I am like a sunflower that only looks at you

Seperti bunga matahari, pandangan Yesung tidak bisa teralih dari gadis yang baru saja memasuki cafetaria Y-Style. Gadis itu memiliki senyum seindah pelangi, binar mata sehangat sinar mentari pagi, gerai rambut seindah sutera. Ia baru tersihir oleh sosok malaikat yang sedang tersesat . Siapa? Ia baru melihatnya. Apa Yesung yang kurang mengenal rekannya atau memang gadis itu hanya ada dalam imajinasinya karena rasa lelah dikejar deatline.

Seseorang menyenggol bahunya, menariknya dari dunia imajinasi sesaat. Yesung hanya bergumam menanggapi temannya yang entah sedang membicarakan apa. Mereka – Yesung dan beberapa rekannya sedang menikmati makan siang. Setelah seharian disibukkan dengan pengambilan gambar untuk majalah Style yang akan diterbitkan bulan depan. Dan pandangannya kembali lagi pada sosok yang memesonanya.

“Cantik.”

“Apa?” Joo Won memandang Yesung yang  tak  menanggapinya, kemudian mengikuti arah pandang hyung empat tahun lebih tua darinya itu. Kalau tebakan Joo Won benar, sunbaenya itu sedang memerhatikan arah counter cafeteria. Di sana sedang ada seorang gadis yang sibuk memilih menu.

“Kau sedang memerhatikan siapa hyung? Apa gadis perwakilan Bongja itu?” Tebak Joo Won.

“Perwakilan dari Bongja?”  gumam Yesung tak menghiraukan pertanyaan Joo Won.

Ini bukan kali pertama Yesung merasa terpesona pada lawan jenis. Tapi ini berbeda, tidak seperti saat ia terpesona pada Song Hye Kyo aktris favoritnya yang sering membintangi serial drama romantic.

You’re more beautiful than a flower

“Halo, selamat sore. Nama saya Song Ji Sun, perwakilan dari Bongja Shop yang akan bekerja sama dengan majalah Y-Style untuk edisi musim semi mendatang. Mohon kerjasamanya.” Gadis dua puluh sembilan tahun itu membungkuk sopan kepada beberapa rekan kerja barunya.

Pembawaannya menyenangkan. Membuat gadis berwajah oriental itu mudah diterima. Beberapa orang juga sering melontarkan candaan untuk menggodanya. “Apa kau sudah punya kekasih?” “Akhir pekan ini, ayo berkencan denganku nona Song.” Dan beberapa kalimat rayuan lainnya. Mereka sedang berada di dalam ruang diskusi untuk membahas pasar fashion dan tema yang akan di angkat untuk majalah fashion edisi musim semi mendatang.

Seperti sedang mendapatkan undian, Yesung bersorak dalam hati saat mengetahui ia akan berada dalam satu tim yang sama dengan malaikat yang telah menyihirnya. Selama diskusi berlangsung sepasang mata milik Yesung tidak pernah lepas dari gerak-gerik rekan barunya itu. Dari tempat duduknya yang berseberangan dengan Ji Sun membuat Yesung leluasa memandangi gadis itu. Saat melihat Ji Sun tersenyum ia akan tertular senyum manis itu. Saat gadis itu tertawa untuk menimpali candaan rekannya yang lain, hatinya akan menghangat. Saat jemari lentik itu menyelipkan sejuntai rambut bergelombangnya ke belakang telinga, Yesung merasa terpesona untuk kesekian kalinya. Dan saat sepasang caramel madu itu menangkap basah kedua opsidiannya yang sedang mencuri pandang, dunia seakan berhenti berputar. Orang-orang yang berada di sekitarnya seolah menghilang satu persatu dan alunan detak jantungnya berputar mengiringi ruang hampa di bilik hatinya.

Bahkan belum genap satu menit Yesung terhanyut dalam sepasang mata bulat itu, ia merasa poros dunianya telah berubah. Pria berprofesi sebagai photographer itu merasa menemukan kembali arti kerinduan yang ia cari selama ini. Hatinya kembali terisi. Gadis itu benar-benar memberikan dampak besar bagi kinerja jantungnya.

Your scent is better than a lilac

Tubuhnya terasa membeku dan pandangannya terkunci pada satu titik focus. Saat pintu besi itu terbuka seseorang yang ia klaim sebagai malaikat penyihir berdiri seolah menyambutnya. Segaris senyum tipis yang selalu bergelayut manja pada wajah manis itu seakan mengundang jemari  siapapun untuk mengusapnya.

Ji Sun membungkuk sesaat kemudian masuk kedalam kotak besi sempit yang hanya berisi mereka berdua. Sungguh ini adalah hari keberuntungan bagi Yesung atau takdir sedang berbaik hati padanya. Bertemu dengan seorang gadis yang telah mencuri separuh hatinya, kemudian ditempatkan dalam satu tim kerja dengan gadis pujaannya dan sekarang terkurung dalam lift berdua saja. Jika saja Yesung tak punya malu ia ingin sekali berlonjak kegirangan.

