun, masih setia menuggu yonghoon sadar pasca operasi. Semalaman kyuhyun terjaga tak bisa tidur walau sebentar saja, ohh jangankan untuk hal itu. Kyuhyun terlalu sibuk menyesali perbuatannya hingga merasa lelah sendiri. Baru saat fajar menampakkan diri kyuhyun sempat terlena dan mulai memejamkan mata namun itu pun gagal karena yonghoon tiba-tiba berteriak sambil menangis dalam tidurnya. Apa dia bermimpi? Seburuk itukah mimpinya hingga yonghoon menangis seperti itu?

“hyunjoong oppa…”

Gadis itu terjaga dengan mata melebar sempurna, napasnya tersengal dan tanpa sadar yonghoon mencengkram erat tangan kyuhyun. “yonghoon-ah ada apa? Kau bermimpi?”

“kyu…? Kyuhyun-ah, hyunjoong oppa eodiseo? Dimana dia sekarang kyu?”

“yonghoon-ah sadarlah!!”

“oppaaa… hyunjoong oppaaa… kyu cepat katakan padanya jangan pergi!!” gadis itu semakin berteriak tak menentu. Entah kemana hilangnya akal sehat yonghoon, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah mencegah hyunjoongnya pergi.

“song yonghoon sadarkan dirimu!! Dia sudah meninggal!! Pria itu sudah lama meninggal, apa kau lupa?”

Yonghoon tersentak, layaknya roll film yang diputar dengan paksa, ia berusaha keras mengingat apa yang telah terjadi selama ini. Dan benar pria itu sudah meninggal, bahkan hyunjoong meninggal di hari menjelang pernikahan mereka. Ya Tuhan, lalu tadi itu apa? Bukankah baru saja mereka menghabiskan watku bersama, bahkan tak hanya hyunjoong tapi gadis kecil itu juga datang.

Gadis kecil? Samar-samar yonghoon ingat ada sosok lain disana. Siapa gadis kecil itu? Semakin yonghoon berusaha mengingatnya sosok itu akan semakin kabur menjauh darinya.

Pernahkah kalian mengalami hal seperti ini? Mimpi yang tidak masuk akal namun terasa begitu nyata, seolah kau benar-benar menjalaninya. Mimpi yang indah hingga rasanya enggan sekali untuk keluar dari sana. Namun setelah sadar, mimpi itu benar-benar akan menghilang dari ingatan. Atau mungkin menyisakan sebagian kecil saja hingga membuatmu bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya?

“kau benar… hyunjoong oppa sudah meninggal. Dia sudah pergi meninggalkanku, tapi ahhk…”

“yonghoon-ah gwaenchana?”

ketika yonghoon hendak bangkit ia merasakan sakit itu menjalar di perutnya. Sangat perih, seperti luka sayatan benda tajam. Yonghoon meringis menahan sakit seraya meraba perutnya yang terasa aneh, beda dari biasanya.

“kanapa dengan perutku?”

Kyuhyun mulai cemas. Bagaimana jika yonghoon menanyakan bayinya? Kyuhyun tidak yakin bisa menjelaskannya sekarang. Tidak, kyuhyun hanya tidak mau yonghoon kembali terpuruk setelah mengetahui apa yang terjadi, apa lagi keadaan yonghoo kini masih sangat lemah.

“ada apa ini kyuhyun-ah? Apa terjadi sesuatu dengan bayiku?”

Demi Tuhan, jangan sekarang yonghoon-ah. Tubuhmu belum siap menerima kenyataan ini. Kondisinya bisa saja memburuk setelah tahu apa yang terjadi. Dan kyuhyun jelas tak akan membiarkan hal itu. Lalu, kyuhyun harus bagaimana sekarang? Hanya ada dua pilihan, berbohong atau katakan yang sebenarnya. Berbohong? lagi? Ohh sungguh, kyuhyun mengutuk perbuatannya kala itu. Haruskah ia membohongi yonghoon lagi? Apa dengan melakukannya semua akan baik-baik saja? Tidak kyuhyun-ah!! toh cepat atau lambat dia akan tahu.

“kyu cepat katakan apa yang terjadi pada bayiku?”

“mianhae yonghoon-ah, jeongmal mianhae…”

Detik itu pula kyuhyun berhambur memeluk erat tubuh yonghoon lengkap dengan isak tangis disana. Kyuhyun tak tahu bagaimana cara mengatakannya agar yonghoon tak lagi terluka. Tapi apapun dan bagaimanapun caranya itu tetap sama saja, pada akhirnya yonghoon harus menerima kenyataan pahit ini. Sekali lagi dia harus merasa kehilangan.

“ini semua salah ku. Kau berhak menyalahkanku, kau boleh membenciku. Tapi tolong maafkan aku hoon-ie.”

Ya, kyuhyun benar-benar pasrah. Tak peduli apapun yang akan gadis itu lakukan padanya, terserah. Apapun ia rela asal yonghoon mau memaafkannya. Kyuhyun pun tahu dia tak layak diampuni tapi bukankah setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua? Setidaknya biarkan dia bertanggung jawab setelah apa yang dia lakukan.

~ ~ ~~

Hujan gerimis, hal yang paling menyebalkan bagi sebagian orang bila kejadiannya tepat di hari libur seperti ini, moment langka yang harusnya bisa mereka nikmati paling tidak dengan jalan-jalan atau pergi ke tempat hiburan. Tapi sekali lagi, hujan gerimis menjadi penghalang aktivitas mereka.

Ya, pantas saja café ini terlihat sepi. Sebuah café bernama Mouse Rabbit atau akrab disapa Mobit tak seramai biasanya. Hanya satu dua pengunjung saja yang datang, itupun sudah termasuk gadis itu. Lee hyorin. Cukup ditemani secangkir kopi pahit, ia memilih duduk di samping jendela memandangi rintik hujan di luar sana. Langit mendung, hujan gerimis, hawa dingin dan terasa sepi. Ahh… Apa mereka sengaja mengejeknya? Situasi ini seolah  menggambarkan suasana hati seorang lee hyorin. Menyebalkan sekali bukan? Itulah rutuknya dalam hati.

Dan mengapa dia menjadi seperti ini, alasannya tak pernah jauh dari sosok bernama ‘kyuhyun’. Orang yang selalu mengaduk-aduk isi hati dan pikirannya. Sejak kepulangan mendadak mereka dari jeju hingga sekarang pria itu belum juga memberinya kabar. Jangankan telepon, puluhan pesan singkat yang ia kirim tak berbalas satupun. Sesibuk itukah? Atau separah apa keadaan yonghoon-ssi hingga kyuhyun tak sempat menghubunginya.

