.
.
.
.
.

“Kyu, kita sama-sama kuning. Lebih cantik siapa? Aku atau bunga ini?”

“Jangan tanyakan hal semacam itu padaku!”

“Wae?”

“Seperti makan buah simalakama rasanya”

“Bagaimana bisa?”

“Apa masih harus kujelaskan?”

“Tentu saja! Bukankah kau hanya perlu menjawab ‘aku atau dia’? Apa yang membuatmu jadi serba salah?”

“Ya, andai saja kau sama seperti gadis pada umumnya, aku tak perlu ambil pusing”

“Jadi maksudmu aku ini tidak normal?”

“Mungkin!”

“Mwo???”

“Hentikan actingmu! Kau tak seidiot itu, Yong. Katakan! Kau sedang ingin membullyku bukan??”

“Membully kau bilang?”

“Eoh! Saat kujawab ‘dirimu’, kau pasti bilang aku menggombal. Lalu mengejeku ‘norak dan pasaran’. Sedangkan jika aku memilih bunga itu, kau akan bersungut dan mengoceh sepanjang jalan. Intinya, kau ingin menjadikanku kambing hitam. Benar? Koreksi bila aku salah! ”

“Sial! Kau semakin sulit diajak bercanda”

“Kalau memang ingin bercanda, maka lakukan dengan benar! Mau ku ajarkan?”

“Lupakan!😒

“Ya sudah kalau begitu. Tapi Yong, mengapa kau selalu membandingkan dirimu dengan hal lain saat bersamaku? Kau adalah kau. Beginilah Yonghoonku. Kau tidak perlu menjadi lebih baik dibanding yang lain. Bagaimanapun dirimu, itu sudah menjadi konsekuensiku yang memilih jatuh dalam pesonamu. Kau paham maksudku Yong?”

“Benarkah itu?”

“Yang benar saja! Kau gila? Aku sedang mengajarkanmu cara bercanda. Dan itu salah satu contohnya. Menarik bukan?”

“~Tuhan, biarkan aku menghabisinya~”

“Ya!! Aku hanya bercanda Yong. Tidak! Maksudku, aku jujur kalau soal yang itu tadi. Astaga, bagaimana cara menjelaskannya?”

.
.
.
.
.
.

Wassalam Kyu 😌
Oh ya, yang pada gagal paham juga, wassalam…

Advertisements