han baram fix

-Kala angin berhembus, mata pun terpejam-

-Mendengarkan kenangan yang sayup-sayup memanggil-

.

.

Dia adalah Cho Kyuhyun, pria yang menduduki sebuah bangku taman di tepi sungai. Masih tenggelam dalam pesona senja yang mengubah jernihnya Han menjadi bersemu-semu jingga. Warna yang senada dengan dedaunan kecil yang jatuh sesekali menerpa tubuhnya. Menciptakan sebentuk ukiran teramat manis dari kedua sudut bibirnya.

Angin pun berhembus, mengantarkan bau hujan yang hendaknya ingin menyapa daratan. Mata Kyuhyun terpejam pelan, menikmati belaian lembut sang angin yang melempar dirinya kembali pada musim gugur tiga tahun silam.

.

.

.

 “Yaa!! Jangan mendahuluiku!”

Gadis itu mendengus saat lagi-lagi Kyuhyun tak membiarkannya menang. Sebagus apapun sepeda yang ia gunakan, masih saja tak mampu mengimbangi kayuhan kaki Kyuhyun yang jenjang. Pagi itu sedikit mendung saat Kyuhyun mengajaknya bertanding sepeda di taman tepi sungai Han.

Jarak berapa meter, Kyuhyun baru sadar ia tak lagi dikejar. Gadis itu malah diam dengan mata terpejam kala sapuan angin datang menghampirinya. Yah, Kyuhyun tahu gadisnya memang menyukai momen seperti itu. Kala langit beranjak mendung, serta hembusan angin yang samar membawa aroma khas hujan. Entah apa menariknya fenomena alam itu, namun tampak jelas dia sangat menikmatinya.

Suatu ketika, Kyuhyun yang penasaran pun bertanya “Yonghoon-ah, mengapa kau sangat menyukai hujan?”

Gadis manis itu tersenyum. Membuat kelopak matanya menyempit hingga manik indah itu nyaris tenggelam didalam sana. Jujur saja, ini satu dari sekian banyak alasan mengapa Kyuhyun sangat mengagumi sosok jelita Yonghoon.

“Aku memang menyukainya. Tapi aku lebih suka suasana setelah hujan. Ada perpaduan rasa yang aneh saat hujan mulai reda. Semacam rasa tenang, nyaman, namun juga sesak, rindu, dan rasanya aku ingin menangis dalam waktu bersamaan.”

“Menangis? Apa hujan mengingatkanmu pada hal yang buruk?” disaat Kyuhyun mulai khawatir, namun ternyata gadis itu menggeleng. “Lalu?”

“-Jisun- Hujan selalu mengingatkanku padanya” terang gadis bermanik coklat itu seraya mengangkat sekilas kedua sudut bibirnya.

Kyuhyun mengerti sekarang. Mengapa hujan meninggalkan kesan tersendiri untuk gadisnya. Yonghoon memang sering menceritakan kisahnya bersama seorang gadis bernama Song Jisun. Jauh sebelum Kyuhyun mengenal sosok Yonghoon, gadis itu pernah memiliki seorang teman yang amat dia kasihi. Tampaknya mereka berdua sangatlah dekat, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya sejak Jisun memutuskan pergi, sampai sekarangpun Yonghoon masih sering membahas soal dirinya.

Masih terukir jelas dibenak Yonghoon, bagaimana detik-detik perpisahan mereka. Hari itu sedikit mendung. Langit masih menyisakan tetes demi tetesan air hujan yang jatuh melalui atap pemberhentian kereta. Suasana yang sama saat pertemuan pertama kali mereka.

.

-Han Baram-

.

“Ya!! Sampai kapan kau akan bermain ayunan? Ayo pulang, hujan akan segera turun”

Seruan itu berasal dari bocah lelaki belasan tahun pada gadis kecil berbaju biru yang tengah asik memainkan ayunan beberapa meter tak jauh dari Kyuhyun. Meski berhasil menariknya lepas dari untaian kenangan dimasa lalu, namun nyatanya hal itu tak berlangsung lama. Ia kembali dipaksa membuka lembaran usang yang masih terukir jelas dalam ingatannya.