Ya… hyorin bukanlah gadis bodoh yang tak bisa membaca situasi. Malam itu ia masih ingat betul, kyuhyun mendadak panic setelah menerima panggilan dari cho ahra. Raut pucat, wajah panic dan bahkan tangan kyuhyun ikut bergetar kala itu. Kyuhyun seolah ketakutan setengah mati. Seolah tak mau kehilangan hal terpenting dalam hidupnya, maka dari itu kyuhyun buru-buru minta kembali ke seoul malam itu juga. Hyorin tahu pasti sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan saat ia tanya, apa jawaban kyuhyun yang membuat hatinya mencelos adalah ‘aku ingin bertemu yonghoon sekarang, dia celaka karena diriku’.

Maka runtuhkah dunia lee hyorin. Sedikit banyak ia tetap merasa bersalah, seolah ikut andil atas apa yang menimpa yonghoon. Andai saja kala itu dia tak menyetujui ajakan kyuhyun, mungkin kyuhyun akan tetap dirumah dan takkan pernah ada kejadian naas yang menimpa yonghoon. Ya, semua ini memang di luar dugaan. Siapa yang akan tahu kejadiannya akan seperti ini. Anggap saja sebuah peringatan dari Tuhan, teguran bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah salah.

Oleh sebab itu, hyorin memilih tak lagi menghubungi kyuhyun. Coba memberinya kesempatan untuk sedikit mempedulikan yonghoon. Hyorin tahu, belakangan ini kyuhyun mati-matian berusaha menghindari gadis itu. Untuk apa? Mungkin ia mulai sadar dengan perasaannya. Merasa bimbang karena hatinya tak lagi lurus tertuju pada hyorin, jadi kyuhyun berusaha menepis perasaan itu. Tapi semuanya sia-sia dalam sekejap, semua hancur kala kyuhyun tak bisa lagi menahan diri setelah tahu yonghoon celaka tanpa sepengetahuannya.

“satu kue manis, sangat cocok untuk menemani kopimu nona. Silahkan…”

Sadar dari lamunan, hyorin menatap heran pria yang biasa berdiri dibalik mesin kasir kini datang membawakannya sepotong kue yang cantik. “aku tidak merasa memesan kue ini”

Pria itu tersenyum, membuat mata sipitnya kian menyempit tapi malah terlihat begitu menawan. “kau adalah pelanggan setia kami, jadi anggap saja sebagai bonus”

“benarkah? Kau baik sekali ee…”

“jong woon. Namaku kim jong woon”

“ahh ya, jong woon-ssi. Trimakasih atas kuenya”

“sama-sama. Dan kalau boleh tahu… siapa namamu?” lelaki itu sedikit canggung. Karena malu, tanpa sadar menggaruk tengkuknya sendiri. Berhadapan dengan gadis itu, setelah sekian lama menjadi pelanggan di cafenya baru kali ini dia berani mengajaknya bicara.

“namaku hyorin. Lee hyorin. Senang berkenalan denganmu jong woon-ssi”

“ahaha.. ya, aku juga senang berkenalan denganmu. Semoga kita bisa lebih akrab”

~ ~ ~ ~

“tuan, nyonya tidak mau makan lagi”

Untuk kesekian kali bibi kim melaporkan hal yang sama, membuat pria itu mendesah frustasi. “biar aku saja” ujarnya seraya meraih nampan berisi bubur dan susu, tampaknya kyuhyun sendiri harus turun tangan. Perlahan, dibukanya pintu kamar. Lantas menghampiri sosok gadis yang masih duduk termenung dengan tatapan kosong di samping jendela. Gadis itu tak merespon, bahkan tak tertarik sedikitpun dengan kedatangan kyuhyun. Entahlah, mungkin ada sesuatu yang lebih menarik baginya di luar sana.

“yonghoon-ah, kudengar kau tidak mau makan. Waeyo? Apa bubur ini tidak enak?”

Tutur kyuhyun penuh kelembutan, berharap gadis itu akan merespon meski hanya sekata saja. Atau paling tidak, menggelang saja juga sudah cukup. Tapi kyuhyun harus menelan kekecewaannya lagi dan lagi, karena seperti biasa… yonghoon masih saja mengabaikannya.

Ya begitulah keadaan yonghoon sekarang. Kurang lebih seminggu sejak ia pulang dari rumah sakit, yonghoon selalu mengurung diri di kamar. Tak ada aktivitas apapun, ia lebih suka tidur, melamun, dan sesekali memandang keluar jendela dengan tatapan kosongnya. Hal ini sungguh membuat kyuhyun cemas, apa lagi yonghoon sama sekali tak mau bicara. Padanya, atau pada siapapun.

Fisik memang membaik tapi kondisi psikisnya sungguh mengkhawatirkan. Yonghoon sangat terpukul karena kegugurannya. Tentu saja. Ibu mana yang takkan sedih jika calon bayinya meninggal. Buah cinta peninggalan dari sang kekasih, dan satu-satunya alasan terbesar mengapa yonghoon masih bertahan hidup hingga sekarang. Tak cukup dengan hyunjoong yang pergi dan kini bayinya juga ikut pergi.  Apa yonghoon tak berhak bahagia?  Mengapa orang yang dia cintai selalu pergi meniggalkannya? Lalu bagaimana gadis itu akan menjalani hidupnya setelah semuanya menghilang?

“apa kau ingin sesuatu di luar sana? Kajja, kita jalan-jalan dan mencari makanan kesukaanmu!”

Masih dengan bujukan. Seharian ini perut yonghoon belum terisi apapun. Kyuhyun tak mau yonghoon jatuh sakit dan harus kembali dirawat. Ia tak mau lagi melihat yonghoon terbaring lemah di ranjang pesakitan dengan jarum infuse menancap ditangannya. Sungguh, jika Tuhan mengijinkannya menggantikan posisi yonghoon disana, kyuhyun pasti rela.

“yonghoon-ah, kumohon jangan seperti ini”

Putus asa karena tak kunjung mendapat jawaban, bahkan yonghoon tak menatapnya sedikitpun. Ia masih betah memandang entah apa di luar sana, memandang dengan tatapan pilu dan menyedihkan hingga mengiris hati kyuhyun. Hatinya serasa diremas dengan sikap yonghoon yang mengabaikannya.

