img-20170203-wa0009

_And We_

(Next Story of ‘Welcome Home’)

Klunting…

Pagi itu baru sekitar pukul sepuluh seperempat. Tak heran bila Mouse Rabbit masih terlihat sepi. Paling hanya satu dua pengunjung yang kelewat rajin, datang selang berapa menit setelah café itu buka. Seperti gadis yang baru masuk itu misalnya. Begitu tiba hal yang ditujunya adalah counter bar, lantas mencomot panecake yang semula siap untuk diantar.

“Ya! Itu milik pelanggan Yong!”

Pekik sang koki alias kakaknya sendiri. Namun terlambat karena seper tiga dari kue berlumur madu itu telah terjun ke perut Yong Hoon. Sedangkan sang kakak bernama Jong Jin itu hanya mengelus dada melihat adik semata wayangnya malah tersenyum manis padanya.

“Eomma neun?”

“Ada di dalam bersama Yesung hyung.”

“Yesung oppa? Bukankah dia di Jepang?” Jong Jin hanya berkedik bahu. Ikut heran mengapa si hyung dengan segudang acara di negara tetangga itu tiba-tiba pulang ke rumah.

Tak mau ambil pusing, Yong Hoon lantas berlalu. Namun dilangkah kedua ia kembali berputar. “Oppa, minumanku seperti biasa!”

Lagaknya melebihi Boss besar saja. Apa mentang-mentang dia paling muda? “Aku tak melayani selain pelanggan” dengus Jong Jin yang sialnya malah dibalas senyuman oleh gadis tengil itu.

“Ku anggap itu sebagai ‘Ya’. Saranghae Oppa!”

Chuu~

Rayunya lengkap dengan flying kiss hingga Jong Jin merinding seketika. Bukanya manis, tapi menggelikan sekaligus menyebalkan ketika Yong Hoon yang melakukannya. Apa dia kira semua akan selesai dengan rayuan? Enak saja!

Adalah Kim Yong Hoon, si bungsu dari tiga bersaudara yang merupakan anak gadis satu-satunya. Dan bisa dikatakan itu yang mendasari tindak semena-mena yang melekat pada dirinya. Andaikan dia tak dimanja oleh sang eomma, termasuk kedua oppa yang rela saja menjadi bahan bulian, mungkin tabiatnya tak akan jadi separah ini. Tapi bagaimana lagi? Yong Hoon hanya menjalankan peran sebagaimana si bungsu bukan?

Chuu~

Bibir pinknya hinggap di pipi sang eomma, disela lilitan posesifnya hingga wanita paruh baya itu kerepotan membalik telur di penggorengan.

“Kau datang? kebetulan sekali Eomma memasak omelet kesukaanmu. Tunggulah di meja, Sayang!”

“Arraseo.”

Jangan heran! Kenyataan memang hanya wanita paruh baya itu yang bisa mengendalikan Yong Hoon. Yang lain? Jangan harap dapat melakukannya dengan mudah. Bahkan seorang Kyu Hyun sekalipun.

“Waaahh… Ini dia bocah tengik yang hendak menikah tanpa sepengetahuanku”.

Sang kakak tertua baru muncul dari gudang menyimpanan. Pria ber-sweater pink longgar dipadu celana jeans rombeng itu mendekati Yong Hoon dengan tangan masih terlipat manis di dada. Semanis senyuman miring yang kini melekat di bibirnya. Ditariknya kursi sebelah Yong Hoon, maka introgasi pun siap dimulai. Tapi Yong Hoon yang alergi dengan situasi semacam ini, memilih sibuk dengan ponselnya sendiri.

“Sekarang jelaskan semuanya padaku! Kau tahu? Jantungku hampir copot saat membaca surat kabar itu Yong.”

Yesung meradang. Bagaimana tidak? Pertama, dia tahu kabar Yong Hoon akan menikah melalui sebuah majalah, bukan dari mulut adiknya itu sendiri. Gadis itu benar-benar telah menodai statusnya sebagai kakak tertua. Kedua, alasan yang baginya lebih tidak masuk akal yaitu mengapa Yong Hoon tiba-tiba mau menikah? Yesung tahu persis betapa kejamnya Yong Hoon mengabaikan lamaran Kyu Hyun selama ini. Betapa Yong Hoon mencintai dunia modelingnya hingga engan terikat pernikahan. Lalu mengapa? Atau sesuatu telah terjadi?