Entah dorongan apa hingga Kyuhyun memilih bangkit dan menghampiri benda yang kini masih bergerak sendiri sejak ditinggalkan kedua anak tadi. Alih-alih menaikinya, Kyuhyun malah menatap lekat ayunan itu dengan sorotan yang terlampau pilu.

Masih basah dalam ingatan Kyuhyun, betapa dulu gadisnya sangat menyukai mainan ini. Bahkan setiap mereka datang kemari, Yonghoon selalu meluangkan waktu barang sebentar saja untuk memainkannya. Padahal tak lebih dari sebilah kayu yang terhubung pada sepasang tali, yang akan membawa tubuhnya melayang kedepan dan belakang secara bergantian, tapi bahkan Yonghoon sampai tega mengacuhkannya.

Kecintaan Yonghoon terhadap benda itu kadang membuat Kyuhyun merasa kesal. Terutama malam itu. Saat musim gugur memasuki titik akhir. Dimana suhu udara akan semakin dingin dan siap mengantarkan butiran-butiran salju yang mampu membekukan apapun di luar sana.

.

-Han Baram-

.

Malam itu, sampailah Kyuhyun pada sebuah taman dekat Sungai Han bernama Yanghwa. Sebelumnya ia sempat memacu kendaraan menuju flat dimana Yonghoon tinggal. Dua jam lebih Kyuhyun terlambat, jadi mustahil Yonghoon masih berada di café yang ia janjikan untuk bertemu. Setidaknya itu pemikiran Kyuhyun. Namun setelah mendapati flat itu kosong, Kyuhyun pun panik  dan mengira Yonghoon masih menunggunya disana. Sayangnya, ia harus kembali kecewa saat tak menemukan sosok Yonghoon di dalam café itu.

Tapi Yonghoon tipe yang mudah ditebak, jadi bukan perkara sulit untuk menemukannya. Terlebih bagi seorang Kyuhyun yang terlalu hafal dengan tingkat kebosanannya. Mana mau Yonghoon menunggu berjam-jam tanpa melakukan sesuatu. Kyuhyun yakin dia kabur ke taman samping cafe itu, setidaknya disana dia akan menemukan benda yang amat disukainya. Dan benar saja, gadis itu tengah asik bermain ayunan seorang diri.

“Ku kira kau takkan datang” cibirnya pada Kyuhyun yang masih dengan napas memburu. Ia berlarian di tengah salju demi menyingkat waktu.

“Mianhae, ada rapat mendadak jadi aku…”

“Arra, Sekretarismu sudah memberi tahuku”

“Jeongmal?” Baguslah Kyuhyun lolos dari amukan Yonghoon kali ini. Tapi mengapa sekretaris Kim tak memberitahunya? Ingat Tuan, siapa yang langsung kabur sedetik setelah rapat itu usai. Mana sempat pria itu melakukannya “Lalu kenapa kau masih disini?”

“Aku bosan dirumah sendirian. Kau yang harusnya menemaniku hari ini, malah sibuk dengan duniamu sendiri”

“Bukan begitu Yong, aku benar-benar minta maaf karena…”

“Arrayo… Arraseoyo… lagipula masih ada lain waktu”

Senyum Kyuhyun mengembang mendengar ungkapan itu. Dia tahu Yonghoon pasti mengerti. “Oke, minggu depan kita kencan. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu di hari itu”

Ini baru bayaran yang setimpal. “Oke, setuju. Tapi sebelum itu, dorong aku dulu!” titah Yonghoon tak terbantahkan. Dia sudah tak sabar menunggu Kyuhyun mengayunkannya.

“Hei ini sudah malam, lebih baik kita pulang”

“Ck, sebentar saja” dan pada akhirnya Kyuhyun tetap menurutinya.

.

-Cinta itu seperti angin, melewatimu begitu saja-

-Han Baram-

.

“Kau yakin mau menaikinya?”

Tanya Kyuhyun sebelum memesan tiket bianglala, dia hanya ingin memastikan saja. Kenapa?  Karena itu hal teraneh kedua yang mereka lakukan sepanjang kencan ini. Bukan apa-apa, ini hanya tidak biasa. Sebelumnya mereka sempat berkeliling ditaman bunga. Padahal Song Yonghoon yang dia kenal bukanlah seorang pecinta bunga. Dia lebih senang bila Kyuhyun memberinya cemilan, coklat, atau kue daripada sekuntum mawar merah merona.

