Malam minggu yang membosankan.

Alih-alih pergi kencan dengan Kyu Hyun, Yong Hoon malah terdampar di butik Ji Sun yang belakangan menjadi rumah singgah temannya itu.

Terabaikan.

Tadinya Yong Hoon sudah girang lantaran ditelpon Ji Sun agar datang ke butiknya pukul lima sore. Biasanya, jika Ji Sun menghubunginya di akhir pekan mereka akan menggila dengan kuliner sepanjang petang dan berakhir bermalam bersama. Nah, lihat saja sekarang. Ji Sun malah sibuk dengan kertas cokelat dengan pola rumit –menurut Yong Hoon, yang katanya dasar menyulap baju. Sejak dua jam yang lalu Yong Hoon telah menghabiskan satu cup Large Chocolate ice cream dari lemari pendingin Ji Sun dan separuh lingkaran pizza yang baru dipesannya satu jam yang lalu. Oh Girl, Yong Hoon harus ingat kadar kalori yang telah masuk dalam perutnya.

Setibanya di butik Ji Sun tadi Yong Hoon sudah curiga. Ji Sun dengan penampilan seperti ahjuma-ahjuma potong ikan, belum mandi, rambut digelung asal, kacamata bantunya, dan lihatlah! Garis leher kaosnya yang melorot memperlihatkan tali branya. Hole, apa menurutnya itu sexy?

Masih bersila di atas sofa merah ruang kerja Ji Sun, Yong Hoon mengamati temannya yang sok sibuk di lantai bawahnya itu sambil mulai menyalakan laptop milik Ji Sun yang dipinjamnya tanpa permisi.

“Song!”

Bahkan Ji Sun hanya ber-Hmm ria menyahuti panggilan Yong Hoon.
Jadi, Yong Hoon menyimpulkan Ji Sun sedang dalam mode tidak bisa diganggu gugat. Menyebalkan, jelas saja. Siapa tadi yang menyuruhnya datang dan hanya untuk di abaikan. Tahu begitu ia pulang saja ke Mouse Rabbit.

“Aku pulang saja kalau kau abaikan begini.”

“Andwae! Kau harus diukur ulang, Eommamu bilang berat badanmu naik dua kilo minggu kemarin. Machi?” Ji Sun berjeda sekilas dari pekerjaannya untuk melihat Yong Hoon yang telah nyaman dengan satu dus Chocochip dan laptop menyala di pangkuannya.

“Hanya dua kilo, kenapa nadamu seolah aku naik dua puluh kilo. Ya! Jangan berlebihan, aku juga pergi ke Gim seminggu ini,” sungut Yong Hoon yang mulai sensitive jika membahas berat badannya.
Suasana kembali hening, kini percakapan dari drama yang ditonton Yong Hoon yang mengambil alih perdebatan mereka. Sepertinya Ji Sun tahu drama apa yang sedang ditonton Yong Hoon. Ah bukan, tapi siapa yang sedang ditonton sahabatnya itu. Pastinya Park Hae Jin. Dari nada suara datar actor pria itu, Ji Sun yakin itu pasti Park Hae Jin. Yong Hoon benar-benar dalam taraf gila menurut Ji Sun. Wanita itu tak memiliki rasa bosan meskipun menonton ulang drama Park Hae Jin hingga ratusan kali.

“Jadi kau berselingkuh dengan Par Hae Jin setelah Kyu Hyun masuk wamil? Pintar sekali memilih timing.”

“Ya! Jaga mulutmu itu Song. Siapa yang mengajariku dua lebih baik, Eo!?”

“Well, pada akhirnya kau mau mendengar nasihatku nak.”

Satu potong chocochip menghantam mulus belakang kepala Ji Sun sebagai ucapan terimakasih Yong Hoon atas pujian yang barusaja diterimanya.

“Pabo-ya! Jangan membung-buang makanan.” Ji Sun memungut chocochip yang mendarat di atas lembaran kain yang digelarnya setelah cemilan manis itu sempat menghantap kepalanya, dan kemudian dimakannya.

