Lima belas menit tanpa percakapan, atap rumah sakit HaeSung itu ikut sunyi menyelimuti kebisuan sepasang saudara. Angin malam yang dibawa musim dingin menambah beku suasana, harusnya ada yang merontokkan keegoisan untuk membuka percakapan yang sepertinya sulit sekali bagi mereka setelah memutuskan tak lagi perduli satu sama lain.

“Bagaimana kabarmu?”

Yong Hoon pikir tidak akan serumit ini memulai pembicaraan dengan kakaknya setelah beberapa tahun. Nyatanya untuk sekedar menanyakan kabar saja sudah membuat tenggorokannya kering.

“Baik,” jawab Yesung singkat.

Pria itu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Rencananya untuk melimpahkan kesalahan pada adik gadisnya tiba-tiba menguap bersama dengan asap yang mengepul keluar dari mulutnya saat satu kata ia ucapkan.

“Tentang Ji Sun dan rumah, aku minta maaf tidak memberitahumu terlebih dahulu. Tapi aku juga punya hak, itu rumah eomma jika kau lupa,” jelas Yong Hoon. Melirik sebentar untuk melihat reaksi pria yang diam-diam juga tak luput dari kerinduannya.

“Berhubung kau sudah di sini aku mau pulang, aku tak sudi tidur di rumah sakit lagi malam ini dan urus temanmu itu. Dia tak mau ku ajak pulang sebelum kau datang katanya.”

Jelas Yesung berkilah. Setelah mempertimbangkannya, ia tak mau membahas masalah itu lagi. Yesung ingin berdamai dengan masalalunya dan mencari ketentraman untuk batinnya. Apalagi setelah menjaga teman wanita Yong Hoon yang ternyata baru ia ketahui tengah mengandung sekitar lima bulan, kemarin saat membawanya ke rumah sakit. Bodohnya ia tak sadar dengan fisik Ji Sun saat malam pertemuan mereka dua hari yang lalu. Salahnya atau salah fisik wanita itu yang terlalu ramping untuk ukuran wanita hamil ditambah piama kedodoran yang dipakainya saat itu? Dan secara tidak langsung Yesung merasa jika ia yang menyebabkan Ji Sun sakit.

“Jadi, kita berdamai?”

“Kau saja yang menganggapnya perang.”

“Sialan kau.” Yong Hoon mengumpat kompak dengan tas jinjingnya yang melayang menghantam lengan Yesung. Pria itu tak marah, malah merasa lega. Setidaknya mereka bisa memperbaiki hubungan kakak beradik yang sempat runtuh karena keegoisan orang tua mereka.

Dua buah hati yang kehilangan pegangan, bisakah dipasangakan?

“Mereka bertemu di India. Saat itu Kyu Hyun sedang mengemban tugas militernya sebagi prajurit Korea Selatan dalam menjaga perdamaian dunia di perbatasan India-Pakistan dan Ji Sun sedang bergabung dengan relawan pendidikan. Mereka tinggal di barak yang sama, jadi mereka sering bertemu dan melakukan kegiatan bersama. Sederhananya, mereka cinlok. Meskipun begitu mereka memiliki cinta yang sangat besar dan kuat,” tangan Yong Hoon bergerak di udara menggambarkan seberapa besar cinta sahabatnya itu.

“Lalu Ji Sun kembali ke Korea lebih dulu karena masa menjadi relawannya telah selesai. Empat bulan kemudian Kyu Hyun juga kembali dari tugas militernya… Ya!! Kau mendengarkanku tidak?”

Yong Hoon bersungut setelah berpaling pada Yesung yang juga berebahan di sampingnya. Gadis itu sedang semangat bercerita tapi yang diceritai malah asik dengan handphone-nya. Lalu dari tadi ia bercerita untuk siapa? Yong Hoon ingin sekali memukul kepala kakaknya itu, biar saja kepala yang sudah besar itu menjadi semakin besar.

“Aku dengar, teruskan saja,” kata Yesung tak merasa bersalah.

“Tidak mau.”