Jadi beginikah rasanya diabaikan? Jadi inikah yang dirasakan yonghoon selama ini? Saat kyuhyun mengabaikan yonghoon kala itu, ia hanya berpikir bagaimana membuat yonghoon merasakan sakit hati yang tependam dalam hatinya. Tanpa sedikitpun berpikir bagaimana perasaan yonghoon kala itu, dan kini ia tahu. Diabaikan itu ternyata sangat menyakitkan. Lalu bagaimana yonghoon bisa bertahan selama ini?

Ketahuilah cho kyuhyun… bahwa alasan yonghoon hanyalah satu, yaitu janin yang ada dalam kandungannya. Hanya itu satu-satunya penyemangat yonghoon menghadapi dinginnya sikapmu selama ini. Membutakan mata dan hati dari setiap pengabaian kyuhyun hanya demi masa depan calon buah hatinya. Tapi kini, yonghoon sendiri tak tahu apa dia akan mampu menjalani hidup.

“kumohon bicaralah hoon-ie”

Tak tahu lagi bagaimana cara membujuknya. Setidaknya, biarkan satu kata saja lolos dari bibir itu, namun tetap nihil. Yonghoon tak bergemin sedikitpun. “lebih baik kau memakiku, pukul aku hingga babak belur. Kau boleh membenciku seumur hidup tapi kumohon, jangan seperti ini yonghoon-ah. Ayo bicara dan maki aku sepuasnya”

Pria itu masih berlutut disana, menggenggam erat jemari yonghoon yang terasa dingin. Sedingin tatapan yonghoon yang mulai beralih padanya. Ya, sedikit demi sedikit yonghoon mulai merespon meski lewat tatapan dinginnya, kilatan mata penuh luka saat ia menatap kyuhyun. Membuat hati kyuhyun meringis kesakitan melihat cara yonghoon memandangnya. Aura kebencian, kesedihan, kekecewaan, dan tatapan seolah kyuhyun adalah makhluk paling menjijikan didunia. Pria paling berengsek yang tak patut diampuni dosa-dosanya.

Namun siapa sangka tak lama kemudian, mata yonghoon meredup, mandadak sayu dan berkaca-kaca. Menyisakan butiran-butiran air mata yang siap jatuh dipipinya. Kyuhyun tersentak, kepalanya pening dengan dada yang terasa sesak. Seolah tahu yonghoon kini benar-benar membencinya. Kyuhyun lantas bangkit, menghapus air mata yonghoon dengan lembut dan berhambur memeluk tubuh kurus itu. Ia bahkan tak mampu manahan tangisnya sendiri.

“mianhae, yonghoon-ah. Jeongmal mianhaeyo”

Gadis itu hanya diam, tubuhnya enggan membalas pelukan kyuhyun atau bahkan untuk sebaliknya, mendorong kyuhyun dan menolak tiap sentuhannya. Entahlah, hatinya terlampau sakit. Hatinya terluka, semua ini terlalu menyakitkan hingga yonghoon serasa ingin mati saja.

Cklekk…

“yonghoon-ah, sayang… apa yang terjadi padamu nak?”

Nyonya song, segera berhampur memeluk yonghoon. Diikuti suaminya yang masih berdiri tegak dengan tatapan miris melihat kondisi putri kecilnya. Kedua orang tua yonghoon langsung bertolak dari Belanda setelah mendapat kabar bahwa yonghoon mengalami kecelakaan. Kini suasana duka kembali menyelimuti keluarga kecil itu. Terlebih nyonya song, ia tak henti-hentinya menangisi nasib tragis putri semata wayangnya. Mengapa semua ini harus terjadi pada putrinya. Hati ibu mana yang takkan hancur melihat kondisi anaknya seperti ini. Sedangkan yonghoon? Gadis itu masih diam meski ikut menangis di pelukan sang ibu.

“kyuhyun-ah, apa yang terjadi sebenarnya?”

Pria paruh baya itu mengalihkan tatapannya pada kyuhyun, pria yang harusnya mampu menjelaskan kejadian ini secara rinci. Dan pria yang pantas diintrogasi mengapa hal seperti ini bisa sampai terjadi.

“maafkan aku, ini semua salahku abonim”

Cho kyuhyun yang terkenal dengan sikap angkuh, kini hanya tertunduk tanpa mampu menatap mata sang ayah mertua. Keberaniannya pun hilang di telan oleh rasa penyesalan yang teramat dalam membekas di hati. Kyuhyun akui ia memang pantas dipersalahkan.,

“cho kyuhyun, bisa kita bicara diluar?” kata tuan Song dengan tegas.

~ ~ ~ ~

Dia bersumpah, malam itu adalah malam cukup menegangkan bagi seorang cho kyuhyun. Duduk bersama sang ayah mertua dalam situasi tak menyenangkan, tapi kyuhyun pasrah. Entah hujatan, makian, hinaan atau apapun itu kyuhyun berjanji akan menerima semua yang tuan song lontarkan padanya. Itu karena kyuhyun sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini memang salah. Berani mengabaikan yonghoon dan malah asik menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya, namun setelah kejadian naas itu menimpa yonghoon, kini kyuhyun benar-benar telah menyesal.

“jujur saja, aku tahu dulu kau terpaksa menikahi yonghoon. Benar begitu bukan, kyuhyun-ah?”

Kyuhyun sempat kaget, tak menyangka tuan song akan tahu hal semacam itu. Namun tak lama kemudian, kyuhyunpun mengakuinya. Masih dengan kepala tertunduk, memilih secangkir kopi sebagai objek tatapannya.

“aku sengaja membiarkan kalian karena kupikir, perlahan… suatu saat nanti kalian akan saling mencintai. Kukira itu mudah saja terjadi karena kalian sudah mengenal sejak lama”

Benar, apa susahnya menyatukan dua hati yang biasa berdampingan. Meski hanya terikat sebuah tali persahabatan, namun sejak kecil mereka sudah seperti saudara. Saling mencari, saling membutuhkan, saling bertengkar, adu mulut dan sebagainya, itu hal yang biasa terjadi. Maka untuk saling mencintai, sejatinya bukanlah perkara sulit kecuali… mereka tetap keras kepala dan tak mau jujur dengan perasaannya sendiri.

“namun sepertinya aku salah menduga. Tampaknya selama ini yonghoon masih terus memikirkan hyunjoong. Dan setelah ku pikir-pikir, ini semua memang tak adil bagimu kyu. Kau pasti masih sangat mencintai kekasihmu bukan? Dulu… sedikit banyak yonghoon pernah cerita betapa serasinya kau dengan gadis itu. Dia bilang kau sangat mencintainya. Sungguh tak adil jika pada akhirnya kau harus menikahi putriku. Sejujurnya aku merasa tak enak denganmu dan gadis itu”

“aniyeyo… gwaenchana… aku sungguh tidak apa-apa”

Mendengar jawaban kyuhyun, tuan song sedikit tertawa. Jelas-jelas ia tahu bagaimana sikap kyuhyun selama ini pada putrinya. Termasuk keadaan rumah tangga mereka. Penasaran dari mana pria tua itu bisa tahu? Tanyakan saja pada lee donghae. Jika dia masih tak mengaku, sumpal mulutnya kain apa saja.

