Sebuah kesalahan  mengenakan topeng cinta

Membuat semua rasa menjadi hambar

Hal pertama yang Yesung temukan ketika kembali ke apartementnya adalah sepasang sepatu wanita di depan pintu. Rasa penasarannya semakin besar manakala ia juga mendapati beberapa pasang sepatu dan sandal wanita yang tentu saja bukan miliknya berjajar rapi di rak sepatu sepanjang lorong yang menghubungkan pintu dengan ruang utama. Yesung masih ingat betul alamat dan no rumah yang pernah ia tinggali. Hanya dua tahun tinggal di Jepang tidak membuatnya lupa apa saja yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Bahkan ia masih ingat dimana letak sakelar yang menerangi ruang utama. Kakinya melangkah menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, mencoba mencari hal-hal yang mungkin bisa mengejutkannya lagi dan benar saja ia menemukan gelas bekas susu yang masih baru dipakai di wastafel. Matanya mengedar keseluruh penjuru ruangan mencoba mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang tanpa sepengetahuan mendiami rumahnya.

“Kau siapa?” Yesung menyipitkan mata mengamati setiap jengkal wanitamuda yang ada di depannya.

“Aku..Ji Sun.”

Wanita muda yang mengaku bernama Ji Sun itu menunduk dalam, meremat ujung piama baby bluenya. Ia tidak tahu siapa pria yang menatap mengintimidasi di depannya kini.  Tadi Ji Sun sedang membaca buku di dalam kamarnya dan tiba-tiba seseorang membuka pintu sangat keras yang membuatnya terkejut dan takut.

“Aku tidak sedang bertanya siapa namamu Nona. Yang ku tanyakan kau siapa, orang asing yang tinggal di rumah ku dan tanpa seijinku. Seingatku aku belum menjual atau menyewakannya. Apa kau maling? Aa.. mana ada maling yang tinggal di tempat orang. Lalu apa namanya?”

“Maaf.”

“Aku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu, yang ku minta adalah penjelasan kenapa kau berada di rumahku,” pria berambut merah gelap itu berteriak kalap. Suasana hatinya sedang tidak bagus ditambah seorang wanita asing sedang mengkerut ketakutan di hadapannya.

“Baiklah, beritahu aku siapa yang mengijinkanmu tinggal di sini. Aku tidak akan membentakmu lagi,” suara Yesung melunak. Wanita di depannya benar-benar ketakutan, bibir pucat itu bergetar. Jika saja Yesung tidak mau menekan egonya mungkin bibir  itu akan berdarah karena digigit sebagai pelampiasan rasa terancamnya.

“Song Yong Hoon. Dia yang menyewakannya padaku. Dia bilang rumah ini tidak ada yang menghuni jadi aku menyewanya,” terang Ji Sun. Suaranya bergetar dan matanya mulai berkabut.

Yesung mengumpat pelan tapi cukup jelas didengar Ji Sun. “Berapa lama kau menyewanya?”

“Setahun, dan sudah berjalan empat bulan.”

“Begitukah? Begini saja, aku akan mengganti uang sewamu selama delapan bulan kedepan dan tinggalkan rumahku.”

Ji Sun terkejut. Bagaimana bisa pria asing yang tiba-tiba mengaku sebagai pemilik rumah yang disewanya ini  berkata kasar dan mengusirnya dipertemuan pertama mereka.

“Maaf, aku tidak bisa. Yong Hoon bilang aku bisa tinggal di sini sampai kapanpun aku mau. Kau harus bicara dengan Yong Hoon jika ingin mengusirku.”

“Sial! Ini rumahku kenapa harus aku yang meminta ijin pada gadis itu. Seharusnya kau menyewa rumah ini dari ku bukan gadis sialan itu. Jadi nona, aku tak butuh ijin dari siapapun untuk mengusirmu atau tinggal di tempatku.”

Ji Sun menatap Yesung dengan perasaan campur aduk. Dia marah dan merasa direndahkan, juga kecewa.

“Kemasi barang mu dan tinggalkan tempat ini.”

“Shireo.”

“Jangan khawatir, aku akan mengganti uang sewamu.”

“Shireo.”

“Jangan keras kepala. Tempat ini milikku dan aku punya hak penuh atasnya.”

