that fix

“Mungkin ribuan hal yang membuatku berpikir untuk meninggalkanmu, namun cukup dengan satu alasan hingga aku memilih untuk tetap berada disini yaitu karena aku mencintaimu”

~o0o~

~Flashback on~

-Kembali ke saat sebelum kecelakaan tragis itu menimpa Kyuhyun-

At Dongdaemun…

 15 Februari, atau kurang lebih sebulan yang lalu. Kala hembusan angin terasa sangat menyejukan. Serta hangatnya sang mentari yang kembali mengambil alih posisi setelah beberapa hari tergusur oleh pekatnya awan pembawa hujan. Pagi itu, dalam hati Yonghoon masih bertanya-tanya mengapa pria itu membawanya kemari. Sebuah tempat yang sunyi, dimana orang-orang biasa menitipkan abu jenasah kerabat dekat mereka. Columbarium, begitulah tempat ini biasa disebut.

Park Haejin, pria bermantel hitam panjang itu fokusnya kini teruju pada satu almari kaca. Disanalah sebuah guci mungil berbahan keramik serta foto seorang gadis cantik disemayamkan. Beberapa detik berselang, sebuah senyuman manis tampak mengawali sapaan lembut yang keluar dari bibirnya. “Haerim-ah, aku datang untuk menepati janji” ujarnya sebelum senyum manis itu berbelok pada sosok Yonghoon.

“Park Haerim?”

Yonghoon sempat mengeja deretan Hangul yang tertera pada guci kecil itu sembari menatap lekat foto disampingnya. Dari situlah penggalan-penggalan memori yang mulai usang dimakan waktu, kini bermunculan kembali dalam ingatannya. “Jadi dia adalah…”

“Adikku. Adik perempuan kesayanganku”

Gadis itu terhenyak. Setelah sekian lama ia baru tahu bahwa Haerim adalah adik dari seorang Park Haejin, pria yang selama ini dekat dengannya. Ommo… dunia begitu sempit ternyata.

Park Haerim, atau yang biasa ia panggil Haerim. Hingga setengah tahun yang lalu, gadis sekolah menengah itu masih menjadi murid di Bimbingan Belajar tempatnya bekerja sambilan. Gadis penyuka Matematika itu cukup dekat dengannya karena memang Yonghoon lah pengajar di bidang tersebut. Yonghoon ingat betul bagaimana gadis manis itu sering merecokinya sekedar menanyakan beberapa PR Matematika. Haerim selalu datang dikala tiba waktu Yonghoon beranjak pulang, hal itulah yang kadang membuatnya sebal. Tapi semenjak Haerim meninggal karena sebuah kecelakaan, Yonghoon juga merasa sangat kehilangan.

“Kau tahu? Dia sangat menyukaimu, Yonghoon-ah.” tutur Haejin disela keheningan yang sempat melanda. Seperti dugaannya, Yonghoon pasti terkejut jika mengetahui Haerim adalah adiknya “Hampir setiap hari dia berceloteh tentangmu. Bahkan dia menyuruhku untuk berkenalan denganmu” adunya pada gadis itu. Membuat Yonghoon tersenyum geli saat mendengar ceritanya.

“Haerim-ah, kami sudah saling mengenal. Bahkan kami dekat sekarang. Jadi hutangku lunas bukan?”

Yahh… Dulu, Haejin berjanji akan mengabulkan permintaan adik kesayangannya itu. Meski ia tak tahu pasti apa maksud Haerim memperkenalkan mereka. Tapi menyenangkan hati seorang adik memang tiada salahnya bukan? Namun sayang, Haerim lebih dulu pergi sebelum keinginannya tercapai.

Sejak saat itulah Haejin mulai mencari tahu sosok seperti apa yang Haerim maksud, dan ia tak pernah menyangka bahwa gadis itu ternyata junior di kampusnya sendiri. Dari situlah ia mulai tertarik pada Yonghoon. Bagi Haejin, sosok Yonghoon selalu mengingatkannya pada Haerim.

“Dia gadis yang manis dan lucu”

Haejin mengangguk setuju dengan ungkapan Yonghoon, “Ya, terlebih saat bibirnya memucuk karena sebal. Dia akan terlihat imut sekali. Aku tak kan bisa melupakan hal itu”

“Kau benar Sunbae. Ohh ya, sepertinya aku masih menyimpan foto kami di ponsel. Dulu aku sengaja memotretnya saat ia kesal padaku.” Yonghoon tampak mengaduk-aduk isi tasnya demi menemukan benda pipih itu. “Tapi tunggu! Dimana ponselku?”

“Eobseo?”