“Karena itu kah kau di sini sekarang? Wow… Aku tersanjung Oppa!”

Tentu harus! Tapi yang kini ia butuhkan bukan air mata buaya. “Ya!! Cepat katakan alasanmu atau aku…”

“Ssssttt…!!” Kembali Yesung diabaikan. Mendengus sebal saat kalimatnya ditebang paksa oleh telunjuk Yong Hoon.

“Kyu? Kita bertemu di sana saja. Aku sedang di Mobbit sekarang.”

Entah mungkin sopan santun Yong Hoon sudah menguap seiring bertambahnya usia. Situasi diperparah oleh kakaknya yang hanya diam saja. Oke, anggaplah yang waras yang mengalah. Padahal dijamin Yesung ingin sekali melempar ponsel itu ke tong sampah, tapi sudahlah.

“Mwo?? Ya!! Jangan main-main!! Kau sendiri yang membuat janji.”

“Acara ini sangat penting Yong! Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja,” cicit Kyu Hyun dari seberang.

“Oke, lakukan sesukamu! Tapi jangan menikah denganku. Menikah saja dengan pekerjaanmu itu.”

Tutt…

‘Singa betina sedang mengamuk’ menjadi label yang tertera di jidat Yong Hoon saat ini. Cukup menciutkan nyali seorang Yesung hingga enggan bersuara. Sedangkan Jong Jin yang kebetulan datang mengantar pesanan, lagi-lagi menarik napas dalam. Disodorkannya minuman itu pada Yong Hoon.

“Kenapa hangat?” Belum apa-apa langsung diprotes.

 “Ice coffee bukan pilihan tepat saat udara dingin Yong,” tutur Jong Jin keibuan.

Merasa diperhatikan, Yong Hoon tak banyak protes lagi. Oke, kakak keduanya itu memanglah yang terbaik. Selain perhatian, dia juga sangat pengertian. Beda jauh dengan si tua yang kini hanya duduk diam di hadapannya.

“Bersikap manislah pada calon suamimu, sayang!”

Sang ibu datang dengan nampan berisi empat mangkuk nasi. Meletakkannya di depan para buah hati dan pergi mengambil sub serta omelet yang ia janjikan. Jong Jin yang tanggap ibunya sedikit kerepotan bergegas mengambil tindakan.

“Biar Kyu Hyun tahu rasa eomma. Dia selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja, apa masih kurang puas dengan kekayaan yang dia dapatkan? Padahal aku yakin tumpukan uangnya sampai jamuran.”

“Jangan mengeluh! Kau sendiri yang memilih lelaki itu,” celetuk Yesung.

Benar apa katanya. Sejak awal memang begitulah Kyu Hyun. Seorang workaholic yang mengerikan. Tapi jangan kira Yong Hoon tak paham soal itu. Selama ini dia cukup bersabar karena dia pun sama-sama bukan orang yang hanya berpangku tangan. Profesinya sebagai model yang tengah melejit kala itu cukup menyita habis waktu senggangnya. Jangankan berkencan, untuk tidur saja kurang. Tapi sejak ia memutuskan untuk pensiun sebulan lalu, situasi telah berubah. Dan harusnya Kyu Hyun menjadi sedikit lebih peka.

“Aku tidak mengeluh! Hanya sedikit kesal. Apa dengan sekali mengabaikan pekerjaan dia langsung jatuh miskin?”

“Sudahlah Yong, mungkin Kyu Hyun benar-benar sibuk sekarang.”

“Memang kapan dia tidak sibuk eomma?” Giliran ibunya yang kena semprot, tidak pandang bulu.

“Atau bisa saja itu acara penting. Dia tak mungkin sengaja mengabaikanmu bukan?”

Di mata Yong Hoon letak masalah sesungguhnya bukan diseberapa penting rapat sialan itu. Apalah arti sebuah fitting dibandingkan kerjasama yang menghasilkan miliaran won. Yang dia inginkan hanyalah waktu luang Kyu Hyun.

“Memangnya kalian mau pergi kemana?” Jong Jin berupaya membelokkan perbincangan. Bila topik ini dilanjutkan, judulnya bukan lagi sarapan tapi berubah menjadi perdebatan.

“Ke tempat Ji Sun. Kami akan melakukan fitting siang ini.”

