imfmm~Tak peduli seberapa besar aku menginginkanmu…Tak peduli seberapa kuat keinginanku berada disisimu…Seberapa dalampun hati ini menguikir indah namamu…Jika yang kau inginkan adalah kembali padanya, maka aku harus rela melepaskan segalanya~

CHAPTER 8

Uap masih mengepul dari cangkir berisi coklat panas itu. Aroma yang tercium nyatanya cukup menebarkan sehelai ketenangan. Bukan tanpa maksud membuatnya dengan suhu yang lebih tinggi. Itu sengaja dilakukannya karena disana seseorang tengah menggigil kedinginan. Ia butuh sesuatu yang mampu menghangatkan tubuhnya.

Cho Kyuhyun, fokusnya terbagi pada sosok itu. Seorang gadis yang duduk terdiam sembari meremas buku jaRinya yang memutih. Wajah pucatnya tampak cemas, sejumput kekhawatiran berkeliaran dibenaknya saat ini. Kyuhyun mendekat, tak lupa coklat panas itu ia sodorkan padanya.

“minumlah, ini akan membuatmu hangat” tuturnya lembut diiRingi senyuman yang manawan.

Beginilah Kyuhyun bila dihadapan dengan gadis itu, sosoknya yang dingin dan angkuh akan bertransformasi menjadi pria yang lembut dan penuh perhatian. Perlakuan sekecil apapun akan terkesan manis bila dipandang. Namun dalam situasi ini -saat mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih- apa itu wajar?

“oppa, mengapa kau menolongku?”

Layaknya idiot, Kyuhyun bahkan tak tau jawaban macam apa yang harus ia sampaikan. Sebenarnya sepele, Kyuhyun hanya tidak mau kehilangan gadis itu. Kyuhyun takkan rela hal buruk sekecil apapun terjadi pada Hyorinnya. Tapi apa dia masih pantas mengatakannya setelah ia melepasnya pergi begitu saja?

“Rin-ah, aku…”

“gwaenchana… kau tak harus menjawabnya jika memang tak ingin”

Seolah sengaja, Lee Hyorin yang was-was dengan jawaban Kyuhyun segera memotongnya. Ada ketakutan tersendiri di lubuk hatinya, Hyorin tak mau dengar jika alasan Kyuhyun hanya kasihan. Atau mungkin sebaliknya, bisa saja Kyuhyun masih mencintainya. Itulah yang akan membuatnya kembali goyah dan ingin menguasai Kyuhyun lagi.

Sedangkan pria itu kini diam, menatap lekat gadis yang pernah menjadi dewi dihatinya. Gadis yang dulu riang dengan seyuman manis yang selalu membiusnya. Menebarkan aura keceriaan pada sosok Kyuhyun yang keras dan berhati dingin. Namun, dimana hilangnya semua itu sekarang? yang tergambar dimata Kyuhyun kini adalah Lee Hyorin yang amat menyedihkan. Bahkan sejak kapan tubuh mungilnya itu menjadi semakin kurus. Pipi yang dulunya gempal kini terlihat tirus. Lee Hyorin yang periang, Lee Hyorin yang menggemaskan kini benar-benar telah hilang. Dan Kyuhyun harus mengakui bahwa dirinyalah pria berengsek yang mengubah Lee Hyorin menjadi seperti ini.

“terima kasih sudah mengantarku oppa, kau boleh pulang sekarang. Aku ingin istirahat”

Hyorin beranjak dari duduknya, ia harus sembunyi sebelum ganangan air matanya tak mampu terbendung lagi. Terlebih ia tak ingin Kyuhyun melihatnya menangis, ia tak mau pria itu menatapnya iba. Tapi sebelum niatnya itu terlaksana, Kyuhyun sudah lebih dulu menarik tubuh mungilnya. Menyeretnya kedalam rengkuhan erat dan mulai menangis disana.

Pria itu menangis? Mengapa? Hyorin mencoba melepaskan diri namun pelukan Kyuhyun semakin erat dan menuntut. Berusaha meredam tangis yang kian menjadi dengan sembunyi di bahu sempit Hyorin.

“oppa…”

“sebentar saja Rin-ah, kumohon”

Kali ini saja, biarkan Kyuhyun memeluknya lagi. Menyampaikan segala rasa yang terpendam didalam hati selama ini. Kerinduan, penyesalan, dan perasaan bersalah yang selalu menghantui hidupnya. Biarkan dia menangis dan bersandar pada gadis itu kali ini, sebentar saja.

“mianhae… jeongmal mianhae Rin-ah… mianhae…”

Hanya kalimat itulah yang terucap mengiringi tangisan pilu. Tak ada lagi yang bisa ia sampaikan selain jutaan kata maaf itu pada Lee Hyorin. Maaf atas kesakitan yang ia berikan, maaf atas perderitaan yang harus mereka rasakan, dan maaf atas nasib buruk yang telah menimpanya. Harapan Kyuhyun hanyalah satu, melihat gadis itu kembali ceria, tak ada lagi air mata karena seorang pria berengsek macam dirinya. Asal itu bisa terwujud, Kyuhyun rela melakukan apapun.

~ ~ ~ ~

Sebuah kamar yang terlampau sepi, disanalah Song Yonghoon masih berusaha terlelap namun sayang sekali, matanya tak bisa diajak kompromi. Hampir dua jam sejak Siwon berbaik hati mengantarkannya pulang, Yonghoon memilih berbaring dikamar. Ia hanya ingin tidur, tak mau pusing mengingat tindakan heroik Kyuhyun di pesta tadi. Toh Yonghoon tahu persis apa alasan Kyuhyun melakukannya. Jadi kini semua jelas, tak ada lagi yang harus dipusingkan. Tak ada lagi yang perlu diragukan untuk niatnya pergi meninggalkan Kyuhyun.

Namun nyatanya hati kecil tak pernah berbohong. Sekeras apapun berusaha melupakannya, semakin gencar pula otaknya memutar kembali kejadian itu. Yonghoon mendengus merasakan pening di kepala, sesak itu di dada dan hati yang berkedud terasa nyeri.

Mengapa harus sesakit ini? Inikah pula yang dirasakan Hyorin-ssi kala itu? Bagaimana dia rela melepas cintanya untuk orang lain? Sungguh mengerikan, Yonghoon membayangkan betapa kejam dirinya kala itu. membiarkan pernikahan terjadi begitu saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Andai saja dulu ia tolak mungkin jadinya takkan begini. Takkan ada yang tersakiti, takkan ada penyesalan, takkan ada pula Kyuhyun yang menderita dengan beban dipundaknya. Semua itu karna dirinya.

Meski begitu, mengapa Kyuhyun tetap peduli? Bahkan rela mengorbankan dirinya untuk berada disisi Yonghoon selama ini. Andai saja Kyuhyun tak sebaik itu mungkin perasaan Yonghoon juga takkan tumbuh lagi. Rasa cinta yang malah memperkeruh suasana. ohh ya, bukankah Kyuhyun memang seperti itu? dibalik sikap dinginnya, Kyuhyun memang tak pernah lepas tangan jika menyangkut urusan Yonghoon. Entah karena apa, tapi memang itulah yang terjadi selama ini.