“Eobseoyo… ahh eottokaji? Pasti aku meninggalkannya di rumah tadi”

“Yasudah, lain kali saja”

~ ~ ~ ~

Drrrrtt… ‘Jichin haruga gago’   Drrrtt…  ‘Dalbitarae du saram. Hanaui geurimja’  Drrrttt…

Lantunan merdu sang penyanyi idola, berpadu dengan rentetan getaran berasal dari ponsel dibalik saku celananya, cukup membuat mimpi indah seorang Cho Kyuhyun ambyar seketika. Pria yang kini berbaring pada sofa mungil itu tampak mendengus sebal saat mendapati panggilan dari sang eomma.

“Kyu, kau dimana sekarang?” Tanya sang Ibu.

“Aku di rumah Yonghoon, waeyo?”

“Kebetulan sekali. Ajak dia kemari, ada yang ingin ibu bicarakan soal pernikahan kalian”

“Sekarang?” Kyuhyun menoleh kesisi kanan dan kiri. Masih sama saat ia baru tiba, hingga kini  belum ada tanda-tanda kepulangan Yonghoon. Padahal sudah hampir jam 08.00 malam.

“Tentu saja, kapan lagi?”

Bagaimana ini? Kyuhyun makin kebingungan. Mana mungkin ia bilang bahwa sampai sekarang Yonghoon belum pulang. Itu sama saja merusak image Yonghoon di depan ibunya sendiri. Tapi sungguh ia tak habis pikir, kemana gadis itu sebenarnya?

“Masih banyak tugas yang harus kami selesaikan Eomma. Jadi besok saja, eoh?” Ommo… dia coba gunakan otak bulusnya.

“Ck, alasan. Dari suaramu saja Ibu bisa tahu kau baru bangun tidur. Benar bukan? Ya sudah! Lain kali ajak dia kemari”

“Eumm…arraseo” Sungguh sosok Ibu yang sangat pengertian, beruntung sekali Kyuhyun memiliki ibu sepertinya.

Baiklah, satu masalah selesai. Kini tinggal mencari tahu kemana Yonghoon pergi. Gadis itu bahkan tak mengabarinya sejak pagi. Padahal di hari special ini ia sengaja ingin menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Saat ia datang dan mendapati rumah Yonghoon kosong, Kyuhyun pikir itu sebuah keberuntungan. Dengan begitu ia lebih leluasa menyiapkan segala yang sudah ia pikirkan matang-matang sejak semalam. Mulai dari menata ruangan, hingga menghias meja makan dengan beberapa tangkai mawar serta lilin kecil yang wangi. Kyuhyun melakukannya sambil terus membayangkan ekspresi bodoh macam apa yang akan gadis itu tunjukkan saat melihat hasil karyanya. Yah.. mengingat ini kali pertama ia bersikap romantis, tentu saja Yonghoon pasti shock.

Kyuhyun yang mulai habis kesabaran menunggu Yonghoon kini coba menghubungi gadis itu, namun tak sekalipun mendapat jawaban. Sial, padahal susah payah ia menyiapkan semua ini. Tapi bagaimanapun mengingat hari ini adalah hari special maka Kyuhyun putuskan untuk tetap menunggu Yonghoon dalam diam hingga tanpa sadar ia perlahan tenggelam dalam mimpi.

“Yeoboseo, Nona Song?”

“Ommo, ada angin apa hingga seorang Cho Kyuhyun tiba-tiba menelponku?”

Kyuhyun mendengus sebal atas ledekan Jisun. Bahkan ia tak tahu harus bertanya pada siapa lagi selain gadis itu. Yang Kyuhyun ingat mereka berdua sangatlah dekat, jadi mungkin Jisun tahu kemana Yonghoon pergi.

“Apa Yonghoon bersamamu sekarang?”

“Sudah kuduga, kau pasti sedang mencarinya”

“Jadi benar dia bersamamu?”

“Aniyeyo”

“Lalu dimana dia?”

“Mollayo”

“Ya!!”

Apa-apaan dia? Ini bukan saat yang tepat untuk bercanda, Nona. Kyuhyun bahkan nyaris gila karena menunggu Yonghoon, tapi Jisun malah bertingkah hingga membuatnya kebakaran jenggot. “Kyuhyun-ssi, mungkin saja dia mengajar saat ini”

“Sekarang hari Minggu, jadi itu tidak mungkin”

“Yasudah, akan kucoba hubungi dia”

“Eoh, gomawo”

Tetap saja nihil. Seorang Jisun yang merupakan satu-satunya harapan pun tak tahu dimana Yonghoon. Kemana gadis itu sebenarnya? Kyuhyun benar-benar tak bisa diam sampai dia menemukan gadis itu. Tanpa berpikir panjang lagi ia lantas beranjak pergi, meski ia sendiri tak yakin kemana harus mencarinya.