Uhhuukk…

“Siapa kau bilang?”

Sontak semua mata terlempar pada pria malang yang tersedak tiba-tiba. Sang ibu reflek menyodorkan air minum, sedangkan Jong Jin tak kuasa menahan tawa. Sedikit banyak dia tahu seluk-beluk tentang gadis yang baru saja Yong Hoon sebutkan.

“Ji Sun. Song-Ji-Sun. Temanku yang dulu pernah kau tolak cintanya, kini dia telah menjadi desighner muda yang cantik dan mempesona, kau tau?”

Sialan. Yong Hoon sengaja mengungkit kejadian enam tahun silam. Yesung ingat betul itu terjadi tepat di hari wisudanya. Ketika dia dibuat malu di hadapan teman-temannya berkat seorang gadis SMA yang menyatakan cinta padanya. Yesung yang kehilangan muka lantas menolak dengan kata yang lumayan kasar. Sejak saat itu, baik Ji Sun maupun Yesung mulai enggan bertegur sapa.

“Ya!! Lupakan Kyu Hyun! Aku yang akan mengantarkanmu.”

Daebakk!! Pria yang bahkan tak pernah akur dengannya, mendadak menawarkan tumpangan? Bilang saja dia ingin bertemu Ji Sun.

“Shireo!”

“Wae???”

“Kau pikir aku tak paham motifmu Oppa?”

“Aku tahu kau cukup pintar. Maka dari itu biarkan aku mengantarkanmu.”

Heol!! Yong Hoon pikir akan ada sesi jual mahal, tapi ternyata… Sedikit menimbang permintaan sang oppa, namun setelah memperhatikan dari ujung rambut hingga kaki pria di hadapannya itu Yong Hoon berubah pikiran.

“Shireo!”

“Kenapa lagi?”

“Lihat saja penampilanmu! Antingmu! Celana rombengmu! Kau pikir Ji Sun akan menyukai itu?”

Yesung melongo. Apa yang salah dengan itu semua? Hei, ini 2017. Bahkan model kelas dunia saja mengenakan busana tak layak pakai.

“Memangnya kenapa? Bukankah ini bagus? Aku terlihat 10 tahun lebih muda.”

“Ckckck… Kau perlu belajar dari Kyu Hyun!” Cibir Yong Hoon sebelum potongan omelet itu masuk ke dalam mulutnya.

Protes pun melayang ketika Yesung tak terima dibandingkan dengan Kyu Hyun yang tak tahu apa-apa. “Hei! Aku juga bergerak dibidang fashion, kau lupa?”

“Eomma, omelet buatanmu memang yang terbaik. Bisa buatkan satu lagi untukku?” Entah dia sengaja mengabaikan ocehan sang oppa atau memang tak lagi berselera meladeninya. Yang jelas tanggapan Yong Hoon itu membuat ibunya tertawa.

“Ya!!! Kim Yong Hoon, dengarkan apa kataku!!”

Ji Sun’s Boutique | Myongdong street – Seoul

“Selamat datang Yong Hoon eonnie,” itu suara pegawai butik Ji Sun.

Sudah hapal seluk beluk butik dua lantai milik temannya itu, Yong Hoon bergegas ke ruang fitting di ikuti kakak sulungnya yang bersikeras ingin mengantar. Wanita pecinta dunia fashion itu masih tampak berkutat dengan kain yang melilit dressfoam di ruangan yang didominasi cat putih itu. Tanpa di persilahkan pun Yong Hoon sudah menyamankan diri di atas sofa merah yang mendampingi meja kaca di depannya diikuti Yesung di sebelahnya.

“Sepertinya kau sangat sibuk, Song Ji.” Yong Hoon berusaha merampas perhatian Ji Sun dari patung manusia yang tidak utuh itu.

“Eo,” jawab Ji Sun acuh yang membuat Yesung hampir lepas tawa sebelum deatglare milik Yong Hoon membungkamnya.

“Kyu Hyun tidak datang,” kata Yong Hoon.

“Lalu siapa yang datang dengan mu itu, Park Hae Jin?”

“Ania!!” nada suara Yong Hoon naik tiga oktaf saat Ji Sun dengan tanpa rasa bersalah  menyebut nama keramat yang pernah singgah di hatinya. Dan lihatlah akibat dari lidah licin sahabatnya itu, mata Yesung  sudah menembakkan pertanyaan tanpa kata.

