q

~o0o~

 .

 

Pernah mendengar tentang Symbiotic Mutualism bukan? Sebuah istilah dari bahasa Yunani yang terbentuk dari tiga buah kata. Sym untuk dengan dan biotic yang berarti kehidupan. Sedangkan Mutualism merupakan hubungan sesama makhluk hidup yang saling menguntungkan.

Contohnya saja antara lebah dan sekuntum bunga. Lebah akan mendapat madu sebagai makanan, sedangkan bunga terbantu dalam proses penyerbukannya. Saat lebah menghisap madu, benang sari akan  terbawa, sehingga ketika ia menghisap madu di bunga lain, benang sari itu akan menempel pada putik bunga lain tersebut, disitulah terjadinya proses penyerbukan.

Lalu, mungkinkah hubungan semacam itu terjadi pada selain hewan dan tumbuhan?

Entah disadari atau tidak, manusia sering terjebak dalam situasi dimana mereka akan merauk keuntungan dibalik konsekuensi yang harus mereka tanggung. Seperti yang dialami sepasang pria dan wanita ini misalnya.

Malam itu, Kyuhyun tak heran mendapati gelagat aneh Yonghoon saat menyambut kepulangannya. Meski tertangkap basah, namun wanita itu masih saja bersandiwara.

“Kau sudah pulang sayang?” Alibinya.

Dia pikir Kyuhyun akan mudah ditipu. Tapi sekilas memandang TV layar lebar serta DVD player di ruangan itu saja Kyuhyun sudah paham, apa yang baru dilakukan istrinya.

Seperti biasa, Kyuhyun akan mendapat satu kecupan bibir sesampainya dirumah. Hanya satu! Bahkan hingga merengekpun Yonghoon takkan memberinya lebih. Tapi lihat! Wanita itu kini masih menatapnya, dan lilitan pada pinggang Kyuhyun pun tak kunjung dilepasnya.

“Kau tak mau menyiapkan makan malam untukku?” seolah tak peduli dengan tingkah manis Yonghoon, kedua tangan Kyuhyun pun kini masih diam, ia tak berniat memberi balasan.

“Akan ku siapkan. Tapi sebelum itu, boleh aku minta ciuman darimu?” nadanya dibuat manja. Tak lupa sebelah tangan yang mulai nakal menarik dasi Kyuhyun. Napas mereka pun kian beradu.

Kyuhyun tahu, ini semacam rayuan. Licik bukan? Dia sengaja gunakan kelemahan Kyuhyun untuk meredam emosinya. Coba kalau Yonghoon tidak sedang tertangkap basah, mana mau dia bersikap semanis itu.

Kedua manic coklatnya tenggelam, bersiap menerima sentuhan basah nan menggiurkan dari bibir Kyuhyun. Bagusnya pria itu kini masih diam, menikmati paras wanita yang selalu membuatnya merasa gila. Tentu gila karena begitu mencintainya. Wajah itu, mata itu, bibir serta senyuman yang dihasilkannya, Kyuhyun sangat menyukainya. Meski tak jarang pula dia membuat tekanan darahnya naik, yah seperti sekarang ini. Jadi haruskah Kyuhyun mengabulkan permintaannya? Ingat! Kau sedang marah Tuan.

Cup…

Hanya  sekilas, dan langsung berbuah protes. “Wae?” Yonghoon merajuk.

“Aku lapar. Kau bilang akan menyiapkan makan malamku?”

“Cihh…”

Perlu dicatat bahwa Cho Kyuhyun bukan tipe yang akan menyia-nyiakan sekempatan. Termasuk urusan membalas dendam. Setidaknya agar wanita itu tahu bagaimana rasanya dipermainkaan hanya dengan sebuah kecupan. Heol… Seringai itu kian mengembang saat beranjak dari hadapan Yonghoon! Dia menang telak Nona.

“Oh ya, kau lupa mematikan DVDnya, Sayang” celetuk Kyuhyun yang lebih kepada sindiran.

Yonghoon sontak menatap DVD player yang sialnya masih menyala, lantas mengutuk atas kebodohan dirinya. Padahal tadi ia sempat mematikan TV sebelum Kyuhyun masuk rumah, tapi tidak dengan DVD. Saking paniknya dia sampai melupakan yang satu itu. Maka tertangkaplah dirinya oleh Kyuhyun. Pria itu terlalu pintar untuk dikadali. Kini tinggal bersiap menghadapi kemurkaan Kyuhyun selanjutnya.

~ ~ ~ ~

“Selamat pagi Bibi”

Kim Ah Jeong, wanita yang di panggil bibi itu tersenyum mendapati Yonghoon masih kacau dengan piama serta hoodie tebal yang membalut tubuh rampingnya. Udara masih dingin karena waktu juga baru menunjukkan pukul enam.