~ ~ ~ ~

Sedan putih itu akhirnya berhenti di bahu jalan, bersebrangan tepat dengan rumah susun dimana Yonghoon tinggal. Tanpa terasa kini siang telah menjadi malam. Setelah puas menggali kenangan usang bersama mendiang Park Haerim, tampaknya masih banyak lagi hal yang mereka lakukan bersama selama harian ini. Buktinya saja mereka baru sampai setelah hampir pukul delapan malam. 

“Terima kasih sudah mengajakku ke berbagai tempat, Sunbae”

“Justru aku yang harus berterimakasih karena kau mau menemaniku”

“Kau tidak perlu sungkan. Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu”

“Tunggu sebentar!”

Dalam hati Yonghoon bertanya-tanya mengapa Haejin tiba-tiba turun dari mobil dan berjalan kearah pintu disisinya. Pria itu lantas menarik handle pintu dan mempersilahkannya turun dengan sangat lembut.

“Silahkan Nona…”

Yonghoon dibuat melongo atas perlakuan yang ia dapatkan. Rasanya seperti seorang putri saja. Kyuhyun bahkan tak pernah memperlakukanya semanis ini, pria menyebalkan itu lebih mementingkan gengsinya yang tinggi. Tapi Haejin? Dia benar-benar sosok lelaki idaman. Tak heran jika banyak yang menyukainya.

“Yonghoon-ah, gwaenchana?”

“Ne? Ahh ne”

‘Dasar bodoh!’  Yonghoon mengutuk dirinya yang tanpa sadar malah mematung ditempat. Ia yakin tampangnya kini lebih parah dari seorang idiot. Dengan sedikit salah tingkah Yonghoon kemudian turun dan membungkuk sebagai salam perpisahan. Karena saking malunya ia langsung saja pergi tanpa berani lagi menoleh ke kanan ataupun kiri. Hingga tanpa ia ketahui sebuah motor kini tengah melaju kencang ke arahnya.

“Yonghoon-ah, awas!!”

Haejin yang kala itu sadar segera menarik Yonghoon kembali ke sisi semula. Membawa tubuh mungil itu kedalam dekapan eratnya. Keduanya nyaris jatuh keaspal jika saja tak tertahan oleh mobil Haejin yang terparkir disana. Sungguh kejadian yang tak terduga, hampir saja nyawa gadis itu melayang didepan mata.

“Kau hampir saja celaka!! Kau tahu itu?”

Masih dengan napas yang memburu, Haejin berteriak sekuat tenaga tepat di hadapan Yonghoon. Gadis itu tampak shock. Bukan karena dirinya yang baru lolos dari bahaya, Tapi karena Haejin yang tiba-tiba meneriakinya. Bahkan belum genap lima menit lalu pria itu bersikap manis, tapi apa yang ia lihat kini justru berbanding terbalik.

“Jangan membuatku takut! Aku sudah kehilangan Haerim, jadi jangan membuatku gila kerena harus kembali kehilangan!”

Itu katanya sebelum ia kembali memeluk Yonghoon, bahkan kini lebih erat seolah ia benar-benar merasa takut kehilangan gadis itu.

“Sunbae, mianhae…”

Menyesal? Yahh… tentu saja Yonghoon menyesal telah melempar Haejin kembali pada kenangan buruk itu. Bagi seorang kakak, tentu tak mudah melupakan kejadian naas yang telah merenggut nyawa sang adik dengan sangat tragis. Tapi kini Yonghoon dengan seenaknya malah mempertontonkan adegan itu lagi? Sungguh, Yonghoon benar-benar merasa bersalah saat ini.

“Berengsek!! Apa yang kalian lakukan?”

Bughh…

Dalam waktu kurang dari sepersekian detik, tubuh Haejin terpental hingga jatuh tersungkur. Baik Yonghoon maupun Haejin, mereka masih belum sadar apa yang terjadi sebenarnya, hingga sosok Kyuhyun tampak kembali berusaha meraik kerah baju Haejin dan berniat memukulnya lagi.

“Kyuhyun-ah, hentikan!”

Namun terlambat. Kepalan tangan keras itu terlanjur mendarat mulus untuk kedua kalinya di pipi Haejin. Pria malang yang tak tahu apa-apa itu masih belum beranjak sedikitpun saat Kyuhyun hendak melayangkan pukulan berikutnya. Beruntung Yonghoon yang sigap segera menahan lengan Kyuhyun sekuat tenaga. 

“Kumohon, hentikan Kyu!”