Ji Sun terbahak, senang sekali rasanya membuli Yong Hoon dengan masa lalunya itu.  Namun lima detik berikutnya ia merasa dunia membeku, saat berbalik dan tatapannya bertemu pandang dengan pria yang enam tahun lalu telah mematahkan hatinya. Sebenarnya Ji Sun sudah berhasil mengontrol emosinya selama tak bertemu Yesung, tapi sekarang yang terjadi adalah kilasan memori pahit itu kembali berhembus melalui retakan hatinya yang tak berhasil ia kendalikan.

“A-annyeong hasimnikkha,”  sapa Ji Sun kaku. Yesung hanya mengangguk sedikit dalam saat gagal mengutarakan sapaan baliknya.

Sekarang giliran Yong Hoon yang berusaha menahan semburan tawanya. Melihat dua manusia saling bertatapan canggung dengan ekspresi bodoh, itu sangat lucu di mata Yong Hoon. Ji Sun yang tampak kaget dan canggung ditambah wajah salah tingkah kakaknya berhasil menghibur calon pengantin  yang sedang ngambek pada Kyu Hyun itu.

 “Dimana gaunku? Aku tak tahan melihat tampang bodoh kalian,” dengus Yong Hoon .

“Huh?” sebegitu berefekkah pertemuan mereka?

Yong Hoon gagal bersimpati.

-Dua puluh menit kemudian-

Jantung Kyu Hyun berdebar kencang seiring tirai putih itu dibuka. Bagai slow motion ketika sedikit demi sedikit sosok jelita itu tertangkap pandangannya. Memberikan efek yang lebih gila relung hatinya hingga enggan mengedipkan mata. Tunggu! Mungkinkah wanita itu semacam titisan Cinderella?

Jeprett…

Kyu Hyun mendengus. Kilatan blits dari ponsel seseorang membuyarkan fantasinya. Siapa kalau bukan pria yang sebentar lagi akan dia panggil dengan sebutan ‘kakak ipar’.

“Yah, pertahankan senyuman itu Yong. Ini benar-benar harus diabadikan.”

Sedetik kemudian lengkungan manis itupun lenyap. Tahu persis apa maksud perkataan Yesung. Kalimat yang jelas berisi sindiran untuk Yong Hoon yang hampir tak pernah mengumbar senyum di depan Yesung kecuali tawa mengejek dan senyuman miring.

“Ck, arraseo!” Jong Hoon menyerah. Dia mundur lantas berbisik pada Kyu Hyun. “Kau masih punya waktu untuk berubah pikiran.”

Kyuhyun yang paham akan maksudnya malah tersenyum, “Aku tahu.”

“Mwo?” Di luar ekspektasi Yesung. Normalnya pria lain akan menolak dengan tegas atau minimal menganggapnya sebagai gurauan, terlebih ini di depan calon kakak iparnya. Tapi Kyu Hyun? Astaga, pria itu ternyata lebih gila dari adiknya.

Merasa perkara akan menjadi panjang, Kyu Hyun segera berlalu dan menutup tirai itu. Hal pertama yang menyambutnya adalah tampang datar Yong Hoon, tapi bahkan itu tak mengurangi kadar kecantikannya sedikit pun. Malah di mata Kyu Hyun, wanita itu terlihat seksi sekaligus menggemaskan bila sedang marah begini. Entah karena matanya yang rabun atau dia memang tidak waras seperti kata Yesung.

“Untuk apa kau datang?” Sinisnya. Kyu Hyun harus pintar-pintar mengambil sikap kalau dia ingin selamat.

“Aku sengaja ingin memberimu kejutan, sayang.”

“Alasan!”

“Hahaha, apa terlihat jelas?”

Yong Hoon mendengus mendengar pengakuan Kyu Hyun. Jangan harap pria itu bisa membohonginya. Biar bagaimanapun, dia senang Kyu Hyun datang. Walau nyaris terlambat, paling tidak ada itikad baik menyisihkan waktu untuknya. Dan yang terpenting, pulangnya nanti dia tidak akan sendirian.

“Yong, kau tahu tentang betapa cantiknya si Putri Salju bukan?”

Firasat buruk. Sepertinya Kyuhyun mulai membual. “Kenapa? Kau ingin bilang aku lebih cantik darinya?”