“Ehmm, Aku Yesung photographer majalah Y-Stlye. Bukankah kita akan berada dalam satu tim?” Yesung mengulurkan tangan memperkenalkan diri.

“Ji Sun, penata sekaligus pengarah busana yang akan bekerjasama dengan majalah Y-Style. ” Ji sun menyambut uluran tangan Yesung sembari memberikan senyum termanisnya. “Mohon kerjasamanya,” lanjutnya.

Rekan barunya itu memiliki tangan yang hangat batin Yesung. Sebenarnya ia tak ingin melepas jabatan tangan mereka, hanya saja ia perlu menjaga image jika tidak ingin dicap buruk di momen pertama mereka berkenalan.

“Ah, jangan terlalu formal. Kita hanya terpaut tiga tahun bukan.” Pria tiga puluh dua tahun itu mencoba mengakrabkan diri, langkah pertama dalam misi mencuri hati malaikat penyihirnya.

“Ne, Yesung-ssi.” Yesung mendapati gadis yang berdiri di sebelahnya itu menunduk menyembunyikan senyum malunya. Meskipun masih ada embel-embel formal saat Ji Sun memanggilnya ia tak merasa keberatan, sama sekali tidak.

Sedangkan Ji Sun masih merasa canggung bagaimana harus bersikap di depan rekan barunya itu. Ia bukan seseorang yang mudah mengakrabkan diri dengan lingkungan baru. Bahkan sejak ia menginjakkan kaki di gedung Y-Style baru ketua tim yang membuatnya nyaman, selebihnya mereka hanya berkenalan dan berbincang sedikit itu pun  tentang pekerjaan.

A bouquet of roses that no one else can compare to

“Wuah..” Joo Won berseru dari belakang Yesung. Pria muda itu mengintip camera yang sedang dimainkan Yesung.

“Kau menyukainya hyung?” Joo Won bertanya atas rasa penasarannya, sebenarnya ia sudah merasa jika Yesung memiliki ketertarikan pada gadis yang sedang menyiapkan beberapa potong pakaian tak jauh dari mereka.

“Apa terlihat jelas?” tanya Yesung, pria itu menoleh pada sosok yang sedang mereka bicarakan. Tangannya mengangkat camera, memfokuskan arah bidik pada objek favoritnya. “Sayangnya dia tidak menyadari,” imbuhnya sembari beberapa kali meneka  tombol bidik.

“Yepponie,” kata Yesung sambil menunjukkan hasil jepretanya pada Joo Won.

Sejak Ji Sun bekerja sama dengannya, Yesung merasa memiliki objek yang lebih indah dari apapun. Yesung mulai gila denagan menghabiskan memori camera atau handphonenya hanya untuk mengabadikan gambar gadis itu.

Yesung berkeliling melihat setiap sudut ruangan butik Bongja. Butik yang berada dalam satu gedung dengan toko busana itu didominasi dengan cat dan furniture berwarna putih. Beberapa rak yang menggantung berbagai jenis busana ditata sangat rapi, beberapa manequin yang diletakkan di etalase depan juga sangat menarik. Langkahnya terhenti pada meja yang berada di dekat jendela kaca yang sangat lebar. Beberapa kertas desain yang  berserakan di atas meja menarik perhatiannya.

“Oh, itu milikku,” suara Ji Sun membuatnya berpaling dari kertas bergambar sketsa busana. Gadis itu membawa beberapa stel pakaian dalam gendongannya. “Studionya ada di belakang,” sambung Ji Sun sambil menoleh bermaksud menunjuk letak studio mini yang akan mereka gunakan untuk pengambilan beberapa sample busana.

Yesung meletakkan kembali kertas-kertas tadi kemudian menghampiri Ji Sun dan bermaksud membantu gadis itu membawa tumpukan pakaian dalam gendongannya, tapi ditolak.

“Ei~ biarkan aku membantumu. Aku ini pria mana mungkin membiarkan gadis cantik kerepotan menggendong baju-baju seperti itu,” candaannya membuahkan hasil, Ji Sun akhirnya membiarkan Yesung mengambil alih tumpukan pakaian itu dari gendongannya. Lengannya sedikit keram sebenarnya.

Sekarang mereka sudah terlihat lebih akrab, Yesung dengan sikap ramah dan menyenangkannya membuat Ji Sun kehilangan rasa canggung di antara mereka hanya dalam sehari pertama mereka memulai bekerja sama.

Won’t you slowly come closer to me?

Malam ini salju tipis menyelimuti daerah Gangnam-gu. Yesung merapatkan mantelnya sambil beberapa kali mengumpati hawa dingin yang memeluk tubuhnya. Pria sipit itu tidak menyukai musim dingin atau hawa dingin dan sejenisnya, juga seseorang yang berkepribadian dingin. Tentu saja, ia lebih menyukai musim semi yang menurutnya membawa sebuah kehangatan, yang berarti ia juga menyukai pribadi yang hangat dan ceria. Bicara tentang kepribadian mengingatkannya pada sosok gadis yang baru ia kenal beberapa minggu lalu. Song Ji Sun, apakah gadis itu menyimpan kehangatan di balik tatapan seteduh awannya atau sesuatu yang dingin di balik senyum menawannya. Bagaimana jika tidak seperti yang Yesung harapkan? Dingin dan misterius? Oh tidak-tidak. Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa mengejek pemikiran konyolnya.