“Apa salahnya kita coba?”

Dan termasuk bianglala. Dapat darimana ide menaiki benda seperti ini? Hey, mereka bukan tipe romantis yang gemar menghabiskan waktu kencan di dalam sangkar burung yang terbang ke angkasa. Ada-ada saja. Tapi apa daya seorang Kyuhyun? Dia telah berjanji akan mengabulkan semua permintaan Yonghoon seharian ini, bukan? Sebagai bayaran atas gagalnya kencan mereka minggu lalu.

“Ini tidak teralu mengecewakan. Lihat, ternyata Seoul begitu indah Kyu”

Yonghoon tampak antusias, padahal bagi Kyuhyun itu biasa saja. Mungkin lain halnya bila mereka naik ini di malam hari. Seperti yang pernah ditontonnya di TV, Seoul akan menjelma bak lembah bertabur bintang jika dilihat dari ketinggian ini. Tapi baiklah, melihat Yonghoon tersenyum saja cukup membuat Kyuhyun senang. Karena baginya, pemandangan terindah di dunia ini adalah senyuman di wajah Yonghoon.

“Kudengar bianglala begitu popular dikalangan pasangan muda. Mereka bilang, selain pemandangan yang mereka dapatkan, suasananya juga mendukung untuk melakukan hal yang romantis seperti berciuman. Aku juga sering melihatnya di drama”

“Benarkah?”

“Mmm”

Cup…

“Seperti ini?” serangan mendadak Kyuhyun.

“Heheiii… Kau mulai terbawa suasana Kyu?” Yonghoon meledek.

Cup…

Hening sesaat. Oke, untuk kecupan pertama tak masalah bagi Yonghoon, tapi dikecupan kedua ia merasa dipermainkan. “Geumanhera…!!”

Cup…

Astaga… “Ya!! Cho Kyuhyun!! Lakukan dengan benar jika kau memang menginginkannya!” rontok sudah kesabaran seorang Yonghoon. Pria itu sengaja mempermainkanya atau apa?

“Shireo” jawab Kyuhyun enteng. Benar bukan? Dia hanya ingin menggoda Yonghoon.

“Kau mau mati hah?”

Tebak betapa malunya Yonghoon! Kalau begini ceritanya terlihat jelas siapa yang sebenarnya menginginkan ciuman itu. Yonghoon semakin kesal melihat Kyuhyun tertawa atas kemenangannya. Mungkin perlu diralat! Memandang senyum dan tawa Yonghoon memang sangat menyenangkan, tapi menggoda Yonghoon akan lebih menyenangkan lagi. Mendapati muka sebal Yonghoon saat digoda tampaknya sebuah kepuasan tersendiri bagi Kyuhyun.

.

-Han Baram-

.

“Untuk apa kita kemari?”

Heol. Kini giliran Kyuhyun yang protes. Bagaimana tidak? Dari sekian banyak tempat berkencan, mengapa Yonghoon memilih tempat yang super jorok dan bau ini? –Yah, setidaknya itu pendapat Kyuhyun- Apa gadis itu sengaja menghukumnya karena masalah tadi? Ohh, ayolah…

“Setelah melewati pasar ikan ini, kita akan sampai di pantai berpasir putih. Disana terkenal dengan sunsetnya yang indah, apa kau tidak tahu?”

Peduli apa Kyuhyun pada sunset? Yang jelas dia paling tidak suka dengan pasar ikan. Seumur hidup dia sangat benci bau menyengat, terutama bau amis ikan. “Tak bisakah kita langsung kepantai saja Yong?”

“Andwae!! Aku sengaja kemari untuk mencicipi udang goreng yang mereka jual di sepanjang pasar”

Habislah Cho Kyuhyun! Ini sungguh mala petaka. Harus dengan cara apa dia membujuk Yonghoon sekarang “Tapi Yong, kau tahu kan aku…”

“Kyu!! Janji adalah hutang, kau ingat itu bukan?”

Sial. Kyuhyun mengutuk mulutnya yang dulu sesumbar ingin mengabulkan semua keinginan Yonghoon. Ini senjata makan tuan namanya. Lagipula siapa yang menyangka Yonghoon akan membawanya ke tempat seperti ini.

