sommmiii

JongSun Couple: Side Story of ‘THE REASON’

~Because The Rain, Coffee, and You~

Kala mentari enggan menampakkan diri, saat itulah langit kembali mengirim rintik airnya kebumi. Belakangan ini hujan semakin sering menyapa Myeong-dong. Tak heran bila tempat yang biasa menjelma menjadi lautan manusia itu kini tampak sepi. Hanya sesekali pejalan kaki lengkap dengan payung berwarna-warni, rela beradu dengan rintik hujan yang kian menjadi.

Berbeda dengan Song Jisun. Seorang gadis yang hanya duduk diam, memandang tanpa minat pada tetes demi tetesan air yang hinggap di sisi luar jendela. Memang sejatinya gadis manis ini sangatlah membenci hujan. Karena apa? Entahlah… Mungkin hidung mungilnya itu akan terus berair saat cuaca mendadak dingin karena hujan.

“haahhh…”

Untuk kesekian kali, helaan napas Jisun terdengar menyedihkan. Asal tahu saja, sejak beberapa jam yang lalu dia sedang memeras otak agar menghasilkan satu design pakaian terbarunya. Ya, Jisun memang seorang designer muda, dan tempat dimana ia berada saat ini merupakan butik pribadinya. Meskipun tak seluas yang lain, tapi Jisun berhasil menyulap tempat mungil bernuansa putih ini menjadi arena yang cantik dengan berbagai hasil karyanya.

Jisun yang putus asa kembali meletakkan pensilnya di atas meja. Demi apapun, ia paling benci situasi seperti ini. Otaknya kosong, tak ada inspirasi sedikitpun. Apa karena hujan yang kelewat bising hingga mengganggu kinerja otaknya? atau memang moodnya saja sedang tidak bisa diajak kerja sama. Tapi… bicara soal hujan, Jisun kini ingat akan satu hal.

Sebuah peristiwa yang… entah apa sebenarnya ini layak dikenang. Sepele saja. Tepatnya beberapa hari yang lalu, saat hujan lagi-lagi mengguyur wilayah Myeong-dong. Kala itu Jisun mendapati seorang pria berteduh di canopy depan butiknya. Biasa memang, sering ia mendapati hal semacam itu. Awalnya Jisun tak berniat mempedulikannya. Namun setelah ia cermati, sosok itu serasa tak asing. Mungkinkah ia pernah melihat pria itu sebelumnya? Dan benar, pria itu memang sempat beberapa kali berteduh disana.

Jisun tersenyum, entahlah… tiba-tiba kedua sudut bibirnya terangkat begitu saja. Ia tak habis pikir dengan tingkah lakunya kala itu. Seolah pria itu menyimpan satu lah menarik dalam dirinya hingga membuat Jisun begitu penasaran. Dengan berdalih merapikan deretan busana di etalase, kini Jisun mulai mencuri pandang. Diam-diam memperhatikan detail wajah serta penampilannya, hingga ia nemarik satu kesimpulan bahwa pria itu benar-benar… mempesona.

Wajah yang tampan serta tubuh yang tinggi dan proporsional. Bahkan hanya dengan Jeans putih serta kaos lengan panjang berwarna dongker itu saja cukup membuatnya begitu menawan. Alhasil, Jisun yang mulai terlena nyaris saja tertangkap basah. Namun tepat sebelum pria itu berbalik memandangnya, Jisun sudah lebih dulu sembunyi. Berdiri dibalik rak baju bersama debaran jantung yang kian menggila.

“Jinjja pabo…” umpatnya pada diri sendiri.

Song Jisun, ia sendiri tak tahu mengapa dirinya dilahirkan sebagai sosok yang pemalu. Bahkan untuk sekedar keluar dan menyapa seorang pria, itu termasuk hal yang sulit baginya. Andai saja kala itu ia berani malakukannya, kemungkinan besar mereka bisa bertemu lagi. Memandang sosok tampan itu lagi hingga ia benar-benar merasa puas. Namun kini? Entah apa dia bisa bertemu sosok itu lagi atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

Rintik hujan berangsur-angsur hilang. Langit yang pekat tampaknya mulai mempersilahkan sang raja siang kembali duduk di singgasana. Jisun mengarahkan lagi pandangannya keluar jendela. Tepat dibawah canopy itu, adalah tempat dimana lelaki itu berdiri. Sama seperti hati kecilnya, tempat itu kini terasa hampa, tak ada lagi siapapun disana. Entah sadar atau tidak, gadis pembenci hujan itu mulai berseru pada Tuhan. Meminta agar rintik-rintik air deras datang kembali membasahi bumi. Dengan begitu, mereka mungkin akan bertemu lagi.