Ya, rupa-rupanya selama ini donghae menjalani profesi ganda. Selain menjadi dokter kandungan ia merangkap sebagai mata-mata di bawah kendali ayah yonghoon. Itu bahasa kerennya, karena sebenarnya tuan song hanya beberapa kali saja pernah mengorek informasi mengenai hubungan kyuhyun dan yonghoon setelah menikah dari mulut cerewet si donghae itu.

“tak perlu sungkan, aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Maka dari itu, aku ingin memberimu kesempatan untuk bebas. Jika kau merasa terbebani atas pernikahan ini, kau boleh menceraikan yonghoon sekarang!”

Deg…

Layaknya dijatuhi bom atum tepat di tubuhnya, hati kyuhyun seolah hancur berkeping-keping. Bagaimana bisa? Disaat kyuhyun mulai mengakui perasaannya, mulai sadar bahwa selama ini kyuhyun memang tak bisa jauh dari yonghoon. Kini tuan song memintanya untuk bercerai dengan gadis itu? Demi Tuhan, kyuhyun benar-benar tak sanggup melakukannya.

“aniyo!! Aku tidak mau bercerai dengan yonghoon. Mulai saat ini aku akan selalu ada disisinya, jadi kumohon… jangan memintaku berpisah dengannya.”

Tuan song sempat tercengang, respon kyuhyun ternyata jauh dari apa yang dia bayangkan. Sempat mengira kyuhyun akan setuju karena sejak awal kyuhyunlah pihak yang paling dirugikan atas pernihakan ini. Tapi kini, mengapa kyuhyun bersikeras tak ingin bercerai?

“yonghoon sedang membutuhkanku, aku harus selalu ada disisinya. Lagipula yonghoon menjadi seperti itu juga karena kesalahanku. Aku yang lalai menjaganya, jadi biarkan aku bertanggung jawab atas apa yang kulakukan”

Jadi karena itu? Hanya itu saja? Tak adakah alasan lain sehingga kau tak mau bercerai dari yonghoon? Astaga cho kyuhyun, kapan kau akan bicara jujur mengenai hatimu. Tak cukup jelaskah alasanmu mengkhawatirkan yonghoon selama ini karena kau tak mau kehilangannya? Kau tak mau kehilangannya karena kau sangat mencintainya. Bukan sebagai sahabat, tapi sebagai wanita. Apa itu saja kau masih tidak mengerti? Ya Tuhan.

“untuk urusan itu kau tidak perlu khawatir. aku berencana membawa yonghoon ikut bersama kami ke Belanda. Jika yonghoon terus berada disini, tempat dimana semua kenangan pahitnya berada, selamanya ia akan terpuruk. Meski itu bukan jaminan keadaanya akan membaik, tapi setidaknya disana ada kami. Ayah dan ibu yang selalu menyayanginya.”

Benar, untuk apa mempercayakan anak mereka pada lelaki yang sama sekali tidak mencintainya. Membuat hidup yonghoon semakin tertekan karena menghadapi sikap kyuhyun. Sudahlah, lebih baik bercerai saja. Yonghoon bisa ikut kedua orang tuanya dan kyuhyun bebas melakukan apa yang dia inginkan. Jika alasan kyuhyun tak ingin bercerai hanya karena rasa bersalah dan ingin mempertanggung jawabkan berbuatannya, lebih baik lupakan!

“tidak!! Kumohon, jangan bawa dia pergi dariku. Aku tak mau kehilangannya, abonim. Sungguh, apapun yang terjadi aku tak mau yonghoon jauh dariku. Mungkin benar, aku memang mencintainya. Tidak, aku sangat mencintainya. Aku  sangat mencintai yonghoon, jadi kumohon jangan pisahkan kami”

Heol… akhirnya, sekian lama tersendat dalam tubuh kyuhyun kini kalimat itu berhasil lolos. Dada yang sesak kini mulai bisa bernapas dengan benar. Mudah bukan? Mengapa kau selalu menahannya, cho kyuhyun? Membuat situasi yang kau hadapi jadi semakin rumit saja. Itu karena kau tak pernah mau menuruti apa kata hatimu.

Hebat, gertakan tuan song benar-benar mujarab. Pria tua itu sedikit bersorak dalam hati karena berhasil menakhlukan seorang cho kyuhyun yang keras kepala. Tapi apa ini saja sudah cukup? Bisa saja pria itu hanya membual kan? Ingat! cho kyuhyun adalah pria yang akan melakukan apasaja demi mendapatkan apa yang dia inginkan tuan!

“tidak perlu memaksakan diri kyuhyun-ah… aku tahu kau merasa bersalah pada yonghoon makanya kau bersikeras ingin berada disisinya sekarang. Ini hanya musibah, bukan semata-mata kesalahanmu. Kau sendiri tak menyangka kejadiannya akan seperti ini bukan? Jadi kau tak perlu bersikap seperti itu. Biarkan Yonghoon ikut bersama kami dan kau bisa kembali pada kekasihmu. Kurasa itu pilihan yang tepat!”

“aniyo abonim, jeball andwaeyo… aku tak ingin berpisah dengannya. Kini aku sadar bahwa aku sangat mencintainya. Aku tak mau kehilangan yonghoon. Aku berjanji mulai sekarang hanya dialah yang kucintai. Aku akan selalu ada disisi yonghoon apapun keadaannya. Kau boleh membunuhku jika aku mengingkari janji”

Astaga, betapa kyuhyun ingin menangis sekarang. Kalimat apa lagi yang harus ia katakan agar tuan song percaya. Kyuhyun tak ingin membohongi diri lagi, ia sudah sangat lelah karena terus menahannya. Kali ini biarkan hatinya pergi kearah manapun yang ia sukai. Kyuhyun hanya ingin menuruti kata hatinya, menurutinya pergi ketempat dimana yonghoon berada. Dan itu berarti kyuhyun tak mau kehilangan gadis itu.

“apa kau serius cho kyuhyun?”