“Gunakan masker bila kau memang tak tahan dengan baunya! Aku janji ini tak akan lama”

Kyuhyun tak merespon, moodnya sudah hancur. Dia hanya mengambil sebuah masker lalu turun dari mobil. Yonghoon yang melihatnya serasa ingin tertawa. Hey, apa ini memang rencana bulusnya? “Kkk~ Kita satu sama Kyu” gumamnya puas tanpa bisa didengar oleh Kyuhyun. Benar! Dia memang sengaja.

“Ahhk…”

Tanpa diduga saat Yonghoon keluar dari mobil, rasa aneh itu kembali menyerang bagian dalam perutnya. Sedikit nyeri meski tak terlalu sakit. “Wae geurae?” Kyuhyun penasaran.

“Eoh? Anniya, gwaenchana. Kajja!”

Wahh… Ini benar-benar surga sekaligus neraka. Tentunya tergantung dari sudut pandang siapa. Bagi Yonghoon yang memang suka seafood, ini sungguh tempat yang cocok. Bahkan tak hanya udang goreng yang bisa ia cicipi disana, cumi dan gurita pun bisa ia temukan dengan mudah. Tapi bagi Kyuhyun, jangan ditanya! Sepanjang perjalanan yang dia lakukan hanya mengutuk pejabat sekitar yang telah membangun pasar sepanjang ini. Selama dia belum menemukan pasir putih di ujung pasar, itu berarti perderitaannya belum berakhir. Jadi bersabarlah Cho Kyuhyun! Ingat! Janji adalah hutang.

Setelah hampir tiga puluh menit mereka berkelana, Yonghoon tampaknya mulai kelelahan. Rasa sakit diperutnya pun kian menjadi. Bahkan keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuhnya. Yonghoon rasa ini sudah waktunya dia istirahat sejenak.

“Yonghoon-ah, kau tampak pucat. Apa kau sakit?” Kyuhyun yang sadar dengan keadaan Yonghoon, kini mulai panic. Terlebih melihat Yonghoon yang tiba-tiba memegangi perutnya. “Eodi appo?”

“Kyu, sebenarnya perutku mulas sejak tadi”

“Mwo?” Mungkin dikiranya Yonghoon sakit apa. Kyuhyun menyesal telah khawatir. “Itu akibatnya bila terlalu banyak makan” cibir Kyuhyun.

“Kau pergi dulu saja! Sewalah tikar pada seorang penjaga pantai, dan jangan kemana-mana. Tunggu aku disana, arrachi? Aku cari toilet dulu” selepasnya Yonghoon langsung lari meninggalkan lelaki itu.

“Ya!! Yonghoon-ah!!” bahkan teriakan Kyuhyun pun diabaikan begitu saja.

Kyuhyun sempat celingukan kesana kemari, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah dia menyusul Yonghoon? Tapi mencium bau ikan saja serasa dia ingin muntah, apa jadinya bila ditambah dengan bau toilet yang pastinya… ahh, Kyuhyun tak sanggup lagi mendeskripsikannya. Mungkin lebih baik turuti kata Yonghoon. Setidaknya disana dia bisa bernapas lega.

.

Han Baram

.

Dalam sebuah ruang sempit berukuran kurang dari satu kali satu setengan meter, Yonghoon meringkuk di salah satu sudutnya. Setelah memuntahkan semua yang dimakannya tadi, rasa sakit itu malah kian menyiksa. Hingga terpaksa dia mengigit kemejanya sendiri untuk mengalihkan sakit yang menggila. Sungguh Yonghoon mengutuk kanker lambung yang tengah ia derita. Mengapa harus kambuh disaat seperti ini? Tak bisakah ia menahannya sebentar lagi? Paling tidak tunggu sampai kencan ini selesai.

Namun tak dipungkiri, ini terjadi berkat kesalahannya sendiri. Andai saja kala itu dia menuruti saran  Dokter untuk istirahat total, mungkin akan lain ceritanya. Tapi bagaimana dengan kencan mereka? Mana mau Yonghoon diam dirumah, dan melewatkan kencannya begitu saja. Ayolah, setidaknya selagi Yonghoon bisa, dia ingin menghabiskan waktunya bersama Kyuhyun.