Dirasa usahanya akan sia-sia, Yonghoon memilih turun ranjang. Ini bahkan hampir tengah malam. Namun hingga saat inipun belum ada tanda-tanda kepulangan Kyuhyun.

“kemana dia?”

Hmmh.. Yonghoon terhenyak. Miris mendengar ocehannya sendiri. Bodoh sekali. Apa hal itu masih perlu ditanyakan? Tentu saja Kyuhyun masih bersama gadis itu bukan? Setelah apa yang terjadi dipesta tadi Kyuhyun tentu akan menemani gadisnya hingga mungkin… ia takkan pulang malam ini. Terserah. Yonghoon mencoba tidak peduli. Ia harus belajar merelakan Kyuhyun mulai sekarang.

Beranjak dari duduknya, Yonghoon melangkah keluar kamar. Mungkin segelas air akan mampu melunturkan penat dikapala. Namun belum sampai itu terlaksana, sesuatu menggelitik perhatiannya. Yonghoon berhenti pada sebuah pintu, satu ruangan dimana Kyuhyun biasa berkencan dengan leptop beserta tumpukan berkas dimejanya. Dan entah karena bisikan apa Yonghoon mulai memasukinya.

Meski tak terlalu luas, namun ruangan bernuasa putih ini tampak begitu nyaman. Bahkan koleksi buku Kyuhyun berbaris rapi di rak dinding. Yonghoon mendekat pada sisi meja dimana kursi kerja itu berada. Ia lantas menjatuhkan tubuhnya. Dari situlah aroma Kyuhyun mulai terkuar, wangi parfum yang entah sejak kapan menjadi aroma favoritnya masih tertinggal disana. Sejenak Yonghoon terdiam merasakan wangi Kyuhyun cukup membuatnya tenang. Rasanya pria itu ada disisinya sekarang, memeluknya, membelai rambutnya dengan sentuhan lembut yang membuatnya melayang seketika tapi… ahh cukup nona! Jangan seperti pungguk yang menginginkan bulan, kau takkan pernah mendapatkannya. Sial, belum genap satu jam ia bertekat melupakan Kyuhyun, tapi jiwa lembeknya mulai berulah lagi.

Awalnya hanya iseng saat Yonghoon membuka laci meja yang kebetulan tidak terkunci. Tak berharap banyak mendapatkan sesuatu yang mungkin menarik baginya. Namun siapa sangka, disanalah ia menemukan benda itu. Sebuah kotak berwarna shappire blue, ia tahu itu warna kesukaan Kyuhyun. Dari situlah jiwa penasaran Yonghoon mulai tumbuh. Perlahan Yonghoon membuka isinya, dan sempat terkejut saat melihat dua cicin perak itu tertanam didalamnya.

Cincin? Ini terlihat seperti cincin perkawinan. Tapi Yonghoon tahu persis itu bukan yang mereka kenakan saat menikah dulu. Lalu? Siapa pemilik benda itu sebenarnya?

Dengan hati was-was serta pikiran yang mulai tak menentu, Yonghoon mengeluarkan kedua benda itu. Satu dari mereka yang lebih kecil, terlihat cantik dengan hiasan berlian diatasnya. Tapi yang lebih mengejutkan adalah saat Yonghoon menemukan initial ‘Kyu’ didalamnya. Ohh baiklah… jika memang benda ini milik Kyuhyun, ijinkan Yonghoon berharap akan menemukan namanya juga di cicin yang lainnya. Namun sayang ia harus kecewa, tak pernah ada ‘yong’ atau ‘hoon’ dalam pasangan cincin itu. Sesuai dugaan, initial ‘Rin’lah yang terukir indah disana, dan Yonghoon cukup tahu apa maksudnya itu.

Kembali merebahkan diri pada sandaran kursi, Yonghoon meringis merasakan sakit itu kembali menelan separuh hatinya. Jadi benda itu milik mereka? Ohh sejak kapan Kyuhyun menyimpannya? Apa Kyuhyun pernah melamar Hyorin? Atau mungkin ia berniat melakukannya dalam waktu dekat ini? Entahlah. Yang jelas Yonghoon tahu sekarang, sampai sejauh mana Kyuhyun melangkah, dan Yonghoon takkan memaafkan diri sendiri jika ia kembali menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan mereka. Sudah cukup! Cukup ia meminjam Kyuhyun selama ini. Kini tiba saatnya ia harus kembalikan takdir Kyuhyun ke jalur yang benar, pada pemilik hati yang sebenarnya.

Ditengah pikiran yang kalud Yonghoon merogoh ponsel disakunya. Sedikit memberi sentuhan pada benda kotak itu untuk menemukan satu nama. Gerakannya berhenti pada deretan hangul bertuliskan ‘Pengacara Lee’.

“yeoboseo ahjeussi, ini aku Song Yonghoon. Boleh aku minta bantuanmu? …. ”

Pengacara Lee merupakan salah seorang kepercayaan keluarga Song, terutama ayah Yonghoon. Jauh sebelum perusahaan Yonghoon dirintis, pria itu telah mengabdi pada ayahnya.

“satu lagi ahjeussi, bisa tolong pesankan satu tiket penerbangan untukku? Kira-kira besok lusa, aku ingin ke Belanda… ne… ne… gamsahamnida ahjeussi”

Berakhir sudah. Kelak saat Pengacara Lee datang membawa apa yang dia minta, maka disitulah akhir dari segalanya. Takkan ada lagi yang terluka, takkan ada lagi yang menderita. Dia akan pergi dan semuanya akan kembali seperti semula.

Yonghoon, tangisnya pecah bersama bayangan jika saat itu tiba. Ia harus menjauh dari Kyuhyun, sahabat sejatinya sekaligus cintanya. Jangan harap lagi bisa melihat senyum cerahnya, merasakan hangat pelukannya, bahkan mencium lagi aroma tubuhnya. Semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan manis didalam hati yonghoon.

~ ~ ~ ~

02.10am

Kyuhyun sempat melirik arloji ditangan saat ingin memasuki kamarnya. Rumah sangat sepi, pasti Yonghoon sudah terlelap didalam sana. Tentu saja, bahkan ini sudah lewat tengah malam, mungkin hanya tikus liar yang masih betah berjaga. Pelan tapi pasti saat ia memutar knop pintu, tak berniat mengusik Yonghoon yang berkelana di alam mimpi. Namun apa yang ia temukan? Tidak ada. Kamar itu kosong.

Sempat cilingukan karena tak menemukan Yonghoon disana. Seperti biasa Kyuhyun lantas mengecek kamar mandi di sudut ruangan. Tetap kosong. dimana gadis itu?

“Yonghoon-ah, odiya?”

Beralih pada satu kamar lain yang tersisa, mungkin saja Yonghoon tertidur disana. Namun lagi-lagi nihil.

“ahjeumma… buka pintunya! Ahjeumma… dimana Yonghoon?”