“ya, anda bisa pegang semua ucapanku”

Semua terlihat jelas disana. Tuan song tak mampu menemukan setitikpun aura kebohongan dari kilatan mata kyuhyun. Hanya tatapan tegas seolah dia tak pernah main-main dengan ucapannya. Jadi sekarang, apa dia boleh mempercayai kyuhyun? Apa dia bisa mempercayakan putri semata wayangnya pada pria itu. Pria yang berjanji akan mencintai yonghoon apapun yang terjadi.

“hahhh… apa boleh buat. Aku akan menyerahkan yonghoon padamu”  lihat matanya yang membulat itu! Kyuhyun serasa tak percaya dengan apa yang dia dengar. Ini lebih menakjubkan dari sekedar menang tender bernilai milyaran dolar. Seolah nyawa yang telah dicabut kini dilempar kembali dalam tubuhnya. Kyuhyun mulai bisa bernapas lega.

“tapi, ada syarat yang harus kau penuhi” ohh shit, jangan senang dulu kyu!! ini belum berakhir. “kau harus bisa membuat yonghoon kembali seperti semula. Seperti apa katamu, kau harus selalu mencintai yonghoon dan melindunginya. Aku tau sejak dulu dia selalu menempel padamu, merecoki setiap apa yang kau lakukan. Tapi percayalah, sebenarnya dia adalah gadis yang baik. Yah.. walaupun dia juga sesalu menyusahkanmu. Hahaha…”

Ucapan tuan song memaksa kyuhyun untuk ikut tertawa bersama. Tak sengaja melemparnya kembali pada masa-masa indah mereka dulu, dimana yonghoon akan membuatnya marah dan merasa geli dengan sikap serampangan gadis itu. Benar-benar mampu menguras emosi namun tak terbayang jika tak ada yonghoon disisinya, hidup kyuhyun pasti akan sangat hampa. Ahh… pembicaraan ini membuat kyuhyun rindu dengan sosok yonghoon dimasa itu.

“tolong jaga dia baik-baik kyu!! dia adalah satu-satunya malaikat kecilku yang akan ku titipkan padamu. Jangan pernah menyakitinya lagi. Aku mohon padamu”

~ ~ ~ ~

“hai pelanggan??? Kau pasti datang untuk memesan expresso lagi” celetuk pria manis bermata sipit itu kala menghampiri satu pelanggan spesialnya. Lee hyorin, siapa lagi! Yang entah mengapa belakangan ini seleranya pindah ke kopi pahit berwarna hitam pekat itu.

“jong woon-ssi? Kenapa kau ada disini? Bukankah tugasmu di mesin kasir?”

Kim jong woon yang notabenya adalah pemilik café biasanya berjaga di mesin kasir, dengan sesekali menebarkan senyum menawan pada setiap pelanggan yang datang. Ya, semacam daya tarik tersendiri bagi café ini.

“tamu special berhak mendapat pelayanan special pula” ia mulai menggoda hyorin. Gadis itu terkikik melihat servise berlebihan ala jongwoon. Pria ini selalu bisa membuat pipinya bersemu merah dengan tindakan-tidakan manisnya.

“baiklah, tolong berikan aku dua cangkir coklat hangat saja”

“dua?”

“ya, aku sedang menunggu seseorang” jelasnya. Membuat semangat jongwoon meredup seketika. Belakangan gadis itu tampak datang sendirian namun rupanya tidak untuk kali ini. Ada seseorang yang ingin dia temui dan orang itu adalah…

“apakah pria itu?” hyorin mengikuti arah pandang jongwoon keluar jendela. Benar saja. Dilihatnya cho kyuhyun, pria yang sangat ia rindukan karena beberapa hari ini tak pernah menghubunginya, tengah berjalan dengan gaya angkuh dan dingin namun terlihat begitu mempesona.

“dari mana kau tahu jongwoon-ssi?”

Tentu saja, jongwoon bukan sekali dua kali memperhatikanmu hyorin-ah. Jadi ia tahu siapa saja yang pernah kau temui disini. Bahkan ia tahu seberapa sering kau dan priamu itu berkencan di café ini. Itulah mengapa jongwoon tak pernah menyapamu karena tampaknya kau telah dimiliki. Lebih baik memandangi hyorin dari mesin kasir saja.

“rin-ah”

Suara berat itu, hyorin segera mengalihkan fokusnya dari jongwoon ke pemilik suara itu. Cho kyuhyun, telah berdiri di belakang jongwoon membuat pria itu harus bergeser selangkah untuk mempersilahkan pelanggan barunya itu duduk. Kyuhyun sempat menapatnya curiga, tapi jongwoon segera berkilah.

“jadi dua cangkir coklat hangat? Baiklah, tunggu sebentar!”

“tidak perlu” kata kyuhyun tegas, membuat langkah jongwoon kini terhenti. “kami tidak jadi memesannya! Rin-ah, kita perlu bicara ditempat lain.”

“wae? Apa tidak bisa disini saja?”

“disini terlalu ramai, kajja!!”

Kyuhyun menarik lembut tangan hyorin untuk segera mengikutinya, tanpa mempedulikan jongwoon yang masih berdiri mematung dengan hati yang memanas. Melihat gadis itu hanya pasrah dibawa pergi oleh kekasihnya. “jongwoon-ssi, mianheyo…”

~ ~ ~

Semilir angin masuk lewat jendela yang dibiarkan terbuka, membelai surau kecoklatan milik seorang gadis disana. Di ranjang itu, Yonghoon duduk berteman selimut yang menutup hingga sebatas perut. Masih dengan tatapan kosong seolah tak satupun hal menarik di sekitarnya. Menyedihkan. Itulah kiranya yang pantas menggambarkan kondisi yonghoon sekarang. Belum mau bangkit dari keterpurukan ini. Masih betah tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan dirinya. Setelah kehilangan hal yang paling berharga, tak pernah ada lagi semangat hidup yang timbul dalam diri seorang song yong hoon.

Hidup?? Untuk apa?? Toh di dunia ini tak ada lagi yang pantas ia jadikan alasan untuk masih bertahan hidup. Bahkan hal paling berharga dalam hidupnya pun kini tak ada lagi didunia. Mereka telah pergi dan hidup damai di alam sana. Lalu, untuk apa lagi yonghoon terus berada disini? Sedangkan kebahagiaan yang ia dambakan berada jauh di atas sana.

“eomma…”

Suara halus datang bersama hembusan angin lembut menyapa pendengarannya. Namun ia masih tak bergeming sedikitpun. “eomma…” hingga sapaan itu makin terdengar seolah mendekat perlahan menghampiri yonghoon. Disaat itu dia mulai beranjak dari lamunan sendu dan terkejut melihat sosok gadis kecil berdiri tepat disampingnya.

