Between Us

Kyu Hyun melajukan mobilnya pelan. Membagi focus kemudinya untuk sang istri yang sedang ia coba hubungi. Wanita itu sempat menelpon saat ia sedang survey lokasi siang tadi dan memintanya pulang lebih awal. Untuk alasan apa? Bahkan Kyu Hyun sempat berfantasi istrinya itu akan sedikit berbaik hati. Entah mengajaknya kencan atau makan malam special mungkin? Sayangnya, harapan hanyalah harapan bagi si malang Kyu Hyun. Sebulan belakangan Yong Hoon memang sibuk sendiri hingga nyaris mengabaikannya.

“Kau sudah selesai?” tanya Yong Hoon singkat tanpa basa-basi dari seberang panggilan.

“Eoh! Sepuluh menit lagi aku sampai di rumah, bersiaplah!”

“Andwae! Aku ada di rumah Ji Sun sekarang.”

“Mwo?”

Heol! Belum apa-apa, wanitanya itu sudah berulah. Padahal siapa yang merengek memintanya pulang cepat? Kini dia malah seenaknya pergi. Kalau tahu begini jadinya, lebih baik ia mengabaikannya saja.

“Hehe, mian. Aku menunggumu di sini Sayang~”

‘Sayang’? Yang benar saja! Tak peduli mau semanis apapun Yong Hoon merayunya, Kyu Hyun haruslah tetap menjunjung tinggi harga dirinya sebagai pria. Sesekali tak apa mengabaikannya untuk pelajaran. Benar begitu bukan? Jadi maki saja, Kyu Hyun lebih memilih memutar balik kemudi.

^^

Ji Sun tak bermaksud menguping, hanya saja pendengarannya masih sangat normal. Dari nada sok manis yang sengaja Yong Hoon umbar hingga membuat telinganya gatal, Ji Sun yakin wanita di sampingnya itu mencari perkara dengan seseorang. “Siapa? Kyu Hyun?” tebaknya.

“Eoh! Aku lupa memberitahunya bahwa aku disini,” jawab Yong Hoon santai sambil mengunyah macaron. Ahh! Kali ini macaron, bukan macaroni goreng seperti yang sedang Ji Sun santap.

“Dasar penyakit!”

Ji Sun meletakkan toples cemilannya setelah memaki Yong Hoon. “Kenapa kau selalu melupakan hal-hal penting?” mulai geram dengan kebiasaan buruk temannya itu. Hitung saja berapa banyak orang yang telah menjadi korban. Parahnya, dialah yang paling sering.

“Terlebih dulu, biar ku tanya padamu. Apakah lupa ada sebabnya?” Sebelum perdebatan itu dimulai, Yong Hoon harus mencegahnya. Asal tahu saja! Mulut gadis manis itu sejatinya  hampir sekelas mulut Kyu Hyun. Akan sangat melelahkan jika ia meladeninya.

“Eoh?” Ji Sun mendadak linglung.

“Lihat! Kau pun tak tahu alasannya bukan?”

Nyaris kalah, Ji Sun memutar otak guna memusnahkan tampang menyebalkan yang diunggah Yong Hoon. “Siapa bilang? Tentu saja aku tahu!”

Yong Hoon bilang juga apa? Ji Sun selalu memiliki cara untuk mendebatnya. “Katakan padaku!” tantang wanita itu.

“Garam.”

“Mwo?” Yong Hoon setengah terkejut, tapi juga ingin tertawa.

“Neo molla? Makanan asin bisa menurunkan daya ingat.”

Kedengarannya memang konyol. Gadis bercepol kuda itu mulai kehabisan akal mungkin untuk beradu argumen. “Ch, kau ini bicara apa Song Ji Sun?”

“Ige jinjjaya! Aku pernah membaca artikelnya.” Ji Sun meningkatkan nada bicaranya, semacam teknik pasaran untuk membuat orang lain percaya.