Kyuhyun seperti orang kesetanan saat menggedor pintu kamar pembantunya. Membuat wanita paruh baya itu berlarian keluar kamar masih dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna.

“ahjeumma, dimana Yonghoon?”

“maaf tuan, terakhir saya melihat nyonya ada dikamar”

“dia tidak ada disana. Bantu aku mencarinya!”

“baik”

Oke, ini memang bukan pertama kalinya Kyuhyun panic karena Yonghoon menghilang ditengah malam. Kebiasaan buruk gadis itu memang kadang membuatnya kerepotan. Tapi ini berbeda, kekhawatirannya kini bercampur rasa curiga. Mungkinkah Yonghoon masih bersama pria itu sekarang? Yahh, Kyuhyun memang sempat melihat Yonghoon pergi dengan Siwon saat di pesta tadi. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena Hyorin masih terkapar dalam pangkuannya.

Ditengah usaha menemukan Yonghoon, tak sengaja ia mendapati pintu ruang kerjanya sedikit terbuka. Satu harapan Kyuhyun mulai muncul. Ia bergegas masuk dan syukurlah… sosok yang ia cari memang ada disana.

“Yonghoon-ah”

Tak menjawab. Kyuhyun lantas mendekati tubuh yang menelungkup diatas meja itu. dugaan kuat gadis itu tengah tertidur. Astaga, Kyuhyun bahkan panic setengah mati mencarinya tapi yang dicari malah enak-enakan tidur disini? Menyebalkan memang. Tapi bagaimanapun ia tetap bersyukur karena ternyata Yonghoon tidak sedang bersama pria lain di luar sana.

“Yonghoon-ah, ayo bangun. Kenapa tidur disini?”

Tegurnya lembut seraya membelai puncak kepala Yonghoon. Hingga gadis itu perlahan terbangun, berusaha menormalkan focus pandangan yang terasa kabur di matanya.

“kenapa kau tidur disini?”

“Kyu? Kau sudah pulang? Jam berapa ini?”

“sudah lewat tengah malam”

“ahh.. begitu rupanya. Kukira kau takkan pulang.”

“apa maksudmu? Tentu saja aku akan pulang”

Siapa tahu bukan? Bisa jadi mereka sibuk bermesrahan saling melepas rindu hingga akhirnya lupa waktu. Hal itulah yang sempat terlintas dibenak Yonghoon.

Entah sebab apa suasana mendadak canggung, seolah keduanya kehabisan topik untuk sekedar basa-basi. Terlebih Yonghoon, rasanya ia sedang tak ingin berlama-lama dihadapan pria itu.

“kalau begitu, aku kekamar dulu”

“Yonghoon-ah…”

Tepat sebelum ia melangkah, Kyuhyun lebih dulu menahannya. Pria itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu, hal yang serius mungkin? Terlihat dari tatapan Kyuhyun yang terasa dalam menelisik dasar manic mata Yonghoon. Perasaan Yonghoon mulai tak tenang.

“soal dipesta tadi…”

Shit! Benar dugaannya, kyuhyun pasti ingin membahas kejadian itu. “gwaenchana. Kau tak perlu menjelaskannya padaku”

“Yonghoon-ah, dengarkan aku dulu!”

Untuk kesekian kali langkah Yonghoon terhenti. Tampaknya Kyuhyun benar-benar tak membiarkan Yonghoon pergi sebelum ia selesai dengan ucapannya. “aku tak ingin kau salah paham atas kejadian tadi”

“salah paham? Untuk apa? Kau sudah melakukan hal yang benar Kyuhyun-ah. Lagipula bukankah tak ada hak bagiku untuk salah paham?”

“kenapa? Bukankah kau istriku?”

“astaga, jangan bercanda Kyu. Kita berdua tahu ini hanya sandiwara. Memang kita menikah, namun kita tidak saling mencintai. Kau tak penah mencintaiku bukan? Dan aku berharap aku juga akan segera melupakanmu”

Yonghoon yang terlalap emosi segera pergi meninggalkan Kyuhyun. Sebenarnya tak ada niatan untuk mengatakanya, tapi Yonghoon yang lelah dengan situasi ini kini mulai tak tahan lagi.

Brakkk…

Belum sempat pintu itu terbuka sempurna, Kyuhyun lebih dulu menutupnya dengan paksa. Sejurus kemudian ia berbalik menghadap Yonghoon, membuat gadis itu meringis kesakitan saat kedua tangan Kyuhyun mencengkram erat kedua pundaknya.

“apa maksud ucapanmu tadi Yonghoon-ah? Apa kau… mencintaiku?”

Gadis itu masih bungkam. Dalam hati mengutuk diri atas kebodohannya sendiri. Mengapa dia harus mengatakannya? Hal itu pasti akan semakin memperkeruh suasana. Jinjja pabbo!!

“jawab aku Song Yonghoon! Apa benar selama ini kau mencintaiku?”

“ya! Aku memang mencintaimu. Meski aku muak dengan sikap dinginmu itu tapi kau selalu ada untukku. Kau selalu ada disisiku dan melindungiku. Wanita mana yang takkan jatuh dalam pesona pria yang bahkan rela berkorban untuknya? Katakan Kyuhyun-ah!!”

Pria itu membeku mendengar pengakuan Yonghoon. Bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah Yonghoon tak pernah melupakan Hyunjoong. Ataupun dilihat dari sikap Yonghoon selama ini seolah menunjukkan tak pernah adanya cinta. Bahkan Yonghoon akan tampak lebih senang jika bersama Donghae ketimbang dengannya. Entahlah, mungkin itu karena dirinya saja yang tidak peka? Kyuhyun masih berusaha mencerna setiap kalimat Yonghoon dalam benaknya.

“aku wanita biasa Kyuhyun-ah. Aku bukan manusia berhati batu yang takkan berdebar jika terus berada disisimu. Setelah ribuan hari yang kita lewati bersama, terlebih setelah apa yang telah kau lakukan untukku. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu? Tapi aku sadar sekarang. Aku sudah terlalu lancang dengan memiliki perasaan ini. Padahal aku tahu kau hanya mencintai gadis itu. Aku sudah sangat beruntung bisa berada disisimu selama ini. Jadi aku tak akan meminta lebih. Sudah cukup, akan kukembalikan kau padanya lagi. Kembalilah pada jalan kebahagiaanmu Kyuhyun-ah.”

Ada apa ini? Kenapa Kyuhyun hanya diam saja? Apakah benar tak pernah ada nama Yonghoon didalam hati seorang Cho Kyuhyun. Ohh ayolah… bukankah dulu kau pernah mengatakannya Kyu? Bahkan dengan lantang kau mengukui perasaanmu pada Yonghoon didepan ayahnya. Kau bahkan bersikeras melarang pria itu membawa Yonghoon pergi bersamanya. Sekarang kemana hilangnya semua keberanian itu? tampaknya Cho Kyuhyun yang angkuh kini telah berubah menjadi seorang pecundang besar.