Dddddrrrrttt…. Dddrrrttt….

“Ommo”

Yahh, tampaknya Jisun harus rela suasana hatinya dirusak begitu saja oleh rentetan getaran. Sebuah panggilan masuk, itulah mengapa ponselnya meronta. Jisun segera meraih benda itu, mencari tahu siapa yang telah mengganggu ketenangannya.

‘ ~Yongie~ ’

Ohh… Betapa sebalnya Jisun saat mendapati nama itu berkedip-kedip di layar ponselnya. Tapi meski enggan ia tetap memberi jawaban. “Yeoboseyo…”

“……”

“Yeoboseyo?”

“……”

Untuk kedua kalinya gadis di seberang sana mengabaikan panggilanya. Jisun coba mengecek apakah panggilan itu terputus, namun nyatanya tidak. “Yaa!! Song Yonghoon, kau ingin bermain denganku?” sembur Jisun. Ia sudah cukup kesal karena kini moodnya telah hancur berantakan.

“Jisun-ah…”

Hanya mendengar satu kata saja, Jisun tahu ada yang tidak beres disini. Suara Yonghoon yang bergetar, terdengar pelan dan menyedihkan. Ia yakin gadis itu sedang menangis sekarang. “Yonghoon-ah, apa yang terjadi?”

“Jisun-ah, bogoshippo…”

Song Yonghoon, adalah tipe gadis yang mudah sekali ditebak. Ia selalu gagal dalam usaha menyembunyikan perasaannya, berbanding terbalik dengan seorang Song Jisun. Itulah mengapa Jisun bisa dengan mudah memahaminya.

“Jangan berdalih, cepat katakan padaku Yonghoon-ah!”

“Kyuhyun…. hiks…”

“Cho Kyuhyun? Ada apa dengannya?”

“Seperti yang pernah kau bilang, dia hanya mempermainkanku”

“Mwo?”

Astaga, sungguh tak bisa dipercaya. Jisun tak menyangka mimpi buruk itu kini menjadi nyata. Sejak awal ia curiga, bagaimana mungkin Cho Kyuhyun -seorang CEO muda, tampan dan kaya raya- rela berkencan dengan pegawai rendahan sekelas Yonghoon. Bukan apa-apa, hanya saja ini lebih tampak seperti drama. Apalagi mengingat betapa dinginnya hubungan mereka, membuat firasat buruk Jisun akan nasib sahabatnya itu makin hari makin kuat saja. Pada akhirnya kini, semua terbongkar.

“Jisun-ah, bisakah kau kemari? Aku butuh teman saat ini”

“Arraseo, gidareyo!”

~ ~ ~ ~

Jisun terpaksa menghentikan skuternya di bahu jalan. Focusnya kini mengarah pada satu objek tak jauh dari sana, berniat memastikan lagi apa benar tempat ini yang dimaksud Yonghoon. Sebuah coffee shop, letaknya tepat di tengah persimpangan jalan. Jisun benar-benar tak habis pikir, dalam situasi seperti ini masih sempat-sempatnya Yonghoon meminta ice cappuchino. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan menunjukan satu tempat yang menjual minuman favoritnya itu. Mouse Rabbit, tempat dimana Jisun berdiri saat ini.

“Selamat datang, ingin memesan sesuatu?”

Sambutan ramah datang dari seorang pria di balik counter bar. Jisun yang semula asik memandangi ornament unik dalam café itu, kini mulai memilah deretan menu yang tertera pada sebuah papan. Satu keberuntungan tersendiri ketika situasi sedang cukup lengang, itu membuatnya tak perlu repot-repot mengantri.

“Tolong ice cappuchino dan milkshake masing-masing satu”

“Ne, ada lagi yang lain Nona?”

Harusnya tidak. Namun apa daya saat sebuah pie nanas yang begitu menggoda kini bertengger di etalase dan mengunci focus kedua matanya. Membuat liurnya berbondong-bondong kumpul di ujung lidah. Pada akhirnya Jisun menyerah.