“Geurae! Anggap saja itu benar. Tapi siapa di antara kita yang paling suka makanan asin? Itu adalah kau!” tandas Yong Hoon, sekaligus mengingatkan kalau saja teman tercintanya itu lupa.

“Arra, maka dari itu aku sebelas dua belas denganmu,” ungkap Ji Sun yang pada akhirnya mengakui bahwa dirinya juga seorang pelupa. Tawa mereka pun pecah tak lama kemudian.

Ya, mereka memang selalu seperti itu. Saling memaki meski endingnya juga saling mengakui. Kadang kala mendebatkan hal yang tak berguna hingga tampak seperti sepasang gadis gila. Tapi berkat itulah pertemanan mereka bisa bertahan lama.

Bagi Yong Hoon, Ji Sun seperti rumah kedua. Begitupun sebaliknya. Tentu saja setelah pasangan mereka. Ji Sun adalah tempatnya bersenang-senang, menangis, dan berkeluh kesah. Bahkan tak sedikit pula yang Yong Hoon coba sembunyikan dari semua orang di balik punggung Ji Sun

Tin…tin…

“Kyuhyun datang, kajja Song!”

“Eoh!”

Sore itu Yong Hoon sengaja mendatangi Ji Sun guna memaksa gadis itu ikut bersamanya. Sebuah pesta keluarga untuk merayakan peluncuran album kedua Yesung, sang Oppa yang akan diadakan malam ini di atap Mouse Rabbit. Tentu saja Ji Sun juga harus ikut berpartisipasi. Dialah seseorang yang paling dinantikan kedatangannya oleh sang Oppa, jika saja kedua orang tua mereka tahu tentang hubungan asmaranya.

^^

“Appa!”

“Ommo uri-dall, wasseo?”

Sederet kegiatan seperti peluk dan cium, sudah menjadi ritual wajib ketika sepasang ayah dan anak ini bertemu. Kyu Hyun hanya mendengus kesal melihat betapa manja Yong Hoon ketika bersama ayahnya. Merasa cemburu pada sang mertua yang mudah saja mendapatkan sikap manja sang istri, sedangkan Yong Hoon hanya akan melakukan itu padanya ketika sedang ada maunya.

 “Annyeong haseyo abonim, jal jinesseoyo?” sapa Kyu Hyun bersopan-santun.

“Eoh Kyuhyun-ah, neo doo jal jinae?”

“Ne abonim.”

Fokus Tuan Kim beralih pada seorang gadis yang datang bersama anak dan menantunya. Seseorang  yang amat dia kenal sebagai teman dekat putri kesayangannya itu. “Ommo ige nuguya? Ji Sun-a, neo doo wasseo?”.

“Ne ahjeu-ssi, oraen manhaeyo?” Ji Sun memang sering datang ke rumah keluarga Kim atau Mobbit bersama Yonghoon. Sekedar berkunjung atau membeli pancake nanas favoritnya. Tapi belakangan ini ia sibuk sekali.

“Aku yang memaksanya ikut Appa, tidak masalah bukan?”

Memang sedikit aneh ketika seorang gadis asing datang ke sebuah acara keluarga. Yong Hoon hanya memastikan pada sang ayah bahwa Ji Sun datang karenanya. Bukan untuk salah seorang saudara lelakinya, entah itu Yesung atau Jong Jin.

“Hahaha…” Ungkapan Yong Hoon berbuah tawa Tuan Kim. “Kau ini bicara apa? Gwaenchana. Pasti akan lebih meriah nantinya,” sambung ayah Yong Hoon.

“Eomma neun?”

“Masih di dapur. Dia hampir lupa membuatkan teoppokki kesukaan putra menantu tercintanya,” ujar Tn. Kim seraya menepuk-nepuk punggung tegap Kyu Hyun.

Mendengar hal itu, membuat Kyuhyun besar kepala tapi sekaligus tak enak hati. “Aigoo, gwaenchanayo?”

“Berbahagialah Cho Kyu Hyun!” goda Yong Hoon sebelum melangkah pergi. “Kajja, Song!”