“Pagi Nyonya. Kau mau secangkir kopi?” Dia sampai hafal dengan kebiasaan Yonghoon.

“Susu hangat saja. Kyuhyun akan mengomeliku jika terus meminum kopi”

Lagi-lagi sang bibi mengukir senyuman. Terkadang heran juga melihat kedua majikannya tak pernah akur. Padahal sesungguhnya dalam binar mata mereka telukis jelas betapa besar cinta di hati keduanya. Apa mungkin itu cara unik mereka menyampaikan kasih sayang? Entahlah… Tanyakan saja pada yang bersangkutan!

“Tapi ngomong-ngomong, dimana dia Bi?”

Lihat bukan? Bangun tidur tak menemukan batang hidungnya saja Yonghoon sudah mencarinya. Persis seperti Kyuhyun bila sosok wanitanya itu tak berada dalam jarak pandangnya.

“Tuan sedang di halaman belakang”

“Eoh, arraseo”

~ ~ ~ ~

Kyuhyun sedang focus pada kobaran api yang diciptakannya sendiri. Di dalam sebuah tong sampah berisi puluhan keping kaset DVD Yonghoon. Jangan tanya setan apa yang kini merasukinya hingga tega membakar itu semua! Salahkan saja Yonghoon beserta kegilaannya pada serial drama. Berkat hobinya itu jadi Kyuhyun yang kena imbasnya.

Kenapa? Tentu karena setelah menontonnya dia akan mengejek Kyuhyun yang kini makin berisi, dibandingkan para actor tampan dalam drama tersebut. Mulai dari Seo Ji Sub, Hyun Bin, Lee Dong Wook, bahkan hingga actor sekelas Jo In Sung yang hingga kini masih dipuja kaun wanita berkat ketampanan serta tubuh idealnya.

Yah, pantas kalau Kyuhyun marah. Istrinya memang sudah keterlaluan. Kyuhyun saja tak pernah mengidolakan seorang wanita. Kecuali Lee Sun Hee, tentunya. Itu pun bukan karena wajahnya yang cantik atau tubuhnya yang seksi, tapi karena suara emas yang dia miliki. Tapi melihat kelakuan Yonghoon, rasa-rasanya Kyuhyun bisa terserang darah tinggi.

Dengan sebilah kayu, Kyuhyun mengorek tong sampah itu agar isinya terbakar sepurna. Bisa gawat kalau pemiliknya sampai tahu. Namun siapa sangka dia lebih dulu tiba.

“Masih terlalu dingin untuk beraktivitas di luar rumah Kyu, sedang apa kau disini?”

Kyuhyun menatap wanitanya itu dengan sedikit menahan tawa. Selain karena tudung pada hoodie biru muda yang menutupi sebagian lebar jidatnya, masih ada pula bekas susu coklat yang menghiasi sekitar bibirnya.

“Hanya membakar barang tak berguna sekaligus menghangatkan diri” jawab Kyuhyun terlampau santai. Tunggu saja sampai wanita itu tahu apa yang sedang ia musnahkan. “Apa rencanamu hari ini Yong?”

“Entahlah… Tadinya aku ingin ke butik Jisun untuk melihat pakaian musim semi terbarunya. Tapi rasanya malas kalau sendirian. Kau mau menemaniku?”

Kyuhyun tak menjawab. Hanya mengangguk sekilas karena sibuk dengan susu coklat yang tinggal separuh gelas, yang berhasil ia comot dari genggaman Yonghoon sekitar sepuluh detik lalu.

“Ughh… Sampah apa yang kau bakar ini Kyu? Baunya menyengat sekali” Yonghoon yang curiga pun mengambil alih kayu milik Kyuhyun, kemudian mencari tahu sampah yang dimaksud. Maka detik itu pula perang dunia pun dimulai.

“Kyaaaaa… Kurang ajar!!! Kau apakan koleksi filmku Cho Kyuhyuuun …?”

Jangan tanya tentang bagaimana situasi selanjutnya! Bahkan seekor semut pun akan rela hati menyingkir daripada menjadi santapan sang singa betina.

~ ~ ~ ~

Menurut perhitungan, April Mop telah terlampaui sejak dua bulan lalu. Lantas apa yang sedang Kyuhyun lakukan sekarang? Dia yang biasanya pulang dengan tangan kosong, kini tampak menenteng kardus kue berukuran besar kala memasuki rumah. Bibi Kim saja bingung saat Kyuhyun meletakkan benda itu dihadapannya. Mungkinkah dia melupakan ulang tahun seseorang dipertengahan Juni ini? Seingatnya sih tidak.

“Untuk apa kue sebesar ini Tuan?”