Akhirnya usaha Yonghoon membuahkan hasil. Gerakan Kyuhyun terhenti dan ia menjadi sedikit lebih tenang. Namun ternyata tak cukup sampai disitu, Kyuhyun terlihat mendekati tubuh Haejin yang masih terkapar dan mulai berseru dengan nada dingin yang lekat dengan bau ancaman.

“Kuperingatkan padamu, jangan pernah menyentuhnya lagi!”

Selepasnya ia langsung berbalik kearah Yonghoon dan menarik gadis itu pergi.

~ ~ ~ ~

“Kyu lepaskan aku! Ini sakit”

Gadis itu masih meronta akibat cengraman Kyuhyun yang membuat pergelangan tangannya kian memerah. Yahh, Kyuhyun memang sedikit tempramen, tapi ia tak pernah bertindak sekasar ini sebelumnya. Yonghoon tampak ketakutan hingga tak benari menatap kedua matanya. Ia baru bisa bernapas lega saat puluhan anak tangga terlewati dan kini Kyuhyun mendudukannya pada sebuah bangku di depan rumah atap.

Pria itu masih tak bersuara sedikitpun hingga membuat suasana semakin canggung. Bagus! Kini Yonghoon lebih tampak seperti terdakwa yang harus siap dengan berbagai jenis tudingan yang diarahkan padanya. Sekilas melalui ekor matanya, Yonghoon mendapati Kyuhyun yang masih berkacak pinggang lengkap dengan kilatan mata setajam mata elang. Jika sudah seperti ini, Yonghoon tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.

“Jadi bersamanya kau menghilang seharian ini?”

Ohh shitt…! Itu bukan jenis pertanyaan yang bisa di sangkal dengan mudah. Mau bagaimanapun memang itu yang terjadi sebenarnya. Itulah yang membuat Yonghoon hingga kini masih diam seribu bahasa.

“Karena sibuk dengannya kau sampai mengabaikan semua panggilanku?”

Oke, mungkin kali ini Yonghoon bisa sedikit beralasan. “Maafkan aku. Ponselku tertinggal dirumah jadi aku…”

“Apa itu bisa menjadi alasan? Jika memang kau berniat menghubungiku kau bisa gunakan telepon umum atau yang lainnya”

Yahh, memang hal itu sempat terlintas dibenak Yonghoon sebelum ia mengurungkanya. Lagi pula, apa dunia akan kiamat jika sehari saja ia tak memberinya kabar? Itu pikir Yonghoon. Nyatanya apa yang terjadi? Dunia Yonghoon seakan-akan berakhir berkat kemarahan Kyuhyun yang sempat membabi-buta.

“Lalu apa saja yang kalian lakukan seharian ini? Mengapa jam segini baru kembali?”

“Aku hanya mengantarnya ke Dongdaemun, lalu pergi kebeberapa tampat di sekitarnya. Itu saja!”

“Dan apa maksud pelukan itu? Apa karena bersama seharian kau menjadi sedekat itu dengannya?”

“Kau salah paham Kyu! Dia hanya…”

“Kenapa kau malah pergi dengannya di hari special kita?”

“Apa maksudmu Kyu?”

“Lihat! Kau bahkan melupakannya”

Deg…

Astaga… Benarkah? Yonghoon berusaha mengingat kembali tanggal berapa ini. Dan sialnya dari sekian banyak urutan tanggal di bulan Februari mengapa hari ini harus jatuh pada urutan ke lima belas? Itu artinya bertepatan dengan hari jadi mereka. Yonghoon kini sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar.

“Kyu, maaf aku tidak bermaksud melupakannya”

“Sudahlah, aku malas membahasnya lagi”

“Tapi Kyu, aku benar-benar…”

“Kubilang cukup! Sekarang masuk dan istirahat! Besok datanglah kerumah karena Ibu ingin bicara denganmu”

Kyuhyun sengaja menghentikan perdebatan mereka. Ia tak mau lagi bertengkar dengan Yonghoon hanya karena masalah kekanakan seperti ini. Ternyata benar apa yang dia dengar, menjelang hari-hari pernikahan pasti ada saja masalah bermunculan. Maka dari itu ia harus lebih berhati-hati. Jangan sampai rencana pernikahan mereka kandas hanya karena masalah sepele.

Akhirnya Kyuhyun memilih pergi. Membiarkan Yonghoon yang masih tenggelam dalam penyesalan. Biarkan saja kekecewaan itu Kyuhyun pendam seorang diri. Ia pergi menghampiri motor besar yang sempat ia parkir di bahu jalan, sebuah kendaraan yang tanpa disangka-sangka malah mengantarkannya pada sebuah peristiwa naas yang nyaris memaksa dirinya untuk tidak lagi bernapas.