Yesung menekan tombol pada mesin penyedu kopi kemudian cairan hitam pekat itu mengisi paper glass yang siap menampung caffein beraroma menyengat favoritnya. Menyesapnya beberapa kali hingga tandas kemudian membuang paper glass bekas kopi itu ke dalam tempat sampah yang sengaja diletakkan di sisi mesin penyedu kopi itu.

Yesung melirik jam tangannya sesaat, setelah memastikan jam kerjanya berakhir ia memutuskan untuk pulang. Saat melintasi lobi matanya menangkap sosok berbalut coat berwarna marun yang sedang sibuk dengan phonecell di tangannya. Entahlah, setiap melihat gadis itu Yesung merasa seperti besi yang selalu ditarik oleh magnet yang sangat kuat. Setelah menimbang apakah ia harus berlalu begitu saja seolah tak mengetahui keberadaan Ji Sun atau menghampiri dan menyapa barang sebentar, akhirnya ia memutuskan untuk mengahampiri gadis itu. Baiklah, Yesung memang terperosok pada pesona Ji Sun dan tak bisa menghiraukan gadis itu duduk sendirian di lobi saat malam hari dalam cuaca dingin seperti sekarang. Oh, ingatkan pria bermarga Kim itu jika gadis yang ia khawatirkan bukan lagi seorang remaja belasan tahun yang sedang tersesat di jalan dan tak tahu arah jalan pulang ke rumahnya.

“Ji Sun-ssi.”

“Oh, Yesung-ssi.” Ji Sun menyimpan phonecellnya kedalam saku Coat saat Yesung menghampirinya.

 “Belum pulang?”

“Sedang menunggu jemputan.”

“Oh, itu_” Yesung tak jadi melanjutkan kalimatnya saat phonecell  Ji Sun berbunyi. Sedikit bergeser kedepan bermaksud mengintip siapakah gerangan yang menghubungi kekasih hatinya. Eh, kekasih hati? Itu terdengar manis. Andai saja.

Ji Sun menyimpan kembali benda pintar itu kedalam tas selempangnya, sedangkan Yesung masih betah berdiri menemaninya. Mendapati pria itu mengamatinya membuat Ji Sun salah tingkah.

“Itu, sepertinya jemputanku sudah datang,” terang Ji Sun yang dibalas anggukan dari Yesung, kemudian mereka bersama-sama meninggalkan lobi.

Di depan Yesung melihat seorang pria yang lebih muda darinya sedang bersender pada pintu mobil. Ia asumsikan pria muda itu yang akan membawa pergi pemilik hatinya. Pria itu memasang senyum sejuta wath saat Ji Sun memangilnya dengan nada akrab. “Kyu Hyun-ie,” itu terdengar manis dan begitu akrab untuk ukuran wanita pada pria. Mungkinkah pria bersurai brunet itu adiknya atau mungkin kekasihnya? Oh tidak-tidak, Yesung tak ingin mengetahui jika kemungkinan kedua itu benar. Ia akan patah hati sebelum menyatakan cintanya.

Dan sepertinya Yesung memang harus mengubur rasa yang baru saja ia temukan pada gadis pecinta fashion itu. Tadi ia sempat berbasa-basi dengan pria yang ia ketahui empat tahun lebih muda darinya setelah Ji Sun mengenalkan mereka. Begitu menyedihkan saat gadis yang kau sukai memperkenalkan orang lain sebagai kekasihnya. Yesung patah hati, ia kalah sebelum bertarung.

Mobil hitam itu sudah meninggalkan pelataran gedung Y-style sejak lima belas menit yang lalu. Bulir salju semakin menebal berlomba turun dari langit seloah mengejek kekalahan Yesung yang tak mungkin mendapatkan kembali separuh hatinya, yang ikut dibawa pergi gadis yang bahkan telah memiliki kekasih itu. Pria itu tersenyum miris. Seharusnya dari awal Yesung tidak membiarkan perasaannya tumbuh begitu cepat kepada gadis yang bahkan belum genap satu bulan ia kenal. Mungkin jika ia terlebih dulu mencari tahu apakah gadis yang ia sukai masih sendiri atau sudah ada pemiliknya, Yesung tak akan sepatah hati sekarang.

Udara di penghujung musim dingin memang keterlaluan. Yesung membuang napas seolah mencoba membuang ketidak beruntungannya, memasukkan telapak tangannya kedalam saku mantel kulit salah satu produk Bongja yang diberikan Ji Sun sebagai hadiah saat mereka berkunjung ke tempat asal gadis itu bekerja. Meskipun Yesung belum beruntung mendapatkan hati Ji Sun, ia tak pernah menyesalinya. Karena tidak ada perasaan yang begitu saja datang pada seseorang seperti angin musim dingin yang hanya menggoyangkan ranting pohon yang telah meranggas.

.

.

Goodbye My Love_

 

 

yy

she

Advertisements