^^

Singgasana Yesung menjadi tujuan kedua Yong Hoon setelah menyapa sang eomma yang masih betah di dapur. Acara memasaknya memang selesai, tinggal menyiapkan beberapa lagi dan memindahkannya ke Rooftop dimana acara akan berlangsung. Beruntung Ji Sun yang dengan senang hati membantu. Kini biarkan Yong Hoon mengusik ketenangan pria yang dengan muka tebalnya malah menyumpal diri di kamar.

“Ckckck… Orang lain sibuk menyiapkan pesta untukmu, kau sendiri malah enak-enakkan tidur? Oppa ireonna! Palli ireonna!” Disingkapnya selimut tebal yang menenggelamkan tubuh Yesung. Meski pria itu mulai terjaga tapi masih enggan membuka mata.

“Lima menit lagi Yong,” negonya.

Yong Hoon merampas paksa guling itu dari kungkungan Yesung “Andwae! Ireonna! Palli…! Palli…! Palli…!”

“Ahh jebal jum!!” pekik Yesung. Tak tahan dengan tindak brutal Yong Hoon yang terus memukul-mukul pantatnya. “Aku baru pulang setengah jam lalu, biarkan aku tidur sebentar!”

Berhenti dari aksi brutalnya, Yong Hoon tampak melipat tangan di depan dada kemudian berkata “Baiklah, akan ku suruh saja kekasihmu itu pulang!”

Tanpa hitungan detik, Yesung langsung bereaksi. “Mwo? Ji Sun?”

“Eoh! Dia ada di sini sekarang.”

Demi apapun, Yong Hoon benci melihat tampang idiot Yesung dengan mata berbinar itu, mengingat betapa sulitnya ia membangunkannya tadi. Tapi begitu mendengar kehadiran kekasihnya, Yesung langsung tegap berdiri. Rasanya Yong Hoon ingin sekali mengunci pria itu agar tak bisa keluar kamar. Ahh, ide bagus! Kalau itu dia lakukan, pasti menyenangkan. Tapi ahh… sudahlah.

 “Jinjja? Kau berhasil mengajaknya?”

“Anggap saja ini hadiah untuk album terbarumu,” kata Yong Hoon bangga sambil menaik turunkan kedua alisnya.

“Arraseo. Saranghae, uri-yedongsaeng-ie.” Yesung melompat dari ranjang. Mampir ke depan cermin sebentar, memastikan tidak ada kotoran yang bersarang di sudut mata dan bibirnya yang bisa membuat dia malu nanti. Ia sempatkan mengecup pipi kanan Yong Hoon singkat sebelum akhirnya keluar kamar dengan girangnya.

“Yaaaa!!!”

^^

“Ommo!” Ji Sun terkejut mendengar pekikan menggelegar milik Yong Hoon. Ia berhenti mencuci selada untuk menoleh sejenak kearah tangga yang menghubungkan ke lantai tiga, barangkali ia bisa mendapat jawaban dari arah suara yang mengejutkannya barusan. Hari mulai gelap dan yang ada di dalam pikiran penakutnya adalah Yong Hoon yang bertemu dengan hantu. Aughh, mana mungkin di café keluarga Kim ini terdapat hantu yang tersesat,. Oh?

“Itu pasti mereka yang bertengkar lagi.” Ny. Kim membuang napas panjang dengan nada pasrah, menjawab rasa penasaran  Ji Sun.

“De?”

“Yesung dan Yong Hoon.  Siapa lagi tikus dan kucing dikeluarga ini. Padahal Yesung tahu adiknya itu mudah sekali terpancing, tapi tetap saja menggodanya.”

Ji Sun menganguk-angguk, memahami penjelasan Ny. Kim yang sibuk memindahkan potongan daging sapi dan potongan cumi ke atas nampan yang akan dipanggang di halaman lantai dua. Sedikit geli mendengar Ny. Kim memberi perumpamaan pada anak-naknya sendiri.