“Ck, kau sama sekali tidak lucu” protes Kyu Hyun ketika gombalannya dirusak begitu saja. Ayolah, sejak awal dia memang tidak berbakat soal itu. Jangankan menggombal, bersikap romantis saja seperti PR yang sulit dikerjakan. Paling-paling dia hanya mengatakan ‘Aku mencintaimu’, itu terus sampai Yong Hoon bosan.

“Aku tidak suka. Itu menggelikan,” beruntunglah Kyu Hyun karena Tuhan memberinya spesies langka. Kalau biasanya seorang gadis akan meleleh pada rayuan, tapi Yong Hoon malah merasa ingin muntah. Jadi cocok bukan? Seperti toples dan tutupnya, mereka saling melengkapi.

“Ayo pulang!” Celetuk Yong Hoon.

“Pulang?”

“Ya, aku ingin memberimu hukuman.”

Yong Hoon mendekat dan merangkul leher Kyu Hyun. Senyuman miring serta kerlingan nakalnya menyapu habis keringat dingin calon suaminya. Pria itu tak mau kalah. Dirangkulnya pinggang sempit Yong Hoon sembari mengutuk dalam hati ketika pandangannya jatuh di bibir ranum wanita itu. Tanpa sadar ia mendekat perlahan. Manis cherry yang selalu didambakannya nyaris ia rasakan kalau saja telunjuk Yong Hoon tak maju menghentikan aksinya.

“Bisa kita simpan untuk nanti saja? Ayo kita pulang.”

Kyu Hyun mendesah. “Baiklah. Tapi bagaimana dengan oppamu?” Benar! Bukankah tadi dia datang bersama Yesung?

“Kau kira dia tulus ingin mengantarku?”

“Lalu?” Merasa tak paham dengan maksud Yong Hoon.

“Akan ku jelaskan nanti. Sekarang kita ganti baju lalu pulang. Aku masih harus menghukummu.”

Kyuhyun tersenyum sekali lagi. “Dengan senang hati.”

.

.

Setelah Kyu Hyun menghilang di dalam fitting room bersama Yong Hoon, Yesung dan Ji Sun kembali berada dalam suasana canggung mereka. Bahkan Ji Sun terang-terangan tampak tak nyaman dan berusaha menghindari tatapan Yesung, karena tak mau naïf jika hatinya masih menyimpan rapi perasaan untuk pria penikmat kopi itu.

“Kau masih suka pergi menonton baseball?” Yesung berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.

“Ne? Ah.. Aku sudah tidak pernah menonton baseball, pergi ke bioskop atau ke taman hiburan lagi, sejak Oppa menolakku,” bohong, siapa yang selalu mengganggu kencan Yong Hoon di akhir pekan dengan merengek minta di temani naik bianglala? Itu Song Ji Sun.

Yesung berdehem merasa tersindir. Sebenarnya enam tahun yang lalu ia tak bermaksud menolak Ji Sun dan tak sengaja mempermalukan wanita itu di depan teman-teman kampusnya saat merayakan kelulusan mereka di Mouse Rabbit. Karena Ji Sun yang tiba-tiba mengaku mencintainya membuat ia tak bisa membedakan antara senang dan kaget hingga yang keluar dari mulutnya adalah penyesalan.

“Sebenarnya apa yang mereka lakukan di dalam sana? Lama sekali,” lirih Yesung jelas mengalihkan topik perbincangan.

Ji Sun menyipitkan mata bulatnya memandangi tirai fitting room itu. Yesung baru menyadari jika paras yang terpancar dari aura wajah Ji Sun sekarang lebih dominan cantik dewasa, manis kekanakan yang dulu selalu berhasil mencuri perhatiannya hanya tersisa sedikit di bibir cerry wanita dua puluh sembilan tahun itu. Yong Hoon benar, jika ia akan menyesal telah menolak Ji Sun. Bahkan sejak satu bulan Ji Sun pindah ke Paris untuk mengejar mimpinya menjadi designer Yesung terus memikirnya.

“Apa yang sedang kau lihat?”

“Aku sedang berusaha menembus tirai itu untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan,” jawab Ji Sun dengan mimik serius. “Tapi tidak berhasil,” lanjutnya dengan cengiran tanpa dosa yang berhasil membuat Yesung melongo. Hell, apa semua yang dekat dengan Yong Hoon itu tidak bisa di prediksi?