Demi Tuhan bagaimana pria ini tidak peka dan berperasaan. Tiba-tiba mengusirnya. Sekarang malam dan di luar salju sedang turun lebat. Setidaknya biarkan malam ini ia berkemas kemuadian besok pagi baru pergi.

“Keluarlah! Kau bisa menginap di hotel atau menghubungi gadis itu dan ambil barangmu besok pagi,” kata Yesung  setelah memberikan beberapa lembar uang di genggaman Ji Sun.

“Shireo.” Ji Sun melempar uang di genggamannya hingga bertaburan saat lembaran bernilai won itu menghantam dada bidang pria yang kini menatapnya nyalang.

Tersulut emosi Yesung menyeret paksa Ji Sun hingga teras depan. Kemudian kembali ke dalam dengan rasa marah. Seumur hidupnya baru kali ini ia berbuat kasar hingga menyeret seorang wanita. Dua tahun tinggal di Jepang membuatnya berubah.

Yesung masuk ke dalam kamarnya yang beberapa bulan ini menjadi kamar Ji Sun. Merebahkan sebagian tubuhnya pada kasur empuk itu. Matanya terpejam dan pikirannya melayang ke Jepang. Hatinya menganga kembali mengingat alasannya kembali ke Korea. Sebulan yang lalu –di Jepang, kekasihnya tiba-tiba memutusnya. Seminggu kemudian ia mendapat kabar jika mantan kekasihnya itu akan menikah dengan seorang caebol Jepang. Dan sialnya yang mencuri kekasihnya itu adalah saingan bisnisnya sendiri. Lebih menyedihkannya lagi saat Yesung tahu jika ia kehilangan calon anaknya, kekasihnya yang berkhianat itu membunuh jabang bayi mereka yang baru berumur dua bulan tak genap tanpa sepengetahuannya. Saat itulah Yesung meresa hidupnya benar-benar hancur, tak lagi memiliki alasan melanjutkan hidup. Bahkan ia sempat menjalani terapi depresi selama dua minggu, hingga dokter pribadinya menyarankan untuk pergi berlibur meninggalkan tetek bengek urusannya di Jepang –dan Korea menjadi obsinya. Mungkin dengan kembali ke tanah kelahirannya bisa sedikit mengurangi sakit hatinya yang terlampaui dalam.

Yesung meraih bantal untuk menutupi wajahnya saat sebulir air mengalir dari celah sudut matanya dan aroma lilac menguar dari kain yang membungkus bantal itu. Bayangan saat ia menyeret Ji Sun tadi tiba-tiba muncul mengusiknya. Menyingkirkan bantal dengan aroma yang Yesung sukai sejak beberapa menit lalu kemudian mengamati sekeliling isi kamar yang hampir dua tahun ia tinggalkan. Interiornya tak berubah bahkan tatanannya juga, hanya beberapa perlengkapan yang ditebaknya milik Ji Sun tertata rapi di atas nakas dan Yesung mendecih saat melihat kain siphon membentang menutupi jendela kaca kamarnya, jelas saja itu bukan gayanya dan satu hal lagi yang Yesung baru sadari, terdapat lilin aroma terapi di meja kecil yang berada di tengah kamarnya.

Ding dung..

 

Yesung mencari asal suara yang menurutnya dari sebuah handphone, bukan miliknya. Yesung bangun dan menumpuk dua buah bantal untuk menyenderkan punggungnya yang terasa kaku. Meraih benda pipih yang tadi mengeluarkan bunyi di atas nakas. Saat rasa penasaran mendominasi rasa bersalahnya, Yesung menggeser screenlock handphone itu. Tanpa disadari sisi sudut bibirnya melengkung saat tahu handphone itu tidak dikunci. Sebuah figure pria muda berseragam militer sedang memeluk Ji Sun dengan senyum bahagia berlatar bandara menjadi wallpaper utama. Yesung mencebik saat melihat figure Ji Sun melakukan hal yang sama.

Ji Ji  maafkan aku. Sepertinya besok aku tak bisa mengantarmu cek up. Tiba-tiba ibu mertuaku sakit dan aku harus berangkat kesana malam ini. Maafkan aku eoh.

-Dari Rhae Hoon.

 

“Cek Up?” desis Yesung tak terlalu peduli.