Lambat laun, rasa nyeri itu mulai berkurang sedikit demi sedikit. Tampaknya pil obat yang sempat ditelannya tadi, kini mulai bekerja. Untung saja ini tak memakan waktu lama. Tak salah dia membeli obat berdosis tinggi itu, meski harus melewati perdebatan hebat dengan sang Dokter. Dia melarang Yonghoon mengkonsumsi obat itu karena efek samping yang ditimbulkan akan sangat membahayakan organ tubuh yang lain. Tapi apa Yonghoon peduli? Toh semua organ dalam tubuhnya telah rusak berkat sel kanker itu. Bahkan dokter telah mengfonis hidupnya takkan lama lagi. Sebentar saja, paling tidak sampai dia puas dengan acara kencannya ini.

Merasa kondisinya membaik, gadis itu kemudian bangkit dan keluar dari ruang sempit itu. Berjalan menghampiri sebuah cermin besar yang tersedia, dan mulai mengeluarkan alat make up dari dalam tasnya. Ia tak boleh terlihat pucat didepan Kyuhyun, atau pria itu akan curiga nanti. Ketika hendak memoleskan bedak itu di wajahnya, gerakan Yonghoon tiba-tiba terhenti. Merasa benci melihat dirinya seperti ini. Kacau dan menyedihkan.

Mengapa ini harus terjadi padanya? Mengapa penyakit sialan ini harus menyerang tubuhnya? Mengapa Tuhan tega melakukan ini padanya, dan masih banyak lagi hal yang tidak dia mengerti tentang penderitaannya. Terlebih penyakit yang tiba-tiba datang menghancurkan dirinya beserta mimpi-mimpi indahnya. Tapi apalah daya, semua usaha telah ia lakukan. Nyatanya sel kanker itu tetap datang dan datang lagi menghampiri tubuhnya. Mungkinkah ini memang takdir yang harus Yonghoon jalani? Meratapi sisa hidup yang tak lama lagi? Entahlah, mungkin Tuhan telah menyiapkan rencana yang lebih indah di alam sana.

 .

-Cinta bukan hanya tentang kebersamaan-

-Cinta bahkan mampu mengantarkan kita pada perpisahan-

 .

Berteman riuhnya angin serta gulungan ombak yang datang silih berganti. Menyapa tiap butiran pasir putih terhampar disepanjang bibir pantai. Tak lupa sembari menghitung detik demi detik kepergian sang mentari. Disanalah Kyuhyun dan Yonghoon kini berada, duduk berdampingan beralaskan sebuah tikar jerami. Tenggelam dalam suguhan senja yang sayang untuk dilewatkan.

“Kyu…” gumam Yonghoon tanpa berniat mengalihkan focusnya dari senja yang hilang ditelan cakrawala.

“Mmm?”

“Kau tahu, semua tempat yang kita datangi hari ini adalah tempat kesukaan Jisun”

Kyuhyun tersenyum disela hembusan napas pelannya. “Sudah kuduga. Kau yang biasanya memilih kencan di toko kue tiba-tiba menyeretku ke taman bunga. Dan soal bianglala, itu juga bukan gayamu Yong. Wae? Kau merindukannya?”

Tertangkap basah lagi. Yonghoon memang paling payah dalam urusan menyembunyikan perasaan. “Ommo… Rupanya kau begitu memahamiku. Hahaha…” kelakarnya meski tiada hal yang lucu. Malah terdengar seperti menertawakannya diri sendiri. “Ya, belakangan ini aku sangat merindukannya. Andai saja kini dia ada bersama kita. Pergi bersama, bermain bersama, pasti akan sangat menyenangkan”

“Kenapa tidak mencoba mencarinya?”

Dahi Kyuhyun berkerut sebagai reaksi atas gelengan Yonghoon. “Dia bilang akan kembali suatu saat nanti. Saat dirinya berhasil menjadi designer yang sukses, bahkan dia bilang akan memamerkannya padaku. Hahaha… Jadi hingga saat itu tiba, dia melarangku untuk mencarinya”

“Itu konyol” celetuk Kyuhyun. Mungkin tak hanya Kyuhyun yang berpikiran bahwa ini sungguh tak masuk akal. “Kalian seperti pacaran saja. Sebenarnya kekasihmu itu aku atau dia?”