~ ~ ~ ~

Hari yang indah, dimana mentari sedang giat-giatnya menebar kehangatan lewat sinarnya yang cerah. Pagi ini, seorang gadis tengah duduk manis dalam sebuah café. Sesekali ia memainkan ponselnya sembari menunggu pesanannya datang. Segelas Ice Mocca, sepertinya cocok untuk mengawali hari ini.

“silahkan”

Pria tampan pemilik café itu datang bersama pesanannya dan juga sepotong tiramissu. Tapi mengapa? Ia tak merasa memesan kue itu. “oppa, aku tidak pesan yang satu ini”

“arra, aku sengaja membawanya untukmu Hyorin-ah. Makanlah! kau pasti belum sarapan.”

Gadis itu tersenyum. Bagaimana pria itu tahu soal kebiasaan buruknya? Kim jongwoon. Setelah beberapa bulan berteman, keduanya kini memang semakin dekat. Mungkin karena hampir tiap hari Hyorin menyempatkan diri kesini. Entah untuk sekesar bergurau dengan Jongwoon atau sesekali bercerita tenang kehidupannya. Terlebih dengan sifat jongwoon yang lembut dan dewasa membuat Hyorin merasa nyaman. Bahkan tak jarang pria pula bermata sipit itu datang menghiburnya saat ia sedang merana.

“kau membuat janji dengan seseorang?” Jongwoon curiga. Tak biasanya Hyorin datang sepagi ini.

“eoh”

“mungkinkah pria itu lagi?”

Hyorin mendengus, tahu persis siapa lelaki yang dimaksudkan Jongwoon. Yah.. Mereka memang beberapa kali membuat janji disini. Tapi tidak untuk kali ini.

“aniya, bukankah sudah kubilang kami tidak lagi berhubungan”

“arraseo, mianhae…”

“Hyorin-ssi?”

Tampaknya orang yang ditunggupun tiba. “Yonghoon-ssi, wasseo?”

“silahkan” kata Jongwoon sembari menarik satu kursi. “Ingin memesan sesuatu?”

“tolong secangkir cappuchino”

“ne, algeupseumnida. Jamkhaman gidaryo juseyo~”

Baiklah, untuk kesekian kali dua gadis ini bertemu. Masih segar dalam ingatan Hyorin tentang tindakan konyol gadis dihadapannya ini, dulu. Ketika Yonghoon memohon hingga rela bersimpuh dihadapannya demi seorang Cho Kyuhyun. Lantas, kali ini perihal apa lagi hingga ia meminta janji temu.

“oraenmaneyo Yonghoon-ssi, bagaimana kabarmu?”

Yonghoon tersenyum. Masih sama sejak terakhir kali ia melihatnya, gadis bernama Lee Hyorin ini terkesan dewasa dan sangat anggun. Berbeda jauh dengan dirinya yang terkadang masih sangat kekanakan. Padahal setahu Yonghoon mereka ini seumuran. Mungkin itulah sebabnya pria dingin dan angkuh sekelas Kyuhyun bisa tergila-gila pada sosok cantik itu.

“aku baik, kau sendiri?”

“seperti yang kau lihat. Setelah semua yang terjadi, aku masih baik-baik saja hingga saat ini”

Kalimat yang santun, namun terdengar layaknya sebuah pengaduan. Yonghoon sempat tersentak dibuatnya. Baiklah, ia tahu apa yang terjadi selama ini cukup berat untuk dilalui Lee Hyorin seorang diri. Maka dari itu, kini tiba saatnya untuk membalas budi.

“ne, arrayo. Oleh sebab itu aku ingin bertemu denganmu Hyorin-ssi”

“waeyo? apa kau menginginkan sesuatu lagi dariku?”

“ne…”

Lee Hyorin terkejut. Sesaat ia menghentikan acara minumnya. Sungguh tak menyangka Yonghoon akan meng-iya-kan gurauannya itu. “apa lagi sekarang?”

“sebenarnya ini bukan sebuah permintaan tapi… baiklah, akan kujelaskan terlebih dahulu”

Yonghoon tampak kebingungan. Bagaimana ia harus memulai perbincangan ini tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Ia tak mau Hyorin salah mengartikan maksud perkataannya.

“begini Hyorin-ssi, mungkin kau sudah tahu. Antara Kyuhyun dan aku, kami membuat kesepakatan. Kyuhyun bersedia menjalani pernikahan ini denganku tapi hanya sampai anakku lahir dan setelah itu kami akan bercerai. Itu satu alasan mengapa dulu aku memintamu tetap berhubungan dengannya. Tapi kau lihat bukan? Aku keguguran. Jadi tak ada lagi alasan bagiku untuk tetap menahan Kyuhyun disampingku. Semua selesai sampai disini. Aku kembalikan dia lagi seutuhnya padamu. Otte? Kau bersedia menerimanya kembali bukan?”

Yonghoon tahu ini sedikit keterlaluan. Kyuhyun seolah barang yang kapan saja bisa ia ambil dan taruh lagi sesuka hati. Tapi bukankah itu yang harus ia lakukan? Perjanjian tetaplah perjanjian. Yonghoon harus menepatinya.

“Yonghoon-ssi, hubungan kami sudah lama berakhir”

“mwo?”

‘tidak mungkin? Bagaimana bisa?’ batin Yonghoon ikut berteriak.

“Apa Kyuhyun oppa tak memberi tahumu soal ini?”

Heol, memang pernah Kyuhyun mengatakan sesuatu tentang hubungan mereka padanya? Bahkan dulu, Yonghoon harus melihat dengan mata kepalanya sendiri baru ia akan tahu bahwa Kyuhyun dan Hyorin kembali berhubungan setelah pernikahan itu.

“waeyo? Mengapa kalian putus?”

“gheunyang… kami merasa sudah tidak cocok lagi” dustanya.

“tidak mungkin. Aku tahu bagaimana kalian saling mencintai. Pasti ada sesuatu, aku yakin kau berbohong Hyorin-ssi”

Lalu? Haruskah Hyorin terang-terangan menunjuk Yonghoon sebagai penyebab utama hancurnya hubungan mereka? Haruskah ia katakan bahwa Kyuhyun menyesal telah pergi diam-diam bersamanya ketika tak ada seorangpun menyangka kejadian naas itu akan menimpa Yonghoon? Perasaan bersalah itulah yang mendorong Kyuhyun mengakhiri hubungan ini. Tidak, Hyorin tidak mungkin mengatakannya. Yonghoon akan semakin terbebani jika mendengar tentang hal itu.

“sejak kapan kalian memutuskan berpisah?”

“entahlah… mungkin sekitar… dua bulan yang lalu”

Dua bulan yang lalu? Itu berarti saat dirinya baru keluar dari rumah sakit pasca operasi. Pantas Kyuhyun jarang keluar, malah ikut sibuk mengurus dirinya dirumah. Diperparah dengan keadaan Yonghoon yang depresi kala itu. Apa mungkin ada kaitannya dengan hal itu? Yonghoon mulai berspekulasi. Apa Kyuhyun merasa iba padanya dan ingin melindunginya, seperti apa yang biasa dilakukan pria itu. ya mungkin saja…

“baiklah jika kau tak mau mengatakan yang sebenarnya. Tapi keputusanku sudah bulat. Kami tetap akan bercerai. Dengan begitu tak ada lagi penghalang diantara kalian bukan? Jadi aku berharap kau segera kembali padanya. aku tahu kau masih sangat mencintainya Hyorin-ssi, begitu pula Kyuhyun.”

