ja

-o0o-

Sebuah rumah kosong atau sebut saja gudang tua, karena bangunan lapuk itu tak layak disebut rumah. Terletak di sudut desa kecil daerah Hamyang yang memang jarang terjamah. Entah siapa yang mengusulkannya sebagai latar eksekusi, tapi yang jelas itu brilliant sekali. Bayangkan siapa yang akan datang ke tepi hutan begini kalau bukan mereka yang kurang kerjaan.

Seperti umumnya tragedy penculikan, wajar bila diiringi situasi menegangkan. Hal serupa juga mereka rasakan. Namun anehnya, satu adegan menyimpang alur terjadi disini. Bila dalam kasus semacam ini sang korban dibuat bertekuk lutut, itu biasa. Tapi kini yang terjadi justru sebaliknya.

Mengapa bisa? Mungkinkah makhluk sejenis Superman atau Spiderman muncul tiba-tiba? Ayolah, ini Korea. Bukan Inggris ataupun Amerika. Asal tahu saja, sejatinya tragedi ini tak lebih dari sekedar tipuan yang sengaja dirancang oleh seseorang.

Di lima menit pertama, semua masih berjalan sesuai rencana. Si gadis malang diseret ke dalam gudang dan tubuhnya dilempar begitu saja. Barulah ketika kain hitam penutup kepala itu dIbuka, langit seolah runtuh seketika. Begitupun nyali para pria berbadan besar yang mendadak lenyap tanpa sisa setelah tahu siapa ternyata yang mereka bawa.

-Flashback On-

Pepatah mengatakan, lebih baik mencegah daripada mengatasi. Dan itu yang coba Yonghoon terapkan saat ini. Meminimalisir resiko yang akan membuatnya pusing tujuh keliling, meski artinya harus lemenceng dari rencana semula, karena bukan lagi plataran Coffee Cojjee yang menjadi tempat perbincangan mereka, melainkan sebuah taman kecil tengah kota. Jika tindakan gilanya ini sampai tercium oleh Kyuhyun, endingnya takkan sesimpel yang dia pikirkan. Paling tidak akan ada sesi perdebatan yang super menyebalkan dengan si bodoh Kyuhyun.

“Langsung saja Paman, katakan apa yang Ayah rencanakan pada gadis itu!”

Ini bahkan baru dimulai, tapi Yonghoon tak sudi bersabar lagi. Masa bodoh dengan tampang pucat pasi lelaki tua dihadapannya, yang dia inginkan hanya penjelasan atas apa yang telah direncanakan.

“Kau bicara apa Nona, aku tak mengerti” Sekreteris Lee mulai sok idiot ketika situasi tak mengijinkan otaknya menggali sejumlah alibi.

“Masih perlu basa-basi? Paman sendiri yang bilang tak bisa berlama-lama.”

Mati kutu yang kedua kalinya. Berdusta pun percuma mengingat Yonghoon bukan lagi bayi yang mudah ditipu layaknya dulu. Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan sedikit keras kepala, tentunya. “Tuan ingin menyingkirkannya” akunya kemudian.

“Kapan, dan bagaimana?”

“Tepatnya malam ini, kami akan membawanya pergi”

Bukan hal mengejutkan bagi Yonghoon yang tahu persis akan tabiat keras sang Ayah. Apapun akan dilakukannya demi mewujudkan hal yang dia inginkan. Hanya saja, ini mulai melampaui batas. Dia bertindak layaknya monster.

“Paman yakin akan melakukannya?”

“Ini perintah, Nona”

“Meski hal keji sekalipun?” Pria itu mengangguk, Yonghoon pun mendesah “Baiklah, kita lakukan sesuai rencana Ayah. Tapi dengan satu syarat. Biarkan aku yang menggantikan posisi gadis itu”

“Apa maksud…”

“Tunggu, jangan menyelaku! Aku tahu ini gila tapi ini satu-satunya cara untuk menghentikan tindak bodoh Ayah. Jadikan aku target penculikan itu, kumohon! Hanya Paman yang bisa membantuku”

“Tidak Nona, ini sangat beresiko”

“Justru itu! Setelah melihatku terjerat dalam perangkap Ayah sendiri, mungkin dia mau berhenti. Anggap saja sebagai pelajaran baginya.”

“Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu Nona? Ini berbahaya”

Yonghoon tersenyum kala pria paruh baya itu mengkhawatirkannya. Bahkan dibalik tubuhnya yang kekar, masih tersimpan hati yang lembut. “Bukankah ada Paman yang akan melindungiku disana?” canda Yonghoon yang sukses membuat pria itu merasa kesal tapi juga ingin tertawa.

-Flashback Off-

“Bagaimana, kita lanjutkan permainan ini?”

Sindir Yonghoon dengan intonasi menjengkelkan. Sedangkan keempat pria yang masih bersimpuh dihadapannya, tak punya pilihan selain berkata “Tidak” serempak, dengan tampang seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Drrrtt….drrrttt….

Sekretaris Lee yang tentunya ikut meramaikan sandiwara, dikejutkan oleh getaran di saku jasnya. “Ye, Sajangnim” Si Boss rupanya tak sabar lagi mendengar hasil tindakan yang mereka lakukan.

“Apa semua berjalan lancar?”

“Eee… Itu…”

Habislah dia! Bagaimana harus merangkai kata hingga tak memompa tekanan darah Bossnya? Namun ketika Yonghoon mendekat dengan lipatan tangan yang khas dan sorotan yang tak lepas dari setiap gerak-geriknya, pria itu bisa bernapas lega. “Berikan padaku, Paman!”

Dengan senang hati, sedetik kemudian ponsel itupun berpindah tangan. “Hallo Daddy” sapa Yonghoon kelewat enteng. Bayangkan betapa terkejutnya sang Ayah disana!

“Yo…Yonghoon-ah!! Kenapa kau…”

“Senang masih bisa menyapamu Ayah. Kupikir aku akan terbunuh”

“Bagaimana mungkin ini terjadi? Sayang, Ayah bisa jelaskan semuanya”

“Tentu! Ayah berhutang itu padaku. Jadi sampai bertemu di rumah Ayah”

Tutt..

Tabiat gadis itu memang mengerikan. Bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu dengan santai? Bahkan seorang Tuan Song yang keras dan kaku saja dia lunakkan dengan mudah. Sekretaris Lee hanya melongo melihat betapa tenangnya Yonghoon bersikap. Ahh ya, jangan lupakan fakta bahwa dia memang anak satu-satunya yang begitu diharapkan. Jadi mungkin itu wajar.

“Paman, aku lapar”

“Ye?”

“Kalian membawaku dari malam hingga pagi hari tanpa memberiku makanan dan minuman. Lihat sudah jam berapa sekarang!”

Ohh hei! Dia pikir ini traveling? Jika semua penculik sebaik itu, dijamin siapapun rela menjadi korban. “Baiklah, mari kita pulang Nona”

Sandiwara pun berakhir dengan ending yang belum ditentukan. Tapi melihat sikap Tuan Song tadi, sedikit banyak dapat ditebak bukan? Tapi entahlah.  Yonghoon hanya berharap usahanya kali ini tak lagi sia-sia. Akan sangat tidak lucu bila sang Ayah masih kekeh pada pendiriannya.

Sebuah mobil yang tak asing di mata Yonghoon datang bertepatan dengannya yang hendak meninggalkan tempat itu. Teriknya mentari berdampak pada pantulan menyilaukan di kaca depan. Sibuk menerka siapa yang kerajinan datang ke tempat semacam ini, dan Yonghoon nyaris tak percaya ketika Kyuhyun keluar dengan langkah tergesa. Raut kecemasan bahkan terlukis jelas di wajahnya.

“Yonghoon-ah!”

Oke, itu memang Kyuhyun. Tapi bagaimana dia tahu tempat ini? “Paman, kau yang memberitahunya?” selidik Yonghoon yang hanya ditanggapi dengan kata ‘maaf’ oleh  pria tua itu.

Grep…

Yonghoon tersentak. Napasnya tersendat ketika dekapan erat Kyuhyun menjerat  habis tubuhnya. “Kau baik-baik saja?” Gadis itu tak mampu berbuat apapun. Bahkan hanya diam membisu di dalam dekapan Kyuhyun. Ya. Sesaat saja biarkan dia tenggelam dalam hangatnya pelukan tulus itu, nikmatnya aroma tubuh pria itu, dan merasakan detak jantungnya yang bertalu merdu. Biarkan gadis itu memilikinya meski sesaat saja.