 

 

The night before wedding ceremony, Raum Resort and Hotel, JeJu-do

“Hyung!” Kyu Hyun menghampiri Yesung yang tengah asyik memandangi altar dekor pernikahan Kyu Hyun dan adik bungsunya.

“Kau mencariku?” Kyu Hyun mencontek posisi Yesung yang menjadikan dua lengannya sebagai tumpuan di pagar pembatas lantai tiga Raum.

“Umm.. Yong Hoon. Biar bagaimanapun dia selalu membuliku, bocah itu tetap adik kecil yang paling ku sayangi. Kami terlalu memanjakannya, jadi tolong bersabar mengahadapinya. Aku percaya kau adalah penangkal gadis kecilku.”

“Dia selalu bisa membuatku naik darah dan mencintainya di saat bersamaan. Dia seperti penyihir cantik yang berhasil mengendalikanku,” bibir Kyu Hyun melengkung saat membayangkan wanita yang besok akan mengucap janji suci bersamanya itu.

“Aku mengkhawatirkanmu.” Yesung menepuk pundak Kyu Hyun simpati, lalu mereka tertawa bersama.

“Omong-omong kau punya no Ji Sun?” Oh, Kyu Hyun lupa jika calon kakak iparnya ini punya seribu modus di balik tampang dewasanya itu. “Jangan jadi pengecut hyung, kau sudah terlalu tua untuk main kucing-kucingan,” dan Yesung juga lupa jika calon adik iparnya itu memiliki lidah sama tajamnya dengan adik gadisnya.

“Panjang umur sekali dia.” Kyu Hyun  mengedikkan dagu menunjuk ke halaman lantai dua di mana Ji Sun baru saja muncul. “Semoga berhasil,” sambung Kyu Hyun menyemangati dengan sedikit nada menyindir, kemudian berbalik meninggalkan Yesung yang tengah larut dalam pandangannya.

Ji Sun, wanita muda itu mendudukkan diri di kursi tamu paling belakang menikmati tatanan wedding dekor. Terlalu menikmati temaram dan hembusan angin di penghujung musim gugur hingga tak membuatnya sadar jika Yesung telah berada di dekatnya.

“Belum tidur?”

Ji Sun menoleh kebelakang saat mendengar suara berat yang sering di angankanya itu. Mendapati Yesung yang berdiri tak jauh di sisi belakangnya, kedua tangan pria tiga puluh tiga itu dimasukkan ke dalam saku sweeter hitamnya.

“Belum.” Ji Sun kembali memutar tubuhnya ke depan.

“Sudah hampir lewat pukul sebelas, sebaiknya kau kembali ke kamarmu.”

“Eo..” Ji Sun segera beranjak dari duduknya, tak ingin berlama-lama berada dekat dengan kakak Yong Hoon. Ia takut lepas kendali dan menghambur ke pelukan pria itu. Sejak pertemuan pertama mereka di butiknya dua hari yang lalu, Ji Sun akhirnya menyerah menyangkal rasa rindunya pada Yesung. Sungguh, sampai sekarang pun ia masih berharap pada pria yang telah mencampakannya itu. Terlalu naïf .

“Bogoshipdaguyo,” kata Yesung lirih saat Ji Sun melewatinya. Ia menyerah, mengakhiri permainan kucing-kucingan seperti yang Kyu Hyun sarankan.

Keadaan cukup sunyi hingga Ji Sun cukup jelas mendengar suara lirih Yesung barusan. Hanya sebentar saja, biarkan dua anak manusia ini saling bertukar rindu dalam bisu.

.

.

Karena pernikahan Yong Hoon dan Kyu Hyun diselenggarakan di Jeju, jadi para keluarga datang sehari lebih awal dan menginap di Resort milik keluarga Kyu Hyun,-Raum. Termasuk Ji Sun, sahabat baik Yong Hoon. Saat Ji Sun bertanya kenapa Yong Hoon lebih memilih satu kamar dengannya, model cantik itu menjawab enteng karena dia tak mau semalaman menghabiskan status singlenya dengan menangis di pelukan sang ibu.

“Yong Hoon-ah saranghae..” Ji Sun yang baru masuk kamar melompat ke atas ranjang di mana Yong Hoon sedang menikmati drama dari laptop yang ada di pangkuannya.