“Yonghoon-ssi, apa kau tak menghargai pengorbanan Kyuhyun oppa selama ini? Apa kau tahu betapa terpuruknya dia melihat keadaanmu? Dalam setiap napasnya selalu dihantui rasa bersalah. Dia menyesal telah meninggalkanmu sendirian kala itu. Yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah melindungimu, ingin berada disampingmu. Kau tak tahu bukan, betapa senangnya dia saat melihatmu kembali normal? tapi apa yang kau berikan? Perceraian? Hohh jangan bercanda!”

Keluar sudah… Hyorin yang mencoba sabar kini tak dapat lagi menahan emosinya. Bagaimana bisa Yonghoon bertindak egois. Apa dia tak memikirkan perasaan Kyuhyun? Setidaknya hargai sedikit apa yang telah ia lakukan selama ini. Oke, Hyorin kaui dia memang masih mengharapkan Kyuhyun. Bahkan dengan senang hati ia mau kembali padanya. Tapi apakah perasaan Kyuhyun masih sama? Keraguan itulah yang kini menghalanginya.

“jadi benar, memang itu alasannya. Aku mengerti sekarang.”

~ ~ ~ ~

Lee Donghae. Hingga detik inipun bibirnya tak berhenti menggumamkan berbagai umpatan. Bagaimana tidak? Jam istirahat yang ia tunggu-tunggu untuk mengisi perutnya yang kosong, kini harus ia gunakan untuk berdesak-desakan demi seporsi teoppokki, makanan yang paling ia benci karena rasa pedasnya.

Sungguh, ia takkan pernah melakukan hal konyol ini kalau bukan karena paksaan gadis gila itu. Song Yonghoon, siapa lagi. Dengan seenaknya tiba-tiba menelpon minta bertemu. Tak cukup sampai disitu, bahkan dia harus datang bersama kue beras ditangannya. Donghae sendiri heran sihir macam apa yang sebenarnya gadis itu juruskan padanya hingga ia menurut begitu saja.

“oppa, wasseo?”

Teriak seorang gadis yang menjadi bintang utama dalam sumpah serapahnya. Gadis itu tengah memainkan ayunan kecil yang menjadi andalannya tiap kali datang kemari. Sebuah taman, tepatnya di sebelah sungai Han. Sejak dulu Yonghoon memang suka dengan tempat ini.

“kemarilah, aku bawakan pesananmu” titah Donghae yang duduk di salah satu bangku, ia berharap Yonghoon turun dari ayunan itu dan menghampirinya. Lihat! anak-anak disana saja malas menyentuh ayunan buluk itu, Yonghoon yang lupa umur malah asik memainkannya.

“taruh saja disana. Sekarang ayunkan aku dulu!”

“Yaaa!!!”

Ommo Sesanghi, Yonghoon terbelalak karena pekikan Donghae. Pria itu sudah berdiri layaknya teko. Mungkin jengkel setengah mati dengan tingkah Yonghoon.

“wae? Palliwaaa!!

“shirreo”

“Oppa~ hanbonman, oeh?”

“Singkirkan tampang sok imut itu. Sama sekali tidak cocok dengan tabiatmu”

Sial. Padahal jarang-jarang gadis itu tertingkah manis, Donghae malah menganggapnya tidak pantas. Tapi tunggu! Memang ada apa dengan tabiat Yonghoon selama ini?

“ayolah… hanya menganyun saja, aku tidak minta digendong keliling taman. Apa itu susah?”

“terserah kau mau bilang apa”

“iissshh, kenapa tidak pernah ada yang mau melakukannya untukku. Apa susahnya hanya mendorongku beberapa kali saja”

“jangan sok memelas. Bukankah dulu Kyuhyun sering melakukannya?”

Oops! Benar juga. Dulu mereka berdua memang sering bermain di tempat ini. Tidak! Lebih tepatnya Yonghoon yang memaksa pria itu datang kemari hanya untuk menemaninya bermain ayunan.

“yahh dulu memang begitu. Tapi itu dulu, duluuu sekali sebelum nasib buruk itu mulai menghampiri kami berdua” ungkapnya sedih. Melayang sejenak pada untaian kenangan masa lalu ternyata cukup membuat kedua matanya mulai berkaca-kaca. Entah sebenarnya ini sungguhan atau hanya akal bulus Yonghoon saja untuk meluluhan hati Donghae.

“hahh… arraseo…arraseo. Tapi sebentar saja, dan jangan menangis lagi”

Pada akhirnya pria itu lagi yang harus mengalah. Ia mulai mendorong tubuh mungil Yonghoon hingga melayang tinggi. Yonghoon tak henti-hentinya menjerit kesenangan, tampaknya ia menikmati saat-saat terakhir yang sengaja ia rancang untuk bertemu dengan Donghae. awalnya memang pelan, tapi lama-kelamaan dorongan itu semakin kencang hingga Yonghoon ketakutan.

“pelan-pelan!! Aku bisa jatuh”

Terdengar kikikan Donghae sebelum ia melambatkan dorongannya. ohh bagus, ia tengah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengerjai Yonghoon rupanya. Benar juga, kapan lagi bisa menjahili bocah tengil ini?

“tapi ngomong-ngomong, untuk apa kau minta bertemu? Adakah sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku?”

“anni! Eobso! Aku hanya sedang ingin makan teoppokki saja.”

“mwo? yaisshh”

“yaaa!! Kenapa berhenti??”

Yonghoon sewot saat Donghae mendadak menghentikan ayunannya dan memilih kembali duduk pada bangku itu. Donghae kesal? Tentu saja. Ia baru sadar bahwa dirinya telah dikerjai habis-habisan oleh Yonghoon. Padahal ia rela mengorbankan watku istirahatnya yang berharga demi menemui gadis itu. ia khawatir sesuatu terjadi pada Yonghoon, siapa lagi yang akan menjadi tempat Yonghoon bersandar kalau bukan dirinya.

“kau marah?”

Pria itu hanya diam saat Yonghoon ikut duduk disampingnya, memilih sibuk dengan botol mineral yang kini ditenggaknya. Mungkin dia ingin sekali memaki Yonghoon tapi sedikit tak tega. Jadi ia urungkan niatnya itu dalam diam.

“astaga aku hanya bercanda oppa, kenapa kau anggap serius? Sudah lama sekali kita tidak bergurau bukan? Kepalaku pusing dengan situasi belakangan ini, jadi sebentar saja aku ingin melepas penat dengan bermain bersamamu. Apa kau keberatan?” tuturnya sebari membuka bungkusan teoppokki bawaan Donghae tadi kemudian memakanya dengan lahap. Yonghoon baru ingat ia belum memasukan apa-apa selain secangkir kopi sejak tadi pagi. Wajar saat melihat makanan favoritnya itu napsu makan Yonghoon jadi menggila.