Kyuhyun tersenyum disela kesibukannya melepas jas yang ia kenakan, kemudian menggulung lengan kemeja polosnya hingga naik sebatas siku. Sedangkan dasi marun yang pagi tadi melingkar dileher jenjangnya kini hilang entah kemana.

“Itu untuk Yonghoon, dimana dia Bi?”

“Nyonya ada dikamar” jawab sang Bibi setelah nada “Ooh” itu berkumandang.

Kyuhyun lantas menatap arloji peraknya. Belum genap pukul enam sore tapi Yonghoon sudah mengurung diri di kamar. “Apa dia sakit?”

“Bukan begitu. Tadi siang Nyonya sempat uring-uringan karena gagal menggunakan computer jinjing Tuan” jelas wanita itu pada Kyuhyun.

“Leptopku?”

“Ne”

Seringai Kyuhyun mengembang setelah menangkap makna dari penjelasan bibi Kim. Apa lagi tujuan Yonghoon mengotak-atik leptopnya kalau bukan untuk film. Tak ada kaset, leptop pun jadi. Tapi sial baginya karena ternyata Kyuhyun telah mengunci benda itu dengan pasword, dan satu-satunya orang yang tahu tentang kodenya adalah Kyuhyun sendiri.

“Jadi karena itu dia mengurung diri di kamar?”

“Sepertinya begitu”

“Arraseo. Sekarang tolong potongkan kue ini Bi, akan ku coba membujuknya”

“Ne, algaepseumnida”

~ ~ ~ ~

“Buahaha…”

Jika kalian kira dunia Yonghoon akan hampa bila tanpa koleksi filmnya, itu salah besar. Perhatikan saja senyum dan tawanya yang begitu lebar. Semua itu berkat novel setebal batu bata yang tengah ia baca. Untung saja dulu Jisun meminjaminya. Padahal Yonghoon sempat menolak karena lebih tertarik pada film ketimbang deretan kalimat yang akan membuat matanya buram lama-lama. Tapi ternyata benda itu kini berguna juga. Yahh, paling tidak untuk sejenak Yonghoon melupakan barang berharganya yang musnah ditangan Kyuhyun.

“Diluar dingin Yong, kau bahkan tak memakai jaket”

Cho Kyuhyun datang dengan membawa nampan berisi potongan kue dan sebotol anggur merah. Diletakkannya semua itu pada meja tepat di samping kursi Yonghoon. Ia lantas menduduki bangku seberang setelah mengecup pipi Yonghoon sekilas. Meski tadi sempat celingukan mencari keberadaan sang istri, namun akhirnya dia menemukan Yonghoon tengah duduk santai di balkon sambil membaca buku.

“Untuk apa semua ini?”

Persis seperti tebakan Kyuhyun, istrinya itu masih marah. Tergambar dari nada ketus yang dia tunjukkan. Well, Kyuhyun butuh trik handal bila ingin meluluhkannya.

“Untuk pernikahan kita. Happy Anniversary sayang!” Kyuhyun tampak heboh. Sedangkan Yonghoon masih betah dengan muka asamnya.

“Kita baru enam bulan menikah Kyu”

“Lalu kenapa? Tiada hukum yang mengatur anniversary hanya boleh dirayakan setelah satu tahun”

Memang tidak, terlebih bagi seorang yang kurang kerjaan sepertimu Cho Kyuhyun! Bilang saja ini semacam alibi agar Yonghoon tak marah lagi, bukan? Sore tadi sepulang dari kantor, Kyuhyun sengaja mampir ke toko kue untuk membeli tiramisu favorit Yonghoon. Biasanya moodnya akan membaik setelah makan yang manis-manis.

“Jangan sok romantis! Akal bulusmu sudah tercium olehku? Aku tetap tidak akan memaafkanmu”

Rasakan betapa sulitnya menghadapi orang berkepala batu! Kyuhyun seolah berhadapan dengan dirinya yang menjelma menjadi sosok Yonghoon. Memang tabiat mereka berdua itu sejatinya tak jauh berbeda.

“Setidaknya hargailah usahaku! Lihat, aku membelikanmu tiramisu”

“Makan saja sendiri, aku sedang tidak napsu” Yonghoon beranjak setelah menutup kasar novel yang sempat terabaikan.

“Mau kemana?” Kyuhyun panic.

“Tidur. Aku mengantuk”

“Ini baru setengah tujuh Hoonie”

“Siapa peduli? Tiada hukum yang melarang orang tidur jam segini”

Sial. Kyuhyun mengutuk dalam hati. Mulut wanita itu benar-benar! “Hei, bahkan kau belum memberiku ciuman selamat datang”

Heol, pria itu meminta jatah. Mungkin baginya itu semacam suntikan energi. Manis sekali. Yonghoon yang nyaris mencapai pintu akhirnya menghentikan langkah. Niatnya berbalik sejatinya untuk memaki Kyuhyun, namun ia terlojak karena entah sejak kapan lelaki itu telah berdiri tepat di belakangnya. Sontak Yonghoon membuat jarak, tapi usahanya gagal sebab kedua tangan Kyuhyun lebih sigap meraih pinggulnya.