“Menurutku Yesung oppa sangat menyayangi Yong Hoon.”

“Tentu saja, walau bagaimanapun mereka tetap saudara. Kkeurachi?”

“Ah de..”

Mereka membawa sisa bahan masakan pelengkap barbeque dan menata nya di atas meja yang telah menampung banyak macam masakan. Kyu Hyun tampak membantu Tn. Kim menyiapkan panggangan. Sedangkan Jong Jin datang membantu menata peralatan makan, sesekali mencomot potongan kimbab yang membuat Ny. Kim gemas.

“Aigo.. aigo.. anak ini. Kau tidak malu dengan Ji Sun yang bahkan belum selesai memindahkan makanan yang dibawanya eo?”

“Ani. Aku kan sudah sering bertemu dengannya, untuk apa aku malu. Kami juga semakin dekat. Iyakan Ji Sun-ah..?” bagi para orang tua mungkin perkataan Jong Jin itu hanya dalih semata. Tapi bagi Ji Sun itu terdengar semacam godaan, dimana situasinya para anak muda sudah tahu hubungan sepesial antara dia dan sulung Kim. Kyu Hyun yang sibuk menyalakan arang juga terlihat menahan tawa.

“Benarkah?” tanya Ny. Kim memastikan dan mendapat anggukan mantap dari putra keduanya yang telah disalah artikan. Sedangkan Ji Sun yang tak mengerti maksud wanita keibuan itu hanya menanggapi dengan senyum manisnya.

“Ji Sun-ah, kau sudah punya pacar?” tanya Ny. Kim membuat Ji Sun, Jong Jin dan Kyu Hyun yang berada disana membeku. Sedangkan Tn. Kim hanya menganggapi santai. Seperti mendapat fonis dimana Ji Sun kesulitan mencari alibi, sedangkan Jong Jin dan Kyu Hyun merasa tegang menunggu jawaban Ji Sun. Inilah yang membuat Ji Sun awalnya menolak untuk ikut bergabung dalam acara keluarga Kim. Ji Sun merasa ciut jika harus memperkenalkan diri sebagai kekasih Yesung di depan Ny. dan Tn. Kim. Ia selalu merasa parno jikalau tidak memenuhi kriteria menantu idaman keluarga  itu.

“Bagaimana kalau berpacaran dengan Jong Jin saja?” suara Ny. Kim sangatlah lembut dan berhati-hati, namun mampu membuat semua orang yang ada di rooftop melongo saking tak percaya. Saesanghae.

“Eomma!” protes nyaring keluar dari mulut Jong Jin. Sedangkan Ji Sun gagal memproses situasi yang di luar dugaannya.

“Waeyo? Kau kan lebih baik dengan Ji Sun. Eomma sangat menyukainya. Dia manis, anggun dan rajin.”

Oh, Ny. Kim belum tahu saja jika di balik nilai plus yang dijabarkannya itu, sebenarnya Ji Sun memiliki sisi tempramen yang lebih ekstrim dari putrinya yang bar-bar. Dan masalahnya, apa kabar dengan Yesung jika dia benar-benar jadian dengan Jong Jin. Oh Mom.

“Aku juga setuju. Kita sudah mengenal Ji Sun sejak lama dan tidak ada yang mengecewakan jika dia jadi menantu kita, Yeobo,” ujar Tn. Kim menyetujui ide istrinya yang malah semakin memperkeruh situasi.  Sebenarnya Ji Sun sedikit girang saat secara tidak langsung Ny. dan Tn. Kim memujinya, yang berarti ia lolos kriteria menantu keluarga Kim. Hanya saja, hal itu kurang tepat.

“Ya daripada kau pacaran jarak jauh dengan gadis berambut pirang yang bicaranya cedal itu. Aa~ Gadis itu juga tidak pernah memakai rok dan membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti.” Tn. Kim melanjutkan, sengaja menyindir kekasih Jong Jin yang sedang menempuh pendidikan arsitek di Negara Belanda itu.