“Kau bahkan lebih parah dariku Song. Jo In Sung, Jang Hyuk, Gong Yoo, Ah.. ahjussi-ahjussi line eo? Do Kyung Soo, Park Bo Geum, Yook Sung Jae, Ah.. kau beralih jadi pedopil akhir-akhir ini ya?”

Sekarang giliran potongan kain terbang menyangkut muka Yong Hoon.
Pertengkaran karena hal sepele sudah biasa menjadi bunbu penyedap persahabatan mereka. Sekarang memuji, bisa jadi satu menit kemudian mereka bertengkar hebat. Bisa juga setelah itu mereka tertawa seolah tak pernah terjadi apa-apa. Begitulah romanisme mereka.

“Aku hanya bilang mereka Ok, bukan berarti aku menggilai sepertimu pada Park Hae Jin. Jika aku menempatkan Song Jong Ki seperti Park Hae Jin mu, guling-guling sudah aku karena ditinggal kawin. Michoseo?!” bela Ji Sun.

“Bulshit.” Yong Hoon mencebik pembelaan Ji Sun yang kelewat dipaksakan.

Ji Sun baru saja mencemari moodnya menonton dan kini laptop itu hanya menyala terabaikan. Fokosnya beralih pada sebuah artikel dari e-news yang mengabarkan keberangkatan artis asuhan SMent menuju Jepang untuk Tour Konser. Airport fashion salah seorang artris menarik perhatiannya. Seakan muncul bolam di atas kepalanya, Yong Hoon segera merosot dari singgasananya agar sederajat dengan Ji Sun yang berada di bawah.

Yong Hoon menarik sejumput rambut Ji Sun yang menjuntai tak ikut terikat. Dan pekikan cempreng milik Ji Sun membuat Yong Hoon puas dengan misinya agar mendapat atensi sahabatnya itu.

“Lihat!” Yong Hoon mengabaikan death glare dari Ji Sun dan memilih menyodorkan handphonenya di depan wajah bersungut Ji Sun.

“Ada apa dengan pria itu,” tanya Ji Sun belum paham modus yang Yong Hoon utarakan. Yang Ji Sun tangkap, layar canggih itu sedang menampilkan Yesung yang sedang berjalan sambil menebar lambaian tangan pada penggemarnya di beranda bandara.

“Lihat airport fashionnya, norak sekalikan. Kaos kedodoran, jins belel penuh lubang, kalung rantai seperti milik kkoming, auhhgg.. sepatunya.” Yong Hoon geleng-geleng miris menilai penampilan penyanyi itu.
Ji Sun melirik sekali lagi potret Yesung, penampilannya memang seperti yang Yong Hoon jembrengkan. Jika Ji Sun harus menilainya, style pria itu hanya mendapat seper empat bintang di matanya. Anggap saja upah ganti biaya beli.

“Seharusnya dia berkencan dengan seseorang dari dunia fashion agar mirip aktris sungguhan,” kali ini Ji Sun berhasil menangkap maksud Yong Hoon yang jelas sedang menyindirnya. Ditambah kedua alis Yong Hoon yang naik turun membuat Ji Sun ingin menjedukkan kepala model itu dengan ujung meja kaca di sampingnya.

“Tapi rumornya meskipun penampilannya seperti itu, para mantannya itu cantik-cantik, sexy juga.”

“Kau bermaksud menyulutku?”

“Apa berhasil?”

“Tidak.”

“Sayang sekali.”

Ji Sun kembali berkutat dengan pekerjaannya, sedangkan Yong Hoon mencari pelampiasan dengan mengganggu kucing Ji Sun yang sedang tidur di atas katalok yang sedang terbuka. Hingga merasa bosan dengan hewan menggemaskan itu, Yong Hoon sok-sokan membuat rok mini yang niatnya akan di pakaikan pada Soyu –kucing Persia Ji Sun yang sudah kembali tidur.

