Good-morning-sweet-coffee-for-love

“Kedua matanya memandangku dan ia tersenyum manis,

bahkan di hari kami berpisah”

~o0o~

 

“Maafkan aku…”

Ia lantas menatapku lekat saat kalimat sialan itu berhasil lolos dari jeratan bibir ini. Diletakkannya kembali cangkir berisi cappuchino hangat yang sekian lama menjadi minuman favoritnya, sekaligus merupakan benda yang amat ku benci. Kenapa? Karena cairan bercaffein itu sejatinya tak baik untuk keadaan lambungnya. Namun kini, mungkin sekedar melarangnya pun kurasa diriku tak lagi pantas .

Yonghoon, tak biasa kulihat ia menguncir tinggi rambutnya. Kadang hanya sesekali, itu pun saat kami tengah berdua. Ia cukup paham dengan diriku yang tak suka melihatnya memamerkan tengkuk indahnya pada semua orang. Meski dengan alasan yang terlampau kekanakan, namun sekalipun ia tak pernah keberatan. Itulah dia, gadisku yang sangat pengertian.

Namun yang kulihat kali ini, ia datang dengan pita manis yang mengumpulkan surau coklatnya menjadi satu. Menyisakan beberapa helai poni depan hingga tampak semakin manis. Ya… Ia memang cantik,  akupun sadar itu. Tak heran bila banyak mata yang sengaja mencuri pandang padanya. Membuat darahku mendidih perlahan, dan ingin rasanya mencongkel setiap mata nakal yang tak mengangap keberadaanku disini. Namun sekali lagi, kurasa diriku yang sekarang bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Jadi haruskah aku mulai belajar merelakannya?

“Kyuhyun-ah, apa kau masih menyimpan dirinya dalam hatimu?”

Tak seperti dulu, suara yang biasa terdengar merdu kini terasa sumbang ditelingaku. Seolah tertahan karena memang tak teharusnya ia keluarkan. Mungkin Yonghoon sadar, kelak hatinya akan terluka. Bahkan mungkin ia tak sanggup menerimanya. Namun sama saja. Pada akhirnya aku tetap melukainya. Menorehkan kesakitan yang mendalam di ujung pertemuan kita.

“Maafkan aku…”

Layaknya seorang yang dungu, yang hanya mengenal satu kata sepanjang hidupnya. Bibirku menolak melontarkan apapun kecuali satu kalimat itu. Meski ribuan sejatinya yang ingin ku sampaikan sekedar menguatkan hatinya, tapi yang ada itu malah akan semakin menyakitinya. Menciptakan luka baru yang kian dalam dan melebar, sedangkan nantinya diriku hanya akan pergi begitu saja.

“Aku mengerti, kau memang tak seharusnya bersamaku”

“Yonghoon-ah…”

“Gwaenchana, kuharap kalian bahagia”

Lantunan yang harusnya terdengar seperti doa, kini menjelma menjadi sosok belati yang mengiris tipis jantung hati ini. Mungkin karena keluar dari bibirnya. Gadis yang harusnya berteriak memakiku, memukul dan mencincang habis tubuhku. Tapi apa yang dia lakukan? Bahkan kini dia tersenyum padaku.

Yonghoon meraih kopi yang tampaknya tak lagi hangat. Menyesapnya sekali sebelum meletakkan kembali cangkir beserta cawan itu di atas meja. “Aku harus pergi” Tak lama kemudian tubuhnya beranjak.

Dan demi Tuhan, entah apa yang terjadi pada diriku kala itu. Hingga dengan bodohnya malah membiarkan dia pergi. Mungkin jutaan syaraf pikirku mendadak tak berfungsi sejak manik coklat indahnya tak mau menatapku lagi, kemudian memilih pergi hingga punggung sempit nan rapuhnya perlahan menjauh. Membawa sebagian besar cinta yang pernah kumiliki, serta berbagai kesakitan yang telah ku berikan.

Bahkan rasanya seperti mimpi saat Yonghoon terlihat berhenti, tubuh mungilnya sedikit  berbalik dengan kedua iris coklat yang memandang kearahku. Disitulah ia tersenyum manis. Ia tersenyum, bahkan saat kami hendak berpisah.

.

.

.

“Selamat tinggal, Yonghoon-ah”

 

 

-END-

tumblr_nqjoyaRCRD1sd6kvvo1_400

Yonghoon

10351602_976022872425156_621003910071258256_n

Kyuhyun

Advertisements