“Abeoji! Hye Woo tidak seburuk yang kalian kira.. Aishhh, susah sekali meyakinkan kalian.” Jong Jin merasa frustasi karena kedua orang tuanya membawa-bawa kekasihnya. Hye Woo, gadis yang dipacarinya delapan tahun lalu. Mereka pacaran sejak sekolah menengah dan gadis itu memiliki ambisi menjadi arsitek yang sukses seperti ayahnya, hingga membuat gadis itu rela jauh-jauh pergi ke Belanda untuk menempuh pendidikan demi title  Doktor bertengger cantik di belakang namanya. Karena waktu yang cukup lama itu membuat kedua orang tua Jong Jin berfikir jika hubungan mereka hanyalah main-main.

“Menikah sajalah dengan Ji Sun, eomma akan langsung merestui kalian,” bujuk Ny. Kim yang langsung mendapat dukungan suaminya. “Abeoji ddo!”

“Eomma! Abeoji!”

Jong Jin semakin frustasi. Niat awal menggoda Ji Sun malah menjadi bumerangnya. Di sisi lain Ji Sun tidak berani menyela perdebatan orang tua dan anak itu yang sebenarnya melibatkan dirinya. Kyu Hyun pun juga hanya diam menyaksikan sambil mulai memanggang daging, menurutnya perdebatan ini sangatlah menghibur.

“Waegeurayo?”

Yesung datang, ia sempat mendengar suara protes adik keduanya sebelum ia bergabung di rooftop. Sempat menepuk pundak Jong Jin sebelum mengambil posisi di sebelah Ji Sun yang sedang menyibukkan diri menata ulang daun selada. Kekasihnya itu hanya tersenyum meringis saat pandangan mereka bertemu. Menyadari suasana aneh di sekitarnya membuatnya penasaran. “Waegeurae?”

“Hyung, selamatkan aku. Eomma memaksaku menikah dengan Ji Sun.” Jong Jin mengadu. Satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkannya adalah kakaknya. Dan tentu saja Yesung akan berada dipihaknya. 

“Jinja?!” nada tenor yang keluar dari bibir Yesung sudah membuktikan jika pria itu juga tak percaya dengan yang baru saja ia dengar. Meskipun pandangan bertanyanya mengarah pada Ji Sun, Ny. Kim sudah cukup merasa ciut mendengar protes di sela nada terkejut putra sulungnya itu. Ya, Ny. Kim hanya bisa diredakan oleh anak pertamanya itu.

“Ahaha.. Kau sudah bangun? Mau eomma ambilkan sup kerang kesukaanmu?” yang jelas Ny. Kim sedang mencoba mengalihkan topic dari Yesung.

“Eo, adikku yang berisik itu berhasil mengusikku dan makan sup kerangnya nanti saja setelah eomma menjelaskan apa maksud perkataan Jong Jin barusan.”

“O, itu.. Eomma hanya bertanya pada Ji Sun, apakah dia sudah punya pacar apa belum dan eomma mencoba menjodohkannya dengan Jong Jin. Kau juga sependapatkan dengan eomma, jika Ji Sun cocok menjadi adik iparmu?” ujar Ny. Kim di timpali ledakan tawa propokatif milik Yong Hoon yang baru saja datang bergabung. Ibu tiga anak itu semakin girang saat mendapat dukungan dari putri tercintanya.

Yesung memberikan tatapan laser pada Yong Hoon. Jelas saja adik bungsunya itu akan memprofokasi ibu mereka. Alih-alih merasa bersalah Yong Hoon memilih melenggang menghampiri Kyu Hyun yang sudah berhasil dengan satu porsi daging panggang.

“Andweyo! Colthae andwe! Ya, aein.. bagaimana bisa  kau hanya diam saja saat eomma menjodohkanmu dengan Jong Jin. Kau kan… ” Yesung membuang nafas frustasi, menyadari jika kekasihnya hanya pasrah saja menjadi bahan perjodohan ibunya dan semakin membuatnya dongkol. Ji Sun tampak ingin menyela, namun urung saat melihat tatapan garang dari mata sipit kekasihnya itu.