“Eumm, berikan aku pula dua buah pie nanas”

“Baiklah, silahkan tunggu disana sebentar nona”

Lelaki itu menunjuk satu bangku dekat counter, Jisunpun mulai duduk. Kesempatan ini tak bisa ia abaikan. Design interior yang sederhana beserta lukisan-lukisan unik di setiap dindingnya, cukup membuat Jisun terpana. Bagaimana bisa ia tidak tahu ada tempat sebagus ini disini? Padahal tiap kali bertandang kerumah Yonghoon, ia selalu melewati jalur yang sama. Tapi kembali pada seorang Jisun yang tidak menyukai kopi, jadi ketika melihat papan bertuliskan coffee shop di muka café ini, wajar jika ia tak tertarik sama sekali.

“Nona, silahkan pesanan anda”

Jisun pun bangkit, ia lantas mengambil pesanan itu dan segera menuju kasir. Namun ternyata tempat itu kosong. “Jongwoon hyung, palliwa!!” pekik pria di balik counter tadi sambil melayani pelanggan lain.

“Maaf nona” tutur pria itu pada Jisun.

“Gwaenchana”

Tak lama kemudian, munculah seorang pria lain dari pintu belakang kasir. Namun baru selangkah ia keluar, gerakannya tiba-tiba terhenti. Tubuhnya membeku dengan kedua mata terpana, hal itu pula yang terjadi pada Jisun saat ini.

Kalian tahu? Dia…adalah pria itu. Pria yang membuat Jisun bertindak konyol dengan rela menjadi seorang penguntit. Yahh meski hanya beberapa saat, namun itu tetap saja menggelikan. Dia adalah pria pertama yang membuat seorang Jisun merasa begitu penasaran. Dan dia pulalah pria yang membuat gadis pembenci hujan itu mulai menginginkan rintik air deras itu datang menghampirinya.

“Nona…”

Panggilan itu nemarik Jisun keluar dari lamunannya. Dengan salah tingkah ia mulai menanyakan berapa jumlah yang harus ia bayar. “Eolmahaeyo?“ katanya sambil mengaduk-aduk isi tas hingga menemukan dompetnya disana.

“15.500W”

Jisun meyerahkan dua lembar uang puluhan. Sementara pria itu menyiapkan kembalian, Jisun diam-diam mulai memperhatikannya. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini dia tampak lebih formal dengan kemeja seragam lengan pendek. Sama seperti pegawai yang lain. Tapi dimata Jisun itu tak membuat kadar pesonanya luntur sedikitpun. Ia masih terlihat tampan dengan rambut sehitam arang yang sesuai dengan kedua iris matanya. Ommo!! Lagi-lagi mencuri pandang. Ohh mungkin lama kelamaan ini akan menjadi hobi baru seorang Jisun.

“Kembaliannya 4.500W. Silahkan”

“Terima kasih” sedetik kemudian Jisun langsung berbalik dan ingin melangkah pergi.

“Tunggu sebentar Nona.” Cegah pria itu dan sukses menghentikan gerakan Jisun. “Apa kau pelanggan baru disini?”

“Ne?? Ahh ne… Wae guraeyo?” Jisun yang terpaksa kembali, kini disambut dengan senyuman yang melelehkan hatinya seketika. Terlebih saat binar mata yang kian menyempit bersama lengkungan manis di kedua sudut bibir pria tampan itu, Jisun serasa tak ingin waktu berjalan kedetik selanjutnya. Ia tak ingin senyuman itu berakhir.

“Datanglah kembali besok” kata Jongwoon membuat Jisun terheran-heran. Entah ini sekedar basa-basi atau dia saja yang kelewat percaya diri.

“Waeyo?”

“Untuk setiap pelanggan baru, kami akan memberi sebuah bonus keesokan harinya bila ia datang kembali” Terdengar langka memang, jarang ada café yang memberi penawaran seperti ini bukan?

Tanpa disadari, percakapan mereka tertangkap jelas oleh telinga seorang pria lain disana. Yahh, dia adalah pria yang bertugas di counter tadi. Karena jarak mereka yang dekat, jadi bisa leluasa menguping pembicaraan mereka. Tapi ia tak habis pikir saat Jongwoon bertingkah dengan penawaran konyolnya.

“Hyung, sejak kapan café kita aakhhh…” nyaris saja. Untung Jongwoon segera sadar dan menginjak kaki pria itu diam-diam sebelum kalimat mematikan itu memporak-porandakan rencana bulusnya.

Jisun sempat curiga dengan gelagat kedua lelaki itu, namun ia tak ingin ambil pusing dan memilih pamit undur dini. “Baiklah, terima kasih” ujarnya sembari membungkukan badan.

“Ya, sampai jumpa lagi besok Nona” Jisun hanya berbalik sekilas, menampilkan senyum terbaiknya pada pria tampan yang baru ia tahu bernama Jongwoon itu.