“pelan-pelan! kau akan tersedak nanti”

“ahhh… massita”

“astaga lihat bibirmu! Tak jauh berbeda dengan belita yang baru belajar makan sendiri”

Meski terus mengomel, Donghae tetap membersihkan sudut bibir Yonghoon yang belepotan karena saus. Dalam hati ia bersyukur Tuhan telah mengembalikan keadaan Yonghoon lagi seperti semula. Gadis yang periang dengan sifat jahilnya tentu saja. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada itu meski ia harus rela menjadi korban keusilannya, seperti tadi.

“bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun? Kulihat dia menjadi lebih perhatian setelah kau keluar dari rumah sakit kala itu. aku senang melihatnya berubah, setidaknya takkan ada Kyuhyun yang dingin dan menyakitimu lagi.”

Yonghoon tersentak ditengah kegiatannya menikmati teoppokki. Ya, ia pikir juga demikian. Ia juga senang dengan perubahan sikap Kyuhyun kepadanya. Tentang bagaimana cara Kyuhyun memperlakukannya, dan masih banyak lagi. Ia pikir Kyuhyun tulus ingin berubah dan perlahan mau menerimanya, tapi apa kenyataan yang sebenarnya terjadi? Pria itu hanya iba, pria itu hanya ingin menghapus rasa bersalahnya dengan besikap baik kepada Yonghoon.

“ommo, apa dia mulai menyukaimu? Itu mungkin saja bukan? Karena kalian hidup bersama, seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan tumbuh. Kyuhyun perlahan akan menerimamu sebagai istri seutuhnya. Ya… aku berharap kalian selalu bersama. Saling mencintai dan bahagia selamanya” itulah harapan tulus Donghae, meski ia sedikit berat mengatakanya. Karena jika itu terjadi, maka tak akan ada kesempatan lagi baginya untuk memiliki Yonghoon.

“hiks…”

Pria itu kaget mendadak Yonghoon terisak. Kenapa gadis itu menangis? Apa ia mengatakan hal yang menyinggung perasaan? “Yonghoon-ah, wae gurae? Yaa!! Kenapa tiba-tiba menangis?”

“anniya, aku tidak menangis. Ini karena teoppokkinya terlalu pedas.”

“jangan berbohong!”

“aku tidak berbohong. Kau tidak lihat aku hampir menghabiskan semuanya? Ini pedas sekali, sungguh” katanya sambil merebut botol minuman di tangan Donghae.

Kau memang pembohong ulung nona. Bisa-bisanya menjadikan teoppokki malang itu sebagai alibi untuk menutupi kesedihannya. Donghae bilang apa? Hidup bersama Kyuhyun selamanya? Haruskah ia melakukan hal itu? haruskah ia tetap bersama Kyuhyun setelah tahu pria itu tak pernah sekalipun mencintainya? Perlakuan manis yang Kyuhyun berikan tak lebih dari sebuah sandiwara untuk menutupi kesalahannya. Ia tahu hati Kyuhyun tak pernah memandangnya. Jadi untuk apa tetap bersama? Terlebih dengan adanya kesepakatan itu, Yonghoon tak berhak lagi menahan Kyuhyun disisinya. Ia harus melepasnya jika ingin melihat Kyuhyun hidup bahagia.

~ ~ ~

“masih ada waktu jika hanya mengantarmu pulang hoonie, cepat masuk!”

Yonghoon menggeleng kuat saat Donghae membukakan pintu mobil untuknya. Ia tahu sebenarnya Donghae sudah sangat terlambat. Tak terasa dua jam berlalu begitu cepat. Rasanya ia belum puas melewatkan waktu bersama pria itu.

“aku masih ada urusan disekitar sini oppa”

“benar begitu?”

“eumm”

“baiklah, aku pergi dulu”

“oppa!!”

“eoh?”

Grepp…

Astaga, Donghae nyaris terjungkal jika tak segera menahan beban tubuhnya, tak menyangka gadis itu tiba-tiba akan berhambur memeluknya. Yonghoon kenapa? dia tak biasanya bertingkah seperti ini.“gwaenchana? Wae gurae?”

“gheunyang… sudah lama sekali aku tidak memelukmu.” Kata Yonghoon yang sibuk tenggelam dalam dada bidang Donghae. nyaman sekali, sepertinya kelak ia akan merindukan moment seperti ini. Meski Donghae tak mengerti maksud perlakuan Yonghoon, namun perlahan ia mulai membalasnya. Melingkupi tubuh mungil Yonghoon dengan lengan besarnya itu. tak peduli jika Yonghoon akan mendengar gemuruh detak jantungnya. sekali ini saja, biarkan dirinya berada dalam jarak terdekatnya bersama Yonghoon. Gadis yang perlahan mulai singgah dihatinya.

“gomawo oppa”

‘Keurigu, mianhanda’

Rengkuhan Yonghoon kian erat, seolah takkan ada lagi kesempatan baginya untuk bertemu pria itu lagi. Ya, mungkin saja. Yonghoon merasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Donghae sebelum ia pergi. Sebelum ia menghilang dari kehidupan Kyuhyun entah sampai kapan atau bahkan mungkin untuk selamanya.

“oppa”

“emm?”

“aku ingin kau segera menikah”

Donghae sontak menjauhkan tubuh Yonghoon dan menatapnya penuh tanya “waeyo?”

“tentu saja supaya ada yang mengurusmu. Agar kau tidak menjadi perjaka tua yang kesepian. Terlebih supaya ada yang merapikan sangkar kumuhmu itu” Yang dimaksud Yonghoon adalah kamar Donghae yang super duper berantakan.

“yaa!! Aku bisa mengurusnya sendiri”

“Tidak boleh! pokoknya kau harus segera temukan gadis yang tepat untuk kau nikahi.”

Donghae curiga, sejak kapan seorang Yonghoon begitu peduli terhadap dirinya. Seperti yang ia tahu, Yonghoon sejatinya adalah gadis paling cuek yang pernah ada. Tapi apa ini? Dia bukan Yonghoon yang biasa ia kenal. Pasti ada sesuatu hingga Yonghoon mendadak bersikap aneh.

“Yonghoon-ah, kau tidak akan menghilang tiba-tiba seperti biasanya bukan?”

Mwo? Yonghoon terperanjat. Bagaimana pria itu tahu? “oppa, kau ini bicara apa? Sudah cepat pergi sana!” titahnya seraya mendorong tubuh Donghae masuk ke dalam mobilnya.

“yaa!! Ingat baik-baik, kau tidak boleh pergi tanpa sepengetahuanku, arrachi?”

“mwoya? Palli kha!!”

Kemudian Donghae segera melajukan mobilnya itu, meninggalkan Yonghoon yang masih betah memandangnya dengan tatapan mulai berkaca-kaca. “selamat tinggal, Donghae oppa”. Dan saat itu pula setitik cairan bening jatuh dari kedua matanya. Ada kesedihan tersendiri saat tak bisa mengucapkan salam perpisahan secara langsung, terlebih pada pria itu.