Wanita muda yang akan segera melepas masa lajangnya itu tampak terganggu dengan tingkah sahabatnya yang tiba-tiba menerjang dengan tangan yang kini meliliti badannya. Apa Ji Sun baru saja kesambet, bukankah temannya itu tadi berpamitan ingin keluar mencari udara segar? Seolma, Resort terbaik di Jeju ini berhantu? Benarkah?

“YA!!!!” gelegar sang calon pengantin saat menyadari bibir Ji Sun berhasil mencuri kecupan di pipi kirinya. Demi Kyu Hyun, Yong Hoon naik pitam dengan kebiasaan sahabatnya yang satu ini. Dia wanita normal yang lebih menyukai bibir Kyu Hyun .

Sepertinya acara menghabiskan masa lajang Yong Hoon malam ini akan berlanjut dengan perang bantal. Semoga dua wanita muda yang cantik ini tidak bangun kesiangan besok.

 

 

The Wedding Day

“Appa aku masih boleh pulang kerumahkan  setelah menikah?”

“Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu untuk pulang kerumah keluargamu sayang.”

Kim Seung Hoon meremat pelan tangan kecil putrinya yang diapit posesif lengan kokohnya. Tersenyum bijaksana, menenangkan putri cantinya yang akan segera menjadi istri orang. Ayah dan anak itu sedang berdiri di depan pintu kayu cukup besar yang menghubungkan dengan wedding hall.

Awalnya Yong Hoon tidak merasa gugup sama sekali. Entahlah, sejak sang ayah menjemputnya di ruang tunggu pengantin perasaan itu datang tiba-tiba. Gugub, cemas, bahagia, haru bercampur menjadi satu. Mungkin naluri setiap pengantin wanita yang berada dalam detik-detik menjelang pernikahan memang selalu seperti itu.

Tiba saat pintu utama terbuka menampilkan sosok jelita dalam balutan white wedding gown dalam dampingan sang ayah menadakan awal upacara pernikahan telah dimulai. Wedding mars yang terlantun hikmat mengiringi setiap langkah Yong Hoon melewati karpet bertabur kelopak Hydragea yang di taburkan Ha Na, gadis lima tahun putri Rhae Hoon sahabatnya. Ratusan kali Yong Hoon terbiasa berjalan di red karpet tapi rasanya tak semendebarkan saat ini. Lilin dan Baby’s Breath penghuni cala berbaris indah menuntun Yong Hoon menuju sosok berkharisma yang telah menunggunya di depan altar. Cho Kyu Hyu, pria tampan berstelan kemeja putih dihiasi dasi kupu-kupu dan dibalut jas hitam senada dengan celananya, tampak penuh pesona mematikan yang berhasil membuat Yong Hoon bersedia menghabiskan sisa hidup bersama dalam suka-duka. Lantunan janji suci yang telah terucap akan mengikat nadi mereka hingga maut memisahkan.

Riuh provokasi para tamu undangan membuat pasangan pengantin itu salah tingkah saat pemberkat mempersilakan pasangan untuk berciuman. Tak ingin merusak alur yang sedang berjalan Kyu Hyun mengapit dagu Yong Hoon di antara telunjuk dan ibu jarinya. Menikmati paras cantik tanpa celah sang istri sebelum memberikan kecupan cukup lama pada bibir ranum yang sekarang resmi menjadi miliknya.

“I Love You,” kata Kyu Hyun penuh cinta usai mengakhiri pagutan mereka.

“Love You More.” Yong Hoon berbisik di samping telinga Kyu Hyun sebelum mencuri satu kecupan singkat  yang semakin membuat halaman Raum penuh riuh iri dan bahagia.

Di bawah sinar rembulan dua insan menjadi satu

Meskipun terkadang jalan kita terlihat masih jauh

Bahkan jika kau meneteskan air mata kesedihan, hingga semua menjadi kenangan

Mari  saling menjadi tempat peristirahatan satu sama lain

Dan ingatlah jika seseorang yang sangat mencintaimu selalu menggenggam tangan hangatmu

Dalam gelapnya malam, saat aku kehilangan arah

Semua menjadi berkilauan hanya karena kau di sampingku

Yong Hoon tidak tahu bagaimana cara mendiskripsikan perasaannya saat ini. Bahkan ketika sudut matanya mengalirkan bulir kebahagiaan ia tidak sadar dan jika Kyu Hyun tak segera merengkuhnya mungkin tangis itu akan pecah. Di akhir syair yang Kyu Hyun nyanyikan, sebuah harapan dari sorot indah mereka bersinar seindah senja.

