Keullineun Yeoja

IMG-20150903-WA000

Hey girl
I don’t want to think about that
Just I love you

“yakk song yonghoon, palliwa!! Kau ingin dipecat di hari pertamamu kerja?”

Teriakan cetar membahana itu keluar dari mulut seorang song ji sun. Gadis dua puluh lima tahun ini nyaris gila menghadapi sikap lelet sahabatnya yang sudah kelewat batas.

“arraseo”

Kembali jisun membuang napas jengah, dia harus mengulur ususnya panjang jika berurusan dengan gadis bermarga sama-sama Song itu. Mereka memasuki bis yang akan mengantarkannya ke tempat kerja. Sebuah café yang belakangan ini cukup terkenal yaitu Mouse Rabbit. Ada yang menarik dari café berlantai tiga itu. Meski sekilas terlihat biasa saja namun jika kau berkunjung kesana, maka bersiaplah dengan berbagai kejutan didalamnya.

~ ~ ~ ~

“kau lihat! Kita jadi terlambat sekarang”

Yonghoon melirik arloji perak di tangan kirinya. Kalau tidak salah lihat ini baru pukul 09.50. Lalu mengapa gadis cerewet itu terus memarahinya dan berkata ‘kita sudah terlambat’ sejak mereka turun dari bus tadi?

“jisun-ah, bukankah café itu buka jam 10.00? tinggal belok satu gang lagi dan kita akan sampai. Kurasa tak butuh waktu lebih dari sepuluh menit”

Mendengar ocehan yonghoon, jisun sontak menunda langkah selanjutnya. Dia ingin sekali menyumpal mulut itu dengan apapun tapi, ahh sudahlah… takkan ada gunanya.

“yonghoon-ah, kau lupa? Kita ini pelayan, bukan pelanggan. Dan tugas pelayan adalah menyiapkan segala sesuatunya sebelum pelanggan datang. Apa kata mereka…”

“ne..ne.. arraseoyo. Jadi sekarang hentikan ocehanmu itu sebelum waktu kita terbuang sia-sia”

Potong yonghoon karna malas mendengar kicauan berpetuah ala gadis yang lahir tujuh bulan bulan lebih dulu darinya itu. Kemudian ia berlalu tanpa peduli jisun yang mendengus kesal akibat perkataannya.

Tin..tin..

Tinggal beberapa meter lagi saat sebuah mobil datang dan mengacaukan focus keduanya. Benda hitam itu berhenti disamping jisun, membuatnya sedikit bergeser tapi yang aneh adalah saat jisun tiba-tiba merapikan penampilannya. Ada apa? Yonghoon yang terlanjur melangkah jauh tak berniat mendekat meksi sebenarnya ia penasaran. Cukup amati, mengapa jisun mendadak kalem dihadapan pengemudi mobil itu? lihat saja senyumnya yang sok manis itu saat mereka berbincang, serta cara jisun menggiring rambutnya ke bawah telinga. Hahh… Itu semacam trik sederhana yang biasa digunakan untuk mencuri perhatian. Yonghoon nyaris terpingkal melihat kelakuan sahabatnya itu. Yahh.. Ia akui jisun memang manis, tapi tidak saat sedang bersamanya.

Tak lama kemudian mobil itu melaju, melewati sosok yonghoon yang masih penasaran. Tak lupa ia membungkuk sopan saat pria dalam mobil itu menyalakan klakson bermaksud menyapa dirinya. Dan dari situlah ia mendapatkan jawabannya.

“tuan kasir tampan?” gumamnya

Ohh jadi begitu? Sontak yonghoon lempar tatapannya pada gadis yang masih bertah berdiam diri dan senyam-senyum sendiri disana. Pantas jisun mendadak kalem. Lihat bukan siapa yang mengajaknya bicara? kim jong woon, si tuan kasir tampan sekaligus putra pemilik café berlabel mouse rabbit itu. Pria yang tak pernah luput dari intaian mata jisun dua tahun belakangan ini. Pria yang tak pernah absen dari kicauan bibir jisun di tiap kali sesi curhatannya. Dan dia adalah pria yang berhasil mencuri benda keramat milik jisun yang tak pernah ia berikan pada lelaki manapun selama ini. Benda itu adalah hatinya.