Dirasa puas memandang jejak Donghae yang hilang di persimpangan jalan, Yonghoon bergegas merogoh ponsel dari dalam tasnya. “yeoboseo ahjeussi, surat yang ku minta apa sudah kau selesaikan? … arraseo, aku ke sana sekarang juga”

~ ~ ~ ~

Ada apa dengan malam ini? Kyuhyun menatap iba pada bulan yang tampak kesepian dari balkon kamarnya. Cukup heran, kemana perginya bintang-bintang kecil yang biasa ramai mengitari si raja malam itu? kini tak tampak satupun dari mereka yang mau menemaninya. Kyuhyun merasa miris, suatu saat nanti akankah ia bernasib sama dengan bulan malang itu? Apakah Yonghoon benar-benar akan meninggalkannya?

Sore itu, Kyuhyun baru pulang dari kantor saat seorang kurir datang mengantarkan paket surat untuk Yonghoon. Kyuhyun yang kebetulan masih berada di depan rumah, terpaksa ia yang harus menerimanya. Sedikit curiga pada logo penerbangan yang tertera diluar amplop, Kyuhyun lantas membuka isinya. Betapa terkejutnya Kyuhyun saat mengetahui isi amplop itu adalah tiket menerbangan tujuan Belanda atas nama Yonghoon.

Hal itu pula yang menyebabkan Kyuhyun banyak berpikir malam ini. Apa gadis itu sungguh ingin pergi? Meski ia takkan setuju, tapi setidaknya ia harus dengar penjelasan Yonghoon tentang alasannya ingin pergi ke Belanda. Apakah karena ingin menemui orang tuanya? Atau… bagaimana jika Yonghoon benar-benar ingin berpisah. Kyuhyun tentu tak ingin kehilangan Yonghoon, tapi disisi lain mengapa hatinya terluka melihat keadaan Hyorin sekarang? Gadis yang dulu sangat dicintainya, bahkan mungkin sampai sekarang pun perasaan itu masih ada. Dia menyesal telah membuat Hyorin menjadi gadis yang menyedihkan.

Ohh Kyuhyun merasa dipermainkan takdir. Mengapa kisah cintanya tak pernah berjalan mulus? Dan apa lagi rencana Tuhan kali ini? Apa dengan keinginan Yonghoon pergi, itu berarti sebuah jalan yang Tuhan ciptakan untuk ia kembali pada Hyorin lagi. Memperbaiki kesalahan karena telah meninggalkan gadis itu dengan kembali membahagiakannya. Ohh sungguh, Kyuhyun sangat ingin melakukan hal itu. Tapi bagaimana dengan Yonghoon? Dilubuk hatinya terdalam Kyuhyun tak rela jika gadis itu tak lagi ada disampingnya.

“apa yang kau lakukan disana?” tanya Yonghoon yang sontak membubarkan segala macam pemikiran yang berputar-putar di kepala Kyuhyun.

Ohh ya, sejak kapan gadis itu ada disini? Kyuhyun bahkan sampai tak menyadari kapan Yonghoon pulang, padahal sejak tadi ia berdiri di balkon depan. “dari mana saja?”

Gadis itu ikut bersandar pada pembatas yang ada. Ia pun penasaran apa yang Kyuhyun pikirkan hingga melamun seperti tadi. “hanya keluar karena ada sedikit urusan. ”

“urusan macam apa?” nada Kyuhyun terdengar menuntut.

“apa aku harus mengatakan semuanya padamu? Sama sepertimu, aku juga memiliki urusan pribadi yang tak ingin ku bagi dengan siapapun” jawab Yonghoon sakartis.

“apa termasuk ini?” Kyuhyun mengeluarkan amplop berisi tiket itu dari dalam saku celana. Yonghoon tentu sangat terkejut. Padahal ia telah berpesan pada bibi Kim untuk merahasiakannya dari Kyuhyun jika kiriman tiket itu datang. Tapi mengapa… ohh sial.

“itu… dari mana kau mendapatkannya Kyu?”

“jelaskan padaku untuk apa kau memesan tiket penerbangan ini Yonghoon-ah!” Kyuhyun yang terlanjur terpancing karena ucapan Yonghoon, kini tak dapat lagi menahan emosinya.

“itu bukan urusanmu. Kembalikan padaku!” Yonghoon segera merebut tiket itu dari tangan Kyuhyun sejurus kemudian ia berlalu dari hadapan pria itu.

“kau sungguh ingin pergi dariku?”

Nada dingin Kyuhyun membuat langkahnya terhenti. “wae? Bukankah itu memang kesepakatan kita dulu?”

“jangan harap kau bisa melakukannya Yonghoon-ah! Aku takkan pernah membiarkanmu pergi”

“kenapa? Bukankah urusan kita sudah selesai? Lagipula kau juga tak pernah mencintaiku bukan? Selama ini hanya Hyorin yang ada dikepalamu. jadi untuk apa aku tetap berada disini?”

Tak terdengar apapun setelah itu, Kyuhyun mendadak diam seribu bahasa. Benarkah selama ini ia tak pernah mencintai Yonghoon? Memang benar posisi Hyorin masih sangat kuat dihatinya, tapi mengapa Kyuhyun benci tiap kali mendengar Yonghoon akan meninggalkannya? Perasaan macam apa sebenarnya yang muncul dihatinya selama ini? Mungkinkah itu benar-benar cinta? Entahlah Kyuhyun sendiri tidak yakin.

“aku hanya tidak ingin kau pergi Yonghoon-ah” ucapnya lirih, hanya itu yang bisa ia sampaikan.

“lalu haruskah aku tetap disini? Hidup bersama pria yang mencintai gadis lain? Menahan diri dan tetap tersenyum tiap kali melihatmu bersamanya? Jangan egois Kyuhyun-ah! Meski bagaimanapun aku juga masih punya hati. Sudah cukup penderitaan yang kualami selama ini. Aku lelah… aku tak kuat lagi jika harus merasakan sakit hati. aku hanya ingin hidup tenang… Tak ingin menjadi beban siapapun lagi, termasuk dirimu. Aku ingin hidup bahagia tanpa memikirkan apapun lagi.”

Sejenak berpikir, egois memang jika ia tetap menahan Yonghoon dan mengantungkan perasaannya. Tapi bagaimanapun juga ia tak ingin berpisah dari Yonghoon. Ya Tuhan, beri tahu Kyuhyun bagaimana cara menahan gadis itu.

“Yonghoon-ah, bagaimana jika ternyata selama ini aku mencintaimu? Apa kau masih ingin pergi dariku?”

Kyuhyun mengumpulkan segenap keberanian untuk menyatakan perasaan itu. rasa cinta yang sesungguhnya ia sendiri ragu. Apakah ini benar-benar cinta? Atau sekedar obsesi karena selama ini mereka selalu bersama, pasti akan aneh rasanya jika Yonghoon tiba-tiba tak lagi disisinya.