.

.

Beberapa tamu undangan tertawa terkejut saat Yesung menangkap buket bunga milik Yong Hoon yang sebenarnya sengaja dilempar pada Ji Sun. Mungkin karena tenaganya saat melempar kurang kuat hingga rangkaian bunga itu berakhir di tangan sang kakak yang berdiri bersebelahan dengan Ji Sun.

Ji Sun yang terlanjur berharap jika Yesung akan memberikan buket bunga itu padanya, kini harus menelan kekecewaan sekali lagi saat Ji Yeon yang ia ketahui adalah mantan kekasih Yesung lebih berani mengutarakan permintaannya terhadap buket bunga pernikahan Yong Hoon. Berbanding dengannya yang hanya bisa berharap pria itu mengerti arti sinar matanya. Mungkin memang sudah tak ada harapan lagi untuknya, itu yang kembali ditanamkan Ji Sun dalam hatinya.

Pesta pernikahan Kyu Hyun dan Yong Hoon masih berlanjut meriah seiring senja merayap. Ji Sun tak bermaksud meninggalkan pesta itu, hanya saja ia tak bisa melihat Ji Yeon yang terus berusaha mencari perhatian Yesung. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita berbalut dress berwarna pastel itu hingga baru menyadari jika langkah kecilnya telah membawa keberadaannya di antara hamparan bunga Kanola.

“Neomu Areumdawoyo.”

Ji Sun baru tahu jika di belakang Raum terdapat hamparan Kanola yang membatasi pantai dengan Resort. Masih dalam mode terpesona Ji Sun mengabadikan pemandangan indah yang mampu mengembalikan suasana buruk hatinya. Beberapa kali memutar posisi untuk mendapat hasil yang lebih baik, hingga layar kameranya menangkap objek yang lebih indah tengah berjalan kearahnya.

Tadi Yesung sempat melihat tatapan redup Ji Sun saat meninggalkan wedding hall. Karena Ji Yeon terus menempelinya ia tak bisa langsung mengejar wanita yang sekarang tengah berdiri di tengah hamparan bunga kuning yang bertahan mekar di penghujung musim gugur. Sangat indah. Wanita yang baru menyadari kedatangannya dan hamparan bunga kuning yang Yesung tak tahu apa namanya itu, sama indahnya.

“Oppa meninggalkan pestanya?” Ji Sun bertanya saat Yesung telah berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya.

“Ingin menyusulmu.”

“Waeyo?”

“Untuk memberikan ini.” Yesung mengulurkan rangkaian bunga yang tak sengaja ditangkapnya tadi.

“Tapi itu milikmu. Oppa  yang menangkapnya.”

“Kheurae, bunga ini menjadi milikku karena aku yang menagkapnya. Tapi aku ingin memberikannya padamu. Pemilik hatiku.”

Angin pantai berhembus menerbangkan helaian rambut bergelombang Ji Sun. Kata hatinya masih menerka maksud perkataan pria di depannya. Ji Sun memberikan peringkat terbaik pada Yesung yang pandai membingungkan perasaannya.

“Merry me, Song Ji Sun.”

Sekali lagi angin berhembus menggetarkan hatinya. Ji Sun belum percaya apa yang baru saja ia dengar, pasalnya pernyataan tanpa basa basi dari Yesung terlalu mengejutkanya. Ji Sun melihat keseriusan dari pancaran netra milik Yesung dan senyum menawan pria itu tengah menunggu jawabannya. Beberapa kali meyakinkan hatinya jika ini bukan halusinasi dan pada akhirnya tangan kecil Ji Sun menyambut rangkaian bunga putih itu.

 

­_Senja di penghujung musim gugur, menjadi saksi bisu bertemunya kembali dua hati. Dan sebuket Hydragea yang dipadu dengan  rangkaian Baby’s Breath, mewakili perasaanku yang tak terucap.

“Terimakasih untuk ketulusanmu memahamiku, serta cinta abadi yang telah kau berikan”_

.

.

END

 _HoonieKyu_

img-20170203-wa0013
Song Ji Sun
img-20170203-wa0014
Yesung
Advertisements