Flasback off-

~ ~ ~ ~

Malam itu kembali menjadi malam yang kelam bagi keluarga Cho, tepatnya sesaat setelah Yonghoon memberitahukan bahwa Kyuhyun dilarikan kerumah sakit. Yahh… Masih lekat dalam ingatan mereka tentang kejadian yang nyaris merenggut nyawa Kyuhyun sebulan lalu, dan kini ia harus kembali masuk rumah sakit? Nyonya Cho bahkan nyaris pingsan kala mendengarnya.

Dan disinilah mereka sekarang, sebuah ruang rawat inap dimana sosok Kyuhyun masih berbaring tanpa kesadaran, lengkap dengan sang ibu yang menggenggam erat jemari tangannya. Tak lama kemudian, Tuan Cho datang membawa beberapa kaleng minuman hangat yang baru ia beli. Pandangannya kini terlihat iba pada seorang gadis yang masih setia duduk di sofa, meski sesekali tubuhnya limbung karena rasa kantuk yang tak mampu ia tahan.

“Yonghoon-ssi” ditepuknya bahu sempit itu hingga perlahan sang empu mulai sadarkan diri.

“Ye, Abonim”

“Ini sudah larut malam. Lebih baik kau istirahat di rumah!” tutur pria paruh baya itu tak tega melihat Yonghoon kelelahan.

“Tapi Abonim, aku ingin menunggu Kyuhyun disini”

“Benar sayang, lebih baik kau pulang. Kami yang akan menjaganya” kini giliran sang calon ibu mertua yang mencoba berkomentar. “Seharian ini kau pasti lelah, lagi pula besok juga masih ada kuliah bukan?”

Ohh Tuhan, Yonghoon ingat sekarang. Besok pukul 07.30 pagi dia ada kelas dengan Prof. Jung, si makhluk betina cerewet itu. Yonghoon sudah tercatat dua kali terlambat, jika besok ia telat lagi maka habislah dia. Sepertinya memang tiada pilihan lain selain pulang. Dengan sedikit tidak rela ia memungut tas selempangnya dan berjalan menghampiri Kyuhyun.

Pria itu masih tak bergerak sedikitpun. Entah apa yang sebenarnya sedang ia impikan hingga membuatnya enggan membuka mata. “Cepatlah sadar Kyu! Aku merindukanmu”

~ ~ ~ ~

“Ayo, sesuap lagi!”

“Aku sudah kenyang, Jisun-ah”

“Mana mungkin kenyang hanya dengan sekali suap?”

Astaga, lihat tingkah kedua gadis itu! Mereka sudah layaknya ibu dan anak saja. Jisun bahkan rela berceloteh demi sesuap nasi agar masuk keperut Yonghoon. Ia tak tega melihat pipi gempal sahabatnya yang perlahan tergerus hingga mulai memperlihatkan tulang pipi yang besar. Jisun tahu sepelik apa masalah yang dihadapi Yonghoon belakangan ini, namun tidak berarti Yonghoon bisa mengabaikan dirinya sendiri bukan?

“Kau mau jatuh sakit dan menemani Kyuhyun berbaring disana?”

“Dengan senang hati”

“Astaga…”

Lagi-lagi, Jisun dibuat mengelus dada. Memang cinta bisa mengubah orang hingga seberapa gila? Yonghoon masih tertawa melihat reaksi Jisun saat seseorang tiba-tiba datang dan memanggilnya.

“Yonghoon-ah”

Focus keduanya pun beralih pada pria bersweater coklat tua yang kini duduk dihadapan mereka. “Sunbae?”

“Oraen manhaeyo Sunbaenim. (lama tidak bertemu)” sapa Jisun meski sedikit heran mengapa Seniornya itu masih berkeliaran diwilayah kampus saat jam magang begini?

“Eoh, Jisun-ssi. Jaljinesseoyo?”

“Ne Sunbaenim”

Beberapa detik selepas itu berlalu dengan sunyi, hingga perlahan Jisun menyadari tatapan penuh arti dari seorang Park Haejin pada sahabatnya, tatapan itu seolah mengatakan ada hal penting yang ingin ia bicarakan empat mata. Jisun yang paham akan situasi ini memilih untuk segera menyingkir.

“Aku permisi sebentar”

“Ya Songji-ah!! Eodiga?”

“Toilet”

“Cih…Dasar kau ini!” Yonghoon memang selalu mengutuk kebiasaan buruk Jisun yang itu. Entah mengapa tiap kali mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba Jisun pasti akan pamit kebelakang, itu yang membuatnya sebal.

“Yonghoon-ah, bagaimana keadaan Kyuhyun?”