“jangan bercanda Cho Kyuhyun. Aku sudah tahu semuanya. Tak pernah ada cinta dalam hatimu untukku. Bahkan setiap perlakuan manis yang kau berikan selama ini, itu hanya karena kau iba bukan? Kau kasihan melihatku terpuruk karena ditinggal oleh mereka yang sangat kusayang. Dan kau menyesal karena telah meninggalkanku kala itu”

Astaga, dari mana Yonghoon tahu tentang hal ini. Kyuhyun shock sekaligus bingung. Tentang penyesalan itu, mungkin Yonghoon benar. Tapi apa dia bilang? Kasihan? Benarkah perasaan kyuhyun hanya sebatas itu saja?

“jika benar ini hanya rasa iba, lalu apa maksud debaran jantungku tiap kali berada didekatmu? Mengapa aku rela terjaga dimalam hari hanya untuk menunggumu pulang saat kau pergi? Dan mengapa aku benci tiap kali melihatmu bersama pria lain. Donghae hyung, Choi Siwon, atau siapapun itu. Apa maksud semua itu Yonghoon-ah? Apa perasaanku masih tak layak disebut cinta?”

Yonghoon terkejut, ini tidak mungkin. Kyuhyun tidak mungkin mencintainya. Ini pasti hanya akal-akalan Kyuhyun saja. Ia tahu betul Kyuhyun masih sangat mencintai Lee Hyorin. Bukankah kejadian di pesta itu cukup membuktikan bahwa cinta Kyuhyun pada gadis itu tak pernah hilang sedikitpun?

“lalu mengapa aku menahanmu mati-matian untuk tetap disini Yonghoon-ah? Aku bisa saja membiarkanmu pergi jika rasa ini tak pernah kumiliki. Tapi apa? Aku bahkan tak bisa membayangkan hidupku jika tanpa kau disisiku. Aku takut kehilanganmu Yonghoon-ah, apa kau mengerti sekarang?”

“lantas bagaimana dengan Lee Hyorin? Apa kau juga masih mencintainya?”

Skakmat. Inilah yang Kyuhyun takutkan. Saat Yonghoon mulai mempertanyakan posisi Lee Hyorin setelah ia menyatakan perasaannya, apa yang harus ia katakan? Soal gadis itu, Kyuhyun tak menyangkal masih ada nama itu di hatinya. Lalu, haruskah dia berterus terang mengenai hal itu? Jangan gila.

“lihat! Kau bahkan tak mampu menjawab. Kau egois Cho Kyuhyun. Bagaimana bisa kau mengatakan semua itu padaku disaat masih ada orang lain dihatimu? Kau berniat memahanku padahal dalam hatimu masih mengharapkan gadis lain. Apakah itu cinta? Tidak! Aku tidak akan percaya begitu saja”

Yonghoon melangkah pergi, memberi sedikit ruang untuk Kyuhyun mengoreksi diri. jujur ia senang mengetahui ada sedikit celah yang bisa ia tempati dihati Kyuhyun, tapi mengingat tak hanya dirinya seorang disana, haruskah ia rela berbagi tempat dengan orang lain?

Tidak! Kyuhyun tak boleh melakukannya. Ia tak mungkin mencintai dua wanita sekaligus. Mana ada wanita yang rela membagi cinta prianya untuk wanita lain, itu gila. Kyuhyun harus memilih satu diantara mereka. Tapi jika Kyuhyun tak dapat memilih, maka jalan satu-satunya harus ada salah seorang dari mereka yang pergi. Dan dalam urusan ini Yonghoon merasa dirinyalah yang paling pantas melakukannya.

~ ~ ~ ~

Benar saja, pagi itu Yonghoon sudah bersiap dengan semua barang bawaannya. Cukup dengan satu koper ditangan ia mulai menuruni tangga. Tak peduli tatapan Kyuhyun yang menghunus tajam kearahnya, ia mencoba tenang dengan melangkah begitu saja melewati pria itu.

“kau sungguh akan pergi?” pertanyaan itu lagi. Kyuhyun berharap ada sebuah keajaiban dimana gadis itu akan merubah keputusannya. Namun sayang harapan itu musnah tanpa sisa saat ia mendengar Yonghoon berkata ‘ya’.

“Sesulit itukah kau percaya bahwa aku mencintaimu Yonghoon-ah?” suara Kyuhyun melemah. Ia tak tahu lagi bagaimana harus menyakinkan Yonghoon. “atau setidaknya katakan apa yang harus ku lakukan agar kau mau tetap disini bersamaku”

“baik! Jika memang kau mencintaiku dan ingin aku tetap bersamamu, bisakah kau tinggalkan dia seutuhnya? Lupakan dia! Jangan pernah menemuinya lagi, apapun yang terjadi. Jujur saja, hatiku sakit tiap kali melihatmu bersamanya. Bagaimana? Apa kau sanggup?”

Yonghoon tahu ini keterlaluan. Bagaimana bisa ia menyuruh Kyuhyun melakukan semua itu, padahal ia tahu persis Kyuhyun masih mencintai gadis itu. Tapi bisakah sekali ini saja, biarkan ia bersikap egois. Ia hanya ingin tahu sampai sejauh mana Kyuhyun mencintainya. Yonghoon tak ingin suatu saat nanti Kyuhyun menyesali keputusannya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya dirinya yang terluka, tapi Kyuhyun dan tentu saja gadis itu, semua akan ikut terluka. Dan pada akhirnya tidak akan ada kebahagiaan diantara mereka.

Lalu apa respon yang Kyuhyun tunjukkan sebagai perwakilan atas jawabannya? Tidak ada. Tampaknya terlalu berat bagi Kyuhyun melakukan semua itu. Kalau soal melupakan Hyorin, mungkin sedikit demi sedikit Kyuhyun bisa belajar. Tapi jika ia dipaksa untuk tidak menemui gadis itu, apalagi untuk meninggalkannya begitu saja, saat ini Kyuhyun sungguh tidak sanggup. Ia tak mungkin membiarkan Hyorin yang masih terpuruk karena dirinya. Dan seorang Cho Kyuhyun benar-benar akan menjadi pria paling berengsek jika tetap menahan Yonghoon disisinya. itulah mengapa Kyuhyun memilih diam.

“sudah kuduga, kau pasti akan lebih memilihnya. Hahhh… baiklah cho Kyuhyun, jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal”

Tepat saat tubuh mungilnya berbalik, air mata itu jatuh seketika. Mengalir deras membasahi kedua pipi Yonghoon. Hanya tangis kepedihan itulah satu-satunya yang mengantarkan kepergiannya.

Tak jauh berbeda, diujung sana pria itu tak mampu menahan laju air dari kedua pelupuk mata. Tak ada yang ia lakukan selain memandangi punggung sempit Yonghoon yang mulai hilang dibalik pintu. Dalam diam meraskan sesak itu menghantam sanubarinya. Sesakit inikah merelakan gadis itu pergi? Kyuhyun masih tak percaya mengapa kisah cintanya harus berakhir seperti ini.

Tbc…

Advertisements