“Kau membuatku gila Yong”

‘Kau juga!’  bisik Yonghoon dalam hatinya.

Semua pasti tahu, siapa yang paling tidak waras disini. Siapa yang rela berkorban sampai sejauh ini. Berbuat nekat dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jadi sebenarnya, siapa yang dibuat gila? Heol! Cho Kyuhyun sungguh tak tahu apa-apa.

“Kau berniat membunuhku dengan lilitanmu?”

Alibi murahan yang lagi-lagi menjadi senjata andalan. Tak apa! Lebih baik munafik sebelum bisikan iblis menguasai dirinya. Satu menit saja cukup, karena Yonghoon tak yakin akan rela melepasnya jika lebih dari itu.

“Kau gila? Untuk apa melakukan ini semua?” Berteriaklah sepuasmu Cho Kyuhyun! Toh semua telah terjadi.

Sebab inilah Yonghoon malas menegosiasikan rencana gilanya pada Kyuhyun. Selain akan ditolak mentah-mentah, pria itu pasti mengomelinya habis-habisan. Lebih baik minta Kyuhyun untuk selalu waspada mengingat betapa buruk tabiat Ayahnya. Seperti yang disampaikannya di café itu beberapa hari yang lalu.

“Jawab aku! Jangan hanya diam saja!”

“Tanpa ku jawab pun, kau pasti tahu”

Helaan napas Kyuhyun terasa panjang. Tangan yang berkacak pinggang menandakan emosi yang tertekan. Tapi pantaskah ia marah setelah apa yang terjadi? “Baiklah. Aku sangat berterimakasih atas tindakanmu. Tapi bagaimanapun ini sangat berbahaya Yong”

“See? Aku masih hidup sampai sekarang, hanya saja…”

“Hanya saja apa? Apa kau terluka?” Kyuhyun langsung panik.

“Aku lapar”

“Mwo???”

Demi apapun, ini sangat tidak lucu! Tak bisakah dia memilih waktu yang tepat untuk bercanda? Lihat reaksi Kyuhyun! Super datar dengan tampang tak bersahabat.

“Bilang saja kalau tak mau mentraktirku. Kenapa harus menatapku setajam itu?”

“Kau pikir aku bercanda, Yong?”

Nada yang rendah sarat akan aura dingin dimatanya. Wajar! Kyuhyun yang begitu mengkhawatirkannya malah ditanggapi Yonghoon dengan main-main. Membuat usahanya tampak sia-sia. Tak tahukah betapa paniknya Kyuhyun ketika Jisun menelepon dan mengatakan bahwa Yonghoon diculik? Meski Sekretaris Lee bilang ini memang rencana Yonghoon sendiri, tapi tetap saja itu gila. Sungguh dia tak mengerti jalan pikiran Yonghoon, tapi intinya ia hanya tak ingin gadis bodoh itu terluka.

“Oke, aku tahu kau mencemaskanku. Tapi seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja Kyu. Jadi bisa kau redam emosimu? Aku tak punya tenaga lagi untuk berdebat”

“Nona?” merasakan situasi janggal, Sekretaris Lee lantas berinterupsi. Atau anggaplah semacam kode untuk segera pergi sebelum situasi semakin memanas.

“Arraseo”

Yonghoon melangkah pergi, percuma bicara dengannya orang yang ditelan emosi. Untuk sekian detik Kyuhyun masih tak menunjukkan pergerakan apapun, hanya sorotan datar pada punggung Yonghoon yang kian menjauh. Hingga saat gadis itu mulai memasuki mobil Sekretaris Lee, Kyuhyun lantas berlarian mengejarnya.

“Pulanglah bersamaku!”

Yonghoon urungkan niatnya masuk kala cengkraman erat Kyuhyun hinggap di lengannya. Ketika tiada lagi tampang dingin yang Kyuhyun suguhkan, tak tega sejatinya Yonghoon meninggalkannya. Tapi bagaimana lagi?  “Masih ada yang harus ku selesaikan Kyu”

“Kita bisa melakukannya bersama” sanggah Kyuhyun.

“Tidak, itu hanya memperkeruh suasana. Sekali ini saja, dengarkan perkataanku, eoh?”  Pria itu tak menjawab. Bimbang harus melakukan apa. Ingin sekali ia menyeret Yonghoon agar ikut bersamanya. Tapi bukankah egois jika hal itu ia lakukan? “Aku akan menelponmu nanti” ujar Yonghoon sebelum ia benar-benar pergi.