“Eomma! Jong Jin itu sudah punya pacar dan juga beberapa kali di ajak kerumah, jika eomma lupa. Dan juga, jikalau harus dijodohkan kenapa bukan aku saja? ”

“Aigu, apa kau juga lupa berapa gadis yang kau telantarkan saat eomma menyuruhmu menemuinya? Bahkan hampir semua teman eomma kecewa padamu, mengira kau itu pria tak bertanggung jawab terhadap putri mereka.”

“Itu karena aku tak menyukai mereka.”

“Dan oleh sebab itu eomma sudah hilang harapan padamu.”

“Ya! Ya! Geumanhae! Bagaimana kalau kita tanya Ji Sun saja. Dia mau dijodohkan dengan Jong Jin oppa atau Yesung oppa. Bagaimana?” terkutuklah kau Yong! Ini namanya menyuruh Ji Sun gantung diri.

Demi Tuhan! Ji Sun ingin menenggelamkan semua orang yang ada di rooftop ini. Pertama, Yong Hoon yang dengan sengaja menyodorkanya dalam situasi awkward. Kedua, Tn. Dan Ny. Kim yang tak menyadari panggilan istimewa yang digunakan Yesung saat memanggilnya. Ketiga, Kyu Hyun dan Jong Jin yang tak membantu sedikitpun. Dan terakhir Yesung, kenapa tidak berterus terang saja mengakui hubungan mereka. Apa maksud pria itu ingin menyembunyikan hubungan mereka? Demi Tuhan, sekali lagi Ji Sun menyesal setuju ikut Yong Hoon datang ke acara keluarganya.

Ji Sun mempertemukan pandangannya dengan Yesung, mencoba mencari bantuan dari kekasihnya itu. Barang kali pria itu menyadari kegundahannya. Alhasil, semakin dongkol juga ia saat pria itu dengan sengaja menatapnya seolah juga sedang menunggu jawaban apa yang akan ia ucapkan. Untuk ke tiga kalinya Ji Sun mengatasnamakan Tuhan, ia ingin sekali mencolok mata Yesung. Ada apa dengan hari ini? Ia benci dipojokkan, ia benci harus mengatakan hal yang mungkin akan mengecewakan orang tua, ia benci pada kekasihnya, ia semakin benci dengan kebodohannya yang tak berani mengatakan kenyataan. Ji Sun hanya takut jika jawabannya akan mengecewakan Tn. dan Ny. Kim, ia takut menyakiti perasaan kedua orang tua itu dan ia semakin takut membayangkan tidak mendapat restu dari orang tua Yesung.

“Sudahlah, kalian tidak kasihan melihat wajah pasi Ji Sun. Yesung hyung, jelaskan saja yang sebenarnya tentang hubungan kalian, mungkin Ji Sun ragu-ragu akan menjawabnya karena menunggumu yang melakkukan itu.” Kyu Hyun menengahi. Lama-lama ia bosan sendiri melihat perdebatan konyol keluarga istrinya itu.

Semua orang memandang wanita muda yang menjadi korban perdebatan konyol yang dimaksud Kyu Hyun. Memang Ji Sun hanya diam pasrah dengan sikap salah tingkahnya. Yesung juga baru menyadari hal itu. Dan mungkin Kyu Hyun benar, memang seharusnya dia yang menjelaskan hubungan mereka kepada kedua orang tuanya.

Yesung memandang orang tuanya bergantian, kemudian merapatkan posisi dengan Ji Sun, “Baiklah, aku akan mengakhiri debat konyol petang ini. Eomma-Abeoji, perkenalkan kekasihku yang akan ku nikahi akhir musim ini. Namanya Song Ji Sun,” lengannya melingkar posesif di sekitar bahu Ji Sun untuk mempertegas kalimatnya barusan. Para anak muda menghela napas, menyertai akhir perdebatan itu. Sedangkan Ny. Kim Tn. Kim merasa terkejut di sela kebingungan atas pengakuan putra pertama mereka.