Terus melangkah hingga nyaris menggapai skuter putih miliknya, namun hingga detik ini pun Jisun masih belum percaya. Ia tak percaya bisa bertemu lagi dengan lelaki itu. Mungkinkah Tuhan mendengar doanya? Mengetahui betapa hati kecilnya ingin memandang sosok itu lagi. Yahh, begitulah kekuatan takdir. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka apapun bisa terjadi. Tak perlu lagi mendatangkan hujan sebagai alat perantara, ternyata rencana Tuhan lebih indah dari yang bisa kita bayangkan.

~ ~ ~ ~

“Hyung, kau gila?”

Jongwoon memutar kedua matanya malas kala mendengar pekikan pria di balik couter bar yang tak adalah adik semata wayangnya. “Apa lagi Jongjin-ah?”

“Bagaimana jika orang lain mendengar? Kedai kita ini bisa bangkrut!” Jongjin kelewat heran dengan tindakan gila Hyungnya. Jaman sekarang mana ada yang gratis? Disaat orang lain berlomba mendapatkan uang, Hyungnya itu malah sok pahlawan dengan menjadi dermawan.

“Tidak akan. Asal kau tahu saja, aku hanya sedang menjalankan sebuah trik”

“Trik?” Jongjin membeo, dalam hati ia tak mengerti apa maksud semua itu. Tapi tunggu! Setelah ia cermati, wanita tadi seperti tak asing dimatanya. Mungkinkah mereka pernah bertemu beberapa kali? Ia seperti pernah melihat wajah manis itu sebelumnya.

“Ahh… aku ingat. Hyung!! Bukankah dia gadis pemilik butik ‘SunKiss’ di jalan Myeong-dong?”

“Ya, kau benar”

Daebakk… pantas saja. Jongjin mengerti sekarang. Ia tahu kenapa Jongwoon bisa berbuat nekat. “Kau menyukainya Hyung?” Bingo! itu asalan terlogis menurut daya pikirnya. Tapi sialnya kini Jongwoon malah diam saja, hanya tersenyum tipis tanpa berani menatap mata sang adik. Tidak perlu, dengan itu saja Jongjin cukup pintar untuk menarik kesimpulan.

“Waaahhh daebakk… Chukkaeyo Hyung. Aku senang akhirnya kau tertarik pada wanita”

“Mwo?”

“Biar ku tanya sekarang! Itukah alasanmu memilih ‘SunKiss’ sebagai tempat berteduh di kala hujan? Dari dulu aku curiga, diantara sekian banyak Toko di Myeong-dong, mengapa kau selalu memilih butik itu”

Lagi-lagi, Jongwoon hanya membisu. Lebih baik diam dibanding mengaku, ia tak rela mendengar kelakar Jongjin yang terdengar puas menertawakan dirinya. Tidak, Jongwoon tak kan membiarkan hal itu terjadi.

“Pipimu memerah Hyung, hahaha….”

Pada akhirnya, Jongwoon tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya.

~END~

Epilog

Hari yang indah mendadak kelam saat mentari memutuskan pergi ke balik pekatnya awan. Kegelisahan kini terpancar diwajah para pejalan kaki wilayah pertokoan Myong-dong. Tak terkecuali sepasang kakak beradik laki-laki ini. Jongwoon dan Jongjin. Kedua pria bermarga Kim itu tak bisa berbuat banyak setelah rintik hujan membawa serta rencana indah mereka pergi. Karena yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyelamatkan tubuh mereka dari guyuran hujan.

“Hyung! Yogiyo, palli” Jongjin yang lari lebih dulu menemukan sebuah canopy untuk berteduh, tak lama kemudian Jongwoonpun menyusul.

“Hujan selalu datang disaat yang tidak tepat” gerutu sang adik sembari menepuk-nepuk bajunya yang sedikit basah. Jongwoon merasa geli melihat tingkah Jongjin yang sebal karena jalan santainya kini gagal total.

“Tenang saja, sebentar lagi hujan pasti reda. Ini tidak akan berlangsung lama” itu katanya. Namun tertanya…

5 menit…

10 menit…

15 menit…

Hingga hampir setengah jam mereka berdiri disana, hujanpun tak kunjung reda. Bahkan mulut Jongjin nyaris berbusa karena celotehan dan makian untuk sang langit yang begitu tega pada dirinya. Ini hari Minggu. Satu-satunya kesempatan libur di tengah jadwal kuliah yang mencekik. Tapi hujan malah datang dan mengacaukan segalanya.