Gadis itu hanya mengedikkan bahunya sekilas. Bahkan hingga detik ini dia juga belum mendapat kabar apapun. “Sampai semalam dia masih belum sadar. Tapi bagaimanapun, terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu Sunbae”

“Gwaenchana, aku senang bisa membantu”

Satu kejadian lucu telah terjadi semalam. Entah ini bisa dikatakan nasib buruk atau apa bagi seorang Park Haejin. Saat ia sedang menunggu reaksi Kyuhyun atas ulah dirinya pada Yonghoon. Tentu semua tak melupakan tragedy pelukan tiba-tiba mereka malam itu bukan? Yahh, itu memang sengaja Haejin lakukan. Dia hanya ingin tahu seberapa marah Kyuhyun bila Yonghoonnya dekat dengan pria lain. Tapi sayang, bukan kemarahan Kyuhyun yang ia dapat melainkan teriakan minta tolong Yonghoon yang panic melihat Kyuhyun terkapar. Pada akhirnya Haejinlah yang membawa pria itu ke rumah sakit. Haejin sendiri heran, padahal beberapa menit yang lalu dia masih melihat Kyuhyun bendiri tegak lengkap dengan mata menyalang kearahnya. Lalu kemudian, apa yang ternjadi padanya?

“Yonghoon-ah, apa kau sudah mempertimbangkan soal permintaanku?”

Sial, inilah yang ditakutkan Yonghoon jika ia kembali bertemu Haejin. Dia pasti akan menanyakan hal itu lagi. Soal permintaan atau lebih tepatnya sebuah penawaran, dimana pria itu ingin membantunya mengembalikan ingatan Kyuhyun dengan berpura-pura menjadi kekasihnya. Ommo, bagaimana itu bisa disebut bantuan?

Jadi menurut Haejin, tentang sebab mengapa Kyuhyun sangat membenci Yonghoon itu berkaitan dengan kejadian yang mereka alami sebelum Kyuhyun kecelakaan. Beberapa kejadian yang tanpa sengaja menimbulkan kesalahpahaman diantaranya saat ia tengah berusaha menyelamatkan Yonghoon dari pengendara motor sialan itu. Mungkin dimata Kyuhyun, mereka terlihat sedang berpelukan. Atau masih banyak lagi kejadian sepele yang membuat Kyuhyun marah dan cemburu.

Tapi asal tahu saja! Haejin bukanlah tipe penjilat yang akan menggunakan cara licik demi merebut sesuatu milik orang lain. Dia bahkan merasa bersalah saat mengetahui Kyuhyun dan Yonghoon bertengkar karena dirinya. Terlebih melihat apa yang terjadi setelah kecelakaan itu, Haejin merasa dirinya ikut andil dalam urusan ini. Maka dari itulah ia meminta pendapat Yonghoon tentang rencana yang hendak ia buat.

“Bagaimana Yonghoon-ah?” Haejin tahu gadis itu masih ragu.

“Tapi Sunbae, aku takut Kyuhyun akan semakin salah paham”

Mungkin saja! Kalau dipikir lagi rencana Haejin itu memang sedikit gila, bagaimana jika Kyuhyun semakin salah paham? Yang ada situasi malah akan semakin runyam. Bahkan saat melihat mereka berduaan di kantin saja Kyuhyun sudah semarah itu.

“Jadi kau akan bertahan dengan situasi  ini?”  tandas Haejin.

“Bukan begitu…”

“Maka dari itu cobalah! Jika memang Kyuhyun tak mau berusaha membuat ingatannya kembali, paling tidak dirimu sudah mecoba. Jadi kau tidak akan menyesal nantinya. Aku yakin, sebenarnya dia masih sangat mencintaimu Yonghoon-ah”

“Dari mana kau tahu?”

Tentu saja! Karena Haejin memang pernah membuktikannya. Masih ingat bukan dengan ketegangan Kyuhyun dan Haejin di tangga beberapa hari yang lalu? Saat Haejin dengan gamblang menyatakan ingin merampas Yonghoon dari pria itu, betapa marahnya Kyuhyun hingga rasanya ingin menghabisi Haejin saat itu juga. Padahal dalam situasi itu Kyuhyun masih sangat membenci Yonghoon dan belum mau mengakuinya. Lantas apa yang menyebabkannya marah sedemikian rupa jika bukan karena rasa cinta? Ayolah… meski sekeras apapun pikiran dan logika berusaha menyangkal, namun percayalah bahwa hati kecil tak pernah mau berbohong.