“Jinja?” Ny. Kim mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya itu memang keluar dari bibir putranya. Belum percaya meskipun putranya menjawab dengan anggukan mantap, kini beralih memandang penuh pengharapan pada Ji Sun yang semakin salah tingkah di dalam pelukan Yesung.

“Ji Sun-ah, jeongmal?” tanya wanita itu pelan penuh pengharapan.

“De. Mianhae ahjumma-nim.”

“Ania.. Ania. Gwanchanha. Aku hanya tidak mengira kau akan pacaran dengan Yesung. Aigo.. pasti kau tadi merasa tidak nyaman, mianhae eo?”

“Gwaenchana ahjuma-nim.”

“Aigu.. calon putri menantuku. Berhenti memanggilnya ahjuma, mulai sekarang panggil dia eomma, eo!” Tn. Kim tak ingin ketinggalan merestui hubungan mereka.

“De. Abeo-nim, eommo-nim, khamsahamnida,” jawab Ji Sun canggung.

^^

Semakin malam acara semakin meriah. Pesta yang semula didedikasikan untuk album terbaru Yesung kini beralih fungsi, sejak dicetuskannya hubungan yang sekian lama menjadi rahasia. Bukan bermakud mengesampingkan kemajuan karir pria itu, hanya saja perihal yang baru diungkapnya tadi adalah hal yang telah dinantikan oleh Tn. dan Ny. Kim sejak lama. Jadi maklumi saja mereka.

Langit yang indah di malam hari yang cerah. Dimana bulan yang terang ditemani oleh taburan bintang. Sungguh pasangan yang amat serasi. Oh ya, bicara soal pasangan membuat seseorang sedikit menghela napas. Ketika yang lain duduk bercengkrama berdampingan dengan pasangan mereka, Jong Jin –si pria malang itu harus rela melewatkan pesta tanpa kedatangan kekasihnya. Mau bagaimana lagi? Sudah menjadi keputusannya ketika melepas gadis itu pergi. Tentunya dengan sebuah janji dimana suatu saat mereka pasti akan akan bertemu lagi.

Jong Jin hendak menuangkan soju ke dalam gelasnya, ketika Yong Hoon menahan botol itu dan menggantinya dengan botol yang lain. Benar saja, botol yang Jong Jin pegang ternyata telah kosong.

“Kau yang menghabiskannya?” tanya Jong Jin pada adiknya itu. Seingatnya tadi ia baru minum seteguk. Sedangkan Yong Hoon hanya mengangguk dengan tampang sok imut. Merasa dirinya berhasil menakhlukkan minuman yang menjadi musuh bebuyutannya itu.

“Ya! Menyingkirlah darinya!”

Jong Jin yang memang duduk di samping Yong Hoon tentu paham dengan titah Yesung yang dilemparkan padanya. Sudah menjadi rahasia umum, dimana saat Yong Hoon mabuk, dia pasti akan menciumi orang di sekitarnya. Tak seorang pun di sini yang luput dari tindak buasnya itu. Mereka semua pernah menjadi korban.

“Tenang saja, aku masih sangat waras. Aku telah belajar banyak dari Kyu Hyun.” Yong Hoon yang bangga tampak merangkul pinggang suaminya. Tapi bukannya senang, Kyu Hyun malah merasa was-was. Yang benar saja! Yong Hoon ingin menghancurkan image-nya di depan sang mertua?

“Itu bukan hal yang patut dibanggakan Yong-ie sayang!”           

Senyum bangga Yong Hoon lenyap setelah ungkapan sakartis sang ayah melayang di udara. Membuat bibir tebal wanita itu menggunung dan siap menyeburkan protes. “Tapi mereka selalu mengejekku Appa,” ditunjuknya siapa yang ia sebut mereka. Ternyata Yesung dan Ji Sun.