 

-Kediaman Tuan Song-

 

“Imo, berikan aku segelas air dingin”

“Baik, Nona”

Ada apa dengan hari ini? Sang mentari terlalu bersemangat membagikan teriknya hingga Yonghoon nyaris mati kepanasan. Begitu masuk rumah, ia lantas menyamankan diri di sofa depan televisi. Bibi Kim datang tak lama kemudian. Membawa segelas air dingin sesuai pesanan, ditambah beberapa toples celiman.

“Yonghoon-ah, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?”

Tuan Song berlarian menuruni tangga. Menghampiri putri semata wayang yang nyaris lenyap berkat ulahnya. Begitulah inti yang ia tangkap dari penjelasan Sekretaris Lee saat di telepon tadi, sesaat sebelum tubuhnya ambruk dan mulai memaki diri sendiri.

“Aku baik-baik saja Ayah”

Pelukan Tuan Song semakin erat. Membayangkan apa yang baru terjadi, baginya masih seperti mimpi buruk di siang hari. “Kenapa kau harus melakukan hal segila ini Sayang?” ujarnya disela belaian lembutnya pada punggung Yonghoon.

“Karena aku tak ingin Ayah menyesal nantinya.” Perlahan Yonghoon melepaskan diri. “Apa dengan membunuhnya, akan menjadi akhir yang bahagia untuk kita semua? Tidak Ayah! Ini akan semakin kacau. Kyuhyun pasti akan membenci kita dan aku juga akan merasa bersalah padanya seumur hidup.”

Tuan Song membisu. Kakinya melemas hingga terduduk di sofa. Logikanya tengah membenarkan semua perkataan Yonghoon. Bahkan hal yang sama sempat terlintas di benaknya kala itu. Tapi mendengar Kyuhyun lebih memilih wanita lain daripada Yonghoon, seketika itu ia pun kalap. “Maafkan Ayah sayang”

Gadis itu tersenyum “Ayah melakukannya karena kau sangat menyayangiku bukan?”

“Tentu saja”

“Kalau begitu, kabulkan permintaanku! Kita batalkan perjodohan ini. Aku tidak akan bahagia bila menikah dengan pria yang tidak mencitaiku, Ayah”

“Tapi sayang, Kyuhyun bisa belajar melakukannya”

“Jadi Ayah tak ingin aku merasakan apa yang Ayah rasakan bersama Ibu dulu? Betapa bahagianya kalian berdua menikah karena cinta, bukan karena balas budi ataupun semacamnya. Bahkan hingga bertahun-tahun kalian menikah sedangkan Ibu tak kunjung melahirkan bayi, Ayah tak merasa keberatan bukan? Itu karena Ayah mencintai Ibu. Aku juga ingin menjadi seperti Ibu. Dicintai dengan tulus dan apa adanya. Jadi biarkan aku menikah dengan pria yang seperti itu, Ayah”

Sekeras apapun tabiat seorang ayah, mendengar putri kesayangannya memohon hingga sedemikian rupa pastilah jiwanya bergetar. Begitu pula hal yang terjadi pada Tuan Song. Hatinya serasa dicambuk bertubi-tubi oleh setiap perkataan Yonghoon, hingga akhirnya dia pun menyerah. “Arraseo. Mianhae, jeongmal mianhae”

~ ~ ~ ~ ~

 

– Apartement Kyuhyun-

Pintu lift pun terbuka. Kyuhyun melangkah gontai dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tampang pucat pasi melambangkan betapa lelah dan frustasinya dia. Tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah Yonghoon memaksanya untuk diam sejenak hingga masalah ini mereda.

“Cho Kyuhyun!”

Seorang gadis berdiri di depan pintu apartemen Kyuhyun. Dengan raut kecemasan terlukis jelas diwajahnya, gadis itu berlarian menghampiri Kyuhyun. “Jisun-ah, kenapa kau disini?”

“Aku tidak tahu harus mencarimu kemana lagi, kau sulit sekali dihubungi”

Kyuhyun merogoh ponsel di saku celananya dan baru mengetahui ternyata benda itu mati. “Mianhae”

“Arraseo, lalu bagaimana dengan Yonghoon-ssi?” Jisun ingin segera mengetahui kabar Yonghoon. Ia sendiri tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, tapi yang jelas yang ia tahu, nyawanya tertolong berkat gadis itu.