“eomma…”

gadis kecil itu memanggilnya eomma? ingatan yonghoon melayang pada mimpi indahnya bersama hyunjoong kala itu. Dimana sosok yang hadir ditengah-tengah mereka  juga memanggilnya dengan sebutan yang sama. “eomma…” bahkan suara merekapun sama persis. Jadi mungkinkah itu dia? Sosok bernama jiyong yang selalu muncul dalam benaknya namun terkadang hilang begitu saja.

“yongie-ah…?”

Dan untuk pertama kali setelah sekian lama yonghoon bungkam, ia kembali bicara berkat sosok jiyong. Ajaibnya lagi lembaran demi lembaran kenangan yang pernah mereka lalui di mimpi itu kini tergambar jelas dalam ingatan yonghoon. Kim ji yong adalah putri kecilnya. Sosok yang terakhir kali menghilang bersama hyunjoong.

“eomma menangis?”

Sama seperti dulu, jiyong dengan tangan mungilnya mengusap pipi yonghoon yang basah oleh lelehan air mata. Dari situ yonghoon merasa hatinya menghangat . bagaikan separuh nyawa yang hilang dilempar kembali seutuhnya saat melihat sosok ji yong  hadir di depan mata.  Meski perlahan, tubuh yang lemas itu berusaha merengkuh bahu jiyong. Membawanya dalam dekapan hangat demi melepas kerinduan.  meski sesekali mengecup pundak sempit jiyong, yonghoon masih tetap dengan isakan tangisnya.

“bukankah appa bilang jangan menangis?”

Layaknya orang dewasa, gadis kecil itu menepu-nepuk punggung sang ibu agar lebih tenang.  Tak mau lagi jika ibunya terlihat menyedihkan dengan selalu berurai air mata. Menangisi kepergian dirinya dan juga sang ayah.

“kau sudah datang sayang?”

“Yongie datang karena melihat eomma selalu menangis. Appa tidak suka itu!”

Cibirnya seraya duduk di pangkuan yonghoon.  Wanita itu tersenyum melihat tingkah putri kecil yang sedikit manja. Tangannya bergerak mengusap rambut hitam jiyong yang terurai begitu saja. “eomma tidak menangis sayang?”

“bohong! Jiyong selalu melihatnya. Eomma, jangan menangis lagi! Yongie janji akan menjenguk eomma setiap hari.”

“benarkah? Uri-yongie akan datang setiap hari?”

“eumm… Tapi eomma harus janji tidak akan menangis lagi! Jika eomma sedih, maka yongie dan appa akan ikut sedih”

Ya Tuhan… ibu mana yang takkan tersentuh mendengar sang buah hati berkata demikian? Layaknya obat penawar rasa gundah yang selama ini menghantui yonghoon, ucapan jiyong begitu mengena. Rasa sedih yang membuat dadanya sesak seolah lengap begitu saja. Semua itu berkat jiyong, malaikat kecilnya. Ini sungguh menakjubkan…

“eomma harus hidup dengan baik. Jika eomma masih seperti ini Jiyong tidak mau lagi bertemu dengan eomma”

“andwae yongie-ah! eomma janji akan menuruti semua perkataanmu! Tapi jangan pernah tinggalkan eomma lagi sayang”

“janji??”

“ya, eomma janji”

~ ~ ~ ~

“duduklah… aku ambil minuman dulu”

Menurut saja, lagipula kyuhyun memang butuh waktu untuk berpikir tentang bagaimana cara menyampaikan hal yang menjadi maksud kedatangannya. Mulai duduk di salah satu sofa yang menjadi favoritnya tiap kali datang kemari. Tentu saja, karena letaknya yang pas berhadapan dengan sebuah foto besar berbingkai melekat pada dinding biru yang selalu membuat bibirnya melengkung manis kala memandangnya. Tapi kenyataan kali ini berbeda, hati kyuhyun berdenyut melihat  gambar dirinya dan hyorin yang tersenyum dengan binar cinta yang terpancar didalamnya.

“kau pasti sedang ingin minum ini”

“hmm… gomawo”

Seolah mengerti kondisi mood pria itu, hyorin memilih sekaleng bir untuk diberikan pada kyuhyun. Tahu betul kebiasaan kyuhyun jika pikirannya tengah 

kacau. hyorin mulai duduk namun kali ini sukses membuat kyuhyun bertanya-tanya. Seolah sengaja memberi jarak antara mereka, bukannya disebelah kyuhyun dia memilih duduk di sofa yang lain.

Ada apa dengan gadis itu dan mengapa situasi kini jadi terasa canggung? Apa karena beberapa hari tidak bertemu? Yang benar saja. Justru karena tidak bertemu harusnya mereka saling berdekapan melepas rindu. Tapi entahlah, mereka seperti orang asing saja.

“bagaimana kabar yonghoon-ssi? Apa dia baik-baik saja sekarang?”

Tidak, dan kyuhyun merasa tertohok mendengar kalimat itu. Mengapa pertanyaan hyorin langsung menjurus kesana, seakan-akan dia tahu apa maksud kyuhyun kemari. Pria itu hanya menggeleng dengan wajah ditekuk lesu. Benar dugaan hyorin! jadi ini yang membuat kyuhyun kacau balau seperti sekarang.

“oppa, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Jangan membuatku bingung dengan sikapmu!” Tak tahan dengan situasi yang terasa konyol, hyorin benar-benar muak melihat kyuhyun hanya diam.

“yonghoon… dia kehilangan bayinya”

“mwo?? bagaimana bisa?” dia shock setengah mati. Tak menyangkan kejadiannya akan separah itu. Pantas saja kyuhyun mandadak panic dulu, ternyata seburuk inikah alasannya?

“ini semua salahku. Andai saja kala itu aku ada disisinya mungkin ini semua takkan terjadi” penyesalan itu kembali datang dan meremas hati kyuhyun. Membuat napasnya sesak dan ingin menangis lagi. Entahlah, sejak kejadian itu sosok angkuh kyuhyun bagai hilang ditelan bumi. Kini yang terlihat hanya kyuhyun yang kacau dengan mata sembab karena dihantui rasa penyesalan yang tak berujung.

“lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

“dia tampak depresi. Tak mau bicara padaku bahkan pada siapapun. Aku takut terjadi hal buruk padanya lagi”

Lee hyorin bersumpah, ini pertama kalinya melihat kyuhyun tertunduk dan menangis. Sosok kyuhyun yang tangguh seolah tak pernah ada titik lemah sedikitpun, kini runtuh…  lenyap tanpa sisa. Lihat dia sekarang, meski diam namun air matanya tak berhenti bercucuran. Pria itu menangis, tangis yang selama ini tak pernah ia lihat namun kini hyorin harus rela kyuhyun menangis bukan untuk dirinya.