Jemarinya lancang mencari-cari nama di dalam buku telephone itu, satu orang yang bisa dijadikan kambing hitam atas masalah barunya setiba di Korea. Song Yong Hoon, Yesung bersungut karena tak menemukan nama kontak yang dicarinya. Belum menyerah pria yang belum mengganti setelan kemeja dan celana lenan hitam itu membuka beberapa percakapan tertulis di dalam kotak masuk. Mengumpat geli saat menemukan apa yang dicarinya. ‘Hoonie’ nama kontak itu lengkap dengan photo dua gadis yang saling berpelukan. Rautnya kembali redup saat Yesung menyadari jika kontak id itu terdengar seperti ‘Honey’, panggilan yang sama seperti caranya memanggil wanita yang telah menghianatinya.

“Eoh Ji Sun-ah, wae?” sapa gadis di seberang panggilan.

“Lancang sekali kau menyewakan rumahku pada orang asing.”

“Eoh Kim Jong Woon? Bagaimana bisa kau menggunakan telepon Ji Sun bukankah kau di Jepang?”

“Aku sudah pulang dan mendapati orang asing menghuni rumahku. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Mengusirnya?”

“Andwe! Kau tak boleh melakukannya. Jinjja! Aku akan menjelaskannya”

“Bagaimana ini? Aku sudah terlanjur melakukannya.”

“YA KIM JONG WOON-ssi! Kau tak boleh melakukannya. Aku janji akan menjelaskannya setelah pulang dari Macau. Sekarang dimana Ji Sun?”

“Molla.”

“YA! Kau harus mencarinya sampai ketemu. Jika terjadi sesuatu padanya aku akan menggantungmu.”

TIT

Yesung memutus sambungan teleponenya sepihak. Melemparnya ke ujung ranjang saat benda itu mengalunkan sebuah lagu ballad sebagai ringtoon. Tak sampai satu menit berselang berganti handphonenya yang bergetar. Yesung bisa memastikan jika yang menghubunginya adalah Yong Hoon jadi sudah jelas ia tak perlu mengangkatnya.

Saat hendak mengambil air di dapur Yesung mendapati lembaran uang bertebaran di lantai depan kamarnya. Tiba-tiba perasaan bersalah menggerayanginya. Ia baru sadar jika tindakannya terlalu berlebihan. Rasa sakit hati di hianati kekasihnya telah menggelapkan sisi hangat dalam dirinya. Malangnya Ji Sun yang menjadi kambing hitam kekecewaannya tersebut. Yesung juga tahu jika di luar salju sedang turun deras, tadi pun jalanan begitu licin. Haruskah ia mencari wanita itu? Apa perdulinnya, ia sudah melakukan hal benar. Ini rumahnya dan ia memang berhak. Sisi buruk dalam dirinya berbisik.

“Jong Woon-ah”

Yesung terkejut, seperti mendengar suara lirih ibunya memanggil. Ia berbalik dan tak mendapati siapapun di dalam rumah itu. Jantungnya berdegub, jelas barusan ia mendengar suara ibunya. Mungkin perempuan yang melahirkannya itu juga marah karena ia lama tak mengunjungi makamnya.

“Jong Woon-ah”

Lagi, suara itu terngiang. Yesung hanya mengikuti instingnya berjalan ke ruang depan dari datangnya suara tadi. Dengan  perasaan tak tentu pria itu menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela ruang tamu berniat mengintip keadaan di luar sana, seketika jantungnya bak berhenti berdetak saat melihat figure wanita yang tiga puluh menit lalu ia seret keluar tengah duduk menekuk lututnya di undakan tangga teras. Yesung tak bisa melihat wajah Ji Sun karena wanita itu membelakanginya, wajahnya tenggelam di antara tumpuan lengan kecil  yang memeluk ringkih kakinya.

Demi neraka yang kata orang tempat paling kejam, Yesung menyesal. Mungkin ibunya memang sedang marah padanya karena memperlakukan wanita dengan kasar. Baiklah, pria itu luluh.

Yesung berdehem saat berada di samping Ji Sun. “Mian,” katanya sangat lirih.

Ji Sun mengangkat kepalanya. Mata wanita itu terlihat merah dan sembab. Terkutuklah kau Kim Jong Woon,  apa yang telah kau lakuakan pada wanita yang kini menatapmu sarat akan luka?