“Kita masuk dulu!” ajak Kyuhyun ketika menggiringnya masuk.

~ ~ ~ ~

Setelah sempat membasuh diri, Kyuhyun kini tampak lebih bernyawa. Pria berkaos longgar itu melangkah dari dapur dengan sekaleng minuman di setiap genggam tangannya. Bersiap menghampiri Jisun yang tegah duduk di sofa.

“Minumlah!” ujarnya sebelum ikut menyamankan diri di sana.

“Cho Kyuhyun, aku sunggu tidak mengerti. Entah sejak kapan Yonghoon-ssi berada dalam toko itu, dan tiba-tiba saja menyeretku untuk bertukar pakaian. Saat ku tanya kenapa, dia bilang ada beberapa orang yang sedang mengincarku” Jisun meracau. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu saat ia merasa panic dan tak tenang. Satu ciri khas Jisun yang tak pernah Kyuhyun lupakan.

“Tenanglah! Dia baik-baik saja sekarang” Digenggamnya jemari Jisun yang terasa dingin dan bergetar. Kyuhyun tengah mencoba teknik usang yang dulu sering ia gunakan untuk meredakan kepanikan Jisun, dan siapa sangka hal itu masih berfungsi.

“Kyu, bagaimana ini bisa terjadi?”

Kyuhyun menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. “Seseorang berniat menyingkirkanmu agar hubunganku dan Yonghoon berjalan lancar. Tapi Yonghoon berhasil menggagalkannya.” Pria itu menyesap kembali minuman yang sempat terabaikan. “Dia memang seperti itu. Gadis gila yang akan melakukan segalanya demi hal yang dia inginkan” ujarnya kala membayangkan betapa keras kepalanya Yonghoon.

“Maksudmu?”

“Soal perjodonhan kami, dia ingin membatalkannya”

Di dalam benaknya Jisun mulai berpikir. Bukankah Yonghoon mencintai Kyuhyun? Bukan perkara sulit mengetahui bagaimana perasaan gadis itu sesungguhnya. Tapi mengapa ia berniat membatalkan perjodohan itu?

“Apa ini semua karena diriku?”

Dulu saat pertama kali Yonghoon mendatanginya dan mengaku sebagai tunangan Kyuhyun, hal itu memang sebuah pukulan telak baginya. Tapi alih-alih mencaci maki dirinya, Yonghoon malah bersikap baik. Bahkan hingga tragedy penculikan ini terjadi.

“Bukan begitu Jisun-ah, sejak awal memang dia menolak perjodohan ini”

“Tapi mengapa? Aku tahu dia sangat mencintaimu”

Kyuhyun terdiam. Menunduk dengan penuh rasa penyesalan. “Ini semua salahku”

~ ~ ~ ~

Sekitar pukul sepuluh lima belas menit, dengan berat hati Yonghoon mengakhiri ritual hibernasinya. Masih di dalam kungkungan selimut setebal bulu domba, gadis pemalas itu menggeliat dan mulai membuka mata. Sebuah lukisan besar di dinding kamar itu menyambutnya. Mengundang senyum manisnya di pagi yang cerah ini.

“Selamat pagi Ibu” sapanya pada lukisan itu. Lelah menyelesaikan perdebatan panjangnya dengan sang Ayah, Yonghoon putuskan untuk menginap disini semalam.

Turun dari ranjang, Yonghoon bergerak membuka pintu balkon. Untuk kesekian kalinya senyuman itu mengembang berkat suguhan yang langit tawarkan. Langit yang bersih, dengan warna biru muda yang selalu menjadi favoritnya. Sungguh pagi yang indah. Mulai menggiring pandangan ke sisi bawah, ia berniat menyapa Billy. Tapi bukan si anjing Husky itu yang ia temukan, melainkan mobil hitam Kyuhyun yang terparkir di plataran rumah. Seketika itu Yonghoon pun panik.

“Dasar pembangkang!”