“Hohooo… Kau cemburu ya?”

“Ya. Aku cemburu”

Ahh… Rasanya gemas bila melihat Kyuhyun yang manyun saat merajuk seperti itu. Bahkan Yonghoon tak kuasa menahan diri untuk tak mencubit kedua pipi gempal milik prianya itu. “Neomu giyowo” ledeknya yang langsung ditepis oleh Kyuhyun.

“Kau hanya tak tahu dia, Kyu. Jika sudah mengenalnya, kau pasti akan sangat menyukainya”

“Yakin kau akan rela bila aku menyukainya?”

Tampaknya Yonghoon salah bicara, dia tak sadar dengan apa yang dia katakan. “Ya!! Bukan itu maksudku!!”

Heol, kini giliran siapa yang cemburu? Tak butuh waktu lama bagi seorang Cho Kyuhyun untuk memutar balik keadaan. Terlebih hanya soal menggoda Yonghoon, bukan perkara sulit baginya. Bila Yonghoon lengah sedikit saja, otomatis akan berubah menjadi kesempatan emas bagi Kyuhyun.

“Kyu…”

“Mmm?”

“Jika suatu ketika kau bertemu Jisun, sampaikan salamku padanya ya!”

Kyuhyun berdecak. “Jangankan salam. Akan kubawa dia menghadap langsung padamu”

“Hahaha… Kau janji?”

“Mmm, tentu saja”

Sungguh janji yang amat dia harapkan. Harusnya Yonghoon senang mendengar apa yang Kyuhyun janjikan. Tapi senyuman di bibirnya seolah tak memancarkan aura kebahagiaan. Terdapat segaris kepedihan dalam sorotan manik coklatnya. Meski bibir itu tersenyum, tapi mungkin diam-diam hatinya sedang menangis. Hanya saja, Yonghoon tak ingin menunjukannya pada Kyuhyun, dia tak ingin pria itu tahu.

“Kyu…”

“Mmm?” 

“Aku lelah sekali. Boleh aku tidur di pangkuanmu?”

Untuk kesekian kalinya dahi Kyuhyun berkerut. “Seharian ini kau manja sekali?” Tak biasanya Yonghoon bertingkah seperti ini. Apa dia salah mimum obat tadi pagi? Masa bodoh dengan kicauan Kyuhyun, Yonghoon pun bangkit dan seenaknya duduk di pangkuan Kyuhyun. Menyandarkan punggung sempitnya ke dada bidang milik prianya itu. Dikiranya dia anak kecil apa? Kyuhyun sempat kuwalahan menopang berat badan Yonghoon. Meski awalnya dia ingin protes, tapi jarang-jarang Yonghoon bersikap manis. Jadi, sudahlah…

“Kyu…”

“Apa lagi?”

“Nyanyikan sebuah lagu untukku!”

Gadis itu benar-benar! Bahkan kini Kyuhyun sulit bernapas karena dirinya. Belum genap lima menit memangku Yonghoon saja punggungnya sudah pegal. Tega-teganya Yonghoon masih menyuruh Kyuhyun bernyanyi. Ohh, andai sesuatu muncul di belakang tubuhnya saat ini, Kyuhyun ingin bersandar meski sebentar saja.

“Shirreo”

“Ayolah Kyu! Aku rindu saat-saat kau bernyanyi untukku”

“Aku bilang tidak mau, Yonghoon-ah”

“Ck, baiklah. Akan ku beri ciuman  setelah itu. Bagaimana?” Heol, penawaran yang bagus Nona!

“Jangan bercanda! Yang selalu kudapat setelah bernyanyi hanyalah dengkuranmu Yong, kau tahu?”

Mwo? Yonghoon tak menyangkal kalau dia pasti mengantuk setelah mendengar nyanyian Kyuhyun.  Tapi apa benar dia menendengkur saat tertidur? Yonghoon salah focus. “Se… setidaknya aku bisa menciummu setelah bangun”

“Oke deal! Kali ini ku pegang kata-katamu Yong!”