“Untuk satu hal itu, aku tak bisa melewatkannya, Sayang”

Bisik Kyuhyun tepat ditelinga, membuat Yonghoon meremang seketika. Sialan memang. Pria itu sengaja menyerang satu titik sensitifnya agar tak mampu lagi bersuara. Bahkan dengan tanpa permisi, disambarnya bibir mungil Yonghoon itu.

Yahh, lagipula mengapa harus minta ijin? Bukankah sejak enam bulan yang lalu wanita itu telah menjadi miliknya? Yonghoon, beserta apa yang ada pada dirinya, semua itu adalah milik Cho Kyuhyun. Termasuk pula bibir semanis cherrynya.

~ ~ ~ ~

Sungguh mala petaka bagi Jonghoon, semenjak kedatangan sang adik tercinta –Yonghoon- ke kediaman kekasihnya –Jisun- sore itu. Mereka berniat menghabiskan malam bersama, sebelum Yonghoon muncul dan merusak rencana indahnya. Pria itu kini hanya bisa pasrah, berada di antara dua wanita yang larut dalam drama favorit mereka. Jonghoon ingin sekali menyeret Yonghoon pergi jika saja sang adik tak memegang kartu As yang sewaktu-waktu dapat membunuh dirinya dihadapan Jisun sang kekasih. Maka untuk kesekian kalinya Jonghoon mengeluh pada Tuhan yang menggariskan Yonghoon sebagai saudara kandungnya.

“Minggir!!”

Jonghoon berusaha menyingkirkan kaki Yonghoon yang seenaknya menghalangi jalan. Meski berbuah tatapan tajam Yonghoon, tapi apa pria itu apa peduli? Ia sudah terlanjur kesal.

“Eodiga?” tanya Jisun.

“Toilet, sayang”

Setelah mendapat jawaban, Jisun memilih focus pada layar lebarnya lagi. Secara otomatis Jonghoon kembali terabaikan. Semakin kesal, dia pun berlalu begitu saja.

Beginilah Jisun kalau sudah bertemu Yonghoon, seperti toples dan tutupnya. Terlihat klop satu sama lain. Yahh, mereka kedua memang bersahabat sejak awal. Dari Yonghoon lah Jonghoon mulai mengenal sosok Jisun, dan berkat adiknya itu pula akhirnya mereka pun berpacaran. Proses ini tak jauh beda dengan asal mula hubungan Kyuhyun dan Yonghoon, hanya saja mereka lebih dulu menikah.

Sesampainya di kamar kecil, Jonghoon yang masih hikmad dalam ritual sumpah serapahnya untuk sang adik, kini tampak mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Tak lama kemudian dia mulai membuat panggilan.

“Yeoboseo? Kyu, cepat kemari dan bawa pulang istrimu! Dia benar-benar mengganggu” titahnya pada pria yang tak lain adalah Kyuhyun, tanpa memberi kesempatan pada adik ipar sekaligus Boss di kantornya itu untuk bersuara. “Tangan banyak tanya! Kutunggu kau di apartement Jisun sekarang juga, arraseo?”

Jonghoon langsung menutup teleponnya. Mengabaikan kemungkinan Kyuhyun akan memecatnya esok hari karena telah berlaku tak sopan kepada atasannya sendiri. Toh Kyuhyun adalah adik iparnya, jadi dia bebas melakukan apa saja. Posisinya disini lebih kuat, bukan?

Selesai dengan misinya, Jonghoon pun beranjak dari ruang sempit itu. Dan begitu keluar dia langsung disuguhi pemandangan memuakkan dimana Yonghoon dan Jisun tengah berbagi tissue guna menampung  air mata serta ingus yang keluar dari lubang hidung mereka. Tanpa harus bertanya Jonghoon tentu tahu penyebabnya.

“Ya!! Sudah ratusan kali kalian menonton drama itu, masih saja menangis” cecar Jonghoon yang langsung dihujam oleh tatapan membunuh dari kedua wanita itu.

~ ~ ~ ~

“Kau yang menyuruhnya kemari?”

Sungut Yonghoon pada sang Oppa, sesaat setelah Kyuhyun tiba disana. Sedangkan Jonghoon hanya mengangkat bahunya acuh seolah tak tahu apapun. Dasar curang! Dia sengaja menggunakan pria itu untuk mengusir Yonghoon. Coba saja! Sebentar lagi Kyuhyun pasti akan menyeretnya pulang. Ohh andwae! Jeoltae andwae!!