“yak, sampai kapan kau akan berdiri disitu?” pekik yonghoon, ia sengaja membuyarkan fantasi yang menar-nari dibenak seorang song jisun.

“kau duluan saja, jongwoon-ssi memintaku membeli bubuk kopi” itu kata jisun sebelum ia pergi.

“mwo?”

~ ~ ~ ~

Ini week end, dan jisun lupa memberitahukan sesuatu pada yonghoon. Biasanya akan ada mini konser ditiap akhir pekan, jadi kemungkinan jumlah pengunjung akan membludak hingga malam menjelang. Dan benar bukan? siang bolong begini saja mereka sudah dibuat sibuk setengah mati. Apa lagi saat konser dimulai nanti?

Wahh… ini jelas petaka bagi yonghoon. Tampaknya ia salah memilih tanggal sebagai hari pertama kali bekerja. Week end? Ohh sial, seumur hidup ini pertama kalinya ia benci mendengarnya. Entah sudah yang keberapa tetesan peluh itu mengalir di dahinya. Lima menit saja, rasanya ia ingin berbaring di kasur yang empuk, bila diijinkan.

Klunting…

Suara itu berasal dari lonceng pada pintu masuk, dan itu artinya… satu pelanggan lagi. Tapi kabar buruknya adalah tak ada lagi meja yang kosong. Baru yonghoon ingin membalik papan bertuliskan open menjadi close itu sementara, tapi terlambat. Pelanggan itu, lebih tepatnya pria itu sudah lebih dulu masuk. Mengedarkan pendangannya kesetiap sisi berniat mencari celah diantara puluhan manusia disana. Yonghoon dengan sisa tenaganya kini mulai menghampiri.

“selamat datang tuan, tapi maaf sebelumnya. Kami sudah penuh, tak ada lagi tempat tersisa” kata yonghoon sopan tak berniat membuat pengunjung itu kecewa.

“ya, aku tahu” itu jawabnya. Tapi apa yang ia lakukan justru sebaliknya. Dengan santainya ia tetap masuk sambil tengok kanan-kiri, entah apa yang sebenarnya ia cari. Lalu yonghoon? Ia sendiri dibuat bingung dengan tingkah pengunjung yang satu ini.

“maaf tuan, untuk saat ini benar-benar tak ada lagi tempat yang kosong. Jadi…”

“aku tahu, kau sudah mengatakannya tadi”

Ohh jinjja, lalu mengapa bukannya pergi tapi malah celingak celinguk begitu? batin yonghoonpun ikut teriak. Tubuh yang lelah memudahkannya terpancing emosi. Oke, yonghoon akui pria itu memang tampan. Juga setelan jas konservatif yang membalut tubuh tegap itu cukup menunjukkan dirinya pria berkelas. Setidaknya itu sepadan dengan tampangnya yang angkuh. Yonghoon tak keberatan berlama-lama menghadapi makhluk rupawan macam dirinya, tapi tolong jangan sekarang. Disaat masih banyak sekali pekerjaan yang antri untuk ditangani.

“atau mungkin anda bisa kembali beberapa jam lagi tuan…” satu solusi coba ia sarankan, tapi apa tanggapan pria itu?

“shirreo. Kau mengusirku?”

“bu..bukan begitu tuan, hanya saja…”

“hyung!” pria itu malah pergi mengabaikannya begitu saja.

“tuan..?? tuan..!!”

Yonghoon setengah mendengus kala pria bertubuh jangkung itu tak menghiraukan panggilannya. Ohh… Kesabarannya benar-benar tengah diuji oleh Tuhan.