Drrrttt… drrrrtt…

Baru Yonghoon ingin memastikan sekali lagi namun terhalang oleh ponsel miliknya yang meronta di atas meja. Ia lantas mengurungkan niatnya dan memilih mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseo? ……… Ye, Eommonim ……… Ne? Arraseo. Aku segera kesana”

Tanpa babibu Yonghoon segera menggendong ranselnya lagi kemudian berpamitan pada Haejin. “Mianhae Sunbae, aku harus pergi sekarang”

“Apa yang terjadi?”

“Kyuhyun sudah sadar, jadi aku harus kerumah sakit”

“Biar kuantar”

“Tapi Sunbae…”

Yang benar saja? Bagaimana reaksi Kyuhyun  jika dalam situasi seperti ini ia malah datang bersama pria lain? Astaga, tapi lihat! Haejin bahkan sudah lebih dulu pergi tanpa bersedia menunggu protes darinya.

~ ~ ~ ~

Setelah semalam diselimuti kekhawatiran yang mendalam, keluarga kecil itu kini bisa  kembali tersenyum sejak putra kesayangan mereka sadar. Kyuhyun akhirnya bangun setelah melewati berbagai mimpi yang panjang. Dirinya seperti ditarik kembali pada peristiwa-peristiwa yang pernah ia alami. Hingga berakhir pada kejadian semalam sebelum ia pingsan dan tahu-tahu ruangan serba putih inilah yang menjadi objek pertama yang ia lihat.

“Sebenarnya apa yang terjadi Kyu? Kenapa kau bisa tak sadarkan diri?” Nyonya Cho masih membelai surau kecoklatan Kyuhyun dengan penuh kasih sayang. Ia paling tak tega jika melihat putra semata-wayangnya itu jatuh sakit.

“Gwaenchana Eomma. Aku hanya sedikit pusing lalu pingsan”

“Kau membuatku khawatir”

“Lebih baik untuk sementara tinggalah dengan kami!” tuan Cho yang sibuk dengan secangkir teh dan koran kini coba memberikan saran.

“Benar, dengan begitu Eomma bisa merawatmu Kyu!”

“Aku baik-baik saja Appa. Sungguh…” Kyuhyun paling benci dengan situasi seperti ini. Dimana dia akan diperlakukan layaknya anak kecil lagi. Memang sejak dulu mereka terlalu memperhatikannya, dan justru itu yang kadang membuatnya kerepotan. Maka tak heran bila setahun lalu Kyuhyun memutuskan untuk tinggal sendiri di apartement.

Cklek….

“Kyuhyun-ah…”

Gadis itupun akhirnya datang. Masih dengan napas yang memburu serta butiran-butiran halus keringat membasahi dahi indahnya, perlahan ia menghampiri ranjang pesakitan itu dengan hati sedikit was-was. Melihat Kyuhyun yang hanya diam saja, mungkinkah dia belum juga mengingatnya? Namun siapa sangka, didalam hati Kyuhyun yang paling dasar, perasaan hangat serta ketenangan itu bermunculan sejak pertama ia melihat gadis itu datang.

“Kyuhyun-ah, syukurlah kau baik-baik saja. Aku takut terjadi hal buruk lagi padamu” Kyuhyun masih diam bahkan saat Yonghoon menggenggam dan berulang kali mencium kedua tangannya. Entah apa yang mengganjal dibenak Kyuhyun, tapi hingga detik inipun dia hanya menatap gadis itu lekat tanpa sedikitpun bersuara.

Cklekk…

“Annyeonghaseyo…”

Satu sapaan lagi datang dan tampaknya cukup menarik perhatian, terutama Kyuhyun yang merasa tak asing dengan suara bass itu. Maka benar saja, saat gambaran sosok dalam benaknya itu muncul didepan mata, seketika moodnya hancur benartakan.

“Haejin-ssi, kau juga datang? Mari silahkan masuk!”

Ommo, apa-apaan ini? Bagaimana bisa ibunya mengenal pria itu?

“Kemari Haejin-ssi, duduklah!”

“Ne, gamsahamnida”

Bahkan sang ayah juga bersikap baik padanya? Daebak!! Padahal baru semalam ia tak sadarkan diri, namun tampaknya terlalu banyak hal yang telah ia lewatkan. Tapi bagaimanapun ini tetap tidak masuk akal bagi seorang Cho Kyuhyun, kini ia merasa menjadi makhluk paling dungu diantara yang lain.

“Bagaimana kondisimu Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun masih tenggelam dalam lautan kebingungan saat entah sejak kapan pria bernama Haejin itu sudah berdiri tak jauh darinya dan mulai menyapa. Tapi apa dia bilang?

‘Kyuhyun-ah’?

Heol!! Kyuhyun tak pernah merasa sedekat itu hingga mereka bisa saling memanggil dengan sebutan  tidak formal.