Kedua pria itu kini memilih diam, takkan ada perbincangan menarik jika masih dalam situasi seperti ini. Jongwoon yang nyaris bosan, berniat melempar pandangan kearah sekitar. Dari situlah ia temukan satu objek yang cukup menarik perhatian. Jongwoon baru sadar, ternyata saat ini mereka berteduh di sebuah butik. Berkat kaca tembus pandang pada sisi depan bagunan itu, ia bisa leluasa melihat sebagian isi didalamnya, termasuk seorang gadis yang tengah sibuk dengan sebuah patung boneka serta beberapa potong pakaian di atas meja.

Jongwoon penasaran, apa yang akan gadis itu lakukan pada pada benda-benda itu? Dengan tampang kebingungan ia mulai memasang satu pakaian disusul dengan pernak-pernik lain pada sang boneka. Berusaha memadu-padankan berberapa jenis pakaian lewat kreatifitanya, namun entah apa yang terjadi hingga tiba-tiba ia melepasnya lagi. Tak cukup sekali dua kali, hal itu ia lakukan hingga berulang-ulang. Tampak sekilas kerutan didahi serta bibir yang mengerucut membuat gadis itu terlihat lucu dan manis. Entah perpaduan seperti apa yang dia inginkan namun tampaknya belum satupun yang terpasang pada boneka. Hingga lama-kelamaan gadis itu menyerah dan memilih ambruk di sofa. Jongwoon nyaris terpingkal melihat tingkah konyol gadis itu.

“Apa yang sedang kau tertawakan Hyung?” Jongjin yang penasaran mulai menyudahi gerutuannya dan mencari tahu hal menarik apa hingga Hyungnya itu terpingkal. Namun yang ia temukan hanya seorang gadis dengan tumpukan baju berserakan di sekitarnya. “Apanya yang menarik?”

“Telat! Harusnya kau lihat betapa lucunya dia saat kebingungan tadi. Ia terlihat frustasi saat mengacak-acak rambutnya seperti ini. Manis sekali” celoteh Jongwoon sembari meniru gerakan gadis itu.

Apa benar begitu? Jongjin pikir hyungnya terlalu melebih-lebihkan, karena apa yang terekam dimatanya kini hanyalah seorang gadis yang berbaring tenang di atas sofa. Hahh… entahlah ia sendiri tidak yakin. “Hyung, apa kau tak punya niatan untuk berkencan?” tanyanya iseng. Jelas ini tak berkaitan dengan apa yang mereka bahas sekarang. Jongwoonpun melongo.

“Tentu saja ada, bodoh!!” Sial, apa dikiranya dia pria abnormal? Meski jarang terlihat bersama wanita, tapi Jongwoon juga masih waras. Dia masih tertarik dengan makhluk bernama wanita.

“Syukurlah kalau begitu”

“Apa maksudmu?” Jongwoon seolah hafal dengan pikiran busuk yang kini bersarang di kepala Jongjin tentang dirinya, ia bisa tahu lewat sudut bibir Jongjin yang terangkat disalah satu sisinya.

“Berapa umurmu sekarang, ku pikir kau ingin melajang seumur hidup. Hahaha…” kelakar Jongjin sebelum ia kabur menyelamatkan diri.

“Mwo? Yaa!!! Kim Jongjin, jangan lari kau bocak tengik!!” pekik Jongwoon yang pada akhirnya turut menerjang derasnya hujan demi membalas keusilan sang adik. Tampaknya mulut bocah itu harus diberi pelajaran agar tahu sopan santun pada orang yang lebih tua.

Disisi lain, saat sebuah keributan kecil diluar sana mengganggu kedamaiannya, gadis pemilik butik tiba-tiba bangkit. Merasa penasaran, ia memutuskan menengok keluar mencari tahu apa yang terjadi. Hingga ia menemukan dua pria itu tengah berlarian, saling mengejar, dan bercanda satu sama lain. Tak peduli hujan yang mengguyur tubuh keduanya habis-habisan, tapi mereka tampak begitu bahagia. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya terangkat perlahan. Masih betah menikmati tingkah konyol dari kedua pria itu diam-diam.

~o0o~

kikjiu

~Kim Jong Woon~

somiiii

~Song Ji Sun~

Mouse Rabbit Cafe5

~Mouse Rabbit~

 

Butik-Fashion

Baju-Korea-Terbaru

~SunKiss Boutique~

Advertisements