“Eoh?” Bagus! Tamatlah riwayatmu Nona! Sekali lagi Yonghoon salah memilih kata. Bukan karena dia enggan melakukannya, tapi karena tak yakin apa dia mampu menepati janjinya atau tidak. “Eoh, kita lihat saja nanti”

Setelah mendengar jawaban itu, Kyuhyun pun mulai bernyanyi. Membawakan sebuah lagu yang belakangan menjadi favorit Yonghoon. Lagu yang manis milik Yesung Super Junior yaitu ‘My Dear’. Tiap barisnya Kyuhyun lantunkan dengan sangat merdu, membuat Yonghoon tenggelam dalam alunan nada serta untaian kata-kata indah yang terkandung didalamnya. Serangkaian irama yang perlahan mengantarkan dirinya pada sebuah mimpi indah dalam tidur yang teramat panjang.

.

.

.

“Kyuhyun-ssi…”

 

“Kyuhyun-ssi…”

Tepukan seorang gadis berhasil menarik Kyuhyun keluar dari kubangan masa lalu. Sederet kisah manis nan pilu yang masih tersusun rapi ditiap bilik memori otaknya. Ketika tersadar, sosok cantik itu telah berada di depan mata. Menatapnya dengan penuh tanya.

“Eoh, kau sudah datang?”

“Ne, maaf membuatmu menunggu lama. Terjadi masalah di butik, jadi aku harus segera menyelesaikannya” gadis bermantel biru muda itu merasa sangat bersalah. Tak main-main. Ini lewat hampir satu setengah jam dari waktu yang mereka janjikan.

“Gwaenchanayo~”

Jawaban Kyuhyun membuatnya makin tak enak hati. Tentu saja, padahal belum genap sebulan mereka berteman, tapi ia sudah mengecewakan Kyuhyun. “Ngomong-ngomong, kau sedang apa disini? Apa kau suka bermain ayunan?”

Sebuah gerakan kecil timbul dikedua sudut bibir Kyuhyun, sebelum fokus yang semula mengarah pada sepasang manik indah dihadapannya, kini beralih pada ayunan yang tadi sempat ia duduki. Dengan tatapan penuh arti, seolah dalam benda itu tersimpan berjuta kenangan yang takkan pernah bisa ia lupakan. “Ya, aku sangat menyukainya”

Untuk sesaat, keadaan menjadi hening. Gadis itu menyadari satu hal yang berbeda dari tingkah laku Kyuhyun. Berbanding terbalik dengan ungkapan Kyuhyun sebelumnya, yang ia temukan hanya sebuah tatapan pilu, sorot mata yang menyimpan setumpuk kepedihan didalamnya. Membuat sosok Kyuhyun begitu sempurna, sekilas kini tampak rapuh dimatanya.

“Hahaha… Benarkah? Lucu sekali” memutar otak agar suasana mencair. Gadis itu tak ingin Kyuhyun semakin larut dalam kesedihan. “Aku heran, kenapa banyak orang yang menyukai permainan ini? Dulu aku punya seorang teman, dan dia juga sangat menyukai ayunan”

Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum mendengar penuturan gadis itu. “Ya, aku tahu”

“Mwo?” sempat terkejut. Rasanya dia belum pernah menceritakan tentang hal itu pada siapapun termasuk Kyuhyun. “Dari mana kau tahu?”

Kyuhyun tak menjawab. Cukup paham dengan siapa yang sebenarnya gadis itu ceritakan. Seseorang yang juga sangat Kyuhyun kenal, bahkan tak hanya itu. Dia adalah orang yang sangat Kyuhyun cintai, bahkan hingga detik ini.

“Jisun-ssi, ikutlah denganku sekarang” pinta Kyuhyun pada gadis itu.

“Kemana?”

Song Jisun, gadis berambut ikal itu tersentak saat Kyuhyun tiba-tiba menggenggam tangannya. Untuk pertama kali ia merasakan sentuhan hangat seorang Cho Kyuhyun. Pria tampan yang dikenalnya saat di pesawat sebulan lalu. Entah takdir apa yang mempertemukan mereka. Hingga Kyuhyun yang kala itu duduk disampingnya, tiba-tiba mengajak dia bicara.

“Jisun-ssi, ada yang merindukanmu selama ini”

Semakin tak mengerti dengan tingkah laku Kyuhyun. Bahkan dirasanya arah bicara Kyuhyun semakin melantur. Mereka belum lama berteman, tapi pria itu bersikap seolah tahu banyak tentang dirinya. “Kau ini bicara apa Kyuhyun-ssi? Memang siapa yang merindukanku?”