Betapa hati hyorin tercubit mengingat kenyataan itu. Kyuhyun yang tak pernah sekalipun menampakkan kesedihannya kini rela menangis demi yonghoon. Demi keegoisan yang berujung petaka pada gadis itu. Hyorin merasakan penyesalan yang begitu besar di benak kyuhyun. Ia tak tega melihat pria itu terpuruk dan menangis di depan matanya.

Perlahan, hyorin tergerak memeluk tubuh prianya. Meski hatinya teriris merasa dikhianati oleh kyuhyun, tapi akan lebih menyakitkan jika hanya diam saja membiarkan kyuhyun menaggung semua ini sendirian. Sedangkan ia sendiri merasa ikut andil atas apa yang menimpa yonghoon. Ya Tuhan, apa sudah tiba saatnya hyorin harus melepas kyuhyun? Hyorin tahu suatu saat hal ini akan terjadi. Melepas kyuhyun yang memang hatinya mulai tergerak untuk wanita lain.

“eottokae rin-ah?? Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Merasakan tubuh kyuhyun bergetar dalam dekapannya, hyorin yakin pria itu masih menangis. Astaga, cho kyuhyun benar-benar jatuh sekarang. Terlampar dalam jurang penyesalan dan membutuhkan seseorang untuk datang menolongnya. Memberinya petunjuk agar bisa keluar dari masalah ini perlahan.

“kita akhiri saja semua ini oppa, yonghoon pasti sangat membutuhkanmu jadi kembalilah padanya! Kurasa itulah jalan satu-satunya untuk bisa menghapus sedikit kesalahan kita. Percayalah padaku!”

Air mata hyorin jatuh bersama kalimat terkutuk itu. Sebuah keputusan yang tentu akan menyakiti dirinya sendiri, namun harus ia ambil karena itulah jalan satu-satunya. Tidak mungkin dia akan egois dengan terus mengikat kyuhyun, padahal jelas-jelas dia tahu bahwa hati kyuhyun kini tak sepenuhnya tertuju padanya. Jadi untuk apa lagi dipertahankan? Hanya akan menambah daftar kesakitan hatinya saja.

Sedangkan cho kyuhyun, merasa menjadi pria paling berengsek yang pernah ada. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti dua wanita sekaligus. Terlebih lee hyorin, gadis yang rela menjalin hubungan dengannya meski ia telah beristri. Memberinya sebuah harapan dan janji-janji manis yang tak pernah bisa ia tepati. Janji tinggallah janji. Kyuhyun tak akan bisa memberikan kebahagiaan seperti yang ia janjikan.

“maafkan aku rin-ah… aku sungguh-sungguh minta maaf. Tolong maafkan aku.”

Penyesalan kyuhyun kian berlipat ganda, dan mau tidak mau dia sendiri yang harus menganggungnya.

~ ~ ~ ~

Cho kyuhyun, langkah gontai membawanya masuk ke dalam kamar itu. Tempat dimana ia akan menemukan yonghoon hanya duduk diam tanpa berbuat apapun. Belakangan kyuhyun selalu pulang lebih awal, atau kalau tidak ia pasti gunakan waktu makan siangnya untuk sekedar menengok keadaan yonghoon. Ya, setidaknya ia bisa memantau sendiri perkembangan gadis itu namun nyatanya, tetap saja.

“bibi kim!! Yonghoon tidak ada di kamar, dimana dia?”

Mendadak berlarian menuruni tangga, menghampiri bibi kim yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.  Begitulah kyuhyun saat mendapati kamarnya kosong, tak ada sosok yonghoon di dalam sana. Ketakutan akan hal buruk lagi-lagi membuatnya panic setengah mati. “nyonya ada di taman belakang tuan”

Mendengar jawaban wanita paruh baya itu bukannya senang, kyuhyun malah semakin shock. Bagaimana bisa yonghoon ada di sana? Bahkan untuk bicara saja dia masih sangat enggan apalagi harus berjalan menuruni puluhan anak tangga untuk sampai ke taman belakang. Itu terdengar mustahil. Kyuhyun harus segera memastikannya.

“tapi tuan,  seharian ini nyonya terlihat aneh”

Ucapan bibi kim berhasil menjeda langkah kyuhyun, pria itu lantas menatapnya penuh tanya. “apa maksud bibi?”

“tadi siang tiba-tiba nyonya keluar dengan wajah ceria lagi seperti dulu. Seolah tak pernah terjadi hal buruk apapun pada dirinya”

Kyuhyun mengernyit heran, apa itu masalah? Dengan begitu berarti yonghoon bisa melupakan kejadian buruk itu dan mau kembali seperti semula.

“bukankah itu bagus?”

“tapi maaf tuan, sebelum itu saya melihat nyonya bicara sendiri di kamar. Ia bicara seolah ada orang lain disana. Kalau tidak salah, dia selalu menyebut nama… Yongie”.

~ ~ ~

Dengan langkah berat kyuhyun mulai mendekati gadis itu, Song yonghoon yang sibuk dengan bunga-bunga kecil di tangannya. Sempat terselip keraguan dalam hati, namun keinginan untuk segera bertemu dam melihat keadaan yonghoon  membuat kyuhyun lupa segalanya.  Tapi mendapati yonghoon dengan senyum merekah itu kyuhyun sedikit lega, setidaknya setelah sekian lama gadis itu bisa tersenyum kembali. Sungguh, tak ada yang lebih indah kini dibanding senyuman itu. Meski ribuan tanya di benak kyuhyun tentang apa yang telah terjadi hingga yonghoon bisa sampai duduk disana, namun kali ini kyuhyun berusaha menepisnya. Melihat perubahan yonghoon saja dia sudah terlalu senang.

“yonghoon-ah…”

Gadis itu menoleh, menatap kyuhyun dan mulai tersenyum kembali. Menampilkan lesung pipi serta iris mata lengkung menyerupai bulan sabit. Lihat senyumnya itu, layaknya mentari yang siap menyinari bumi. Indah sekali bukan? kyuhyun sempat merasakan debaran aneh itu muncul di dalam hatinya.

“baru pulang? dari mana saja kau ini?”