“Kyu… satu episode lagi, eoh? Jebal…” rengeknya pada Kyuhyun yang masih diam dengan tampang tak terbaca.

“Tapi Yonghoon-ah…”

“Ayolah… Lagipula karena siapa aku harus jauh-jauh kesini hanya untuk menonton film?”

Ommo, kenapa jadi Yonghoon yang sewot? Siapa yang sebenarnya berhak marah dalam urusan ini. Tapi Kyuhyun terlanjur kalah cepat. Memang benar, harusnya tadi langsung saja seret dia pulang. Tapi bagaimana mungkin Kyuhyun tega melakukannya? Salahkan saja emosinya yang sempat membabi-buta kala itu, kini siapa pula yang harus repot? Dirinya sendiri bukan? Sial.

Kyuhyun tak pernah menyangka akan bernasib sama dengan Jonghoon yang hanya pasrah menunggu sang wanita selesai dengan acaranya. Kini mereka hanya duduk tanpa perbincangan yang berarti sampai sang kakak ipar itu berhasil memaksa Kyuhyun menjelaskan perkara sesungguhnya.

“Mwo??”

Reaksi Jonghoon memang sedikit berlebihan. Dia reflek mengatupkan mulut sebelum menurunkan nada bicaranya. “Jadi kau telah membakar itu semua?”

Kyuhyun mengangguk penuh rasa menyesal. Dikiranya masalah akan selesai jika benda itu lenyap? Yang ada, situasi malah semakin runyam. Mulai dari Yonghoon yang uring-uringan dan mengacuhkannya, bahkan kini dia pergi tanpa seijin Kyuhyun.

“Aku yang hidup puluhan tahun dengannya saja tak berani menyentuh benda keramat itu, tapi kau malah berani membakarnya. Hebat Cho Kyuhyun, hahaha…”

Entah itu pujian atau malah sebaliknya, yang jelas Kyuhyun tak suka mendengar kelakar Jonghoon. Awas saja bila kakak iparnya itu hanya tertawa, tanpa sedikitpun menyumbangkan saran. Kyuhyun benar-benar akan memberinya ultimatum. Terlebih atas sikapnya pada Kyuhyun hari ini, tunggu sampai mereka bertemu di kantor besok pagi.

~ ~ ~ ~

~20.40 pm.~

Berdecak sebal melihat deretan angka jam digital dalam kamarnya, tatapan horror Yonghoon pun jatuh di sebelah ranjang yang masih kosong. Suaminya belum pulang, itulah yang menjadi perkara utama. Oke, kalau belakangan selalu Kyuhyun yang dibuat uring-uringan berkat sikap acuh Yonghoon, namun situasi kini berbalik. Sudah tiga atau empat hari ini Kyuhyun selalu pulang malam. Padahal biasanya paling telat pukul enam sore dia sudah standby di rumah demi makan malam bersama Yonghoon atau sesekali mengajaknya jalan-jalan.

Lalu kenapa? Apa Kyuhyun tengah melancarkan aksi balas dendam? Dia marah karena diacuhkan? Atau karena tiramisu yang berakhir di tong sampah? Heii… itu tak sebanding dengan Yonghoon yang harus kehilangan koleksi filmnya berkat ulah Kyuhyun.

Ahh, jika mengingat hal itu tengkuk Yonghoon langsung mengencang. Pria itu tak tahu betapa susahnya mengumpulkan itu semua sejak sekian lama. Yonghoon yakin stok original drama lawas favoritnya kini sudah tak beredar lagi. Terlalu malas jika harus menonton dari internet, ujung-ujungnya ia takkan menemukan resolusi gambar yang maksimal. Benar-benar menyebalkan si Kyuhyun itu.

Dua puluh menit berlalu, pandangan Yonghoon kembali pada sang penunjuk waktu. Sungguh tak bisa dibiarkan, dia ingin… Tidak!! Dia harus tahu apa yang Kyuhyun lakukan hingga selarut ini. Diraihnya ponsel pintar itu dan mulai membuat panggilan. Sambungan pertama tak terjawab, begitupun kedua bahkan hingga yang ketiga. Ck, Yonghoon bukan tipe penyabar dalam urusan semacam ini. Tanpa harus pusing memikirkan siapa yang sekiranya tahu dimana Kyuhyun, Yonghoon pun segera menghubungi orang itu.

“Yeoboseo, Oppa…” Jonghoon tentunya, siapa lagi kalau bukan saudara kandungnya sekaligus sekretaris pribadi Kyuhyun.

“Mmm, ada apa gadisku tersayang?”