Kyuhyun tersenyum lantas mengeratkan tautan jemari mereka. Membuat debaran itu semakin menggebu dia hati keduanya. “Kau akan tahu nanti, kajja!”

Mungkin tiba saatnya bagi Kyuhyun untuk menepati janji. Sebuah janji yang dulu pernah dia buat untuk gadisnya. Janji untuk membawa seseorang bernama Song Jisun itu ke hadapannya. Tapi, benarkah semata-mata hanya karena janji itu?

Saat berusaha mencari keberadaan Jisun setengah tahun lalu, tak pernah terlintas satupun tujuan lain dalam benak Kyuhyun. Yang dia inginkan hanyalah membawa gadis itu kembali ke Korea meski untuk sementara. Sampai ia berhasil mempertemukan gadis itu dengan Yonghoon, agar janjinya itu terlunasi dan ia bisa hidup dengan tenang. Kyuhyun seolah terbelenggu dalam dunianya bersama Yonghoon berkat janji itu.

Namun setelah menemukan gadis bernama Jisun itu disebuah tempat di kota Paris, tiba-tiba Kyuhyun merasa enggan menemuinya. Dia malah larut dalam persembuyiannya mengintai Jisun. Entah apa yang salah pada dirinya kala itu, hingga sosok Song Jisun perlahan mulai menyita perhatiannya. Mungkin benar kata Yonghoon, Jisun adalah gadis yang menarik.

Dan apakah Tuhan mendengar doanya selama ini? Bahkan sebelum Kyuhyun menemui Jisun untuk meminta dia ikut dengannya, gadis itu ternyata memang berniat pulang ke Korea. Kyuhyun yang mengetahuinya langsung bergegas ambil tindakan. Jadi tentang pertemuan mereka di pesawat kala itu, masihkah layak disebut takdir? Hey, itu tak lebih dari unsur kesengajaan saja.

Sejak saat itulah mereka berteman. Tak sulit bagi Kyuhyun mengenal sosok Jisun. Terlebih dengan semua kisah yang pernah didengarnya dari Yonghoon. Kyuhyun merasa seperti telah mengenal Jisun sejak lama. Satu hal yang menguntungkan, bukan? Meski Kyuhyun harus tetap bersembunyi dibalik topeng. Merahasiakan siapa dirinya sebenarnya.

Kyuhyun tak mau gadis itu menjauh saat mengetahui kenyataan itu. Sebuah rasa yang aneh pasti akan timbul. Semacam perasaan bersalah yang kini menghantui diri Kyuhyun. Dia tahu ini egois. Bahkan tak hanya kepada Jisun, tapi juga bagi Yonghoon. Bukan Kyuhyun ingin mengkhianati cinta mereka. Tapi harus berapa lama lagi dia hidup seperti ini? Ayolah, ini sudah tiga tahun berlalu. Dia yakin Yonghoon juga pasti akan mengerti.

Meskipun begitu, mau sampai kapan hal itu dia sembunyikan? Cepat atau lambat Jisun pasti akan tahu. Dan sebelum itu berubah menjadi mala petaka baginya, Kyuhyun rasa dia harus mengungkap semuanya.

.

.

“Yonghoon-ah, kau marah padaku bukan? Kau pasti marah padaku. Dulu… saat jantungmu tak lagi berdetak, kupikir jantungku juga ikut berhenti. Namun belakangan ini, dia mulai bergerak sendiri. Maaf… Mungkin cintaku tak sepenuhnya milikmu lagi. Meskipun begitu, kau akan tetap  ada disini… di dalam hati kecilku”

.

.

-Cinta itu seperti angin, melewatimu begitu saja-

-Tapi kenangan akan selalu ada, tersimpan selama-lamanya-

 

 

_The End_

tumblr_ngb8suPxYJ1u5taugo8_1280

Wahhh… pertama kalinya aku bikin model kayak gini. Bagi kalian yang setia membaca coretanku, pasti tahu letak perbedaannya. #hahaha… yang sudah membaca, tolong tinggalkan komentar! atau aku takkan mengijinkan kalian pulang!! Arrachi!! kkk~

Advertisements