Nada yang ketus, namun sukses mengingatkan kyuhyun pada sikap yonghoon dulu. Terdengar cuek dan semaunya sediri saat yonghoon bicara padanya. Benarkah ini yonghoon? Ya Tuhan… apa  dia telah kembali? Mungkinkah gadisnya ini telah kembali seperti semula? Kyuhyun terlampau senang hingga berhambur memeluk yonghoon. Ia tak tahu bagaimana lagi mengungkapkan kebahagiaan selain dengan memeluk gadis itu.

“kyuhyun-ah, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!”

Yonghoon berontak, pelukan posesif kyuhyun membuat dadanya sesak.  Lagipula mengapa tiba-tiba pria itu memeluknya? Yonghoon masih tidak mengerti.

“yonghoon-ah, kau baik-baik saja?”

“lepaskan!! Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi suka menyentuhku?” yonghoon dengan kesal melepas tangan kyuhun yang menangkup kedua pipinya. Ia merasa aneh dengan sikap kyuhyun. Kemana perginya pria yang dingin dan angkuh itu? Sungguh tidak bisa dipercaya kyuhyun berubah seperti ini.

“yonghoon-ah katakan padaku kalau kau baik-baik saja.  Selama ini aku sangat mengkhawatirkanmu”

“aku baik-baik saja cho kyuhyun!! Kau bisa lihat sendiri kan?”

Benar, yonghoon terlihat baik. tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kondisi yonghoon.  Entah kekuatan apa yang membuatnya tiba-tiba berubah sederastis ini. Tapi apapun itu yang jelas kyuhyun sangat bersyukur yonghoon kini telah sembuh.

“syukurlah, aku senang kau kembali”

“jangan khawatir! Aku baik-baik saja sekarang”

Kyuhyun tersenyum simpul kala yonghoon menepuk-nepuk punggungnya. Jujur saja kyuhyun masih bingung dengan sikap yonghoon, bukankah harusnya yonghoon marah? Memakinya dan memukulnya sampai ia puas. Yonghoon tidak mungkin lupa apa yang telah kyuhyun lakukan? Bahkan yonghoon berhak marah atas apa yang terjadi. Mengapa yonghoon bertindak seolah ia lupa segalanya?

Tapi untuk menanyakan hal itu, tentu kyuhyun takkan mau. Bukan ia takut yonghoon akan membencinya, tapi ia tak mau yonghoon terluka lagi. Ia takut yonghoon akan terpuruk, berdiam diri dan kembali menjadi sosok yang amat menyedihkan. Sudah cukup, Kyuhyun tak mau hal itu terjadi pada yonghoon. Biarkan saja seperti ini. Jika benar yonghoon melupakannya itu akan lebih baik, jadi yonghoon tak perlu bersedih lagi.

“eohh…? Yongie-ah… apa yang kau lakukan disana?”

Sempat terkejut kala yonghoon tiba-tiba mendekat pada tanaman bunga disisi pagar. Seolah dia melihat seseorang dan ingin menyapanya. “yongie suka kupu-kupu?? … Ahaha… mereka memang sangat cantik”

“yonghoon-ah…”mulai bingung. Kyuhyun merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Yonghoon bicara seolah ada orang lain di dekatnya. “yonghoon-ah…” pria itu mendekat sekedar memastikan apa yang dilakukan yonghoon. Ketakutan kyuhyun akan apa yang dikatakan bibi kim kini mulai terlihat.

“jinjja?? Yongie bisa melakukanya? Coba perlihatkan pada eomma!” yonghoon masih asik berkelana dalam dunianya sendiri. Mengabaikan keberadaan kyuhyun yang kini berada tepat disampingnya. “yonghoon-ah, kau bicara dengan siapa?”

“kyu!! Apa kau tidak mengenalnya? dia itu jiyong.”

Jiyong? Siapa? Jangankan untuk mengenalnya, kyuhyun bahkan tak melihat ada siapapun disana kecuali mereka. Ya Tuhan, apa yang tejadi pada yonghoon? Mengapa dia jadi seperti ini.

“Ommo… lihat tariannya kyu…!! Ahaha… bagus sayang… darimana kau belajar semua itu?”

Kyuhyun masih enggan untuk percaya apa yang dia lihat. Kyuhyun tak percaya yonghoon menjadi seperti ini. Tidak mungkin, dia pasti salah. Yonghoon pasti sengaja mengerjainya. “jangan bercanda yonghoon-ah, tidak ada siapapun disana.”

“Apa kau bilang? Kau ini buta? Buka matamu lebar-lebar, ada jiyong yang sedang menari disana kyuhyun-ah”

Betapa terkejutnya kyuhyun mendengar penuturan yonghoon. Baiklah… matahari memang telah tenggelam. Cahaya memang cukup remang, tapi mata kyuhyun tak seburuk itu hingga tak bisa melihat seseorang disana. Ini tidak benar… ada yang tidak beres dengan yonghoon. Jelas-jelas tak ada apapun disana tapi yonghoon  bilang melihat seseorang menari? Astaga yonghoon-ah, apa lagi ini?

Tepuk tangan yonghoon terdengar seolah ia puas dengan penampilan jiyong, ia terlihat sangat senang. Sedangkan kyuhyun, ia masih diam mematung tanpa kata. Hatinya berdenyut merasakan keanehan yang terjadi pada yonghoon. Berusaha untuk tak percaya tapi apa yang dia lihat ini sungguh nyata. Di depan mata ia melihat yonghoon bicara sendiri, bukan lagi lewat bibi kim atau siapapun. Lalu apa lagi yang membuat kyuhyun terus mengelak. Tidak, kyuhyun hanya tak terima yonghoon sekarang menjadi… ohh astaga.

“yonghoon-ah hentikan!! Kumohon hentikan semua ini”

Ditariknya tubuh mungil yonghoon dalam dekapan. Tangan kyuhyun bergetar. Seolah dadanya dihanatam beban berat hingga terasa sesak untuk ia bernapas. Serta lihat mata kyuhyun yang memerah, betapa dia ingin menangis sekarang. Apa lagi cobaan yang Tuhan berikan pada gadis ini? Apa Tuhan ingin menghukum kyuhyun dengan membuat yonghoon menjadi gila. Sungguh.. apapun hukuman atas dosanya ia akan terima tapi jangan buat yonghoon menderita.

“sadarlah sayang… hanya ada kita disini!”

Tangisan kyuhyun tak terbendung, tak peduli yonghoon terus meronta dalam jeratnya, ia hanya ingin yonghoon sadar dan kembali ke akal sehatnya. Kyuhyun tak ingin yonghoon terjerumus dalam lubang penderitaan lagi. Tidak, ia takkan membiarkan hal itu terjadi.

Tbc…

1425895517_0

BwXnSVdCUAI1oX4.jpg-large

Advertisements