“Ck, simpan saja rayuanmu untuk Jisun! Oppa, kau bersama Kyuhyun sekarang?” Malang nian, basa-basi saja tidak. Harusnya Jonghoon hafal betapa tidak manisnya adiknya itu.

“Tidak. Aku dirumah sekarang. Wae?”  

Bahkan Jonghoon saja sudah pulang. “Memang di kantor sedang banyak pekerjaan?”

“Tidak. Kanapa tiba-tiba kau ingin tahu?”

“Lalu kenapa Kyuhyun belum pulang? Belakangan dia selalu pulang malam. Kau tahu apa yang dia lakukan?”
“Eee… Soal itu…” Yonghoon menangkap gelagat aneh lewat nada bicara sang Oppa. Sama seperti dirinya, Jonghoon termasuk payah dalam urusan dusta. “Pasti ada yang kau sembunyikan dariku”

“Bukan begitu. Hanya saja aku tak mau kau menyesal setelah mengetahuinya”

“Oppa, kau cukup tahu aku benci dengan basa-basi”

“Kau yakin?”

“Cepat katakan atau aku akan datang pada Jisun dan…”

“Arraseo… Arraseo… Kau ini!!” seringai Yonghoon menyembang saat sang Oppa mendengus sebal karenanya. Cihh, ancamannya selalu sama. “Oke, jika kau sungguh ingin tahu. Akan ku antar kau menemui Kyuhyun sekarang juga. Tapi ingat, jangan pernah menyesalinya!”

~ ~ ~ ~

-Secret Hotel- adalah label yang terpampang pada gedung tempat Jonghoon menghentikan kemudinya. Tak lama kemudian seorang petugas datang membuka pintu mobil sebelah kanan, Yonghoon pun keluar. Sedangkan sang kakak tampak menyerahkan kuncinya pada petugas lain guna diparkirkan.

“Kajja!”

Wanita itu masih dengan tampang idiotnya saat Jonghoon mengajaknya masuk. “Tunggu!” cegahnya. Merasa ada yang janggal isini. “Untuk apa kemari? Kau sedang mengerjaiku?”

Memutar matanya malas berkat tudingan sang adik, Jonghoon akhirnya berbalik menuju pintu keluar lagi. “Oke, kita pulang saja”

“Jangan! Tunggu dulu, kau jadi pemarah sekarang”

Jonghoon menghembuskan napasnya pelan. Seperti biasa, butuh tenaga ekstra dalam mengadapi tingkah laku Yonghoon.

“Kalau benar Kyuhyun di dalam, lalu apa yang dia lakukan?” Terlebih di tempat seperti ini, selarut ini. Hotel berbintang pula, sialan.

“Kau akan tahu nanti”

Meski kesal dengan tanggapan yang didapat, Yonghoon tetap mengikuti pria yang kini membawanya masuk pada sebuah lift. Rasa cemas pun mulai menghantuinya. Bagaimana tidak? Mendengar sang suami berada dalam hotel selarut ini, tanpa tahu dengan siapa, atau apa yang tengah dilakukannya, istri mana yang takkan cemas? Ketakutan akan kemungkinan terburuk membuat Yonghoon tak lagi bertenaga untuk sekedar bersuara.

Tak jauh berbeda dengan Jonghoon, lelaki itu juga tampak diam. Pikiran Yonghoon makin kacau saat Oppanya yang biasa cerewet kini memilih bungkam. Seolah ini memang bukan saat yang tepat meski sekedar berbincang. Oke! Awas saja kalau Kyuhyun sampai ketahuan macam-macam.

Ting~

Sampailah mereka pada lantai kedua teratas gedung pencakar langit itu. Jonghoon keluar lebih dulu kemudian sang adik tampak mengekorinya. Mereka menuju ruangan paling luas dengan design kaca tebal sebagai dinding serta pintunya. Tentulah mereka dapat dengan mudah mengetahui isi didalamnya. Dan saat itu pula sontak langkah Yonghoon terhenti.

“Oppa, kau tahu akibatnya jika mempermainkanku bukan?”

Reaksi keras Yonghoon kala mendapati beragam alat kebugaran di dalam ruangan itu. Curiga dengan motif Jonghoon membawanya ketempat Fitnes ini. Tunggu saja! Yonghoon benar-benar akan membocorkan soal koleksi  film yadong kakaknya itu pada Jisun bila ternyata ini semua hanya lelucon gila yang sengaja dirancang untuk membodohinya.

“Lihat siapa yang ada di ujung sana!” titah Jonghoon bangga.

Langsung saja Yonghoon melempar pandangan kesudut ruangan, tepat dimana seorang lelaki tengah focus pada gerakannya diatas sebuah treadmill. “Kyuhyun?” Yonghoon nyaris tak percaya bahwa lelaki itu adalah suami tercintanya. “Sedang apa dia disini?”

