Yong Hoon selesai membasuh diri. Ia duduk di depan cermin dan mengoleskan pelembap di wajah tanpa celanya. Kyu Hyun yang tengah bersantai sambil memotong kuku, menemukan gelagat aneh dari istrinya itu.

“Kau sakit?” ujarnya melihat tampang Yong Hoon yang lesu.

Menghentikan sejenak aktivitasnya, wanita itu lantas menepuk-nepuk keras area sekitar dada. “Aku sedikit mual.”

“Itu wajar, kau hampir seharian di perjalanan.”

Yah, ini memang hari minggu. Tapi bukan berarti Yong Hoon bisa libur. Kadang kala ketika sajangnimnya menggila, ia dipaksa masuk kerja.

“Aniya. Aku mulai merasakannya saat bangun tadi pagi,” sanggah Yong Hoon.

Dengan tidak sopannya Kyu Hyun mengumbar senyuman setelah mendengarnya. Dapat dipastikan otak bulusnya kini tengah mengada-ada. “Apa kau juga merasa pusing dan lemas?”

“Ya, meski tidak parah. Mungkin karena efek mual.”

Bagus! Pengakuan itu kian melebarkan senyuman Kyu Kyun. Ia merasa seolah dugaannya seratus persen benar. “Yong, apa jangan-jangan kau…”

“Tidak mungkin. Apa kau lupa? Aku punya penangkalnya.”

Damn! Lenyap sudah harapan Kyu Hyun. Lupakan pula senyuman yang sempat hinggap di wajahnya. Saking senangnya dia sampai lupa bahwa wanita menyebalkan di hadapannya itu telah memasang alat kontrasepsi di tubuhnya. Dan yang membuat Kyu Hyun lebih murka, Yong Hoon melakukan itu tanpa persetujuan darinya. Tak peduli Kyu Hyun menganggapnya istri yang durhaka. Tapi yang jelas Yong Hoon belum siap menghadapi tangisan bayi di sekitarnya.

“Kau itu benar-benar! Dari sekian banyak alasan yang masuk akal, kenapa malah berpikiran bahwa aku hamil? Apa kau tidak mencemaskanku? Bisa saja aku sedang masuk angin, atau mungkin karena asam lambungku kumat.”

Yong Hoon mulai dengan ocehannya lagi. Padahal demi apapun Kyuh Hyunlah yang lebih pantas bersungut dalam kondisi ini. Tapi memang, Kyu Hyun layaknya macan sirkus bila bersama Yong Hoon. Tampangnya saja yang garang, tapi jinaknya minta ampun.

“Kau memiliki ketahanan tubuh yang baik, jadi kecil kemungkinanmu sakit. Dan kulihat makanmu teratur belakangan ini, asam lambungmu pasti dalam keadaan baik,” jawab Kyuhyun yang membuat istrinya itu semakin dongkol.

“Ya, aku memang seperti robot,” cibir Yong Hoon. Mengutuk dirinya yang memang jarang sakit hingga Kyu Hyun tak perlu repot mencemaskannya.

“Sudahlah. Lebih baik cepat istirahat. Mungkin saja itu karena kau lelah.”

Kyu Hyun mengakhiri perdebatan. Disingkapnya selimut di sisi seberang. Ia menepuk-nepuk bantal milik Yong Hoon sembari menguntai senyuman hangat. Mendapat serangan mematikan itu, Yong Hoon pun kalah.

“Kau curang!” Umpatnya seraya bergerak menyamankan diri dalam dekapan Kyu Hyun. Membiarkan lengan pria itu melingkar erat di perut datarnya. Hingga rasa hangat serta nyaman perlahan membuatnya terlena. Pelan tapi pasti, jemari Kyu Hyun hinggap di perut Yong Hoon.

“Benarkah ini hanya mual biasa? Tak adakah sesuatu yang mulai tumbuh disana?” Muka Kyu Hyun dibuat memelas.

“Eobseo.”

“Jeogmal?”

“Eoh. Kau tahu? Rasanya itu seperti habis menelan sebungkus Ajino**** ” ungkap Yong Hoon yang membuat Kyu Hyun melongo. Antara paham dan tidak dengan apa yang didengarnya.

“Ajino****? Apa itu semacam kuliner Jepang?” tanya Kyuhyun.

“Bukan. Itu penyedap rasa dari Indonesia yang biasa bibi Kim gunakan saat memasak.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Mendengar hal itu mengingatkannya pada sesuatu. “Makaroni goreng yang bibi Kim buat kemarin siang kau taruh dimana?”

“Makaroni goreng?”

“Eoh!”

“Itu?” tunjuk Yong Hoon pada sebuah toples kosong di meja kecil sudut kamar. “Wae?”