“Kau tahu pacarnya yang sekarang?” seperti belum terima, Yong Hoon kembali mengungkit topic yang berkaitan dengan penyanyi ballad itu.

“Kau tahu?” tanya Ji Sun retoris, pura-pura bodoh mengikuti alur yang dibuat Yong Hoon.

“Rumornya..”

Ji Sun berhenti memotong kain untuk focus mendengar rumor tentang kekasih penyanyi kelahiran delapan tiga yang akan Yong Hoon ceritakan.

“Pacarnya yang sekarang itu cuek, suka mengabaikannya, tidak terlalu cantik, tidak sexy dan dadanya kecil,” tangan Yong Hoon menangkup seolah menggambarkan seberapa kecih dada yang ia terangkan itu. “Dan sekarang matanya sedang melotot hampir keluar.” Ji Sun yang awalnya mulai mendidih, kini berhasil meledak. Wanita itu menjambak tanpa belas kasih Yong Hoon yang tertawa puas. Bahkan adik Yesung itu seperti tak jera dengan penganiayaan dari Ji Sun dan kembali melemparkan LPG 13kg.

“Pacarnya yang sekarang itu.. PSIKO… AAAAHHHHHKKKKKKK.”

 

***

 

“Wanita sinting,” umpat Yong Hoon. Siapapun yang sedang menelpon Ji Sun, Yoon Hoon berjanji akan mentlaktirnya.

Yong Hoon heran bagaimana bisa kakaknya betah pacaran dengan wanita seperti Ji Sun. Tapi setelah dipikir-pikir mereka memang cocok, hanya Ji Sun yang betah meladeni ke-absurd-an kakaknya. Pasangan 4D.

Dua puluh menit kemudian Ji Sun kembali, penampilannya terlihat lebih segar –sehabis mandi. “Geser,” perintah Ji Sun. Kakinya menendang-nendang pelan bokong Yong Hoon agar memberi space yang seharusnya menjadi wilayah kekuasaannya.

Pecinta kopi itu mendengus, memilih beranjak kembali ke singgasananya. Mengutak-atik phonecellnya untuk mencari kabar terbaru sang kekasih pujaan, “Wuah, Park Hae Jin ku akan menggelar fanmeet di Lotte minggu depan. Kali ini aku harus mendapat tiketnya. Yeah.. ”

Ji Sun memutar matanya bosan. Park Hae Jin, Park Hae Jin dan Park Hae Jin. Sudah berapa kali nama itu keluar dari mulut Yong Hoon. Oh Saesanghae, asal kalian tahu tanpa makan pun Yong Hoon tak akan merasa lapar asal melihat wajah dingin PARK HAE JIN.

“Kau cari apa?” tanya Yong Hoon yang melihat Ji Sun seperti kebingungan mencari sesuatu.

“Potongan kainku. Kau tahu?”

“Warna merah muda yang kau lempar padaku tadi,” tanya Yong Hoon memastikan. Volume suaranya menurun dan sedikit waspada.

“Eo.” Ji Sun memandang Yong Hoon yang mulai salah tingkah.

“Itu,” tunjuk Yong Hoon pada Soyu yang sedang berguling-guling berusaha melepas kain yang melilit pinggangnya.

Satu detik, dua detik, Ji Sun merasa gemas melihat kelakuan kucing peliharaannya yang ikut mengungsi ke butik. Detik ke tujuh ia baru sadar apa yang membuat kucing itu merasa risih. “SONG YONG, MATI KAU!!!!”

Kiamat, itu yang ada di kepala Yong Hoon sekarang. Ji Sun benar-benar akan mengulitinya hidup-hidup.

Yong Hoon mengaduh serius saat Ji Sun menjambaknya, tangannya menghentikan aksi wanita itu dan melihat sejumput rambut di genggaman Ji Sun. Setelah itu tak ada seorangpun yang akan melerai kedua wanita yang kini berguling-berjambakan.

 

 

Jika Yong Hoon itu singa betina, Ji Sun bisa disebut rubah betina.

Advertisements