Ia lantas bergegas keluar kamar. Berlarian menuruni tangga dan mencari tahu dimana Kyuhyun. Semarah itukah Kyuhyun atas tindakan Ayahnya hingga ia harus datang di pagi buta? Oh ya, ini memang menjelang siang tapi ayolah! Kondisi Ayahnya sedang sangat sensitive akibat perdebatan mereka tempo hari. Ia takut emosinya akan meledak dan marah besar.

“Bibi, dimana Kyuhyun?” sambarnya pada bibi Kim yang tengah menyiapkan sarapan.

“Ada bersama Tuan di ruang kerja”

Tanpa berpikir panjang meluncurlah dia kesana. Jangan sampai perkara yang nyaris menemukan titik terang ini kembali runyam berkat pertengkaran mereka. Jika itu terjadi, Yonghoon benar-benar bisa gila. Ia hendak membuka pintu ruangan itu, ketika sayup-sayup terdengar percakapan Kyuhyun dan Tuan Song. Niatan untuk masuk pun akhirnya ia urungkan.

“Sebenarnya apa arti Yonghoon bagimu? Sejak kecil kalian tumbuh bersama tapi mengapa sesulit itu kau mencintainya?”

“Aku sangat menyayanginya, sama seperti perasaanku pada Ahra Noona. Yonghoon adalah teman sekaligus saudara bagiku”

“Bukan hal semacam itu yang ku harapkan darimu, kau tahu?”

“Aku mengerti. Aku sangat menyayangi Yonghoon, tapi hatiku selalu mengarah pada Jisun. Aku tak mampu mengabaikannya begitu saja, Paman”

“Jangan pernah kau menyebut wanita itu di hadapanku. Dan satu lagi, sudah kuputuskan untuk membatalkan pernikahan kalian”

“Paman, tolong beri aku waktu sedikit lagi untuk meyakinkan perasaanku.”

“Tidak perlu. Kini aku paham bagaimana perasaannya dan betapa dia menderita karenamu selama ini. Jadi sudah cukup! Ku pikir setelah pengorbanan istriku untuk kakakmu, kau akan dengan senang hati membahagiakan putriku. Ternyata dugaanku salah. Aku menyesal telah berharap banyak padamu, Cho Kyuhyun”

Yonghoon menghela nafas panjang. Lagi-lagi Ayahnya membahas masalah itu. Hal yang menurut Yonghoon menjadi cikal bakal dari semua kekacauan ini, yaitu hutang budi. Berawal dari niat baik sang ibu yang mendonorkan jangtungnya pada Cho Ahra, hingga dicetuskannya perihal perjodohan itu oleh sang Ayah, yang dengan bodohnya Kyuhyun terima begitu saja. Semua itu tak lepas dari rasa hutang budi yang mengikat Kyuhyun beserta keluarganya.

“Yonghoon-ah…”

Gadis itu tersentak. Terlalu asik melamun hingga ia tak sadar kapan Kyuhyun keluar dari sana. Pria itu kini berdiri dihadapannya, menatapnya lekat masih dalam diam. Tapi dari pancaran sendu di manik hitamnya itu, Yonghoon tahu. Ada banyak hal yang ingin Kyuhyun sampaikan. Hanya saja, ia mencoba menahannya.

“Arra! Kau telah melakukan yang terbaik, Kyu” Dengan pria itu mengutarakan isi hatinya saja, itu sudah cukup bagi Yonghoon. Terlalu lama Kyuhyun memendamnya hingga membuat Yonghoon muak tiap kali Kyuhyun bersikap seolah ia baik-baik saja.

Yonghoon pun tersenyum. Biarkan kini ia yang bersandiwara. Bersikap seolah dirinya masih baik-baik saja. Tak akan ada yang berubah meski hubungan mereka berakhir nantinya.

“Mianhae”

Tiada kata selain ‘maaf’ yang mampu Kyuhyun lepas dari jeratan bibirnya. Sebutlah dia pencundang besar, si pria berengsek yang tak tahu diri, atau apa saja terserah. Dia pasti akan menerimanya begitu saja. Bahkan mungkin dengan makian itu, beban di hatinya akan terasa sedikit lebih ringan.

“Aniya. Jal haeseo Kyuhyun-ah! Jal haeseo!” ujar Yonghoon seraya membelai pipi pria itu dengan lembut.

.

.

.

To be continue…

Annyeong Sapphire Blue-ssi, ku lihat kamu sering mampir di blog ini. Boleh kita kenalan? ^_^

 

Advertisements