“Tidur!!” Jonghoon emosi. “Apa lagi? Tentu saja berolahraga”

Tatapan nyalang Yonghoon menegaskan dia juga tahu kalau soal itu, tapi yang tidak dia mengerti adalah mengapa Kyuhyun melakukannya? Berolah raga hingga selarut ini? Heol, padahal tiap Minggu Yonghoon setengah mati memaksanya, itupun tetap tidak mempan. Sudah tabiat Kyuhyun. Coba saja beri dia selimut tebal, maka kau akan menemukannya meringkuk di ranjang dari pagi hingga sore hari.

“Apa belakangan dia sering kemari?”

“Eoh. Sudah hampir seminggu ini”

Jadi karena itu Kyuhyun sering pulang malam? Yonghoon mulai mengutuk pikiran negative yang sempat hinggap dikepalanya. “Ck, lalu kenapa harus di hotel?”

“Kau tidak tahu? Sejak dulu Secret Hotel terkenal dengan Gym-nya yang super lengkap dan luas Hoonie” jelas Jonghoon.

“Aku tidak peduli. Setidaknya beritahu aku agar tidak berpikir macam-macam!”

“Ya!! Kau kira karena siapa dia melakukannya diam-diam? Siapa yang mengoloknya tiap hari? Perut buncit lah, pipi gempal, otot kendur. Bahkan lebih parah lagi kau tega membandingkannya dengan Jin Sung, In Sung, atau siapalah artis idolamu itu. Suami mana yang akan tahan Yonghoon-ah”

Sialan. Dari mana Jonghoon tahu semua itu? Yonghoon mana bisa berkutik sekarang. “Kau tahu betapa frustasinya Kyuhyun saat dirimu kabur kerumah Jisun malam itu? Dia benar-benar menyesal telah membakar semua kasetmu. Sebagai gantinya, dia rela berolahraga untuk membentuk tubuh ideal sesuai yang kau harapkan. Ohh malang nian nasib Kyuhyun. Lelaki sebaik itu harus mendapat istri sepertimu, kasihan”

“Ya!! Jangan berlebilan! Aku tahu aku salah” Yonghoon kesal dengan sang kakak yang mulai mendramatisir.

“Bagus kalau kau sadar. Lalu tunggu apa lagi? Cepat temui dia dan minta maaf!”

~ ~ ~ ~

Kyuhyun menekan tanda minus pada monitor kecil dihadapannya, maka perlahan laju treadmill itu pun berkurang hingga akhirnya berhenti. Napasnya masih memburu saat menenggak air mineral yang tadi sempat ia bawa. Keringat pun bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Entah seberapa banyak kalori yang berhasil ia bakar hari ini.

“Kyu…”

Pria itu baru akan memulai lagi saat seseorang datang menghampirinya. “Yonghoon-ah, neo… neo wae yeogisseo?” Layaknya maling tertangkap basah, Kyuhyun sampai gagap menanggapi kedatangan Yonghoon. Tentu saja, bagaimana istrinya itu tahu dia ada disini? Ahh seolma… (jangan-jangan)

“Kau sendiri? Untuk apa kau disini?” Yonghoon balik tanya.

“Ahh itu… Sudah lama aku tak berolahraga?” Kyuhyun meringis sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Salah tingkah karena malu ketahuan Yonghoon.

“Karena ini kau sering pulang telat?”

“Yonghoon-ah aku bisa jelaskan…”

“Tidak masalah, aku malah senang melihatmu berolahraga. Tunggu apa lagi? Cepat lanjutkan!”

“Mwo???”

Yahh, memang dasar Yonghoon. Bukanya terharu melihat betapa keras usaha suaminya. Dia malah… ahh sudahlah. Jangankan menyesal, merasa bersalah saja tidak. “Wae? Bukankah tujuanmu berolahraga agar mendapatkan tubuh yang ideal? Aku tak sabar melihat perutmu menjadi kotak-kotak seperti milik Siwon Super Junior”

“Mwo??? Ya!! Yonghoon-ah…”

Drrrrttt…. Drrrrttttt….

Baru Kyuhyun ingin mengajukan protes atas tindak semena-mena Yonghoon. Tapi sebuah panggilan tiba-tiba masuk di ponselnya dan niat itupun gagal. Tadinya ingin dia abaikan saja, tapi begitu tahu bahwa itu Jonghoon, Kyuhyun memilih sedikit menjauh dan menjawab panggilan itu.

“Yeoboseo, Kyu? Eotte? Apa rencana kita berhasil? Dia tersentuh bukan?” sambar Kakak iparnya itu tanpa jeda sedikitpun. Sedangkan Kyuhyun masih diam karena kesal. “Ya!! Kenapa diam saja? Aku tak sabar mendengar hasilnya”

“Tersentuh pantatmu!!” cecar Kyuhyun setelah memutuskan angkat bicara.