Itu tidak penting!

Yang patut dipertanyakan sekarang adalah bagaimana bisa pria itu tiba-tiba datang kemari? Sejurus kemudian tatapan Kyuhyun mengarah pada gadis disampingnya itu. Siapa lagi dalang dibalik ini semua kalau bukan dirinya?

“Kau datang bersamanya?” nada Kyuhyun terlampau dingin dan ketus.

“Ee… itu…”

“Memangnya kenapa Kyu?” sahut Nyonya Cho yang secara tidak langsung telah meloloskan Yonghoon dari tatapan intimidasi Kyuhyun. “Justru bagus Yonghoon mengajak Haejin-ssi kemari. Asal tahu saja, dialah yang menolong dan membawamu kerumah sakit semalam. Jadi kau harus berterimakasih padanya!”

“Tidak apa-apa Ahjaumma, aku senang bisa membantu”

Heol! Jadi ini yang menyebabkan mereka semua bersikap baik padanya? Kyuhyun muak melihat senyuman lebar yang tak kunjung pudar dari tampang pria menyebalkan itu. Terlebih ia kesal melihat Yonghoon yang hanya diam tanpa memberi penjelasan. Hingga pada akhirnya dia memilih kembali berbaring di ranjang.

“Bisakah suruh mereka keluar? Aku lelah dan butuh istirahat” tentu semua tahu siapa yang Kyuhyun maksud dengan ‘mereka’. Sontak saja semua dibuat melongo, terlebih Yonghoon yang tak menyangka Kyuhyun akan bersikap sedemikian rupa.

“Tapi Kyu, mereka baru saja tiba” Nyonya Cho jelas merasa tak enak hati atas sikap yang Kyuhyun tunjukan.

“Aku tidak peduli”

“Kau tidak tahu betapa Yonghoon mengkhawatirkanmu? Bahkan semalam dia nyaris tidak pulang karena…”

“Sudahlah Eomonim! Mungkin Kyuhyun benar-benar lelah”

Yonghoon yang tak tahan dengan situasi ini memilih angkat bicara. Sekeras apapun Nyonya Cho berusaha membelanya, namun Kyuhyun yang keras kepala tentu tak mau mendengarkannya. Kini Yonghoon sadar bahwa Kyuhyun tak mengharap kehadirannya sama sekali. Mungkin kebencian yang tertanam didalam diri Kyuhyun telah mendarah daging dan melekat erat di hati pria itu. Hingga terasa sulit bagi Yonghoon menemukan celah untuk kembali bersarang di dalamnya.

“Eomonim, aku permisi dulu”

Dengan berat hati, terpaksa Yonghoon melangkah keluar dari ruangan itu. Ia berlalu tanpa sedikitpun niatan untuk berbalik memandang Kyuhyun. Begitupun Haejin yang tak lama kemudian menyusulnya setelah sempat menyampaikan salam perpisahan pada kedua orang tua Kyuhyun. Haejin merasa ini sangat keterlaluan. Ia tak membayangkan betapa hancurnya hati Yonghoon diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya sendiri dihadapan kedua calon mertuanya.

Haejin masih setia mengiringi langkah gontai Yonghoon. Punggung sempit itu semakin tampak menyedihkan. Seolah hampir seluruh nyawa dalam tubuhnya melayang entah kemana. Hanya menyisakan sebagian kecil saja untuknya bernapas, meski itupun terasa sangat menyesakkan. Yonghoon merasakan dirinya yang kini sama sekali tiada berharga.

“Sunbae, tampaknya kita perlu jalankan rencanamu itu” satu ide gila muncul dari hati yang berada dalam ambang keputus-asaan. Mungkin tiada salahnya mencoba saran Haejin, meski bukan jaminan seratus persen ini akan berhasil, tapi paling tidak ia sudah berusaha.

“Jadi kini kau setuju?”

Cukup dengan sekali anggukan Yonghoon, itu artinya perang akan segera dimulai. Ia sudah terlalu muak dengan sikap Kyuhyun. Jadi jangan salahkan jika pada akhirnya Yonghoon menerima uluran tangan orang lain.

“Bersiaplah, Cho Kyuhyun!!” serunya dalam hati, sebelum melenggang pergi bersama pria tampan bernama Haejin itu. Baiklah… Kita lihat saja. Apakah usaha mereka ini akan membuahkan hasil? Atau justru malah sebaliknya.

 

 

To be continue…

 

 Seperti biasa, semakin kesini alur semakin cabang kemana-mana. Jadi tidak fokus kan jadinya? hahaha… 😀 ya sudah lah, kini saatnya minta krisan… jebalyo~ #bow 🙂

Advertisements