“Micheoso?”

“Hehe, mian. Kemarin malam aku menunggumu pulang sembil menonton drama, daripada aku mati bosan. Kebetulan ada setoples makaroni di meja makan.”

“Dan kau menghabiskannya? Pintar!”

“Aku tidak sadar, tahu-tahu toples itu sudah kosong.”

Bayangkan betapa Kyu Hyun ingin menenggelamkan wanita itu ke sungai kalau saja ia bisa hidup tanpanya. Alih-alih demikian, pria itu hanya membuang napas jengah sembari bangkit menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

“Wae? Kau marah karena aku menghabiskan makaroni kesukaanmu?”

“Anni!”

“Atau karena aku menonton drama lagi? Astaga, hanya satu episode tidak akan membuatku ketagihan seperti dulu.”

Yong Hoon ingat betul mereka pernah bertengkar hebat saat masih berpacaran karena Yong Hoon begitu terobsesi pada serial drama hingga mengacuhkan Kyu Hyun.

“Aku tidak peduli lagi soal itu,” tegas Kyu Hyun.

“Lalu?”

Kyu Hyun menarik napas dalam. Terpaksa ia harus lebih bersabar. Tapi satu hal yang tidak ia mengerti adalah, apa kabar tentang MSG yang dapat melemahkan kinerja otak itu sungguh hanya sekedar mitos? Buktinya kini Yong Hoon tampak seperti idiot yang menyebalkan. Dan parahnya lagi MSG sialan itu telah membuatnya berharap Yong Hoon ham…. Ahh molla, semakin memikirkannya semakin membuatnya kesal saja. Kyu Hyun bergerak menuruni ranjang dan memutuskan keluar kamar.

“Ya!! Eodiga?” Pekik Yonghoon yang dibalas dengan debuman keras daun pintu. “Kenapa dia?”

– – – –

Sepuluh menit kemudian, Kyu Hyun masuk lagi setelah berhasil mendinginkan kepala lewat sebotol minuman yang ditenggak habis olehnya. Kini ia berjalan mendekati Yong Hoon yang ternyata belum tidur. Ia lihat Yong Hoon tengah sibuk berchattingan dengan Ji Sun tanpa mempedulikannya. Dan Kyu Hyun yakin ribuan persen, dialah yang menjadi topik perbincangan mereka.

“Minum!” Disodorkannya segelas minuman yang ia bawa pada Yong Hoon.

Walau ragu untuk sekedar mencicipi ramuan aneh berwarna kecoklatan itu, tapi Yong Hoon tetap menerimanya. “Apa ini?”

“Jus apel. Ku buat dengan tanganku sendiri.”

“Dalam rangka?” Ingat bukan? Hanya sebuah keajaiban yang bisa membuat seorang Cho Kyu Hyun turun ke dapur.

“Dalam rangka mengobati overdosis MSG-mu akibat setoples makaroni yang kau babat habis itu.”

“Overdosis MSG?”

“Eoh… Kau pikir karena apa kau mual seharian ini?”

Yong Hoon terdiam. Jadi nikmat yang dia rasakan kala itu berasal dari penyedap yang bibi Kim tambahkan. Pantas kalau ia merasa mual setelah melibas habis satu toples penuh.

Ommo, Kyu Hyun ternyata sangat perhatian. Tanpa pikir panjang, Yong Hoon langsung meminum jus pemberian Kyu Hyun. Tapi baru seteguk, ia mendadak berlarian ke kamar mandi.

“Cho Kyu Hyun, kau ingin membunuhku?”

“Kenapa? Ada yang salah dengan jusnya?”

“Kau sengaja masukan cuka di dalamnya? Kenapa asam sekali?”

“Ohh… Itu bukan cuka tapi lemon. Awalnya aku hanya ingin membuat jus apel. Ternyata ada lemon juga di kulkas. Jadi ku campur saja sekalian. Bukankah apel dan lemon bisa meredakan rasa mual?”

Tentu saja bisa, tapi cukup gunakan salah satunya! Astaga, lidah Yong Hoon kini nyaris mati rasa. Apa Kyu Hyun tak mencicipinya sebelum diberikan ke orang lain? Pria itu benar-benar! Tapi baiklah… Seburuk apapun minuman itu, Kyu Kyun pasti membuatnya dengan tulus. Jadi Yong Hoon putuskan untuk memaafkannya.

Satu pelajaraan berharga yang dia dapat hari ini yaitu jangan biarkan Kyu Hyun berkutat di dapur, kecuali jika Yong Hoon rela bermalam di Unit Gawat Darurat berkat ramuan hasil eksperimennya.
.
.
.
.
End

Ampun, rindu berat sama mereka 😭

Advertisements