“eoh kyuhyun-ah, wasseo?”

Sapa jongwoon. Tuan kasir tampan itu tersenyum senang kala pria itu menghampirinya, tentu saja masih dengan yonghoon yang mengekor dibelakangnya. Hal itu membuat jongwoon sedikit keheranan.

“ada apa yonghoon-ssi?”

“maaf jongwoon-ssi, aku sudah bilang café ini penuh tapi ia tetap memaksa masuk” Adunya sedikit kesal.

Jongwoon lantas melirik pria yang ia panggil kyuhyun tadi. Entah apa maksud senyuman miring di bibir pria itu, mungkin hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu. “kau apakan dia kyuhyun-ah?”

Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh. Yonghoon merasa seperti orang dungu yang tak mengerti apa yang sebenarnya orang-orang ini bicarakan.

“gwaenchana yonghoon-ssi, aku yang sengaja mengundanya kemari”

“mwo?”

Jadi begitu? Astaga, kenapa tidak bilang saja dari tadi? Yonghoon melempari pria yang baru ia tahu bernama kyuhyun itu dengan tatapan sinis. Mungkin sadar dirinya baru saja dikerjai, ia terlihat sangat kesal sekarang. Terlebih saat pria itu hanya menatapnya sekilas kemudian pergi tanpa dosa dari hadapannya.

“kyuhyun-ah kau ingin minum apa?”

“tererahmu saja hyung”

~ ~ ~ ~

“dasar menyebalkan”

Yonghoon masih tak terima dirinya dibodohi oleh orang tak dikenal. Dari tadi bibirnya belum lepas dari segala bentuk sumpah serapah saat ia menuju pantry. Jisun yang juga ada disana jadi penasaran.

“ada apa denganmu?”

“kau lihat pria didalam sana itu? Dia mencari masalah denganku” jisun segera mengikuti kemana arah telunjuk yonghoon. Sepertinya ia tak asing dengan sosok tampan itu.

“kyuhyun-ssi?”

“mwo? Jadi kau mengenalnya?”

“hanya sebatas tahu saja, dia adalah teman dekat jongwoon. Memangnya kenapa?”

“ohh jinjja, aku benar-benar dibuat kesal setengah mati olehnya…”

Dan blablabla… begitulah seterusnya yonghoon memulai sesi ocehan tentang kesialannya pada gadis itu. Jisun bahkan tak bisa menahan tawa atas kebodohan yang tertanam dalam diri sahabatnya itu. Sedangkan disisi lain, pria yang kini tengah menjadi topik perbincangan mungkin merasakan panas ditelinga. Sesekali ia mengamati gerak-gerik kedua gadis itu disana, instingnya mengatakan bahwa gadis itu tengah membicarakannya. Buktinya saja dia selalu menunjuk kearah dimana dia berada. Tak jarang pula tatapan mereka bertemu, gadis itu menatapnya sinis dan terus berceloteh.

“hyung, apa dia pegawai barumu?” tanyanya pada jongwoon yang datang dengan secangkir kopi

“siapa? Ohh maksudmu, yonghoon-ssi?? Ya, dia baru mulai bekerja hari ini”

Jongwoon tampak curiga, tak biasanya kyuhyun bersikap seperti ini. Peduli dengan hal-hal sepele macam itu, sama sekali bukan gaya kyuhyun. Terlebih saat ia memergoki kejahilan kyuhyun pada yonghoon tadi, jongwoon yakin ini pasti ada sesuatu.

“wae? Kau tertarik padanya?” celetuknya pada kyuhyun.

Namun tak ada jawaban yang berarti. Pria itu hanya diam dalam senyuman. Jongwoon sendiri kesulitan mengartikan lengkungan dibibir manis itu. Yahh, mungkin untuk saat ini hanya kyuhyun dan Tuhan yang tahu.

-end-

620754294

Advertisements