“Baru berhasil menghabiskan sebotol soju saja, apa yang patut dibanggakan? Berbanggalah setelah kau memberi kami seorang cucu Yong-ie.” Ny. Kim menimpali dengan topic yang membuat Yong Hoon alergi. Ribuan kali mereka membahas masalah ini dan ribuan kali pula ia menjabarkan alasannya. Yong Hoon yang enggan meladeni memilih menjejalkan banyak potongan daging ke mulutnya.

“Kau benar Yeobo. Kyu Hyun-ah, apa saja yang kau lakukan selama ini? Paksa saja jika dia memang menolak. Toh itu hakmu sebagai suami,” ya, dan lihat apakah keesokan harinya nyawa Kyu Hyun masih terselamatkan? Tn. Kim seolah tak mengenal tabiat putrinya saja.

“Appa!”

Yong Hoon tak percaya dengan apa yang ayahnya lakukan. Itu bukan hal yang patut dibicarakan di depan semua orang. Lihat saja Yesung yang sudah tertawa dengan sangat lebarnya. Membuat Yong Hoon ingin menjejalnya dengan tumpukan selada, beruntung saja ada Ji Sun. Selama gadis itu ada di sampingnya, Yesung dijamin aman dari bully-an si bar-bar itu.

“Ayolah adik ipar, mereka hanya meminta seorang cucu. Bukan puluhan atau lusinan”

Heol! Ada apa dengan hari ini? Bahkan seorang Jong Jin yang biasa menjadi penengah kini malah berada dipihak mereka. Memang aneh ketika Tn. dan Ny. Kim berbalik menyerang Kyu Hyun yang notabennya adalah menantu kebanggaan. Tapi Jong Jin cukup paham mengapa orang tuanya mengambil langkah itu, karena percuma membujuk si kepala batu. Dia baru akan tergerak ketika barang berharganya diusik. Dan menjadikan Kyu Hyun sebagai umpan adalah ide brilliant.

“Ya! Ya! Berhenti memojokan Kyu Hyun! Kukira kalian semua cukup tahu dimana letak permasalahannya. Lagipula kenapa hanya kami yang dipersalahkan?” Yong Hoon hilang kendali, tak terima ketika mereka mengkambing hitamkan Kyu Hyun dan menariknya, langsung ditanggapi oleh pria itu.

“Setuju! Dan tadi ku dengar, ada yang akan menikah di akhir musim ini. Bukankah begitu Hyung?” Kyu Hyun sengaja melempar bom atom itu, secara otomatis semua pandangan tertuju pada Yesung. Alhasil pria itu kini membeku, begitu pula Ji Sun yang masih diam di tempat.

“Bukan hanya kau Sayang, aku yakin semua mendengarnya.” Yong Hoon berniat melakukan tindak profokasi. Pasangan itu saling melempar senyuman sebelum Yong Hoon melanjutkan aksinya. “Cha!! Kini silahkan paksa mereka juga! Aku tidak mau anak mereka memanggil anakku dengan sebutan kakak. Itu sangat tidak lucu!”

Wuahh, belum resmi menjadi menantu saja sudah ditodong. Ji Sun benar-benar tidak habis pikir dengan keluarga kekasihnya ini. Tidak ingin mengambil pusing, ia berujar santai menimpali, “Aku tidak masalah,” katanya sambil menatap Yesung yang syok dengan pernyataan tidak terkira dari kekasihnya. Pria itu pikir Ji Sun akan mengelak seperti Yong Hoon atau menghindar dari topic yang menurutnya sensitive bagi kaum wanita. Ternyata.

*

*

PS; Terimakasih ya buat semua yang sudah main. Ayo kalo mau citcat sama Song Song boleh kok. Biar lebih dekat Gitu. XOXO 🌼🍁

FB_IMG_1492769027899
Yesung
_20170510_121234
Ji Sun
b169_08
Yong Hoon
tumblr_nby8q0QoZu1rrjatxo1_1280
Kyu Hyun
Advertisements