“Maksudmu?”

“Dia malah menyuruhku semakin giat berolahraga, sialan”

“Mwo??”

Dugaan mereka salah. Padahal kata Jonghoon, biasanya wanita akan luluh setelah dihadapkan dengan pengorbanan seorang pria. Dan Kyuhyun pikir istrinya itu akan sadar dan menyesal setelah melihat usaha kerasnya. Sehingga ia takkan pernah mendengar ejekan Yonghoon lagi, plus, tak perlu lagi dia capek-capek berolahraga. Toh Yonghoon telah luluh karenanya. Teori semacam itu memang biasa berlaku. Tapi sepertinya Cho Kyuhyun melupakan sesuatu. Lupa bahwa istrinya itu bukan istri sembarangan. Dia wanita yang luar biasa.

“Yahh, ketakutanku ternyata benar. Lagipula bukankah sejak dulu sudah kuperingatkan? Bahwa adikku itu lain daripada gadis lain. Dia tak semudah yang kau kira Cho Kyuhyun. Tapi kau tetap menyukainya” Bahkan sampai menikah dengannya. Bukankah itu nekat? Tapi apalah daya, cinta itu memang buta.

“Jadi Hyung menyalahkanku?”

“Bukan begitu…”

Disaat mereka tengah pusing memikirkan ending yang tak sesuai harapan, disisi lain Yonghoon berloncatan tak sabar menantikan tubuh sixpack milik Kyuhyun. Akhirnya dia mendapat bayaran setimpal atas lenyapnya koleksi DVDnya. Bahkan sepertinya dia tak keberatan untuk berhenti menonton drama, atau memuja ketampanan serta tubuh sexy seorang Jo In Sung lagi. Karena Kyuhyun akan memberikan apa yang dia inginkan.

 

-The End-

 

-Epilog-

.

.

.

“Akan ku kabulkan tiga permintaanmu jika kau turun 10kg dalam sebulan”

Tawar Yonghoon saat melihat sang suami manyun dan tak lagi bersemangat setelah menjawab telepon tadi. Ia tahu sebenarnya Kyuhyun masih setengah hati.

“Lebih baik bunuh saja aku!” ujarnya ketus. Lagipula yang benar saja! Dikiranya mudah menurunkan berat badan? Apalagi untuk Kyuhyun dengan napsu makan sehebat itu. Turun satu ons saja susahnya minta ampun.

“Kalau begitu 8kg”

“3kg saja”

“Enak saja, itu takkan terlihat perubahannya. Andwae!! 7kg, eotte?”

“Shirreo, 5kg”

“Ck, yasudah begini saja. 5 kg tapi hanya dua permintaan. Deal?”

“Ya!! Kau bilang…”

“No…no…no! Tidak ada protes lagi. Itu sudah yang paling adil. Setuju? Atau tidak sama sekali. Dan aku akan langsung ke toko kaset mencari…”

“Ne… Ne… Arraseo… Dasar curang”

“Bagus! Pilihan yang tepat. Oke, untuk hari ini kita sudahi saja. Malam kian larut, aku juga mengantuk” katanya sebelum melenggang meninggalkan Kyuhyun.

Sedangkan pria itu masih betah dengan sumpah serapahnya untuk sang istri. Kyuhyun bertekat, bila menang taruhan ini dia benar-benar akan menggunakan dua kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Termasuk memaksa Yonghoon untuk hamil. Wanita itu seenak jidat memasang alat kontrasepsi di tubuhnya dengan alasan belum siap dengan momongan. Kyuhyun berulang kali memintanya melepaskannya, tapi bukan Yonghoon namanya kalau menurut begitu saja. Maka bila saat itu tiba, tiada alasan lagi. Lihat saja nanti!

Mungkin memang benar, tiada yang gratis didunia ini. Kau beri, aku terima. Dan itu harus berlaku sebaliknya. Tak jauh berbeda dengan urusan bunga dan lebah di awal tadi bukan? Kyuhyun dan Yonghoon pun demikian. Yonghoon memang kehilangan koleksi filmnya, tapi sebagai gantinya kelak dia akan puas melihat perut Kyuhyun kotak-kotak. Sedangkan Kyuhyun, dia terpaksa merontokkan lemak dengan cara yang tentunya tidak ia suka, tapi dengan itu mungkin dia akan mendapatkan cinta yang lebih besar dari seorang Yonghoon. Dan juga aegy, -mungkin-.

Kkk~ itulah Symbiotic Mutualism versi mereka. Bagaimana denganmu?

 

cropped-g.jpg

Advertisements