“Ayolah Yong, ceritamu menggantung sekali.” Yesung berusaha menarik selimut yang menenggelamkan tubuh adik manisnya itu.

“Banana cake, ” bujuk Yesung setelah gagal merayu Yong Hoon. “Full toping,” imbuhnya saat Yong Hoon menyingkap selimut yang menutupi bagian kepalanya.

“Dan Large Frappuccino.”

“Dan Large Frappuccino.” Yesung mengulang perkataan Yong Hoon sebagai tanda persetujuan. Ternyata setelah lima tahun hidup berpisah, adiknya itu masih saja mudah disogok dengan makanan. Biarlah ia merogoh sedikit lebih banyak isi dompetnya untuk menebus sebuah cerita wanita yang tinggal bersama mereka saat ini. Terlanjur mendengar jadi ya selesaikan saja tak peduli itu berguna atau tidak.

“Ya.. kemudian Kyu Hyun mencari Ji Sun, mereka bertemu dan bersama lagi.”

“Lalu..”

“Mereka menikah.”

“Hanya itu? Kau mau kemana. Ceritanya belum selesaikan.. Ya Yong Yong!”

Yong Hoon membanting pintu kamar pria yang mengancamnya batal mendapatkan Banana Cake full toping dan Large Frappuccino. Oh dear. Dipikirnya dia masih adik kecilnya yang manis, yang mudah disogok dengan makanan enak, begitu? Yang benar saja. Seleranya sudah berubah, coba jika pria itu menawarkan sepatu kulit buatan Hill.

“Dia seperti hidup di dalam cintanya. Yang dia pikir lebih berharga daripada hidupnya.”

“Kyu Hyun meninggal lima bulan yang lalu saat bertugas di Iran dan membuat Ji Sun sangat terpukul. Dia sudah seperti mayat hidup, tidak makan dan tidak bicara dengan siapa pun. Terus mengurung diri di dalam kamar. Beberapa hari kemudian Ji Sun dilarikan ke rumah sakit karena mencoba mengakhiri hidupnya dengan memotong pergelangan tangannya. Saat itulah kami baru tahu jika Ji Sun tengah mengandung, tiga minggu. Kami sangat bersyukur, kehadiran bayi itu yang mementaskan Ji Sun dari keterpurukan. Setidaknya dia kembali memiliki alasan melanjutkan hidupnya. Dan aku mengajaknya tinggal bersama agar dia tidak merasa sendirian, oleh sebab itu dia tinggal di rumah ini.”

Yesung tak sengaja melihat Ji Sun yang sedang berdiri di dekat jendela saat melewati kamar wanita itu yang tidak tertutup rapat. Ia baru mengetahui kebiasaan wanita hamil itu setelah tiga bulan tinggal bersama. Ji Sun akan menyalakan lilin aroma terapi di atas nakas dekat jendela kamarnya sebelum tidur, berdiri sekitar sepuluh menit untuk mendoakan orang yang sangat dicintainya, itu yang Yong Hoon ceritakan.

Yang ku lihat refleksi langit di matanya begitu cantik.

“Song Ji Sun, seandainya aku menggantikan posisi orang itu, mungkinkah kau bersedia memberikan separuh cintamu pada ku?”

Berharap Ji Sun bisa mendengar permintaan hatinya yang tak berani disuarakan. Biarlah ia dikatai pengecut, Yesung hanya merasa krisis kepercayaan setelah dikhianati cinta tulusnya sendiri.

“Aku iri dengan mendiang suamimu, dia tetap memiliki cintamu yang begitu besar meskipun dia sudah tiada.”

Ji Sun berbalik dan menatap Yesung yang berdiri tak jauh di belakangnya. Angin laut menerbangkan helaian rambut bergelombangnya, membuat sebagian wajah cantik wanita itu tertutup helaian caramel lembut yang berkilauan terbias cahaya senja.