Yesung mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya mengusap belakang leher, ia merasa kikuk sendiri setelah apa yang ia lakukan.

Alis pria tiga puluh dua tahun itu bertaut saat Ji Sun meraih uluran tangannya namun tak berapa lama kembali ditarik. Yesung terkejut, ia merasa lucu saja. Ia mengulurkan tangan bermaksud membantu Ji Sun bangun tapi yang di lakukan wanita bermata bulat itu hanya menjabatnya dengan ekspresi redup. Yang benar saja!

“Aku bermaksud membantu mu berdiri,” kata Yesung datar.

Ji Sun yang merasa salah paham menundukkan kepala sambil mengatakan maaf.

“Dengar, aku hanya akan mengatakannya sekali.”

Ji Sun memusatkan perhatiannya, mengantisipasi kesalah pahaman yang mungkin bisa timbul jika ia gagal focus lagi.

Yesung berdehem sekali lagi, ia merasa grogi ditatap penuh antisipasi seperti itu. “Kau boleh masuk.”

Yesung, urung membantu Ji Sun bangun. Pasalnya tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan saat bibir Ji Sun melengkung indah dengan mata bulatnya yang berbinar terang seperti awan putih yang terbias cahaya senja setelah menurunkan bulir-bulir air yang orang biasa sebut hujan.

Salju lembut yang semalam menyelimuti jalanan Seoul mulai mencair oleh hangatnya sinar mentari. Pria yang terlelap di atas ranjang hangat itu terusik dengan alunan melodi dari sebuah handphone yang tergeletak nyaman di sampingnya. Tak perlu bangun atau sekedar membuka mata pria bersurai merah gelap itu meraih dan menggeser panggilan masuk pada handphonenya. Panggilan ditolak. Ia tak ingin diganggu untuk saat ini.

Beberapa saat setelah panggilan kedua yang ia abaikan, handphone hitam itu bergetar mengisyaratkan sebuah pesan masuk.

Angkat panggilanku sialan!

Apa kau sudah menemukan Ji Sun?

Aku akan kembali ke Seoul besok setelah mengurus pekerjaanku. Kuharap kau sudi bekerja sama, Oppa.

-Dari Yongie-

 

“Oppa?” Yesung mendecih setelah membaca kata panggilan dari pesan Yong Hoon. Jadi gadis itu masih menganggapnya saudara? Ini kali pertama Yong Hoon memanggilnya seperti itu setelah peristiwa terkutuk lima tahun lalu. Perceraian kedua orang tuanya yang berimbas menghancurkan keluarga kecil mereka hingga membuat wanita yang dihormatinya itu menghembuskan napas terakhir. Entah karena alasan apa mulai saat itu mereka tak saling menggunakan panggilan saudara. Yesung memilih meninggalkan Seoul dan mengembangkan bisnisnya di Jepang, sedangkan Yong Hoon menyibukkan diri dengan karir modelingnya di Seoul dan cabang di Cina. Ayah mereka? Tak ada yang lagi peduli dengan laki-laki itu, karena menurut mereka laki-laki itulah sumber dari perpecahan kebahagiaan keluarga mereka.

Saat ini Yesung sedang berdiri di ruang tengah, tangan kirinya dimasukkan kedalam kantong celana sedangkan yang satu lagi memegang segelas air es. Pria itu sedang mengamati  Ji Sun yang ternyata tidur di sofa ruang tengah, matanya memicing menangkap kejanggalan dari raut wanita itu, seperti tak nyaman dalam tidurnya. Hanya perasaannya saja atau memang benar, Yesung merasa wajah wanita itu basah oleh keringat, bibirnya pucat dan bergetar. Mendekat atau tidak, pria itu sedang menimbang rasa simpatinya yang telah ternodai.

Sepuluh menit kemudian YEsung diserang kepanikan mendadak. Setelah memastikan lebih dekat Yesung mendapati suhu tubuh Ji Sun sangat panas, napasnya memburu dan kesimpulan singkatnya wanita itu sedang demam. Yesung tak pernah merawat orang sakit sebelumnya, jadi satu-satunya yang terlintas di otaknya briliannya adalah membawa Ji Sun ke Rumah Sakit.

Bersambung…

Ps:      Jong Woon, hanya keluarganya yang memanggil seperti itu

Advertisements