Pria itu, yang dulu pernah mengusirnya dimalam pertama kali mereka bertemu sedang berdiri tegap dengan tatapan penuh makna. Rambut pendeknya yang dulu berwarna merah gelap sudah berganti menjadi hitam legam yang juga berkilauan.
Bulan-bulan terakhir kehamilannya tak begitu dirasa sulit dibandingkan masa-masa awal. Keberadaan Yong Hoon dan Yesung membuatnya nyaman, kakak beradik itu selalu memperhatikannya meskipun lebih sering melarangnya melakukan ini dan itu juga berlebihan terhadap apa yang dikonsumsinya. Dengan dalih demi si malaikat kecil yang dua bulan lagi lahir, Ji Sun tak keberatan.

“Aku sudah mendaftar untuk panggilan wajib militer ku,” tutur Yesung. Kini pandangannya menangkap sorot sayu milik Ji Sun.

“Kheurae?”

Dan entah kenapa Ji Sun tak terlalu senang mendengar kabar ini, ada yang salah dengan dirinya.

Dengan langkah perlahan Yesung menghampiri Ji Sun. Menyisakan satu langkah pendek di hadapan pemilik senyum manis favoritnya tiga bulan belakangan. Dari dekat Yesung bisa melihat pantulan senja terlukis indah di dalam karamel madu milik Ji Sun. Beberapa saat saling menyelami pandangan masing-masing, berharap bisa saling menyampaikan kata hati mereka yang tak bisa terucap.

“Hari ini ulang tahun ku,” bola mata Ji Sun membulat lucu sebagai tanda terkejut seakan baru mendengar jika kelinci bisa berenang.

“Jadi, boleh aku meminta hadiah darimu?”

“Hadiah?”

“Eo.. Tetaplah tinggal di rumahku sampai aku menyelesaikan wajib militerku.”

Ji Sun tak mengulur waktu untuk mempertimbangkan permintaannya. Melihat senyum disertai anggukan malu-malu dari wanita itu, Yesung baru bisa bernapas lega.

“Gomawo,” kata Yesung sangat tulus yang dibalas anggukan kecil Ji Sun. Jarinya menangkap sejuntai rambut yang menutupi pipi merona Ji Sun, kemudian menyelipkannya di belakang telingan wanita itu.

“Sebenarnya aku masih punya satu pemintaan lagi jika kau tak keberatan.”

“Apa?”

“Aku ingin mencium mu.”

Mendadak Ji Sun merasa bodoh. Bibir manisnya terbuka tapi tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab. Ia menangkap sebuah senyum licik sebelum sesuatu yang hangat menempel pada keningnya yang tertutup poni renggang. Jari-jarinya meremat ujung short dress yang ia kenakan saat merasa jantungnya ingin melompat keluar. Dan berkali-kali melafalkan kata maaf untuk Kyu Hyun, demi calon anaknya Ji Sun tak bermaksud menghianati cinta mereka. Hanya saja ia juga tak mau membohongi perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di dinding hatinya yang dingin. Seperti snowflower yang baru saja dilintasi sinar matahari.

“Ayo pulang sebelum nenek sihir penunggu rumah meruntuhkan langit.”

Yesung merasa candaannya benar-benar garing untuk menutupi tindakan ideotnya barusan. Tak peduli apa yang ada dipikiran Ji Sun, telapaknya menggenggam begitu saja telapak kecil milik wanita itu. Sesekali melirik Ji Sun yang berjalan berdampingan di sampingnya, yang akan menunduk malu saat tatapan mereka bertemu.

Mempunyai seseorang yang dicintai
Aku bisa merasakan bahwa hanya itu sesuatu yang membuatku bahagia
Aku ingin mengatakan padamu tentang perasaan ini
Berfikir berulang kali ingin melindungimu, cintamu dan masa depanmu
Mungkin terdengar tak masuk akal disaat kita baru saja melewati badai yang keras

PS:
Pada gagal paham ya sama jalan ceritanya? Hhhh~ sama
Singkatnya begini, SunYe kan sama-sama baru kehilangan cintanya meskipun dalam konteks berbeda. Nah, akhirnya mereka punya harapan buat memulai cinta yang baru. Begitu.

Thx for read this short story

Advertisements